Pengaruh Radikalisme Agama Terhadap Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Kepala Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI Prof. H. AbdurrahmanMas’ud, PhD memperingatkan adanya gerakan radikalisme keagamaan yang berkembang di Indonesia. Professor dalam Ilmu Sejarah Peradaban Islam ini menyatakan gerakan radikalisme agama dalam beberapa hal dapat mengganggu stabilitas nasional dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Untuk itu, diperlukan kebijakan yang tegas dari pemerintah.

Dalam acara “Dialog Damai Dengan Ulama Timur Tengah” yang digelar di Masjid Ukhuwah Islamiyah, Kampus Universitas Indonesia Depok, pada Kamis (12/12/2013), Prof. Abdurrahman Mas’ud yang mewakili Kementerian Agama RI menyampaikan beberapa poin penting. Acara yang digelar oleh Badan Negara Penanggulangan Terorisme (BNPT) tersebut yang juga dihadiri oleh beberapa syaikh-syaikh Timur Tengah ini, Professor Abdurrahman Mas’ud dalam presentasinya menuliskan bahwa gerakan radikalisme yang ada di Indonesia terutama dilakukan oleh kelompok Islam garis keras yang diduga menganut faham Salafi Jihadis seperti Al Jamaah al Islamiyah, Tanzhim al Qaedah, NII dan  faksi-faksinya.

Beliau juga mengungkapkan hasil Penelitian Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI tentang Perkembangan Paham Keagamaan Transnasional di Indonesia Tahun 2010. Dari hasil penelitian itu ditemukan adanya gerakan keagamaan transnasional di Indonesia seperti Salafi, Syi’ah, Jama’ah Tabligh, Ikhwanul Muslimin (IM) dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Penelitian itu juga mengcover gerakan di luar Islam termasuk Gereja Pantekosta di Indonesia, Buddha Meitreya dan Buddha Soka Ghakai di Indonesia

Menurut Prof. Abdurrahman Mas’ud, fenomena radikalisme yang ada di Indonesia sebaiknya disikapi sebagai wake up call yang menyadarkan seluruh komponen bangsa untuk melakukan konsolidasi diri dengan usaha-usaha early warning system, pembinaan umat yang lebih efektif serta kerjasama kebangsaan yang lebih kokoh.

Untuk informasi selengkapnya, berikut kami sertakan slide presentasi Kepala Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI Prof. H. Abdurrahman Mas’ud, PhD yang membahas tentang fenomena radikalisme kanan di Indonesia. Menyikapi hal ini, semestinya kita sebagai bangsa Indonesia bersiap diri dan waspada akan munculnya gerakan radikalisme agama yang biasanya menggunakan tindakan kekerasan ketimbang jalan damai yang dianut bangsa Indonesia. Waspadalah, waspadalah, dan waspadalah.

.

PENGARUH RADIKALISME KANAN TERHADAP BANGSA DAN NEGARA

OLEH: PROF. H. ABDURRAHMAN MAS’UD, Ph.D

.

Latar Belakang

Radikalisme merepotkan karena:

  • Mewarnai/mengganti ideologi negara yang mapan dgn ideologi kelompok tersebut, tanpa mempertimbangkan kepentingan ideologi kelompok lain
  • Membawa instabilitas/keresahan sosial : militan, keras, cenderung anarkis, tidak mau kompromi
  • Dampak dari radikalisme dapat mengancam eksistensi kedudukan para elit penguasa

Radikalisme Agama

  • Radikal (bhs Inggris): ekstrim, menyeluruh, fanatik, revolusioner, ultra dan fundamental
  • Radicalism: doktrin/praktek penganut paham radikal atau paham ekstrim
  • Sebagian kelompok gerakan radikal keagamaan hanya terbatas pada pemikiran dan ideologi, karena itu pengertian gerakan radikalisme keagamaan tidak selalu ditandai dengan anarkisme/terorisme
  • Di Indonesia, radikalisme sering merujuk pada kelompok beragama Islam, karena ideologi jihad dalam Islam dapat mendorong radikalisasi kelompok-kelompok Islam Fanatik
  • Keberadaan radikalisme berkembang secara trans nasional dan trans religion di berbagai negara dan dialami semua agama
  • Gerakan radikal sering menggunakan simbol-simbol agama dengan dalih pemurnian atau purifikasi ajaran agama
  • Gerakan radikalisme di Indonesia terutama dilakukan oleh kelompok Islam garis keras dan melakukan gerakan bawah tanah yang diduga menganut faham Salafi Jihadis (Al Jamaah al Islamiyah, Tanzhim al Qaedah, NII & faksi-faksinya)
  • Ciri-ciri kelompok radikal:
    1. memperjuangkan Islam secara kaffah, dimana syariat Islam sebagai hukum negara
    2. mendasarkan praktek keagamaannya pada orientasi masa lalu (salafy)
    3. cenderung memusuhi Barat, terutama terhadap sekularisasi dan modernisasi
    4. perlawanan terhadap liberalisme Islam yang tengah berkembang di Indonesia

Kajian Kasus Gerakan

Keagamaan Radikal

Penelitian Badan Litbang dan Diklat: Penelitian Tentang Perkembangan Paham Keagamaan Transnasional di Indonesia Tahun 2010. Gerakan keagamaan transnasional dimaksud: Salafi, Syi’ah, Jama’ah Tabligh, Ikhwanul Muslimin (IM) dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Penelitian ini juga mengcover gerakan di luar Islam termasuk Gereja Pantekosta di Indonesia, Buddha Meitreya dan Buddha Soka Ghakai di Indonesia

Penelitian ini dilakukan secara deskriptif dengan pendekatan kualitatif

Kajian Kasus Gerakan Keagamaan Radikal

Kesimpulan dari penelitian tsb:

  1. Secara intelektual seluruh gerakan keagamaan ini memang memiliki jaringan intelektual dengan berbagai lembaga pendidikan dan ormas keagamaan di luar negeri, baik secara langsung maupun tidak langsung
  2. Jaringan kegiatan gerakan ini diwu­judkan dalam bentuk tukar menukar tenaga edukatif, atau menyusun program kegiatan yang setara atau mirip di seluruh Indonesia dan di luar negeri
  3. Pendanaan gerakan keagamaan transnasional kurang terdeteksi dari hasil penelitian ini. Namun demikian ada indikasi kuat, bahwa setidaknya pada awalnya mereka mendapat bantuan luar negeri
  4. Jaringan kerja kelembagaan yang terdapat dalam gerakan keagamaan transnasional itu tidak sama di antara satu gerakan dengan yang lain
  5. “Sebagian” Keberadaan gerakan keagamaan trans­nasional di Indonesia secara agama, politik dan ekonomi tidaklah membahayakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

Saran dari penelitian tsb:

  1. Organisasi keagamaan lokal Indonesia, tidak perlu khawatir akan keberadaan mereka di Indonesia. Kemenag (Dirjen Bimas Agama) dapat memfasilitasi pertemuan antara gerakan keagamaan transnasional dengan organisasi keagamaan sehingga ada kesepahaman di antara mereka dalam pembinaan keagamaan
  2. Hendaknya Kemenag dapat melacak sumber-sumber dana internasional bagi gerakan keagamaan transnasional ini, karena hal ini dapat menimbukan masalah hubungan antarumat beragama di Indonesia
  3. Kekhawatiran tentang pengambilalihan berbagai rumah ibadah yang dibangun oleh umat organisasi keagamaan mapan oleh simpatisan gerakan keagamaan transnasional tidak perlu terjadi. Kemenag perlu memfasilitasi pertemuan sehingga ada kesepahaman dan membangun jaringan kerja kelembagaan dan kegiatan utk memakmurkan rumah ibadah yang sudah dibangun
  4. Keberadaan GPdI, GBI, Buddha Maitrya dan Buddha Soka Ghakai secara politik tidak perlu dikhawatirkan juga karena mereka itu minoritas, namun hak-haknya sebagai warga negara tetap diperhatikan

Kemenag perlu merumuskan langkah strategis dalam upaya mengantisipasi merebaknya gerakan radikalisme melalui pendekatan pranata sebagai berikut:

  1. Institusi Pendidikan: target yang paling rentan terhadap infiltrasi berbagai gerakan radikalisme agama, mengingat peserta didik merupakan sasaran yang sangat empuk dari aspek sosial psikologis
  2. Lembaga Keagamaan: terutama tempat ibadah, khususnya masjid dan musholla yang berada di lingkungan kampus / pemukiman, mengingat sifat tempat ibadah yang terbuka untuk umum dan biasanya sifat mangemennya. Hasil riset UIN Jakarta tahun 2009, sebagian besar tamir Masjid di Jakarta adalah bagian dari mainstream Islam, kaum Sunni, yang merupakan pendukung utama Pancasila/NKRI
  3. Masyarakat: Fenomena kasus pencucian otak oleh gerakan radikalisme agama terhadap salah satu anggota keluarga bisa “meradikalkan” seluruh anggota keluarga, Maka sangat penting upaya peningkatan ketahanan keluarga terhadap infiltrasi gerakan radikalisme agama : “Indonesia strong from home”

Penutup

Gerakan radikalisme agama nyata eksistensinya, dalam beberapa hal dapat mengganggu stabilitas nasional dan NKRI, maka diperlukan kebijakan yang tegas dari pemerintah

Fenomena radikalisme sebaiknya disikapi sebagai wake up call yang menyadarkan seluruh komponen bangsa untuk melakukan konsolidasi diri dengan usaha-usaha early warning system, pembinaan umat yang lebih efektif serta kerjasama kebangsaan yang lebih kokoh.

Tulisan berjudul Pengaruh Radikalisme Agama Terhadap Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terakhir diperbaharui pada Thursday 19 December 2013 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment