Inilah Alasan Pentingnya Maulid Nabi Muhammad Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

بسم الله الرحمنِ الرحيم الحمد لله رب العالمين وصلى الله على سيدنا محمد النبي الأمي وآله الطاهرين وصحابته أجمعين

Setiap memasuki bulan Rabiul Awal kaum Muslimin di seluruh dunia menyambutnya dengan penuh suka cita. Berbagai bentuk perayaan dilaksanakan sebagai wujud kecintaan dan kerinduan mereka kepada baginda Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam. Syair, qasidah, pukulan rebana, ceramah keagamaan diperdengarkan untuk menggambarkan kebesaran beliau shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam. Tentunya sekedar perayaan maulid tidak cukup untuk menggambarkan kemuliaan Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam sebagai kekasih Allâh. Bahkan seandainya lautan menjadi tinta dan pepohonan sebagai pena, semua itu tak akan pernah cukup untuk menuliskan keutamaan dan kemuliaan beliau shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam.

Di tengah kehidupan modern dan pengaruh buruk berbagai budaya yang dipropagandakan secara tidak wajar oleh orang-orang yang tidak bermoral, umat Islam seakan kehilangan kendali, pegangan hidup dan suri teladan. Berbagai bentuk kejahatan seperti pembunuhan, pemerkosaan, perampokan dan perilaku yang tidak lagi mengindahkan nilai-nilai moral telah menjadi bagian dari kehidupan keseharian masyarakat. Dalam keadaan seperti inilah peringatan maulid Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam menjadi sangat penting, karena dari sanalah umat Islam dapat mengenal lebih dekat bagaimana pribadi baginda Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam.

Saudaraku, memuliakan dan mengenang peristiwa bersejarah dalam Islam merupakan bagian dari takwa. Orang-orang yang bertakwa akan selalu mempelajari sejarah, mengenang kehidupan para Nabi dan kaum sholihin serta memuliakan perjuangan mereka. Bahkan Al-Qur’ân sebagai sumber hukum pertama dan utama kita pun dipenuhi dengan berbagai cerita kehidupan para Nabi, Rasul dan orang-orang yang dicintai Allâh. Secara tegas Allâh mewahyukan:

“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu.” (Hûd, 11:120)

Ketika mengomentari ayat di atas Imam Al-Junaid radhiyallâhu ‘anhu berkata:

“Kisah-kisah (kehidupan para Nabi dan kaum sholihin) merupakan salah satu bala tentara Allâh. Kisah-kisah tersebut dapat memperkuat hati seorang murîd.”

Dalam ayat yang lain Allâh Ta’âlâ mewahyukan:

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (Yûsuf, 12:111)

Dua ayat di atas secara jelas menyebutkan bahwa kisah para Rasul mampu meneguhkan hati dan memberikan pelajaran kepada orang-orang yang berakal. Jika hati Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam yang paling sempurna, paling teguh dan suci, masih diteguhkan dengan berbagai kisah para Rasul, lalu bagaimana dengan hati kita yang kotor dan lemah ini. Tentunya hati kita lebih membutuhkan upaya peneguhan hati tersebut.

Kisah Ashâbul Kahfi, proses belajar Nabi Mûsâ dengan Khidhir dan juga kisah Dzul Qarnaen, merupakan tiga kisah besar dan penuh hikmah yang tertuang di dalam Surat Al-Kahfi. Surat ini dianjurkan untuk dibaca seminggu sekali, yaitu setiap hari Jumat. Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam bersabda:

“Barang siapa membaca Surat Al-Kahfi pada hari Jumat, maka dirinya akan disinari cahaya dari Jumat itu hingga Jumat berikutnya.” (HR Hâkim dan Baihaqî)

Jika setiap Jumat secara khusus kita dianjurkan untuk membaca surat Al-Kahfi yang berisi tiga kisah di atas, apakah kita tidak ingin membaca kisah kehidupan Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam setiap hari atau minimal seminggu sekali?

Saudaraku, kita semua menyadari bahwa dewasa ini umat Islam sibuk dengan dunia, jauh dari kaum sholihin, malas mendatangi majelis ilmu dan gemar menonton tayangan yang tak bermanfaat. Mereka tenggelam dalam kelalaian. Sementara itu, setiap hari, kaum kafir sibuk menciptakan tokoh-tokoh khayalan yang disuguhkan dengan indah kepada anak-anak kita, sehingga mereka lupa akan sejarah Nabinya. Karakter tokoh-tokoh khayalan ini pun berhasil mempengaruhi pikiran dan prilaku umat Islam. Anak-anak kita bahkan lebih mengenal superman, batman, spiderman, harry potter dan sejenisnya daripada sejarah Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam dan para sahabatnya. Nah, apakah kita akan membiarkan umat ini buta akan sejarah Rasulnya shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam, mengidolakan kaum kafir dan melupakan kekasih Allâh Ta’âlâ?

Saudaraku, mengapa anak-anak kita dan umat Islam dewasa ini begitu mengidolakan tokoh-tokoh khayalan tersebut atau artis dan olahragawan tertentu? Jawabnya adalah karena mereka teramat sering mendengar dan melihat tokoh-tokoh itu di dalam berbagai media, baik media elektronik seperti TV dan Radio, maupun melalui berbagai Tabloid, Surat Kabar dan sejenisnya.

Nah, agar anak-anak kita dan umat Islam secara keseluruhan mengenal dan mencintai Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam, maka langkah yang harus kita lakukan adalah membuat mereka semua sesering mungkin mendengar dan membaca sejarah kehidupan beliau shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam. Dan salah satu sarana yang paling tepat untuk itu adalah peringatan Maulid Nabi. Di dalam peringatan tersebut para ulama membacakan buku tertentu yang menjelaskan sejarah kehidupan Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam. Sehingga, melalui peringatan maulid tersebut diharapkan umat Islam dapat mengenal Nabinya lebih dekat. Buku yang populer di Negara kita antara lain adalah Burdah, Diba’, Barzanjî dan Simtud Durar. Buku-buku ini selanjutnya oleh masyarakat sering disebut sebagai buku Maulid.

Sesungguhnya kegiatan pembacaan sejarah kehidupan Nabi bukanlah suatu hal yang baru di dalam Islam. Sebagaimana kita ketahui, Al-Qur’ân penuh dengan kisah-kisah kehidupan para Nabi dan kaum Sholihin. Allâh Ta’âlâ menceritakan sejarah kehidupan mereka kepada Rasul-Nya tercinta. Dalam Al-Qur’ân ada kisah kelahiran Nabi Mûsâ, kisah kelahiran Nabi Isa, kisah kelahiran Nabi Ibrâhîm dan lain sebagainya. Jika kisah-kisah kelahiran para Nabi tersebut dikisahkan oleh Allâh di dalam Al-Qur’ân dan setiap saat umat Islam dianjurkan untuk membacanya, lalu bagaimana kiranya dengan kisah kehidupan Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam? Tentunya kita harus lebih banyak mendengar dan mempelajari sejarah kehidupan beliau. Oleh karena itu sangat tidak tepat jika ada orang yang menentang pembacaan sejarah Maulid Nabi dengan alasan apa pun.

Saudaraku, Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam adalah manusia yang paling sempurna dan bijaksana. Beliau menjelaskan kepada kita secara sempurna aturan hidup di dunia agar selamat hingga ke Akhirat. Selain memerintahkan dan menganjurkan sebuah perbuatan, Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam juga menjelaskan mana saja perbuatan yang harus ditinggalkan dan tidak boleh dikerjakan oleh umatnya. Oleh karena itu, sungguh aneh jika ada orang yang berani melarang umat Islam untuk menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi, sedangkan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam sendiri tidak pernah melarang umatnya untuk melakukan hal itu. Jika peringatan Maulid Nabi haram, tentu beliau telah mengeluarkan sebuah Hadis untuk melarangnya sebagaimana beliau menjelaskan berbagai larangan dalam Agama. Namun, pada kenyataannya, tidak ada satu Hadis pun yang beliau sampaikan untuk melarang umatnya menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi. Bahkan tidak ada seorang sahabat pun yang melarang penyelenggaraan peringatan Maulid Nabi. Jika demikian adanya, mengapa masih ada orang yang berani melarang penyelenggaraan peringatan Maulid Nabi dan bahkan menyatakan hukumnya haram, apakah dia merasa lebih pandai dari Nabi? Apakah dia merasa lebih sempurna dari Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam? Bagaimana dia berani mengharamkan sesuatu yang Allâh dan Rasul-Nya sendiri tidak pernah mengharamkannya?

Saudaraku, dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ad-Dailamî dan Ibnu Najjâr, Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam bersabda:

“Didiklah putra-putri kalian tiga hal, yaitu: mencintai Nabi kalian, mencintai keluarga Nabi kalian dan membaca Al-Qur’ân.” (Ad-Dailamî dan Ibnu Najjâr)

Nah, jika Anda benar-benar ingin membahagikan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam, maka didiklah anak-anak Anda untuk mencintai Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam dengan memakmurkan majelis peringatan Maulid Nabi.

Oleh: Habib Novel bin Muhammad Alaydrus, Pengasuh Majelis Ilmu dan Dzikir Ar-Raudhah Solo

Tulisan berjudul Inilah Alasan Pentingnya Maulid Nabi Muhammad Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam terakhir diperbaharui pada Friday 10 January 2014 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment