Mengenal Sejarah Pemberian Tanda Baca dan Ilmu Tajwid

SHARE & LIKE:
  • 33
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  
    33
    Shares

Sungguh sedih kita melihat sesama muslim masih ada saja yang saling mencela, menghina, dan bahkan saling menuduh dan memfitnah saudaranya. Semuanya terjadi dikarenakan adanya perbedaan pendapat yang masing-masing pihak mengklaim pendapat kelompoknya yang paling benar sendiri.

Tidak sedikit diantara mereka terjebak dalam perbuatan yang pada akhirnya hanya dapat menyakiti sesama umat Islam. Dengan dalih “tidak pernah dicontohkan/dilakukan Rasulullah” atau “tidak ada pada masa Rasulullah dan Sahabat” atau “tidak ada dalam Qur’an dan Sunnah” atau “tidak ada dalilnya”, saudara-saudara kita begitu mudahnya mengatakan ini bid’ah dan itu bid’ah terhadap saudaranya sendiri sesama muslim. Mereka terus mempersoalkan persoalan yang sebenarnya tidak perlu dipersoalkan. Terbenam dalam permasalahan yang sebenarnya sudah tidak perlu dipermasalahkan.

Benarkah semua perkara baru yang tidak pernah dicontohkan atau dilakukan atau tidak ada pada masa Rasulullah dan Sahabat adalah bid’ah yang mana bid’ah itu sesat dan kesesatan akan membawa kepada neraka tanpa ada perkecualian? Marilah berpikir sejenak dengan pikiran yang jernih. Kita simak satu dari sekian banyak contoh nyata yang mungkin akan membuka mata hati kita agar tidak mudah melontarkan kata-kata bid’ah kepada sesamanya yang berlainan pendapat.

Perlu diketahui bahwa pada masa Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan Khulafaur Rasyidin belum ada mushaf al-Qur’an seperti yang ada sekarang ini. Pada saat itu al-Qur’an ditulis dalam bahasa Arab yang belum ada tanda bacanya sebagaimana tulisan Arab saat ini. Jangankan harakat fathah (baris atas), kasrah (baris bawah), dhommah (baris depan), dan sukun (tanda wakaf, mati), bentuk serta tanda titik-koma (tanda baca) saja tidak ada. Ilmu tajwid pun belum ada dan bahkan Al-Qur’an juga baru dibukukan sepeninggal Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

Syukur Alhamdulillah, sekarang ini kita bisa membaca huruf al-Qur’an dengan mudah. Tentu, tak bisa dibayangkan bagaimana sulitnya membaca al-Qur’an andai hingga saat ini kalam Ilahi itu masih ditulis dalam huruf Arab yang belum ada tanda bacanya sebagaimana di zaman Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan Khulafaur Rasyidin. Beruntung hal ini tidak terjadi. Semua itu tentunya karena adanya peran dari sahabat Rasulullah, tabin, dan tabiit tabiin.

Sejarah berbicara pemberian tanda baca (syakal) berupa titik dan harakat (baris) baru mulai dilakukan ketika Dinasti Umayyah memegang tampuk kekuasaan kekhalifahan Islam atau setelah 40 tahun umat Islam membaca al-Qur’an tanpa ada syakal.

Pemberian titik dan baris pada mushaf al-Qur’an ini dilakukan dalam tiga fase. Pertama, pada zaman Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan. Saat itu, Muawiyah menugaskan Abdul Aswad Ad-dawly untuk meletakkan tanda baca (i’rab) pada tiap kalimat dalam bentuk titik untuk menghindari kesalahan membaca.

Fase kedua, pada masa Abdul Malik bin Marwan (65 H), khalifah kelima Dinasti Umayyah itu menugaskan salah seorang gubernur pada masa itu, Al Hajjaj bin Yusuf, untuk memberikan titik sebagai pembeda antara satu huruf dengan lainnya. Misalnya, huruf baa’ dengan satu titik di bawah, huruf ta dengan dua titik di atas, dan tsa dengan tiga titik di atas. Pada masa itu, Al Hajjaj minta bantuan kepada Nashr bin ‘Ashim dan Hay bin Ya’mar.

Pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan ini, wilayah kekuasaan Islam telah semakin luas hingga sampai ke Eropa. Karena kekhawatiran adanya bacaan al-Qur’an bagi umat Islam yang bukan berbahasa Arab, diperintahkanlah untuk menuliskan al-Qur’an dengan tambahan tanda baca tersebut. Tujuannya agar adanya keseragaman bacaan al-Qur’an baik bagi umat Islam yang keturunan Arab ataupun non-Arab (‘ajami).

Baru kemudian, pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah, diberikan tanda baris berupa dhamah, fathah, kasrah, dan sukun untuk memperindah dan memudahkan umat Islam dalam membaca al-Qur’an. Pemberian tanda baris ini mengikuti cara pemberian baris yang telah dilakukan oleh Khalil bin Ahmad Al Farahidy, seorang ensiklopedi bahasa Arab terkemuka kala itu. Menurut sebuah riwayat, Khalil bin Ahmad juga yang memberikan tanda hamzah, tasydid, dan ismam pada kalimat-kalimat yang ada.

Kemudian, pada masa Khalifah Al-Makmun, para ulama selanjutnya berijtihad untuk semakin mempermudah orang untuk membaca dan menghafal al-Quran, khususnya bagi orang selain Arab, dengan menciptakan tanda-tanda baca tajwid yang berupa isymam, rum, dan mad. Ilmu tajwid pun lahir karena hasil ijtihad para ulama masa itu.

Lalu mereka juga membuat tanda lingkaran bulat sebagai pemisah ayat dan mencantumkan nomor ayat, tanda-tanda wakaf (berhenti membaca), ibtida (memulai membaca), menerangkan identitas surah di awal setiap surah yang terdiri atas nama, tempat turun, jumlah ayat, dan jumlah ‘ain.

Tanda-tanda lain yang dibubuhkan pada tulisan al-Quran adalah tajzi’, yaitu tanda pemisah antara satu Juz dan yang lainnya, berupa kata ‘juz’ dan diikuti dengan penomorannya dan tanda untuk menunjukkan isi yang berupa seperempat, seperlima, sepersepuluh, setengah juz, dan juz itu sendiri.

Dengan adanya tanda-tanda tersebut, kini umat Islam di seluruh dunia, apa pun ras dan warna kulit serta bahasa yang dianutnya, mereka mudah membaca al-Quran. Ini semua berkat peran para ulama di atas dalam membawa umat menjadi lebih baik, terutama dalam membaca al-Quran.

Dalam Alquran surah Al-Hijr (15) ayat 9, Allah berfirman, ”Sesungguhnya, Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an dan Kami pula yang menjaganya.” Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian al-Qur’an selama-lamanya hingga akhir zaman dari pemalsuan. Karena itu, banyak umat Islam, termasuk di zaman Rasulullah صلى الله عليه وسلم, yang hafal al-Qur’an. Dengan adanya umat yang hafal al-Qur’an maka al-Qur’an pun akan senantiasa terjaga hingga akhir zaman.

Selanjutnya, demi memudahkan umat membaca al-Qur’an dengan baik, mushaf al-Qur’an pun dicetak sebanyak-banyaknya setelah melalui tashih (pengesahan dari ulama-ulama yang hafal al-Qur’an). Dan al-Qur’an pertama kali dicetak pada tahun 1530 Masehi atau sekitar abad ke-10 H di Bundukiyah (Vinece). Namun, kekuasaan gereja memerintahkan agar al-Qur’an yang telah dicetak itu dibasmi. Kemudian, Hankelman mencetak al-Qur’an di Kota Hamburg (Jerman) pada tahun 1694 M atau sekitar abad ke-12 H. (Lihat RS Abdul Aziz, Tafsir Ilmu Tafsir, 1991: 49). Kini, al-Qur’an telah dicetak di berbagai negara di dunia. Alhamdulillah.

Pemeliharaan al-Qur’an tak berhenti sampai di situ. Di sejumlah negara, didirikan lembaga pendidikan yang dikhususkan mempelajari Ulum Alquran (ilmu-ilmu tentang Alquran). Salah satu materi pelajaran yang diajarkan adalah hafalan al-Qur’an. Di Indonesia, terdapat banyak lembaga pendidikan yang mengajak penuntut ilmu ini untuk menghafal al-Qur’an, mulai dari pendidikan tinggi, seperti Institut Ilmu Alquran (IIQ) hingga pesantren yang mengkhususkan santrinya menghafal al-Qur’an, di antaranya Pesantren Yanbuul Quran di Kudus (Jateng) dan Pesantren Darul Qur’an yang didirikan oleh KH Yusuf Mansur.

Demi memotivasi umat untuk meningkatkan hafalannya, kini diselenggarakan Musabaqah Hifzhil Quran (MHQ), dari tingkatan satu juz, lima juz, 10 juz, hingga 30 juz. Adanya lembaga penghafal al-Qur’an ini maka kemurnian dan keaslian al-Qur’an akan senantiasa terjaga hingga akhir zaman.

Begitulah sekelumit sejarah al-Qur’an hingga bisa seperti yang sekarang ini kita lihat. Dari yang sebelumnya tidak ada tanda pembeda antara satu huruf dengan lainnya, tidak adanya tanda baca, tanda baris, pemisah dan penanda seperti tajzi dan sebagainya hingga seperti sekarang. Dan dengan ilmu tajwid hasil jerih payah para ulama, kita bisa membaca al-Qur’an dengan lancar nan indah seperti halnya orang-orang Arab.

Ketahuilah ini adalah perkara baru yang sebelumnya tidak ada atau tidak dicontohkan apalagi dilakukan Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Justru dengan perkara baru ini kita bisa mengenal Allah, mengenan Rasulullah, dan mengenal Islam. Selama perkara baru tidak bertentangan dengan syariat Qur’an dan Sunnah maka tak perlu lah kita memvonis ini bid’ah dan itu bid’ah. Perkara baru yang baik Insya Allah akan mendatangkan kebaikan juga.

Jadi, masihkah kita sesama umat Islam saling sesat menyesatkan dan bid’ah membid’ahkan? Allah Maha Mengetahui.

Tulisan berjudul Mengenal Sejarah Pemberian Tanda Baca dan Ilmu Tajwid terakhir diperbaharui pada Wednesday 4 April 2012 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


2 thoughts on “Mengenal Sejarah Pemberian Tanda Baca dan Ilmu Tajwid

Post Comment