Hukum Memakan Biawak, Halal Atau Haram?

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Dalam Brosur Resmi MTA Solo tertanggal Ahad, 04 September 2011/06 Syawwal 1432, Brosur No. : 1569/1609/IF tentang Halal Haram dalam Islam (ke-7), Majelis Tafsir Alqur’an Surakarta pimpinan Al Ustadz Drs. Ahmad Sukina menyamakan hewan Dhabb dengan Biawak.

Brosur MTA Surakarta tersebut menuliskan beberapa binatang yang para sahabat memakannya, sedangkan Nabi SAW tidak melarang, diantaranya adalah Dlab (Biawak), Kuda, Himar Liar, dan Kelinci. Dalam Brosur MTA Solo itu dengan jelasnya tertulis Dhabb (Dlabb) adalah Biawak. Bahkan dikuatkan dengan hadits-hadits Nabi SAW yang mana MTA Surakarta mengartikan Dhabb dengan Biawak ((Silahkan lihat gambar Brosur MTA).

MTA Solo Halalkan Biawak
Brosur MTA Solo menyatakan dhabb adalah biawak. Al Ustadz Ahmad Sukina berfatwa biawak adalah halal. (Klik gambar untuk memperbesar)

Tidak hanya itu, dalam tanya jawab Pengajian Ahad Pagi pada 04 September 2011, Ketua Umum MTA Solo Al Ustadz Ahmad Sukina mengatakan bahwa yang haram itu hanya 4 macam saja yaitu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang disembelih bukan karena Allah seperti yang termaktub dalam Al Qur’an. Yang dimaksud darah yang yang diharamkan di sini menurut fatwa MTA Solo adalah darah yang mengalir saja. Lebih lanjut Al Ustadz Drs. Ahmad Sukina menyatakan bahwa larangan atau pengharaman yang ada di dalam hadits-hadits nabi hukumnya hanyalah makruh, yang kalau dilakukan tidak berdosa, dan apabila ditinggalkan berpahala. Kalaupun ada pengharaman dalam hadits Nabi SAW maka keharaman yang ada dalam hadits Nabi SAW paling tinggi derajatnya sampai makruh, tidak sampai haram seperti halnya dalam Al Qur’an. Menurutnya lagi, Nabi SAW sekalipun sebagai Nabi tidak boleh menghalal-haramkan yang dihalal-haramkan oleh Allah SWT. Bagi MTA Solo yang haram itu hanyalah 4 macam saja seperti yang telah disebutkan di atas.

Silahkan simak dan dengarkan baik-baik fatwa Al Ustadz Ahmad Sukina (04 September 2011) selengkapnya di bawah ini:

Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.

Download mp3 di sini.

Al Ustadz Drs. Ahmad Sukina (MTA Solo)
Al Ustadz Drs. Ahmad Sukina (MTA Solo)

Dalam audio mp3 tersebut Al Ustadz Ahmad Sukina menyamakan dhabb dengan biawak atau menyamakan biawak dengan dhabb, sehingga hukumnya halal dan boleh dimakan.

Lalu, apakah benar bahwa hewan Dhabb itu sama dengan Biawak? 

Dalam menjawab pertanyaan ini, ada dua hal penting yang perlu diperhatikan. Pertama, masalah biawak yang oleh sebagian kalangan dianggap sebagai terjemahan dari kata dhabb. Kedua, hukum dhabb sendiri yang ternyata menjadi bahan perbedaan pendapat para ulama, karena terdapatnya beberapa hadits yang berbeda hukumnya tentang hewan itu.

Masalah Pertama: Apakah Biawak terjemahan kata Dhabb?

Banyak orang di masa lalu menerjemahkan kata dhab (الضَّبّ) dengan biawak. Sementara para peneliti kemudian mengkritisi lebih lanjut dan menemukan bahwa ternyata hewan yang dimaksud itu bukan biawak. Memang gambarnya mirip dengan biawak, namun setelah diteliti lebih lanjut, terbukti memang bukan biawak. Sehingga pada penerjemahan berikutnya, dhabb lebih sering ditulis dengan: hewan mirip biawak. Walhasil, karena memang bukan biawak, maka hukumnya tidak terkait dengan masalah dhabb sebagaimana yang terdapat dalam hadits-hadits nabawi.

Maksudnya, biawak adalah nama jenis binatang tertentu, sedangkan dhabb adalah nama jenis binatang yang lain. Keduanya tidak ada kaitannya, kecuali ada kemiripan bentuk.

Kalau begitu apa bedanya biawak dengan dhabb? Dilihat dari bentuk tubuhnya biawak memang mirip dengan dhabb tetapi ukurannya lebih besar dari dhabb. Para ahli dan ulama menyatakan bahwa biawak mempunyai kepala yang lancip sedangkan dhabb agak bulat, ekor biawak lancip halus sedangkan dhabb kasar seperti ekor buaya, kulit biawak bersisik halus seperti ular tapi dhabb sisiknya kasar dan tebal.

Adapun kehidupan biawak berada di tempat-tempat yang lembab atau berair seperti lembah, tepi sungai, rawa-rawa, danau, atau sawah, lain halnya dengan dhabb yang justru hidup di tempat yang kering seperti gurun atau padang pasir. Makanannya pun sangat berbeda, kalau biawak termasuk hewan karnivora pemakan hewan seperti ayam, kodok, yuyu, tikus, atau bangkai. Sedangkan dhabb termasuk hewan herbivora pemakan rerumputan di padang pasir. Dhab tidak memangsa dan memakan hewan lain (selain belalang), bahkan Ibnu Mandzur mengatakan bahwa dhab tidak mau memakan kutu.

Berdasarkan sifatnya, hewan biawak termasuk binatang buas dan membahayakan berbeda sekali dengan dhabb yang tidak termasuk binatang buas dan tidak membahayakan. Dalam kamus bahasa Arab biawak disebut Waral (الْوَرَلَ), bukan Dhab/hewan mirip biawak (الضَّبّ) sehingga tidak benar kalau dhabb diartikan sama dengan biawak. Dhabb seperti yang banyak disebut dalam hadits Nabi SAW berbeda dengan hewan biawak. Silahkan lihat penampakan dhabb dan biawak pada gambar di bawah ini untuk lebih jelasnya:

Gambar penampakan hewan dhabb (الضَّبّ)

Gambar hewan dhabb (hewan mirip biawak)
Gambar hewan dhabb (hewan mirip biawak)
Hewan dhabb yang ditangkap manusia
Hewan dhabb yang ditangkap manusia
Hewan dhabb yang sudah dimasak dan siap santap
Hewan dhabb yang sudah dimasak dan siap santap

Gambar penampakan hewan biawak (الْوَرَلَ)

Hewan biawak yang banyak ditemukan di Indonesia
Hewan biawak yang bisa ditemukan di Indonesia
Penampakan biawak yang seperti komodo
Penampakan biawak yang seperti komodo

Gambar-gambar di atas jelas sekali tampak perbedaannya antara dhabb dan biawak. Meski secara fisik menunjukan ada kesamaan dan memang ada kemiripan bentuk tubuh antara dhabb dengan biawak, namun pada banyak hal terdapat banyak sekali perbedaan antara kedua hewan tersebut. Perbedaan yang paling menonjol adalah terutama dalam hal makanannya, dimana dhabb merupakan hewan yang jinak (tidak buas) memakan makanan yang bersih dan tidak menjijikan (rerumputan) berbeda sekali dengan biawak yang merupakan hewan buas dan pemangsa serta memakan makanan yang menjijikkan.

Selain menjijikkan, biawak juga merupakan hewan yang licik dan zhalim. Abdul Lathif Al-Baghdadi menyebutkan bahwa diantara kelicikkan dan kedzaliman biawak adalah bahwa biawak suka merampas lubang ular untuk ditempatinya dan tentunya sebelumnya dia membunuh dan memakan ular tersebut. Selain itu biawak juga suka merebut lubang dhabb, padahal kuku biawak lebih panjang dan lebih mudah untuk digunakan membuat lubang. Karena kedzalimannya, orang-orang Arab sering mengungkapkan: “Dia itu lebih zhalim daripada biawak”.

Dari keterangan-keterangan di atas, maka hukum memakan biawak adalah haram karena tergolong binatang buas sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi SAW:

Seluruh binatang pemangsa dengan gigi taringnya maka haram memakannya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

Masalah Kedua: Perbedaan Ijtihad Ulama tentang Hukum Dhabb.

Ada beberapa hadits yang saling berbeda terkait dengan hukum memakan daging dhabb. Sebagian dari matan hadits itu menunjukkan kebolehan memakan dhabb, namun sebagian lainnya menunjukan ketidak-halalannya.

a. Hadits-hadits yang Melarang Makan Dhabb

Bahwa Rasulullah SAW melarang (makan) dhabb. (HR Abu Daud).

Dari Abduurahman bin Hasnah bahwa para sahabat memasak dhabb, lalu Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya satu umat dari bani Israil diubah menjadi hewan melata di tanah, aku khawatir mereka itu adalah hewan ini, jadi buanglah.” (HR Ahmad, Ibnu Hibban dan Ath-Thahawi)

Ibnu Hibban dan Ath-Thahawi menshahihkan hadits ini dengan sanad sesuai syarat dari Bukhari.

b. Hadits yang Menghalalkan Dhabb

Dari Ibnu Abbas ra berkata,”Aku makan dhabb pada hidangan Rasulullah SAW.” (HR Bukhari Muslim)

Dari Ibnu Umar ra. berkata bahwa Rasulullah SAW ditanya tentang hukum dhabb, maka beliau menjawab, “Aku tidak memakannya namum tidak mengharamkannya.” Beliau juga ditanya tentang hukum makan belalang, maka beliau menjawab, “Hukumnya sama.” (HR An-Nasa”i)

Rasulullah SAW bersabda, “Makanlah hewan itu karena hukumnya halal. Namun hewan itu bukan makananku.” (HR Muslim)

c. Ijtihad Para Ulama

Dengan adanya perbedaan sekian hadits tentang dhabb di atas, maka para ulama pun berbeda pendapat tentang hukum memakannya. Sebagian dari mereka mengharamkannya dan sebagian lainnya menghalalkannya.

Mereka yang Mengharamkan: Pengharaman mereka berangkat dari adanya hadits-hadits di atas yang esensinya mengharamkan seorang muslim memakan daging dhabb. Bahkan Rasulullah SAW sampai memerintahkan untuk membuangnya, karena beliau khawatir hewan itu adalah penjelmaan dari umat terdahulu yang dikutuk jadi hewan. Perintah untuk membuangnya berarti makanan itu haram. Karena kalau halal atau sekedar makruh, tidak mungkin beliau perintahkan untuk membuangnya. Sebab membuang makanan, meski tidak doyan, hukumnya haram.

Mereka yang Menghalalkan: Mereka yang menghalalkan makan daging dhabb tentu saja berhujjah dengan hadits-hadits yang membolehkan. Yaitu Rasululah SAW membolehkan makan dagingnya, meski beliau sendiri tidak memakannya. Sedangkan terhadap hadits-hadits yang tidak membolehkannya, mereka mengatakan bahwa kedudukan hadits-hadits itu lemah dan bermasalah, sebagaimana hasil peniliaian para ulama berikut ini:

Ibnu Hazam mengatakan bahwa hadits riwayat Abu Daud tentang Rasulullah SAW melarang (makan) dhabb itu adalah hadits yang bermasalah pada isnadnya. Beliau mengatakannya perawinya dhaif (lemah) dan majhul (tidak diketahui).

Demikian juga dengan Al-Baihaqi, beliau mengatakan bahwa dalam isnad hadits tersebut ada perawi yang bernama Ismail bin Ayyash. Menurut beliau perawi ini termasuk kategori: laisa bihujjah (tidak bisa dijadikan dasar argumen). Mereka juga mengatakan bahwa hadits yang melarang makan dhabb karena Rasulullah SAW khawatir hewan itu penjelmaan manusia yang dikutuk, tidak bisa diterima. Sebab bertentangan dengan hadits lainnya yang menyebutkan bahwa Allah SWT tidak mengutuk orang jadi hewan lalu hewan itu bisa beranak pinak dan berketurunan. Kemungkinan saat itu Rasulullah SAW belum menerima wahyu lebih lanjut bahwa umat terdahulu yang dikutuk menjadi hewan tidak akan punya keturunan, bahkan setelah jadi hewan, tidak lama kemudian mereka mati.

Dari Ibnu Mas”ud ra. bahwa Rasulullah SAW ditanya tentang kera dan babi, apakah hewan itu penjelmaan (orang yang dikutuk di masa lalu)? Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah SWT tidak menghancurkan suatu kaum atau mengutuknya jadi hewan sehingga mereka punya keturunan.” Diriwayatkan oleh Imam Muslim sebagaimana ditulis oleh Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Bulughul Maram.

Pada tahun 1932, Nahdlatul Ulama pun sudah membahas tentang masalah ini. Dalam Muktamar Nahdhatul Ulama ke-7 di Bandung pada tanggal 13 Rabi’uts Tsani 1351 H/ 9 Agustus 1932 M menerangkan sebagai berikut:

SOAL: Apakah yang dinamakan binatang biawak (seliro atau mencawak) itu? Apakah binatang tersebut ialah binatang dhabb yang halal dimakan?

JAWAB: Binatang biawak (seliro atau mencawak) itu bukan binatang dhabb, oleh karenanya maka haram dimakan.

Keterangan dari kitab Hasyiyah al-Qalyubi ‘ala Syarh al-Minhaaj 4/259, cetakan al Haramain sebagai berikut:

قَوْلُهُ وَضَبٌّ: هُوَ حَيَوَانٌ يُشْبِهُ الْوَرَلَ يَعِيشُ نَحْوِ سَبْعَمِائَةِ سَنَةٍ وَمِنْ شَأْنِهِ أَنَّهُ لَا يَشْرَبُ الْمَاءَ وَأَنَّهُ يَبُولُ فِي كُلِّ أَرْبَعِينَ يَوْمًا مَرَّةً وَلَا يَسْقُطُ لَهُ سِنٌّ وَلِلْأُنْثَى مِنْهُ فَرْجَانِ وَلِلذَّكَرِ ذَكَرَانِ

QAULUHUU WA DHABB: WAHUWA HAYAWAANUN YUSYBIHUL WARAL YA’IISYU NAHWA SAB’AMI`ATI SANATIN WA MIN SYA`NIHII ANNAHUU LAA YASYRABUL MAA`A WA ANNAHUU YABUULU FII ARBA’IINA YAUMAN MARRATAN WA ANNAHUU LIL UNTSAA MINHU FARJAANI WA LIDZDZAKARI DZAKRANAANI

Keterangan binatang dhab: binatang dhab adalah binatang yang menyerupai biawak yang mampu hidup sekitar tujuh ratus tahun, binatang ini tidak minum air dan ia kencing sekali dalam 40 hari, betinanya memiliki dua alat kelamin betina dan yang jantan pun juga memiliki dua alat kelamin jantan.

Jadi, jangan disangka bahwa hukum memakan daging biawak (waral) yang termasuk binatang buas itu sama dengan makan daging dhabb (hewan mirip biawak). Daging biawak hukumnya haram dimakan, sedangkan daging dhabb sendiri dihalalkan oleh Nabi SAW, sebagaimana dalam hadits Khalid bin Walid RA:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: دَخَلْتُ اَنَا وَ خَالِدُ بْنُ الْوَلِيْدِ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص بَيْتَ مَيْمُوْنَةَ، فَاُتِيَ بِضَبّ مَحْنُوْذٍ، فَاَهْوَى اِلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ ص بِيَدِهِ، فَقَالَ بَعْضُ النّسْوَةِ اللاَّتِي فِي بَيْتِ مَيْمُوْنَةَ اَخْبِرُوْا رَسُوْلَ اللهِ ص بِمَا يُرِيْدُ اَنْ يَأْكُلَ، فَرَفَعَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَدَهُ، فَقُلْتُ اَحَرَامٌ هُوَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: لَا، وَ لكِنَّهُ لَمْ يَكُنْ بِاَرْضِ قَوْمِي فَاَجِدُنِي اَعَافُهُ. قَالَ خَالِدٌ: فَاجْتَرَرْتُهُ فَاَكَلْتُهُ وَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَنْظُرُ. مسلم 3: 1543

Dari Abdullah bin Abbas, ia berkata, “Saya dan Khalid bin Walid bersama-sama dengan Rasulullah SAW datang ke rumah Maimunah, lalu ia hidangkan kepada kami daging dhabb yang telah dibakar, Rasulullah SAW lalu mengulurkan tangannya untuk mengambil daging tersebut, tiba-tiba sebagian dari wanita yang berada di rumah Maimunah berkata, “Beritahukanlah dulu kepada Rasulullah SAW hidangan yang akan beliau makan”. Karena itu Rasulullah SAW lalu menarik tangannya. Lantas saya bertanya, “Apakah daging tersebut haram wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Tidak, tetapi karena ia tidak ada di negeri kaumku, maka saya merasa jijik untuk memakannya”. Khalid berkata, “Lalu saya ambil daging tersebut dan saya makan, sedangkan Rasulullah SAW melihat”. [HR. Muslim juz 3, hal. 1543]

Kesimpulan:

  • Dhabb berbeda dengan biawak. Sebenarnya kalau kita mau membuka kamus, kita akan dapati bahwa biawak dalam bahasa Arab disebut waral (الوَرَلُ), bukan dhabb (الضَّبّ)/ hewan mirip biawak.
  • Dhabb merupakan hewan yang halal untuk dimakan meskipun ada sebagian ulama yang mengharamkannya, akan tetapi lebih kuat hujjah yang menghalalkan.
  • Sedangkan biawak adalah hewan yang haram untuk dimakan dikarenakan: biawak merupakan hewan yang menjijikkan (khabits), biawak merupakan hewan buas, para ulama mutaqaddimin pun telah mengharamkan biawak, para ulama mutaakhirin dari kalangan Syafi’iyah dan Hanabilah telah menegaskan tentang kejelasan haramnya biawak.

Wallahu a’lam bishshabwab.

Tulisan berjudul Hukum Memakan Biawak, Halal Atau Haram? terakhir diperbaharui pada Thursday 24 October 2013 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment