Hukum Seorang Muslimah Ahlussunnah Menikah Dengan Pria Wahabi Salafi

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum ustad.

Perkenalkan nama saya Fulanah. Saya seorang pelajar tingkat SMA, saya tinggal di sebuah pondok pesantren yang beraliran mazhab Imam Syafi’i, kebetulan saya juga dibesarkan dikeluarga yang cukup taat dengan ajaran tersebut.

Hampir setengah tahun ini saya berta’aruf dengan seorang laki-laki yang usianya 2 tahun di atas saya. Dia sangat bijak dan pengetahuan tentang agamanya cukup luas. Kami memang sama-sama berkeinginan untuk menikah muda, dan rencananya kami ingin menikah secepatnya setelah saya lulus. Tapi belakangan saya tahu bahwa dia adalah seorang (Wahabi) Salafi. awalnya dia tidak mempermasalahkan perbedaan mazhab karena kami sama-sama islam. Tapi beberapa waktu yang lalu dia menyuruh saya untuk masuk salah satu pesantren beraliran Salafi, sementara ia menyelesaikan kuliahnya.

Pertanyaan saya, apakah akan lebih banyak keburukannya atau kebaikannya jika kami menikah sementara kami berbeda faham, terlebih mungkin ustad tahu betapa Salafi dan Aswaja sangat berseteru.

Sekian, semoga jawaban ustad dicatat sebagai amal baik oleh Alloh SWT. amiin

Jawaban:

Secara syariah, pernikahan seorang Muslimah Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) dengan pria Salafi Wahabi (Sawah) adalah sah. Karena sama-sama muslim Sunni menurut sebagian ulama yang menganggap Wahabi adalah Sunni. Hanya saja yang perlu diingat adalah bahwa sebuah pernikahan tidak saja persoalan syariah, tapi juga masalah sosial yang melibatkan orang tua masing-masing pasangan (antar besan) dan antara anak dengan mertua.

Secara sosial, antara Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) dan Wahabi Salafi terdapat perkara sosial dan furu’iyah yang agak rumit dan mudah memicu konflik seperti soal tahlil, haul, maulid Nabi, dll. Terutama masalah tahlilan saat ada orang meninggal, ini akan menimbulkan suatu masalah yang cukup kompleks nanti di kemudian hari antara orang tua anda dan orang tua dia, termasuk anda dengan dia sendiri.

Sebelum anda memutuskan untuk menikah dengan dia, idealnya, musyawarahkan hal ini dengan orang tua anda terutama terkait soal Wahabi-nya itu. Kalau mereka setuju, maka silahkan anda teruskan menikah dengannya dengan memahami segala konsekuensi sosial nantinya. Kalau orang tua tidak setuju, maka sebaiknya anda cari pria lain yang sama-sama Aswaja.

Terlepas dari direstui orang tua atau tidak, yang sangat ideal, sebaiknya anda memilih calon suami yang sama-sama Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja). Karena doktrin takfir (mengkafirkan), tasyrik (pensyirikan) dan pembid’ahan orang lain yang tak sepaham akan berpotensi rusaknya hubungan anda dengan orang tua dan kerabat dekat anda sendiri.

::

 

INGIN BERTANYA?
Silahkan ajukan pertanyaan ke Ponpes Al Khoirot Malang, Jl. KH. Syuhud Zayyadi 01 Karangsuko Pagelaran (Gondanglegi), Malang 65174 Jawa Timur dengan mengirimkan e-mail ke alkhoirot@gmail.com atau info@alkhoirot.com.

Tulisan berjudul Hukum Seorang Muslimah Ahlussunnah Menikah Dengan Pria Wahabi Salafi terakhir diperbaharui pada Saturday 25 January 2014 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment