Membongkar Kebohongan Mahrus Ali (Yang Mengaku-Ngaku Mantan Kyai NU) dan Rekayasa Busuk Wahabi

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Pada hari Senin Wage, 15 Dzulhijjah 1431 H atau bertepatan dengan 22 November 2010 M  menjadi hari bersejarah bagi Tim Sarkub. Di hari itulah mereka memulai perjalanan untuk “menginvestigasi” H. Mahrus Ali, pengarang buku-buku yang menyudutkan Nahdlatul Ulama (NU), di kediamannya di Tambakwaru, Sidoarjo, Jawa Timur. Sebelum menuju rumahnya H. Mahrus Ali (yang ngaku-ngaku Mantan Kiai NU), mereka berlima silaturrahim terlebih dahulu ke rumah keponakannya yang bernama H. Mahmud alumni pesantren Langitan untuk berbincang-bincang sebentar sambil mengemukakan maksud dan tujuan kedatangan baik kami ke sana. Karena, rumahnya H. Mahmud terletak pas berada di gang yang mau menuju rumahnya H. Mahrus Ali. Tentunya tidaklahh sopan apabila melewati rumahnya begitu saja.

Dalam silaturrahim itu mereka mendapat gambaran tentang ajaran yang dianut oleh Mahrus Ali, bahkan mereka mendapat informasi bahwa Mahrus Ali itu mengharamkan makan daging ayam dikarenakan ayam mempunyai cakar. Begitupula, Mahrus Ali mengharamkan makan tahu dengan alasan tahu itu mengandung cuka.

Setelah silaturrahim ke rumah H. Mahmud, mereka menuju ke rumah Mahrus Ali untuk bersilaturrahim dan ingin menanyakan langsung tentang penggunaan istilah “Mantan Kiai NU” dalam setiap karangannya.

Alhamdulillah, berkat anugerah Allah SWT mereka bisa menemui Mahrus Ali dengan begitu mudahnya. Padahal menurut informasi yang didapatkan di masyarakatnya bahwa dia si Mahrus Ali itu sulit sekali ditemuinya terutama dengan orang yang tidak sepaham dengannya. Bahkan, ibu kandungnya sendiri ketika sakit keras, dia (Mahrus Ali) tidak mau menemuinya dengan alasan tidak sepaham dengannya.

Tim Sarkub bersilaturahim ke rumahnya H. Mahmud
Tim Sarkub bersilaturahim ke rumah H. Mahmud

Dalam silaturrahim itu, Tim Sarkub sempat berdialog langsung dengan Mahrus Ali dan alhamdulillah Tim Sarkub berhasil membongkar kebohongan dan kebusukan Mahrus Ali yang menganut paham Wahhabi beserta penerbit buku-buku karangannya, yang telah menghina dan melecehkan salah satu ormas Islam ahlussunnah terbesar di dunia yakni NU. Dengan demikian, mereka sudah sepantasnya diseret ke pengadilan untuk diadili dan mendapatkan hukuman yang setimpal sesuai dengan perbuatan mereka.

Tim Sarkub sempat mengambil foto secara rahasia lewat handphone untuk dijadikan sebagai data dan bukti yang valid. Karena, H. Mahrus Ali tidak mau difoto dan menghukumi haram masalah foto. Begitupula, Tim Sarkub sempat berdialog dan mengajukan beberapa pertanyaan kepada Mahrus Ali termasuk masalah penggunaan istilah “Mantan Kyai NU” di setiap buku karangannya. Ternyata dalam jawaban Mahrus Ali penggunaan istilah “Mantan Kiai NU” itu bukanlah dari kemauan H. Mahrus Ali (Wahhabi tulen) sendiri, tetapi istilah itu merupakan keinginan dan hasil rekayasa dari penerbit “Laa Tasyuk” yang menerbitkan buku-buku karangannya dengan tujuan agar buku-buku tersebut best seller di pasaran. Buku-buku tersebut pada hakikatnya merupakan suatu pelecehan dan penghinaan terhadap eksistensi NU baik di forum nasional maupun internasional. Dengan demikian, Tim Sarkub meminta langsung kepada Mahrus Ali dengan sejujurnya untuk membuat pernyataan mengenai istilah “Mantan Kyai NU” yang merupakan bukan pilihannya sendiri sebagai suatu klarifikasi agar tidak menjadi fitnah berkepanjangan di kemudian hari.

KH. Thobary Syadzili dan Mahrus Ali
KH. Thobary Syadzili dan Mahrus Ali

Inilah surat pernyataan Mahrus Ali yang sejujurnya dihadapan al-Mukarrom KH. Muhammad Thobary Syadzily al-Bantani, Pengasuh Pondok Pesantren Al Husna Tangerang Banten. Dalam surat tersebut Mahrus Ali mengatakan bahwa penggunaan istilah “Mantan Kiai NU” bukan berasal dari dia sendiri. Tetapi itu merupakan pilihan dari pihak penerbit “Laa Tasyuk” yang terlalu dipaksakan demi untuk mengeruk keuntungan pribadi lewat buku-buku tulisan Mahrus Ali yang diterbitkannya. Untuk lebih jelasnya lagi kami salin kembali surat pernyataan Mahrus Ali di bawah ini:

“MANTAN KYAI NU BUKAN PILIHAN SAYA DAN SAYA SUDAH BILANGKAN KEPADA WARTAWAN AULA, SAYA MINTA AGAR DIGANTI TAPI SAYA TIDAK MAMPU”

TGL 15 DZULHIJJAH 1431 H

WASSALAM

MAHRUS

Bukti scan surat pernyataan Mahrus Ali
Scan surat pernyataan asli Mahrus Ali

Jadi, dalam hal ini penerbit “Laa Tasyuk” bersalah secara hukum. Begitupula dengan Mahrus Ali. Oleh karena itu, pihak NU harus menuntut dan menyeret mereka ke pengadilan demi tegaknya hukum di Indonesia. Kalau dibiarkan saja, pasti fitnah yang ditimbulkan oleh penerbit “Laa Tasyuk” dan Mahrus Ali akan semakin berkobar saja dan dapat mengancam kewibawaan NU, bahkan bisa merugikan bangsa Indonesia. Dengan demikian, Mahrus Ali dan penerbt “Laa Tasyuk” ini merupakan manusia-manusia pembohong besar. Pernah dia diundang debat terbuka di UIN Sunan Ampel di Surabaya Jawa Timur untuk mempertanggung-jawabkan buku karangannya yang menghina NU dan tidak ilmiah itu, tetapi Mahrus Ali tidak hadir dengan bermacam-macam alasan.

Dengan ketidakhadirannya itu, takut ketahuan belangnya kali ya konspirasi politik Wahhabi ini?. Awas dan hati-hati dengan fitnah dan kebohongan Mahrus Ali. Sekarang Mahrus Ali sedang dilanda ketakutan karena merasa bersalah. Dia juga suka nongkrong di warung kopi di depan balai desa di dekat rumahnya di desa Tambak Sumur RT 01 / RW 01 Kecamatan Waru Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Itupun beraninya kalau keadaannya sedang sepi. Hidupnya pun semakin susah saja bahkan sudah terasing dari masyarakatnya. Mahrus Ali itu ibarat cacing tanah kepanasan yang menjadi cemoohan masyarakat sampai ke anak-anak kecil.

Warung pojok tongkrongan Mahrus Ali
Inilah Warjok alias Warung Pojok, tempat nongkrongnya Mahrus Ali minum kopi di depan Balai Desa Tambakwaru Sidoarjo Jatim. Itupun dia lakukan kalau kondisinya sedang sepi karena kalau pas ramai dia sangat ketakutan sekali.

Adapun mengenai tulisan-tulisan Mahrus Ali di setiap buku karangannya, semuanya itu berisikan pengkajian dan pembahasan yang tidak ilmiah dan mengandung ketidakbenaran, karena tidak disertai dengan dalil-dalil yang kuat dan penjelasan-penjelasan yang ilmiah secara keilmuan. Hanya saja dalil-dalil yang diambil oleh Mahrus Ali baik dari al-Qur’an maupun Hadits Nabi hanyalah merupakan hasil terjemahan secara tekstual atau letter leg saja sehingga sama sekali tidak mengenai sasaran yang tepat. Bahkan dalam mengartikan ayat-ayat suci al-Quran yang ada asbabun nuzulnya, dia itu sangat anti sekali dengan asbabun nuzul (sebab-sebab diturunkannya ayat-ayat suci al-Qur’an). Karena, menurut Mahrus Ali asbabun nuzul itu dipenuhi dengan sanad-sanad (sandaran-sandaran hukum) yang dhaif atau lemah. Selain itu Mahrus Ali sangat anti sekali terhadap kitab-kitab karangan Imam Syafi’i. Dia hanya menggunakan tafsir yang dilakukan oleh sahabat Nabi SAW. Dengan demikian, pengkajian al-Qur’an yang dilakukan Mahrus Ali merupakan suatu kekeliruan dan penyimpangan yang besar, karena tidak berdasarkan ilmu tafsir al-Qur’an dari para ulama yang tidak diragukan lagi mengenai kredibilitas keilmuan mereka. Padahal, ilmu tafsir al-Qur’an itu sangat penting sekali dalam memecahkan setiap permasalah hidup (problem solving) terutama yang berkaitan dengan ayat-ayat mutasyabbihat dan ayat-ayat kauniyah.

Selain itu, Mahrus Ali menganggap bahwa ilmu hisab itu bid’ah dholalah dan yang paling benar hanyalah ilmu rukyat semata dalam penentuan awal bulan Qamariyah seperti awal Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah. Bahkan Mahrus Ali menyalahkan NU, Muhammadiyah, PERSIS dan ormas-ormas Islam lainnya. Dalam masalah jatuhnya waktu wukuf di Padang Arafah dan masalah jatuhnya hari puasa Arafah di Indonesia juga dia mengikuti keputusan pemerintah Saudi Arabia. Alasannya pemerintah Saudi Arabia itu menggunakan rukyat dan rukyatnya didukung dengan teropong-teropong yang canggih dari Maroko.

Kata saya kepadanya: “Bagaimana kita dapat melakukan rukyat (melihat hilal) dengan baik dan benar kalau tanpa didukung dengan data hisab yang akurat?”

Karena, rukyat yang baik itu harus dilakukan hisab terlebih dahulu, dengan kata lain “الرؤية بعد الحساب”. Rukyat tanpa data hisab yang akurat sudah barang tentu akan terjadi kesalahan dalam merukyat. Dikarenakan, untuk mengetahui posisi dan ketinggian hilal itu harus menggunakan ilmu hisab. Begitupula lamanya hilal di atas atau di bawah ufuk itu hanya bisa diketahui dengan ilmu hisab, yaitu lamanya hanya sekitar beberapa menit atau detik saja tergantung ketinggian hilalnya.

Salah seorang dari Tim Sarkub, KH. Thobary Syadzily (Pengasuh Pondok Pesantren Al Husna Tangerang Banten) berkata kepada Mahrus Ali: “Ilmu hisab itu ibarat alamat lengkap seseorang Pak. Sedangkan, rukyat itu ibarat rumah seseorang. Bagaimana kita bisa menemukan rumah seseorang kalau tanpa adanya alamat yang jelas. Coba Bapak pikirkan baik-baik !. Saya ini datang dari jauh dan ingin ke rumah Bapak. Apakah Saya akan menemukan rumah Bapak kalau Saya tidak mempunyai alamat rumah Bapak yang jelas?”.

Jawab Mahrus Ali: “Oh iya ya pasti sampeyan tidak bisa menemukan alamat rumah Saya!”.

Itulah penjelasan KH. Thobary Syadzily kepada Mahrus Ali dan dia (Mahrus Ali) pun mengakuinya secara jujur.

Kemudian KH. Thobary bertanya lagi kepada dia: “Ngomong-ngomong ! Apakah Bapak bisa tidak ilmu hisab?.”

Jawab dia: “Saya tidak bisa sama sekali ilmu hisab.“

“Mengapa bapak menulis ilmu hisab di buku karangan Bapak yang berjudul “Amaliyah Sesat di Bulan Ramadhan?. ” tanya KH. Thobary lagi. “Bahkan bapak mencela NU dan Muhammdiyah serta Kementrian Agama Republik Indonesia?. “

Jawab Mahrus Ali: “Oh itu Saya ambil dari internet saja. “

Kata KH. Thobary: “Memangnya Bapak punya internet?.”

“Ya, Saya punya.”, jawab Mahrus Ali.

Foto Mahrus Ali
Foto Mahrus Ali

Itulah pengakuan sejujurnya Mahrus Ali kepada KH. Thobary Syadzily. Karena, mereka berusaha meyakinkan dan memeluruskan pemahaman dia si Mahrus Ali yang salah dan keliru itu tentang ilmu hisab. Walhasil Mahrus Ali itu tidak faham sama sekali tentang ilmu hisab dan rukyat. Ternyata tulisan dia (Mahrus Ali) tentang hisab itu hanyalah merupakan copy paste dari internet alias Google saja.

Adapun dalam masalah penentuan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah di Indonesia, Mahrus Ali menyerahkan sepenuhnya kepada NU. Dari sini kita fahami bahwa Mahrus Ali tidak konsisten dengan pendiriannya semula, padahal secara keilmuan NU itu menggunakan perpaduan antara Hisab dan Rukyat. Tapi, mengapa dia (Mahrus Ali) menganggap ilmu hisab itu bid’ah (maksudnya bid’ah dholalah atau sesat)?.

Bukan hanya itu saja, Mahrus Ali pun sama sekali tidak paham tentang ilmu mantiq (logics). Bagaimana dia bisa memahami isi al-Qur’an dan Hadits kalau dia (Mahrus Ali) tidak paham tentang ilmu itu?. Sedangkan, ilmu mantiq merupakan salah satu pendukung untuk membongkar rahasia al-Qur’an dan Hadits. Begitupula ketika ditanya tentang ilmu tauhid pun pemahamannya sangat dangkal sekali, sehingga apa yang dia (Mahrus Ali) pahami dalam masalah ilmu tauhid tidak sesuai dengan pemahaman aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Dengan demikian, pemahaman keilmuan Mahrus Ali benar-benar sangat diragukan tentang kebenarannya karena tidak sesuai denagn fakta-fakta keilmuan yang berlaku di dalam ajaran agama Islam. Itulah ajaran Wahhabi yang dianut oleh Mahrus Ali untuk menyesatkan ummat Islam di Indonesia. Memang Mahrus Ali itu otaknya sudah dicuci oleh Wahhabi ketika dia belajar dahulu di Saudi Arabia selama 8 tahun.

Buku Mahrus Ali yang hanya copy paste dari Internet
Salah satu buku karangan Mahrus Ali yang ternyata sumbernya cuman diambil dari internet saja alias Syeikh Google al-Interniti atau Ustadz Yahoo al-Onlini

Jadi, peringatan bagi seluruh umat Islam di Indonesia khususnya agar jangan sampai terprovokasi atau terpengaruh dengan keberadaan buku tersebut di atas dan buku-buku karangan Mahrus Ali lainnya yang penuh dengan kebohongan dan hasil rekayasa dari Wahhabi. Dengan kata lain, buku-buku itu hanyalah sebagai penyambung lidah Wahhabi (termasuk penerbit buku “LAA TASYUK” yang beralammat di Jln. Pengirian No. 82 Surabaya Jawa Timur dan oknum-oknum yang berada di belakangnya) saja yang bertujuan untuk mengadu domba antara NU, Muhammadiyah, Persis dan ormas-ormas Islam lainnya dan memperdaya ummat Islam di Indonesia khususnya para warga Nahdhiyyin. Itulah gaya politik Wahhabi yang murahan dan rendahan yang selalu ditampilkan dalam dakwahnya.

Cirinya: Wahhabi itu sangat licik dan suka memecah belah ummat Islam saja. Cara berpikirnya pun sangat dangkal sekali dan sangat egoistis alias ingin menang sendiri saja serta suka usilan terhadap urusan ibadah orang lain yang tidak sepaham dengannya dengan mengecam sesat, musyrik dan murtad. Dalam hal ini Wahhabi bukannya memajukan ummat Islam di bidang sains dan teknologi, justru sebaliknya hanya membuat ummat Islam semakin terperangkap saja dalam jurang kebodohan, sehingga sikapnya itu bisa menjadikan Indonesia sebagai negara yang tidak bermartabat dan tidak bermoral baik di forum nasional maupun internasional.

Pengarang buku ini (Mahrus Ali) sebenarnya bukan mantan kyai NU, apalagi pernah menjadi anggota atau menjabat di NU. Dia si Mahrus Ali itu orang kampung biasa yang keadaan hidupnya sangat sederhana sekali dan tidak punya kekuatan sedikitpun di masyarakatnya. Oleh karena itu, penerbit “Laa Tasyuk” memanfa’atkan dia (Mahrus Ali) untuk dijadikan sebagai tumbal politik ekonominya.

Kalau melihat tampang muka dan tata cara shalatnya beserta jama’ahnya, pasti semua orang menilai bahwa aliran yang dianutnya sangat menyesatkan ummat Islam. Coba saja lihat di sini foto-foto profil aslinya beserta jama’ahnya. Ini benar-benar merupakan foto-foto asli dan bukan hasil rekayasa:

Khutbah jum'at ala Mahrus Ali
Khutbah Jum'at ala Mahrus Ali di rumahnya sendiri dengan sedikit pengikutnya
Sujudnya Mahrus Ali dan pengikutnya
Sujud di atas tanah dan memakai sandal ketika sholat Jum’at bertempat di rumah Mahrus Ali
Mahrus Ali bersama pengikutnya di rumahnya
Mahrus Ali bersama pengikutnya di rumahnya usai shalat Jum'at
Shalat pakai sandal di atas tanah dan tidak mau shalat di atas keramik atau ubin
Shalat pakai sandal di atas tanah dan tidak mau shalat di atas keramik atau ubin
Pengikut Mahrus Ali sedang sujud di atas tanah pakai sandal
Pengikut Mahrus Ali sedang sujud di atas tanah pakai sandal
Shalat pakai sandal jepit di rumahnya Mahrus Ali
Shalat pakai sandal jepit di rumahnya Mahrus Ali
Pengikut Mahrus Ali terekam oleh salah satu stasiun TV swasta di Indonesia ketika shalat 'Id
Pengikut Mahrus Ali terekam oleh salah satu stasiun TV swasta di Indonesia ketika shalat 'Id
Pengikut Mahrus Ali sedang shalat 'Id di atas tanah
Pengikut Mahrus Ali sedang shalat 'Id di atas tanah

Tulisan di atas ini semata-mata sebagai nasehat agar kita tidak mudah menerima (menelan) informasi yang datang kepada kita tanpa mengecek atau meneliti informasi tersebut. Dan Tim Sarkub telah berhasil menginvestigasi langsung H. Mahrus Ali yang meresahkan ummat itu. Maka sangatlah mengherankan dengan sikap sebagian kalangan yang tidak pernah mau mengambil hikmah dan pelajaran dari fenomena kebohongan yang mengatas namakan ulama seperti kasus di atas, yaitu seorang H. Mahrus Ali yang mengaku sebagai mantan Kiyai NU dengan tujuan memojokkan NU.

Berikut ini salah satu kutipan yang jelas-jelas bohong, yang berasal dari penulis buku “Menggugat Tahlilan” dan mengatas namakan pengarang kitab I’anath Thalibin,

Didalam buku yang berjudul “Membongkar Kesesatan Tahlilan”, hal. 31, disana dituliskan :

“Dan di antara bid’ah munkaroh yang sangat dibenci adalah apa yang dilakukan orang di hari ketujuh dan di hari ke-40-nya. semua itu haram hukumnya” (lihat buku Membongkar Kesesatan Tahlilan, hal. 31).

Penulis buku tersebut mengutip kalimat tersebut dari kitab I’anatuth Thalibin, yang mana kalimatnya telah di gunting/dipotong atau belum tuntas dan ini yang dijadikan rujukan oleh remaja korban internet. Kutipan diatas juga tercantum dalam buku “Mantan Kiai NU Menggugat Tahlilan”, isinya sebagai berikut :

“Di antara bid’ah munkarat yang tidak disukai ialah perkara yang sangat biasa diamalkan oleh individu dalam majelis untuk menyampaikan rasa duka cita (kenduri arwah), berkumpul dan membuat jamuan majelis untuk kematian pada hari keempat puluh, bahkan semua itu adalah haram” (lihat buku Mantan Kiai NU Menggugat Tahlilan, hal. 69).

Perhatikanlah kutipan kalimat di atas, maka silahkan bandingkan dengan teks asli dari kitab I’anatuth Thalibin:

وفي حاشية العلامة الجمل على شرح المنهج: ومن البدع المنكرة والمكروه فعلها: ما يفعله الناس من الوحشة والجمع والاربعين، بل كل ذلك حرام إن كان من مال محجور، أو من ميت عليه دين، أو يترتب عليه ضرر، أو نحو ذلك

“Dan didalam kitab Hasiyatul Jamal ‘alaa Syarh al-Minhaj (karangan al-‘Allamah asy-Syekh Sulaiman al-Jamal); dan sebagian dari bid’ah Munkarah dan Makruh mengerjakannya yaitu apa yang dilakukan orang daripada berduka cita, berkumpul dan 40 harian, bahkan semua itu haram jika (dibiayai) dari harta yang terlarang, atau dari (harta) mayyit yang memiliki (tanggungan) hutang atau (dari harta) yang bisa menimbulkan bahaya atasnya, atau yang lain sebagainya”

Kalimat yang seharusnya di lanjutkan tapi di potong begitu saja. Mereka telah menyembunyikan maksud yang sebenarnya dari ungkapan ulama yang berasal dari kitab aslinya. Mereka memenggal kalimat secara “seksama” (penipuan yang direncanakan/ kebohongan disengaja, red) demi tercapainya tujuan mereka yaitu melarang bahkan mengharamkan Tahlilan, seolah-olah tujuan mereka didukung oleh pendapat Ulama, padahal hanya didukung oleh tipu daya mereka sendiri yang mengatas namakan ulama. Bukankah hal semacam ini juga termasuk telah memfitnah Ulama? Ucapan mereka yang katanya menghidupkan sunnah sangat bertolak belakang dengan prilaku penipuan dan kebohongan yang mereka lakukan.

Itulah sekilas kebohongan yang dijadikan kebanggaan oleh sebagian da’i-da’i keblinger.

Buku yang membongkar dan mengupas dusta Mahrus Ali
Buku yang membongkar dan mengupas dusta Mahrus Ali yang diterbitkan oleh PCNU Jember

Mengenai Kebohongan dan Kedustaan H. Mahrus Ali dalam bukunya, bisa anda baca di dalam buku yang telah diterbitkan oleh Tim Bahtsul Masail PCNU Jember, bukunya berjudul: “MEMBONGKAR KEBOHONGAN BUKU MANTAN KIAI NU MENGGUGAT SHOLAWAT & DZIKIR SYIRIK (H.MAHRUS ALI

Kita sebagai umat Islam juga perlu hati-hati dan mewaspadai gerakan dakwah yang dilakukan Wahhabi Salafi yang suka merubah (tahrif dan tahqiq) kitab-kitab ulama klasik. Ada sekitar 300 kitab yang telah mengalami perubahan oleh tangan-tangan jahil Wahhabi Salafi. Diantara kitab-kitab tersebut adalah kitab al-Ibanah karya al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari, Tafsir Ruh al-Ma’ani karya al-Imam Mahmud al-Alusi, Tafsir al-Kasysyaf karya al-Imam al-Zamakhsari, Tafsir al-Shawi, Nihayah al-Qaul al-Mufid, Nadzom al-Jurumiyah, al-Jami’ush Shaghir, al-Washiyah Imam Abu Hanifah, dan lain sebagainya. Untuk selengkapnya silahkan download file presentasi Tahrif Kitab Ulama Klasik Yang Dilakukan Wahabi Salafi yang disajikan oleh al-Mukarrom KH. Muhammad Thobary Syadzily al-Bantani, Pengasuh Pondok Pesantren Al Husna Tangerang Banten.

Semoga bermanfaat dan matur NUwun. Mudah-mudahan Allah SWT memberikan hidayah kepada Mahrus Ali, para pengikutnya, dan penerbit Laa Tasyuk. Wallahu a’lam bishshowab.

(Kang Luqman)

Tulisan berjudul Membongkar Kebohongan Mahrus Ali (Yang Mengaku-Ngaku Mantan Kyai NU) dan Rekayasa Busuk Wahabi terakhir diperbaharui pada Sunday 17 February 2013 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


One thought on “Membongkar Kebohongan Mahrus Ali (Yang Mengaku-Ngaku Mantan Kyai NU) dan Rekayasa Busuk Wahabi

Post Comment