Kisah Tokoh HTI yang Tobat Kembali ke Jalan Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja)

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

“Orang Hizbut Tahrir (HT) tau kalau rumahnya itu keropos.Tapi kekeroposan itu justru ditutupi dengan tembok besar untuk melindunginya agar tidak diketahui oleh pengikutnya.”

Diskursus di atas adalah bagian dari penggalan kalimat yang dilontarkan oleh Ainur Rofik al-Amin. Ya, dosen Fakultas Ushuludin IAIN Sunan Ampel ini adalah penulis buku “Membongkar Proyek Khilafah Hizbut Tahrir ala Indonesia”. Buku yang dia tulis ini memang banyak terilhami dari pengalaman pribadinya di kala muda.

Saat ditemui Aula, pria yang juga menjadi Kepala Madrasah Diniyah al-Ishlahiyah Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, ini mengungkapkan bahwa dirinya adalah seorang Hizbiyyin (sebutan untuk pengikut Hisbut Tahrir yang sudah disumpah setia). Namun status itu adalah kenangan lama yang ia arungi di saat-saat dirinya masih beraktifitas sebagai mahasiswa di lingkungan civitas akademika Fakultas Hukum Universitas Airlangga.

Tahun 1992 menjadi masa ketika Rofik, sapaan akrabnya, mulai bergumul dengan kelompok yang banyak dikenal dengan slogan gema pembebasan ini. Ketertarikannya timbul karena secara kasat mata kelompok ini terlihat sangat religius dan selalu memusatkan kegiatannya di masjid. Saat itu ia sangat gemar tidur di masjid. Sehingga interaksi yang cukup intens tak bisa dihindari dan akhirnya ia pun terbawa untuk mengikuti arah kelompok tersebut.

Kurang lebih selama lima tahun dirinya terjerembab dalam kungkungan ideologi Hizbut Tahrir. Di tahun pertamanya bergabung, ia dikelompokkan di kelas halaqoh amm (tingkatan dasar bagi pengikut HT). Karena loyalitas yang tinggi dan kemampuan yang berada di atas rata-rata, dalam waktu yang terlampau singkat ia pun naik ke tingkatan darrisin, yaitu tingkatan bagi setiap anggota yang diambil sumpah setia sebagai seorang hizbiyyin.

Kemampuannya juga terus terasah hingga dengan cepat pula titel musyrif mampu diraihnya. Sebagai musyrif ia pun memiliki peran untuk merekrut sekaligus mendoktrin anggota-anggota baru guna meneguhkan keyakinan mereka akan konsep Khilafah Islamiah sebagai fokus dari perjuangan organisasi. Selain itu, ia juga masuk dalam jajaran tim dialog tokoh, yaitu tim yang memang disiapkan untuk berdebat atau beradu argumen dengan para tokoh dari kelompok ormas Islam lain.

Menjadi Golongan Khawarij

Setelah lima tahun berlalu kini Rofik menyadari bahwa dirinya telah salah dalam memilih jalan. Mata hatinya terbuka dengan ajaran yang memang sangat ganjil untuk dicermati. Ada beberapa hal yang selalu bertentangan dengan hati kecilnya hingga ia memilih jalan untuk keluar dari organisasi. Dari beberapa faktor itu ia mengungkapkan; Pertama ajaran yang ditanamkan terlalu radikal. Mereka selalu menganggap dirinyalah yang paling benar dan menyalahkan ajaran yang lain.

“Mereka selalu menebar permusuhan di antara sesama muslim hingga pernah saya mendengar celetukan dari salah seorang hizbiyyin yang mengatakan, catat saja orang-orang yang memusuhi kita dan setelah saatnya khilafah berdiri maka akan kita lawan mereka,” cetus Rofik.

Kedua, adalah mengelu-elukan khilafah sebagai konsep mutlak yang harus dianut oleh kalangan muslim sebagai sebuah metode untuk menggantikan birokrasi pemerintahan yang dijalankan dengan sistem kekufuran. Dengan mengadopsi sistem kekhalifahan yang menerapkan prinsip syariat, mereka yakin niscaya kemaslahatan akan selalu mengisi kehidupan manusia. Hizbut Tahrir menganggap sistem inilah yang paling ideal untuk diterapkan. Namun, setelah banyak menelaah literatur yang membahas tentang khilafah, Rofik menemukan jawaban yang jauh dari apa yang disampaikan oleh kelompoknya. “Ternyata dalam tataran konsep khilafah tidak selamanya sesuai dengan harapan, setelah saya banyak membaca kitab-kitab yang menerangkan tentang sistem khilafah kesimpulan yang saya dapat justru berbalik arah dari apa yang mereka ucap,” ungkap Rofik.

Kalimat-kalimat permusuhan dan kerapuhan konsep yang dimiliki oleh Hizbut Tahrir itu kemudian membuat dirinya bertanya-tanya benarkah demikian Islam mengajarkan kepada umatnya? Sehingga, diramainya hiruk-pikuk reformasi sekitar tahun 1997, bapak tiga anak ini memilih memisahkan diri dan melepaskan semua atribut Hizbut Tahrir yang pernah ia yakini.

Bertahan meski Dihujat

Setelah berhasil melepaskan diri, kini ia memilih jalan berkhidmat pada apa yang sudah menjadi keyakinannya mulai awal. Yakni kembali pada ajaran Aswaja yang memang sudah akrab dengan masa kecilnya. Dari sinilah ia memulai perannya untuk turut andil membentengi Aswaja dari gerakan islam transnasional, baik itu dari LDII, HTI, Ikhwanul Muslimin, Jaulah, dan sejenisnya.

Langkahnya tentu tak berjalan mulus, banyak cibiran di sana-sini. Sebagian dari mereka menganggap bahwa langkahnya untuk keluar dari HT lebih dikarenakan dia tidak memiliki jabatan di HT. Ada juga yang berprasangka dan menganggap bahwa indikator keluarnya dari HT disebabkan oleh wanita. Maklum, berselang tiga tahun atau di sekitar tahun 2000-an setelah ia keluar dari HT, ia menikah dengan putri dari Kiai Soleh Abdul Hamid dewan Pengasuh Pesantren Bahrul Ulum Jombang.

Baginya, semua itu jelas salah kaprah. “Justru saya keluar dari HT karena memang kesadaran yang timbul dan dilandasi atas ketulusan hati, bukan karena jabatan dan wanita,” cetusnya.

Seakan tidak menggubris cibiran-cibiran tersebut, ia pun terus memberikan kontribusinya untuk membentengi Aswaja. Ia menulis desertasi tentang HTI dan diterbitkan menjadi buku berjudul “Membongkar Proyek Khilafah Hizbut Tahrir ala Indonesia”. Karya tersebut menjadi bagian dari pengabdiannya untuk membentengi warga Nahdliyin. Dan dengan karya itu, ia kerap mengisi seminar dan bedah buku di berbagai kota. Dalam forum itu tak jarang ia harus menerima hujatan yang dilontarkan oleh peserta yang berasal dari HTI. Baik yang disampaikan secara lisan maupun dalam pesan singkat. Mereka menyebut Rofik sebagai orang yang telmi atau telat mikir dan menganggap bahwa karyanya adalah karya yang cacat secara intelektual.

Hujatan itu, baginya bukanlah menjadi penghambat untuk terus memperjuangkan Aswaja. “Ini merupakan tantangan bagi kita untuk menyadarkan saudara-saudara kita akan kesalahan yang mereka anut selama ini. Sekaligus menjadi bagian dari usaha kita untuk membentengi Aswaja dari rong-rongan kelompok lain,” ungkap Rofik.

Kini atas perjuangan gigihnya tersebut, ia mendapat kepercayaan sebagai dewan Khos Pagar Nusa sekaligus sebagai jajaran Pengurus Cabang NU Jombang. Baginya itu bukanlah capaian yang menjadi tujuan utamanya, tapi menjaga keutuhan Aswaja yang ingin ia perjuangkan dalam pengabdiannya.

Sumber: Muslimedianews.

Tulisan berjudul Kisah Tokoh HTI yang Tobat Kembali ke Jalan Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) terakhir diperbaharui pada Friday 13 December 2013 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment