Video Kajian: Membongkar Kebohongan Buku “Mantan Kyai NU Menggugat Shalawat dan Dzikir Syirik” H. Mahrus Ali

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Buku berjudul “Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat dan Dzikir Syirik” yang dikarang oleh H Mahrus Ali memang telah menimbulkan kontroversi. Sejak diterbitkan, buku itu telah memancing perseteruan terutama bagi kalangan ahlussunnah dari Nahdliyin (sebutan untuk warga NU). Hingga akhirnya kiai NU, KH. Abdullah Syamsul Arifin, Wakil Katib Syuriah PWNU Jatim, mengarang buku berjudul Membongkar Kebohongan Buku “Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat dan Dzikir Syirik”. Seperti judulnya, buku ini memang menjadi sarana untuk meng-counter atas buku kontroversial tersebut.

KH. Abdullah Syamsul Arifin khawatir jika bacaanya cuma satu sumber kalau yang membaca tidak paham akan ikut saja. Beliau juga mengkhawatirkan kalau upaya mengkafirkan kelompok tertentu begitu mudah dilakukan. Lebih lanjut beliau mengungkapkan bahwa setiap kali diundang untuk debat, H. Mahrus Ali tidak pernah mau datang dengan alasan keamanan. Padahal yang beliau upayakan itu harokah fikriyah, bukan badaniyah.

Berdasarkan hasil kajian terhadap buku H. Mahrus Ali yang menyesatkan tersebut, KH. Abdullah Syamsul Arifin menemukan banyak sekali kejanggalan bahkan kebohongan dan fitnah. Di antara kebohongan-kebohongan tersebut, yang juga dicantumkan dalam buku sanggahannya adalah: inkonsistensi terhadap metodologi yang ditetapkannya sendiri; kesalahan dalam penempatan dalil tidak pada tempatnya; membuat ideologi baru yang kontraproduktif; kekeliruan menilai hadits; kebohongan dalam mengutip pendapat ulama; ketidaktahuan/ kebohongan tentang penyusunan sholawat; kebohongan tentang do’a Rasulullah dan shahabat; kebohongan tentang bid’ah; dan kebohongan syakhsiyah (personal).

Masih banyak lagi kebohongan-kebohongan yang dilakukan H. Mahrus Ali dalam bukunya “Mantan Kyai NU Menggugat Sholawat dan Dzikir Syirik”. Untuk lebih jelasnya, silahkan simak video di bawah yang membongkar kebohongan H. Mahrus Ali yang mengaku-ngaku sebagai mantan kyai NU. Video tersebut adalah hasil rekaman acara Bedah Buku Membongkar Kebohongan Buku “Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat dan Dzikir Syirik” yang diadakan pada Selasa, 16 Desember 2013 di gedung Widyaloka Universitas Brawijaya (UB), Selasa (16/12). Acara ini dilaksanakan atas kerja sama grup diskusi Aswaja (Ahlussunah wal Jamaah) dan Forsa Fakultas Hukum UB dengan pemateri KH. Abdullah Syamsul Arifin (Wakil Katib Syuriah PWNU Jatim) dan pembanding KH Marzuki Musytamar (Ketua PCNU Malang Raya).

VIDEO BEDAH BUKU MEMBONGKAR KEBOHONGAN BUKU MANTAN KIAI NU MENGGUGAT SHOLAWAT DAN DZIKIR SYIRIK

Intro

YouTube Preview Image

Bagian 1

YouTube Preview Image

Bagian 2

YouTube Preview Image

Kebohongan dan dusta H. Mahrus Ali sebenarnya sudah dibongkar oleh KH. Thobary Syadzili. Beliau adalah cucu Syaikh Nawawi Al-Bantani yang saat ini memimpin Pondok Pesantrean Al Husna Tangerang Banten. Pada hari Senin 15 Dzulhijjah 1431 H/ 22 November 2010, beliau bersama timnya bersilaturahmi ke rumah H. Mahrus Ali. Sebelum menuju rumahnya H. Mahrus Ali, beliau mampir di rumah keponakan H. Mahrus Ali, yang bernama H. Mahmud. Dari sini, diketahui bahwa H. Mahrus Ali mengharamkan makan daging ayam dikarenakan ada cakarnya. H. Mahrus Ali juga mengharamkan makan tahu dengan alasan mengandung cuka.

Setelah selesai silaturahmi dengan H. Mahmud, perjalanan dilanjutkan ke rumah H. Mahrus Ali yang tidak jauh jaraknya. Dalam silaturahmi di rumah H. Mahrus Ali yang mengaku-ngaku Mantan Kyai NU ini terungkap jelas akan kebohongan dan kedustaan dan fitnah yang dilontarkan dalam bukunya. H. Mahrus Ali menuturkan bahwa istilah “Mantan Kiai NU” itu bukanlah dari kemauannya sendiri tetapi istilah itu merupakan keingingan dan hasil rekayasi dari penerbit Laa Tasyuk yang menerbitkan buku-bukunya. Tujuannya agar buku-bukunya tersebut laris manis di pasaran.

Atas ulah yang dilakukan H. Mahrus Ali ini yang mengaku-ngaku sebagai Mantan Kyai NU maka KH. Thobary Syadzili meminta H. Mahrus Ali untuk membuat pernyataan tertulis atas kebohongan yang dia lakukan. Dan H. Mahrus Ali pun menuliskan surat pernyataan yang sejujurnya kepada KH. Thobary Syadzili. Dalam surat pernyataan tersebut dinyatakan bahwa penggunaan istilah Mantan Kiai NU bukanlah berasal dari dirinya melainkan dari pihak penerbit Laa Tasyuk yang terlalu dipaksakan demi untuk mengeruk keuntungan pribadi lewat buku-buku tulisan Mahrus Ali yang diterbitkannya.  Penerbit Laa Tasyuk berbohong atas nama agama demi keuntungan duniawi. Penerbit Laa Tasyuk rrupanya lebih senang menerbitkan buku-buku yang isinya memfitnah dan membohongi umat Islam dan memecah belah umat. Penerbit Laa Tasyuk tak beda dengan penerbit buku-buku sampah yang rela menggadaikan agama demi dunia.

Untuk mengetahui lebih detail tentang kebohongan, dusta, dan fitnah H. Mahrus Ali dan penerbit Laa Tasyuk serta betapa dangkalnya pemahaman H. Mahrus Ali terhadap ajaran agama Islam bisa dilihat di blog http://mantankiainu.blogspot.com. Diharapkan dengan terbongkarnya dusta dan fitnah H. Mahrus Ali dan keserakahan penerbit Laa Tasyuk ini bisa memberikan pelajaran berharga dan menjadikan kita waspada bahwa musuh-musuh Islam tidak hanya datang dari luar Islam saja tetapi justru bisa datang dari orang-orang Islam yang memanfaatkan agama untuk kepentingan duniawi mereka. Jangan sampai umat Islam dibodohi oleh buku-buku sampah terbitan penerbit Laa Tasyuk.

Tulisan berjudul Video Kajian: Membongkar Kebohongan Buku “Mantan Kyai NU Menggugat Shalawat dan Dzikir Syirik” H. Mahrus Ali terakhir diperbaharui pada Sunday 27 October 2013 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment