Senyum Indah Bersama Rasulullah SAW

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Biji Mata Suami yang Putih-Putih

Suatu hari seorang wanita datang ke majlis Rasulullah SAW dan mengintai-intai seperti mencari seseorang.

Rasulullah pun bertanya, “Siapa yang engkau cari?”.

Suami saya wahai Rasulullah”, jawab wanita tadi.

Siapa nama suamimu?”, tanya Rasulullah.

Fulan bin Fulan”, jawab wanita itu.

Oh… Orang yang di matanya terdapat putih-putih itu?”, tanya Rasulullah.

Tidak”, kata wanita itu.

Betul”, jawab Rasulullah SAW.

Wanita itupun diam seketika dan kemudian terus mencari suaminya. Pikirannya terus memikirkan kata-kata Rasulullah. Begitu bertemu suaminya, dia pun terus mengintai-intai ke mata suaminya. Sebentar melirik ke kanan dan sebentar ke kiri.

Melihat keadaan itu, suami wanita itu pun bertanya, “Ada apa engkau mengintai-intai ke mataku ini?

Aku sedang memeriksa matamu”, jawab wanita itu.

Untuk apa?”, tanya suaminya.

Rasulullah SAW memberitahuku di matamu terdapat putih-putih”, jawab wanita tersebut.

Engkau ni memang betul bendullah”, sahut si suami.

Memangnya kenapa?”, tanya wanita itu.

Bukankah setiap biji mata itu ada putihnya. Engkau pun dapat lihat sendiri yang putih-putih itu lebih banyak daripada yang hitam-hitam”, jawab suami tersebut.

Mendengarkan itu, wanita itu pun tersenyum dan menyadari bahwa Rasulullah SAW berkata benar dan hanya guyonan.

Makan Kurma di Sisi yang Lain

Suatu hari ada seorang sahabat bernama Suhaib yang sedang sakit mata. Orang sakit mata, tidak begitu baik jika memakan kurma.

Pada suatu hari Rasulllah SAW melihat Suhaib yang sakit mata sedang memakan kurma lalu ditegurnya, “Wahai Suhaib, apakah engkau memakan kurma sedangkan engkau sakit mata?

Wahai Rasulullah, aku makan kurma ini di sisi yang lain”, jawab Suhaib.

Mendengar kelakar itu, Rasulullah SAW pun tertawa sampai-sampai kelihatan gigi gerahamnya.

Orang Yang Kuat Makan

Diceritakan bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW makan kurma bersama Ali bin Abi Talib. Beliau meletakkan biji-biji kurma yang telah dimakannya di hadapan Ali dan biji-biji kurma itupun bercampur jadi satu dengan biji-biji yang ditaruh oleh Ali, seolah-olah dialah yang makan semuanya.

Rasulullah SAW berkata, “Wahai Ali, engkau ini sungguh kuat makan”.

Duhai Rasulullah, orang yang kuat makan adalah yang makan dengan biji-bijnya sekaligus”, jawab Ali.

Maksudnya, masih mending Ali hanya makan kurma tetapi bijinya tak dimakan, sedangkan nabi yang tidak ada biji kurma di depannya berarti telah memakan kurma beserta biji-bijinya sekalian.

Hadiah dari Diri Sendiri

Nu’aim bin Amru adalah salah seorang sahabat Ansar yang suka bercanda dan membuat sahabat-sahabat yang lain tertawa geli dengan candaannya.

Suatu hari, seorang penjual madu sedang berkeliling kota Madinah menjajakan madunya. Cuaca sangat panas dan kebanyakan orang sedang beristirihat di dalam rumah setelah selesai shalat dzuhur sehingga tidak ada orang yang keluar untuk memanggil si penjual madu tersebut.

Tiba-tiba Nu’aim melihat penjual madu itu dan diajaknya ke rumah Rasulullah SAW lalu menyuruhnya menunggu di luar, sementara Nu’am sendiri masuk ke dalam rumah Rasulullah SAW dengan membawa sebotol madu kemudian diberikan kepada Rasulullah SAW.

Wahai Rasulullah, aku tahu bahwa engkau suka madu, jadi aku membawakan madu ini sebagai hadiah untukmu” kata Nu’aim.

Setelah itu Nu’aim keluar menemui si penjual madu dan berkata, “Aku akan pergi dulu menyelesaikan urusanku. Engkau tunggu saja di sini. Sebentar lagi tuan rumah akan keluar untuk membayar harga madu itu kepadamu”.

Nu’aim terus pergi dan si penjual itu pun menunggu keluarnya tuan rumah. Setelah agak lama menunggu, dia pun mengetuk pintu dan Rasulullah SAW pun keluar.

Wahai tuan rumah, bayarlah harga maduku yang telah dibawa oleh lelaki tadi” kata si penjual madu.

Rasulullah SAW pun terkejut, tetapi beliau menyadari Nu’aim hanya membuat kelakar agar baginda tersenyum. Tanpa banyak bicara, baginda terus membayar harga madu itu.

Beberapa waktu kemudian baginda bertemu dengan Nu’aim yang telah tersenyum terlebih dahulu.

Wahai Nu’aim, apakah yang telah engkau lakukan terhadap keluarga Nabimu?”, tanya Rasulullah SAW.
Wahai Rasulullah, aku tahu bahwa engku suka makan madu tapi aku tidak punya uang untuk membelinya sebagai hadiah untukmu. Lalu aku hanya menolong membawakannya kepadamu. Semoga aku memperoleh taufik dan kebaikan”, jawab Nu’aim dan disambut dengan senyum Rasulullah.

Senyum Satu Tahun

Suatu hari Nu’aim bin Amru, sahabat Rasulullah SAW yang suka bercanda itu berangkat dari Madinah ke Basrah bersama Abu Bakar untuk urusan perdagangan. Turut serta dalam rombongan itu adalah Suwait bin Haramalah yang bertindak sebagai pegawai Abu Bakar yang menjaga makanan dan minuman.

Tidak berapa lama kemudian mereka singgah untuk beristirahat di suatu tempat dan Abu Bakar keluar untuk suatu urusan. Tiba-tiba Nu’aim datang kepada Suwait meminta makanan.

Tidak boleh sampai Abu Bakar datang”, kata Suwait.

Nu’aim merayu lagi tetapi tetap ditolak oleh Suwait. Akhirnya Nu’aim berjanji kepada dirinya untuk berbuat sesuatu kepada Suwait sebagai langkah balasan.

Dengan tenang, Nu’aim pergi ke suatu kafilah yang kebetulan lewat di situ dan menawarkan hamba untuk dijual.

Kami berminat untuk membelinya”, kata ketua kafilah itu.

Tapi hamba yang ingin ku jual ini banyak bicara, tahu. Nanti pasti dia akan meronta dan akan mengatakan: ‘Aku bukan hamba. Aku orang merdeka…’ dan seterusnya. Jika dia berkata demikian, engkau jangan membelinya dan biarkan saja hambaku itu di tempatnya”, kata Nu’aim.

Kami akan tetap membelinya, dan kami tidak akan menghiraukan apa yang dikatakannya”, kata mereka.

Nu’aim merasa terperangkap ketika ketua kafilah itu mengatakan akan tetap membeli Suwait walaupun dia akan menjerit dan meronta mengatakan dia orang merdeka. Maka terpaksalah dia menerima uang dari kafilah itu tanpa sepengetahuan Suwait dan kemudian menjauh dari tempat Suwait.

Mereka pun pergi kepada tempat Suwait dan menjerat lehernya dengan serban dan lalu ditarik.

Eiii.. Ada apa ini?!”, kata Suwait terkejut.

Engkau telah kubeli dari tuanmu”, jawab mereka.

Tidak.. Tidak.. Aku bukan hambanya, aku orang merdeka”, kata Suwait sambil meronta.

Akan tetapi orang yang menjeratnya tidak mempedulikan kata-katanya dan membawanya pergi ke kafilah dan dibawa meneruskan perjalanan. Suwait pun jengkel, dan bergumam, “Ini pasti kerjaan Nu’aim”.

Sementara Nu’aim tinggal termanggu-manggu kerana gurauannya menjadi serius. Dia telah menjual orang merdeka. Sebentar kemudian Abu Bakar pun pulang. Tanpa pikir panjang lagi, Nu’aim datang menceritakan apa yang terjadi dan memohon maaf. Tanpa membuang waktu Abu Bakar terus mengejar kafilah tadi dan menebus Suwait lalu dibawa pulang.

Ketika peristiwa tersebut sampai ke pengetahuan Rasulullah SAW, baginda pun tertawa atas perbuatan Nu’aim itu. Sehingga satu tahun lamanya apabila berjumpa Nu’aim, baginda selalu tertawa.

Seorang sahabat berkata di hadapan Rasulullah SAW bahwa Nu’aim suka bersenda gurau dan tertawa. Menanggapi itu, Rasulullah SAW bersabda, “Dia akan masuk syurga dalam keadaan tertawa“.

Wanita Tua Tidak Masuk Surga

Rasulullah bergurau dengan seorang wanita tua di mana wanita itu berkata “Doalah kepada Allah supaya Dia memasukkan aku ke dalam syurga”.

Baginda SAW menjawab, “Wahai ibu, sesungguhnya orang tua tidak masuk ke dalam syurga”.

Perempuan itu balik dan menangis.

Rasulullah bersabda, ”Beritahulah kepadanya bahwa dia tidak masuk ke dalam syurga dalam keadaan masih tua. Sesungguhnya Allah berfirman: ‘Sesungguhnya kami mencipta wanita-wanita syurga dengan penciptaan yang baru. Kami jadikan mereka dalam keadaan dara, yang amat mengasihi suaminya dan yang sebaya dengannya‘”.

Tulisan berjudul Senyum Indah Bersama Rasulullah SAW terakhir diperbaharui pada Tuesday 10 December 2013 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment