Buya Yahya Menjawab: Perihal Shalat Berjama’ah Secara Berkelompok-Kelompok di Masjidil Haram

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum,

Saya mendengar dari seorang teman dari Mesir bahwasannya sebelum masa Sheikh Muhammad bin Abdul Wahab atau sebelum Makkah di bawah kekuasaan penguasa yang sekarang, Ummat Islam mendirikan shalat berjama’ah secara berkelompok-kelompok di dalam Masjidil Haram sesuai dengan mazhabnya, misalnya Mazhab Imam Syafi’i membentuk jama’ah shalat sendiri dengan seorang Imam, begitu juga tiga mazhab yang lainnya. Mohon penjelasannya,

Wassalamu’alaikum.

Jawaban Al Mukarrom Buya Yahya:

Wa’alaikumsalam.

Sholat berjamaah di Masjidil Haram dari semula dilakukan dengan satu imam, dan cara seperti itu adalah kebenaran yang disepakati oleh ulama 4 madhab, Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali. Kemudian terjadi kerancauan pada abad ke 5 hijriyah yaitu munculnya shalat berjamaah sesuai dengan madhab masing-masing. Bersama itu juga muncul fatwa-fatwa pengingkaran akan hal tersebut dari pembesar ulama 4 madhab. Akan tetapi usaha mereka belum menuai hasil. Di katakan olen Ibnu Abidin seorang alim dalam madhab hanafi dalam kitab Addurul Muhtar. Hal itu karena ada sebagian ulama yang dikuasai hawa nafsu dan cinta pangkat .

Kejadian semacam ini terus berlangsung hingga pada abat ke 13 tepatnya tahun 1345 hijriyah terjadialah sholat berjamah dengan satu imam dengan memperhatikan semua madhab untuk menjadi imam. Ada imam dari madhad Hanafi, ada yang dari madhab Maliki, ada juga dari madhab Syafii, juga ada yanga dari madhab Hambali yaitu pada masa Raja Abdul Aziz. Termasuk menjadi imam pada zaman itu adalah as-Sayyid Abbas bin Abdul Aziz Alhasani Almaliki kakek dari Abuya as-Sayyid Muhammad bin Alawy Almaliky. Jadi masa Syeikh Muhammad bin Abdulwahab yang lahir pada tahun 1115 hijriyah, problem ini masih ada bahkan sampai 200 tahun kemudian.

Memang ada bahasa fitnah yang di tebarkan oleh kelompok ekstim yang anti bermadhab ingin merendahkan para penganut madhab seolah-olah problem ini adalah karena adanya madhab. Padahal ulama 4 madhab juga mengingkari. Jadi problem berjamaah yang berkelompok- kelompok sesuai dengan madhab masing-masing adalah hal yang tidak diinginkan oleh semua madhab dan yang mereka inginkan adalah saling mengerti dan saling memahami perbedaan dalam urusan furu’.

Justru fitnah yang amat besar lagi adalah pada akhir-akhir ini yaitu disaat tidak ada imam kecuali dari kelompok tertentu, seperti yang terjadi di Masjidil Haram saat ini. Bahkan majlis ilmu yang ada di Masjidil Haram pun tidak ada kecuali harus pendukung kelompok tertentu. Fitnah ini lebih besar dari fitnah yang saat ini kita bicarakan. Bahkan kelompok ini cenderung picik melihat ulama bermadhab yang seolah-olah dimata mereka adalah ahli bid’ah karena taqlid mereka hingga program kajian ilmiah yang semuala marak dengan para ulama dari berbagai madhab akan tetapi semua itu saat ini sudah tidak ada lagi. Hal ini adalah karena cara pandang yang salah dari kelompok tersebut seolah-olah mereka saja yang benar dan yang lainya adalah salah tidak layak menjadi imam atau mengajar di Masjidil Haram. Ssemoga Alloh menjauhkan kita semua dari fitnah dalam dunia dan agama.

Wallohu a’lam bishowab.

::selesai::

INGIN BERTANYA?
Silahkan kunjungi website Forum Tanya Jawab Buya Yahya.
Pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah Al Bahjah Cirebon.
Jl. Pangeran Cakra Buana Kel. Sendang Blok. Gudang Air No. 179 Sumber – Cirebon 45611 Indonesia.

Tulisan berjudul Buya Yahya Menjawab: Perihal Shalat Berjama’ah Secara Berkelompok-Kelompok di Masjidil Haram terakhir diperbaharui pada Tuesday 13 November 2012 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment