Dusta Abu Umar Basyier Dalam Buku “Imam Syafi’i Menggugat Syafi’iyyah” Terbongkar

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

‘Asyirah Ahlussunnah Wal Jama’ah IAIN SU atau yang sering disebut Aswaja IAIN SU mengadakan bedah kebohongan buku “Imam Syafi’i Menggugat Syafi’iyah” yang dikarang oleh Abu Umar Basyier. Acara ini diadakan pada Senin, 9 Desember di Masjid Al-Izzah Lantai 1 dan dimulai dari jam 09.52 WIB sampai sebelum zuhur. Acara ini dihadiri oleh dosen serta mahasiswa IAIN SU dan dibuka secara gratis untuk umum.

Muzani Al-Fadany, anggota Aswaja, sebagai pemateri dan juga pembedah buku di atas mengatakan bahwa buku Abu Umar Basyier tidak memiliki kesesuaian antara judul dengan isi. Buku Imam Syafi’I Menggugat Syafi’iyah seharusnya menggunakan pendapat Imam Syafi’i, tapi buku ini tidak mencantumkan pendapat serta pandangan Imam Syafi’i, bahkan terdapat ayat al-Quran yang dipotong sehingga merusak makna yang terkandung didalamnya.

“Buku ini lebih cocok dan pantas bila menggunakan judul Abu Umar Basyier Menggugat Syafi’iyah, karena dalam kenyataannya dia yang menggugat, bukan Imam Syafi’i,” komentarnya.

“Buku ini tidak benar, tidak ilmiah. Karena tidak adanya fakta serta data yang diungkap dan yang menyertai didalamnya. Amalan yang kita lakukan seperti zikir, qunut, tahlilan dibid’ahkan olehnya,” ucap Roby N Putra Nasution, Ketua Aswaja IAIN SU.

Ia juga mengatakan bahwa buku ini dibedah secara umum agar tidak ada lagi bid’ah yang membid’ahkan umat Islam nusantara di Indonesia.

Sumber: Muslimedianews.

Tulisan berjudul Dusta Abu Umar Basyier Dalam Buku “Imam Syafi’i Menggugat Syafi’iyyah” Terbongkar terakhir diperbaharui pada Friday 13 December 2013 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


2 thoughts on “Dusta Abu Umar Basyier Dalam Buku “Imam Syafi’i Menggugat Syafi’iyyah” Terbongkar

  1. assalamualaikum. adakah hadis atau sejarahnya Rasulullah dan para sahabat yamg menyatakan pada tahun sekian Rasulullah ditempat beliau dan sahabat pernah mengadakan maulid, yasinan, tahlilan atau mungkin menyuruh kuburan2 ditingikan dan didalam bangunan kasih kelambu lagi dan mengkususkan pada hari atau bulan2 tertentu untuk menziarahinya.dan adakah para sahabat,tabiin berani membuat salawat buat Rasulullah?. jadi dari mana dan apa maksudnya salawat Nariah dan Nariah2an lainnya

    Reply

Post Comment