MP3 Kajian “Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) Adalah Al-Firqotun Najiyah, Aqidahnya Tengah-Tengah”

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Memahami Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah Oleh Habib Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf Pasuruan

Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.

Download MP3

Hendaknya kamu dengan memperbagus keyakinan kamu, dan memperbaiki keyakinan kamu, dan meluruskan, menegakkan keyakinan kamu atas tata cara “Al-Firqotin Naajiyah” kelompok yang selamat.

Kelompok yang selamat dikenal diantara pecahan-pecahan atau kelompok-kelompok aliran agama Islam yaitu kelompok Ahlul Sunnah Wal Jamaah. Mereka kelompok Ahlul Sunnah wal Jamaah, yaitu mereka orang-orang yang berpegang teguh dengan apa yang ada meyakininya Rasulullah SAW dan Para sahabatnya Rasulullah SAW. Perbaiki keyakinan kamu, aqidah kamu, karena keyakinan atau aliran akan banyak berpecah di umat Rasulullah Muhammad SAW ini. sebagaimana diterangkan dalam hadist Rasulillah SAW:

Terpecah Yahudi menjadi 71 aliran, dan terpecah Nashoro menjadi 72 aliran.. dan bakal umatku akan terpecah menjadi 73 aliran… semua aliran-aliran itu di neraka, artinya salah sesat, kecuali satu yg benar…

Ketika Rasulullah SAW ditanya tentang apa yang benar daripada aliran yang bermacam-macam tadi itu, maka Nabi SAW menjawab… yaitu yang mengikuti aku keyakinannya dan sahabat-sahabatku..

Merekalah rujukan aliran, dan aliran ini yang mengikuti Nabi SAW disebut ahlul sunnah, mengikuti para sahabat disebut al jamaah. Ahlul sunnah wal Jamaah, yaitu orang-orang yang mengikuti Nabi SAW dan mengikuti para Sahabat Nabi SAW.

Dan kamu sekalian jika menyaksikan dengan kefahaman yang lurus, yang bersumber dari hati yang selamat, kamu memperhatikan dalam nash-nash Al-Quran  dan Hadist yang terkandung didalamnya ilmu-ilmu keimanan..

Dan kamu mentelaah, perjalanan para Salaf As-sholeh dari golongan para sahabat, dan para Tabiin, benar-benar kamu akan mengetahui dan benar-benar kamu akan faham dengan jelas, kebenaran itu bersama kelompok aliran yang dinamakan dg Asy’ariyah.. dinisbatkan kepada seorang Syekh Abu Hasan Al-Asy’ari Ali bin Ismail rahimahulullah. Benar-benar telah mentertibkan mengatur Abu Hasan Al-Asy’ari, qoidah-qoidah daripada keyakinan orang-orang yang haq dan dengan jelas memperinci dalil-dalilnya, yaitu aqidah yang sepakat dengan aqidah para sahabat Nabi dan setelah mereka para sahabat daripada golongan-golongan orang sholeh paraTabiin. Itu aqidah daripada orang-orang yang benar, daripada orang yang hidup setiap zaman dan di segala tempat. Itu aqidah sekelompok orang-orang Tassawuf, sebagaimana diceritakan oleh Abu Ghasim Al-Busyairi ”Aqidah Ahlul Sunnah Wal Jamaah yaitu aqidah yang mengikuti Nabi SAW dan mengikuti para sahabat Nabi SAW

Berarti ya itu satu-satunya aqidah yang benar, lha kalau sudah tidak mengikuti Nabi SAW dan para sahabat Nabi SAW, berarti bukan aqidah yang benar, aqidah sesat.

Kelompok Aqidah Ahlul Sunnah Wal Jamaah ini dalam aqidah mereka mengikuti Abu Hasan Al-Asy’ari atau Abu Manshur Al-Maturidi.

Jadi Ahlul Sunnah Wal Jamaah itu sama dengan pengikut Abu Hasan Al-Asy’ari dalam aqidah nya atau Abu Manshur Al-Maturidi.

Siapa Abu Hasan Al-Asy’ari ? Beliaunya adalah Ali bin Ismail bin Abi Bisyr Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abu Burdah Amir ibin shohih Rasulillah SAW. Beliau pernah bermimpi ada di sepuluh pertama bulan Ramadhan, bertemu dengan Nabi SAW dalam mimpinya, dan Nabi SAW berkata kepada beliau

“Ali.. kamu harus bantu keyakinan yang diambil dari aku” kata Nabi SAW. “Itu keyakinan yang benar, keyakinan Ahlul Sunnah wal Jamaah.. bantu…

Bgun daripada tidur,.. bingung si Abu Hasan Al-Asy’ari ini, mikir “Apa bener mimpi ini.. ? perintah Nabi SAW ini.. ? mimpi beneran nggak ni ana.. ?” karena al-imam Abu Hasan Al-Asy’ari sudah bosen dengan ilmu kalam,. membahas ilmu kalam demikian-demikian ini sudah bosen dia,.. membingungkan,.

Akhirnya pada sepuluh pertengahan Ramadhan, beliau mimpi Rasulullah SAW kembali,.. dan disitu Rasulullah SAW menegur kepada beliau: “Apa yang sudah kamu kerjakan daripada yang sudah aku perintahkan kamu ?“…

Beliau al-Imam Abu Hasan Al-Asy’ari berkata: “Ya Rasulullah SAW,.. aku nggak mampu ya Rasul SAW untuk melakukan amanatmu wahai Rasul SAW… Apa yang bisa aku kerjakan ? “

Kamu harus membantu… untuk mempertahanken Aqidah yang berasal-usul dariku.. itu adalah kebenaran..” kata Rasulullah SAW.

Bangun daripada tidur,.. mikir lagi.. “Apa iya.. ? ada apa aku akan memulai.. ?

Persis malam 27 Ramadhan dan kebiasaan di Basrah (Irak), orang-orang semuanya mereka itu membaca Qur’an ada di sana. Dalam satu malam kebanyakan mereka dari itu mengkhatamkan Al-Quran,.. di Basrah sana.. saat itu, cuma Ali Ismail Abu Hasan Al-Asy’ari ngantuknya setengah mati.. akhirnya pulang duluan, sampai di rumah tidur,.. padahal hatinya menyesel “Ya Allah.. nggak mampu aku mengkhatamkan Quran malam ini..“

Tapi ternyata dalam tidurnya bertemu Rasulullah SAW kembali dimalam itu dan Nabi SAW menyatakan: “Apa yang sudah kamu lakukan terhadap apa yang sudah aku perintahken kepadamu wahai Ali ? “

Ya Rasulullah SAW.. aku sudah nggak mau berdebat dengan ilmu itu ya Rasul SAW.. aku ngikutin Quran dan Hadist aja ya Rasul SAW..

Kata Nabi SAW “Aku tidak memerintahkan itu.. aku hanya memerintahkan kamu bantu ini aqidah yang benar.. aliran keyakinan yang bener ini.. “

Bagaimana ya Rasul SAW ?.. aku akan bisa melakukan itu ya Rasul SAW ? .. “

Maka Nabi SAW menyatakan “Kalau aku tidak mengetahui Allah SWT akan memberikan kamu kefahaman dan ilmu wahai Ali., maka aku tidak akan perintahkan. aku perintahkan kamu karena kamu akan diberi ilmu dan faham oleh Allah SWT.. nggak usah khawatir kamu..”

Bangun daripada tidur…, maka dimulailah oleh beliau untuk mengumpulkan aqidah yang bersumber dari Rasulullah SAW dan para Sahabat Rasulullah SAW dari itu. dan jadilah Aqidah Asy’ariyah

Jadi Aqidah Asy’ariyah itu bukan karangan Abu Hasan Al-Asy’ari.. tapi dari Nabi SAW dan para Sahabat Nabi SAW, cuman saat itu tidak dibukukan, tidak dikumpulkan.. dan saat itu yang berkembang Aqidah Muktazillah dan Hasyawiyyah.. kenapa? Aqidah Muktazillah didukung oleh Khilafah pemerintahan saat itu.

Mulai muncul Aqidah Asy’ariyah tumbanglah aqidah-aqidah Muktazillah dan Asyawiyyah dari itu.

Aqidah Asy’ariyah ini aqidah tengah-tengah saudara, kalau kita mau mempelajari aqidah-aqidah yang lainnya. Aqidah misalnya Muktazillah, mereka menyatakan: “Allah itu nggak punya ilmu, Allah itu nggak punya kekuasaan, Allah itu tidak punya pendengaran, penglihatan..“

Kenapa ? .. karena dia menyatakan: Ilmu tidak mungkin pada Allah, mendengar itu tidak mungkin pada Tuhan, itu adalah sifatnya makhluk, melihat itu tidak mungkin pada Tuhan, itu adalah sifatnya makhluk, kehidupan nggak ada pada Tuhan, itu adalah sifatnya makhluk.

Dan aqidah lainnya yang bersebarangan pada aqidah ini yaitu aqidah Hasyawiyyah atau Mujassimah. Mereka menyatakan:
Allah itu punya pengetahuan seperti pengetahuan kita, Allah itu punya kemampuan seperti kemampuan kita, Allah itu mendengarkan seperti kita, Allah itu melihat seperti kita“.

Maka Aqidah yang dibawa Abu Hasan Al-Asy’ari tengah-tengah saudara. Beliau menyatakan: “Allah itu punya ilmu tapi nggak sama ilmunya manusia dengan ilmuNya Allah, Allah itu punya kemampuan tapi kemampuanNya nggak sama dengan kemampuan makhluk, Allah itu melihat tapi Allah Melihat nggak sama penglihatanNya dengan makhluk, Allah itu punya pendengaran tapi pendengaranNya tidak sama dengan makhluk.

Kita harus meyakini Allah Maha Mendengar, tapi cara Allah Mendengar, bagaimana Allah Mendengar tidaklah sama dengan makhluk.

Kalau kita kan begini: “Ditutup telinganya tidak kedengaran kalau kita,.. kalau Allah itu adalah tidaklah sama dengan makhluk“.

Kemudian kalau Muktazillah meyakini: “Muktazillah menyatakan manusia itu mampu melakukan sesuatu dan menciptakan sesuatu, manusia itu mampu menciptakan dan melakukan sesuatu“. Artinya begini: “Saya minum, itu kemampuan makhluk, perbuatan makhluk, dan memang ciptaan makhluk, ia menciptakan dirinya minum“.

Kemudian Jahmiyyah, ia meyakini (aqidah yang berseberangan menyatakan): “Manusia itu tidak mampu berbuat apa-apa dan tidak bisa menciptakan apa-apa“. Ya saya ini minum ini ya karena Allah yang membuat saya minum, kalau tadi itu (Muktazillah): “Gak ada, kamu sendiri yang membuat kamu minum.. “.

Maka Ahlul Sunnah Wal Jamaah, aqidah daripada Abu Hasan Al-Asy’ari adalah tengah-tengah: “Manusia itu tidak bisa menciptakan, tapi manusia tadi itu mampu berbuat“.

Nih tak kasih gambaran: “Kamu dikasih oleh Allah mampu mendatangi istri, mendatangi perempuan, selera dan syahwat kepada perempuan, ketika melihat istri yang cantik, ada selera dan syahwat dan kamu mampu mendatangi dia, ketika melihat pelacur yang cantik, kamu juga ada selera dan mampu berbuat melakukan sesuatu kepada dia“.

Yang membuat kamu mampu dengan istri, yang membuat kamu mampu dan selera dengan pelacur siapa? “Allah..“. Cuman, milih mana kamu itu menggunakan kemampuan tadi itu? menggunakan kemampuan syahwatnya kamu? keinginannya kamu itu, kamu itu arahkan ke mana? Ketika mengarahkan kepada istri yang halal maka berarti kamu berikhtiar dengan kemampuan yang Allah berikan tadi itu untuk mendapatkan ridho Allah SWT. Ketika kamu tadi itu mengarahkan kepada pelacur, berarti kamu menggunakan kemampuan yang Allah berikan dan syahwat yang Allah berikan kepada perbuatan yang dimurkai oleh Allah. Manusia itu dihitung dosa karena dia ikhtiarnya digunakan untuk baik atau digunakan untuk jelek, dihitung dosa atau pahala. ini namanya “kasb”. Jadi tidak luput daripada kekuatan dari Allah, Qudhrot dari Allah, Irodrat daripada Allah, tapi manusia tadi itu dikasih itu “kasb“.

Ada Air, ada Khamer. kamu bisa minum Air, kamu bisa minum Khamer.. semuanya dikasih bisa oleh Allah,.. lho kamu milih yang mana? Ketika kamu milih Khamer, ya dosa. Padahal kamu mampu meninggalkan Khamer, bisa minum Air. Ketika minum Air, ya bagus,.. memang Allah kasih kemampuan kamu bisa minum Air dan kemampuan meninggalkan Khamer, ini namanya “kasb”. Ini Aqidah Ahlul Sunnah Wal Jamaah..

Kalau yang tadi itu tidak, ana minum Khamer ya udah ini takdir, udah selesai, ana nggak mampu.. (bohong dia, padahal dikasih kemampuan oleh Allah). Kalau yang lainnya yang Muktazillah, lain lagi,. Ini tidak ada urusan dengan takdir, tidak ada urusan dengan kekuatan,. ana minum Khamer dengan sendirinya ana sudah, bukan karena kekuatan Allah, bukan karena kemampuan dari Allah, tapi karena kehendak saya sendiri, karena kekuatan saya sendiri ini. (ini lain lagi).

Ahlul Sunnah Wal Jamaah dalam Aqidah mereka adalah dalam aqidah yang telah ditulis oleh Abu Hasan Al-Asy’ari atau Abu Mansyur Al-Maturidi. Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad berkata “Jadilah kamu menjadi pengikut Abu Hasan Al-Asy’ari dalam keyakinan kamu karena sesungguhnya itu adalah jalur yang bersih daripada kesesatan dan kekufuran“.

Semoga kita semuanya tetap dijadikan orang yang bertahan beraqidahkan Ahlul Sunnah Wal Jamaah sampai akhir wafat kita Amin Ya Robbal ‘alamin….

(Al-Qadrie – Menggapai Ridho Ilahi, Tausiyah disampaikan oleh Al-Habib Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf Pasuruan)

Tulisan berjudul MP3 Kajian “Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) Adalah Al-Firqotun Najiyah, Aqidahnya Tengah-Tengah” terakhir diperbaharui pada Tuesday 24 December 2013 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment