Buya Yahya Menjawab: Mengapa Harus Mengikuti Aqidah Asy’ariyyah atau Maturidiyyah?

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Warohamtullohi Wabarokatuh, semoga kesehatan selalu diberikan Allah SWT kepada Buya. Mohon penjelasan tentang aqidah Asy’ariyah dan Maturidiyah? Mengapa kita harus memilih Imam Abul Hasan al-Asy’ariy? Apakah yang memilih imam Maturidiy juga tergolong ahlussunnah waljama’ah?

Jawaban Al Mukarrom Buya Yahya:

Wa ‘alaikumussalam Warohamtullohi Wabarokatuh. Terimakasih atas doa yang saudara sampaikan, semoga Allah SWT memberikannya juga kepada antum.

Sebaik-baik abad adalah abadku kemudian abad setelah mereka kemudian abad setelah mereka”.(H.R. Tirmidzi)

Pada masa ulama salaf ini, di sekitar tahun 260 H, mulai menyebar bid’ah Mu’tazilah, Khawarij, Musyabbihah dan lainnya dari kelompok-kelompok yang membuat faham baru. Kemudian dua imam agung; Abu al-Hasan al-Asy’ari (W. 324 H) dan Abu Manshur al-Maturidi (W. 333 H) –semoga Allah meridlai keduanya– datang dengan menjelaskan aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah yang diyakini para sahabat nabi dan orang-orang yang mengikuti mereka, dengan mengemukakan dalil-dalil naqli (nash-nash al-Quran dan Hadits) dan dalil-dalil aqli (argumen rasional) disertai dengan bantahan-bantahan terhadap syubhat-syubhat (sesuatu yang dilontarkan untuk mengaburkan hal yang sebenarnya) Mu’tazilah, Musyabbihah, Khawarij tersebut di atas dan ahli bid’ah lainnya.

Sehingga Ahlussunnah dinisbatkan kepada keduanya. Mereka; Ahlussunnah Wal Jamaah akhirnya dikenal dengan nama al-Asy’ariyyun (para pengikut imam Abu al-Hasan Asy’ari) dan al-Maturidiyyun (para pengikut imam Abu Manshur al-Maturidi). Hal ini tidak menafikan bahwa mereka adalah satu golongan yaitu al-Jama’ah. Karena sebenarnya jalan yang ditempuh oleh al-Asy’ari dan al-Maturidi dalam pokok aqidah adalah sama dan satu.

Adapun perbedaan yang terjadi di antara keduanya hanya pada sebagian masalah-masalah furu’ (cabang) aqidah. Hal tersebut tidak menjadikan keduanya saling menghujat atau saling menyesatkan, serta tidak menjadikan keduanya lepas dari ikatan golongan yang selamat (al-Firqah al-Najiyah). Perbedaan antara al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah ini adalah seperti halnya perselisihan yang terjadi antara para sahabat nabi, perihal apakah Rasulullah melihat Allah pada saat Mi’raj?.

Sebagian sahabat, seperti ‘Aisyah dan Ibn Mas’ud mengatakan bahwa Rasulullah SAW tidak melihat Tuhannya pada waktu Mi’raj. Sedangkan Abdullah ibn ‘Abbas mengatakan bahwa Rasulullah SAW melihat Allah dengan hatinya. Allah member kemampuan melihat kepada hati Nabi Muhammad SAW sehingga dapat melihat Allah. Namun demikian al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah ini tetap sepaham dan sehaluan dalam dasar-dasar aqidah.

Al-Hafizh- Murtadla az-Zabidi (W. 1205 H) mengatakan:

Jika dikatakan Ahlussunnah wal Jama’ah, maka yang dimaksud adalah al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah “. (al-Ithaf, juz 2 hlm 6).

Jadi aqidah yang benar dan diyakini oleh para ulama salaf yang shalih adalah aqidah yang diyakini oleh al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah. Karena sebenarnya keduanya hanyalah meringkas dan menjelaskan aqidah yang diyakini oleh para nabi dan rasul serta para sahabat. Aqidah Ahlusssunnah adalah aqidah yang diyakini oleh ratusan juta umat Islam, mereka adalah para pengikut madzhab Syafi’i, Maliki, Hanafi, serta orang-orang yang utama dari madzhab Hanbali (Fudhala’ al-Hanabilah).

Wallahu a’lam bish-showaab.

::selesai::

INGIN BERTANYA?
Silahkan kunjungi website Forum Tanya Jawab Buya Yahya.
Pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah Al Bahjah Cirebon.
Jl. Pangeran Cakra Buana Kel. Sendang Blok. Gudang Air No. 179 Sumber – Cirebon 45611 Indonesia.

Tulisan berjudul Buya Yahya Menjawab: Mengapa Harus Mengikuti Aqidah Asy’ariyyah atau Maturidiyyah? terakhir diperbaharui pada Tuesday 13 November 2012 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


One thought on “Buya Yahya Menjawab: Mengapa Harus Mengikuti Aqidah Asy’ariyyah atau Maturidiyyah?

  1. Assalamu’alaikum Wr.Wb

    Rasa hormat serta diiring do’a untuk Buya, mugia Buya selalu diberi kesehatan dan selalu memberikan ilmunya kepada kami yang masih bodoh ini.

    Buya saya mau bertanya mengenai, apa hukum dari bekerja menjadi calo dalam Islam???? Karena sudah tdk dapat dipungkiri, pekerjaan ini sudah jadi rasia umum, baik dari lembaga pemerintahan kemudian lembaga keIslaman sampai hal yang paling kecilpun pasti selalu ada calonya.

    Saya bertanya seperti inipun karena saya memiliki salah satu orang yang dekat dengan saya, beliau sangat percaya diri dgn pekerjaan ini. Hanya saja saya belum tahu apakah pekerjaan ini dibenarkan atau tidak dalam Islam. Terimakasih Buya atas jawabannya

    (Buya/staff saya mohon dengan hormat jawabannya selain di publish di media buya kalau bisa dikirim juga di email saya, takutnya saya lupa. Karena pertanyaan ini sangat penting bagi saya, hatur nuhun)

    Wassalamu’alaikum Wr.Wb

    Reply

Post Comment