Kupas Tuntas Dialog Aswaja VS Sawah di Batam – Bagian 2

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Pada postingan sebelumnya pernah kita bahas 2 poin penting terkait jalannya diskusi ilmiah dengan tema “Dengan Mudzakaroh Kita Bangun Kebersamaan Bersatu Dalam Perbedaan” yang diadakan di Kantor Kementerian Agama RI kota Batam. Acara yang diadakan pada 28 Desember 2013 tersebut menghadirkan 2 kubu, yakni kubu Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) yang diwakili KH. Muhammad Idrus Ramli Asy-Syafi’i dan kubu Salafi Wahabi Najed (Sawah) yang diwakili Ustadz Firanda Andirja As-Salafi dan Ustadz Zainal Abidin As-Salafi.

Poin permasalahan pertama dan kedua terkait dialog tersebut sudah dikupas dalam tulisan sebelumnya yang berjudul Kupas Tuntas Dialog Aswaja vs Sawah di Batam – Bagian 1. Dan kali kita mencoba melanjutkan pembahasan masalah yang sudah dikaji sebelumnya.

Silahkan simak perihal Kupas Tuntas Dialog Aswaja vs Sawah di Batam – Bagian 2:

MASALAH:

Poin ketiga sesi pertama,  Ustadz Zainal Abidin As-Salafi membuat persepsi bahwa “Tidak ada yang namanya bid’ah hasanah. Bid’ah itu konotasinya selalu jelek dan sesat, jadi tidak ada dalilnya sedangkan hasanah itu pasti baik, ada dalilnya. Tidak mungkin kalimat bid’ah dan kalimat hasanah kumpul jadi satu. “

TANGGAPAN:

Pernyataan Ustadz Zainal Abidin As-Salafi sama sekali tidaklah benar. Penyimpulan Ustadz Zainal Abidin As-Salafi ini berangkat dari memahami definisi bid’ah Imam asy-Syathibi yang dipahaminya dengan pemahaman pincang sebelah.

Asy-Syatibi yang berakidahkan Asy’ari tulen ini sebenarnya sepakat dengan pemahaman jumhur ulama bahwa ada perkara baru dalam agama yang diterima oleh syari’at. Meskipun beliau tidak mau menyebutnya bid’ah, akan tetapi beliau menyebutnya sebagai maslahah mursalah atau bid’ah fil lafadz. Bagi kami (Aswaja) hal itu bukanlah suatu masalah yang mencolok, hanya perbedaan istilah saja, adapun esensi maknanya sama, tidak berbeda. Perhatikan ucapan asy-Syathibi berikut ketika mengomentari pembagian bid’ah Imam al-Izz bin Abdissalam berikut :

وصار من القائلين بالمصالح المرسلة، وسماها بدعاً في اللفظ، كما سمى عمر رضي الله عنه الجمع في قيام رمضان في المسجد بدعة

“Dan ia (Ibnu Abdissalam) termasuk orang yang mengatakan dengan masalah mursalah dan ia menamakannya bid’ah secara lafaz / bahasa, sebagaimana Umar radhiallahu ‘anhu menamakan kumpulan dalam sholat tarawih di bulan Ramadhan dengan bid’ah “[1].

Asy-Syathibi dengan jelas mengakui bahwa pembagian bid’ah yang dilakukan al-Izz bin Abdissalam adalah bid’ah dari segi lafadz (bahasa) sebagaimana penyebutan Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu pada kasus sholat tarawih. Asy-Syathibi menyebutnya sebagai bid’ah segi lafadz bukan segi syari’at dan kami menyebutnya bid’ah hasanah.

Lebih jelas Ibnu Rajab al-Hanbali mempertegas :

وأمّا ما وقع في كلام السلف من استحسان بعض البدع فإنّما ذلك في البدع اللغوية لا الشرعية، فمن ذلك قول عمر رضي الله عنه لمّا جمع النّاس في قيام رمضان على إمام واحد في المسجد، وخرج ورآهم يصلون كذلك، فقال: نعمت البدعة هذه

“Dan adapun apa yang terjadi pada ucapan ulama salaf dari menganggap baik (hasanah) pada sebagian bid’ah, maka sesungguhnya itu hanyalah dalam bid’ah segi bahasa saja bukan segi syar’iyyah. Di antara contoh hal itu adalah ucapan Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu ketika mengumpulkan manusia untuk mendirikan sholat malam di bulan Ramadhan pada satu imam di dalam masjid, beliau keluar dan melihat mereka sholat seperti itu, maka beliau berkata “Sebaik-baik bid’ah adalah ini “. [2]

Pemahaman Ibnu Rajab menguatkan pemahaman kami (Aswaja) bahwa perkara baru atau bid’ah yang sering disebut oleh ulama salaf sebagai bid’ah hasanah adalah dalam konteks dan pandangan bid’ah segi bahasa saja bukan syar’iyyah. Ibnu Rajab lebih mengakui penyebutan bid’ah pada perkara baru dalam agama, meskipun beliau menyebutnya bukan bid’ah hasanah namun bid’ah lughawiyyah. Hal ini sekali lagi bukanlah masalah bagi kami, karena ini hanyalah perbedaan istilah saja, perbedaan lafaz saja, akan tetapi inti atau subtansi pemahamannya sama tidak berbeda.

Lebih jelas lagi Ibnu Rajab al-Hanbali mengatakan :

والمراد بالبدعة: ما أحدث ممّا لا أصل له في الشريعة يدل عليه، فأمّا ما كان له أصل من الشرع يدل عليه فليس ببدعة شرعًا، وإن كان بدعة لغة

“Yang dimaksud dengan bid’ah adalah: Segala perkara baru yang tidak ada asalnya dalam syari’at yang menunjukkan atasnya. Adapun perkara baru yang ada asal dari syari’at yang menunjukkan atasnya, maka bukanlah bid’ah dalam segi syari’atnya, walaupun itu bid’ah dalam segi bahasanya “. [3]

Begitu jelas Ibnu Rajab mengatakan bahwa perkara baru yang ada landasan syari’atnya disebut bid’ah dalam segi bahasanya dan bukan bid’ah dalam segi syari’atnya artinya boleh dilakukan. Hal ini sesuai dengan pemahaman kami (Syafi’iyyah) selama ini yang memahami bahwa setiap perkara yang memiliki landasan dalam syari’atnya adalah boleh dilakukan meskipun saling berbeda di dalam menamai perkara tersebut. Ibnu Rajab dan asy-Syathibi menyebutnya bukan bid’ah, ada yang menyebutnya bid’ah lughowiyyah, ada pula yang menyebutnya maslahah mursalah dan ulama Syafi’iyyah menyebutnya bid’ah hasanah. Semua ini hanyalah perbedaan dalam lafaznya saja, adapun subtansi pemahamannya sama, tidak berbeda.

Bukti adanya para ulama salaf maupun kholaf yang menyandingkan kalimat bid’ah atau muhdatsah dengan hasanah atau mahmudah di antaranya :

Al-Imam al-A’dzam asy-Syafi’i. Sebagaimana telah dijelaskan oleh syaikh Ibnu Taimiyyah (ulama Salafi Wahabi) berikut ini :

Ibnu Taimiyyah juga mengatakan ;

ومن هنا يعرف ضلال من ابتدع طريقا أو اعتقادا زعم أن الايمان لا يتم الا به مع العلم بأن الرسول لم يذكره وما خالف النصوص فهو بدعة باتفاق المسلمين وما لم يعلم أنه خالفها فقد لا يسمى بدعة قال الشافعي رحمه الله البدعة بدعتان بدعة خالفت كتابا وسنة وإجماعا وأثرا عن بعض أصحاب رسول الله صلى الله عله وسلم فهذه بدعه ضلاله وبدعه لم تخالف شيئا من ذلك فهذه قد تكون حسنة لقول عمر نعمت البدعة هذه هذا الكلام أو نحوه رواه البيهقي باسنادة الصحيح فى المدخل ويروى عن مالك رحمه الله أنه قال إذا قل العلم ظهر الجفا وإذا قلت الآثار كثرت الأهواء

“Dari sini dapat diketahui kesesatan yang membuat-buat cara atau keyakinan baru, dan ia berasusmsi bahwa keimanan tidak akan sempurna tanpa jalan atau keyakinan tersebut, padahal ia mengetahui bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menyebutnya. Pandangan yang menyalahi nash adalah bid’ah berdasarkan kesepakatan kaum muslimin. Sedangkan pandangan yang tidak diketahui menyalahinya, terkadang tidak dinamakan bid’ah. Al-imam Syafi’i rahimahullahu berkata: “Bid’ah itu ada dua. Pertama, bid’ah yang menyalahi al-Quran, Sunnah, Ijma dan Atsar sebagian sahabat Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam, ini disebut bid’ah dholalah. Kedua, bid’ah yang tidak menyalahi hal tersebut, ini terkadung disebut bid’ah hasanah, berdasarkan perkataan Umar, “Inilah sebaik-baik bid’ah. “Pernyataan Syafi’i ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam kitab al-Madkhal dengan sanad yang sahih. “[4]

Dari penjelasan Ibnu Taimiyyah ini, dapat kita pahami bahwasanya :

  • Ada bid’ah yang diterima oleh syari’at.
  • Ibnu Taimiyyah menguatkan argumentasinya dengan membawakan ucapan imam Syafi’i yang membagi bid’ah menjadi dua; yakni bid’ah hasanah dan bid’ah dholalah.
  • Dari penjelasan Ibnu Taimiyyah, ternyata imam Syafi’i membagi bid’ah dengan menggunakan dalil dari ucapan Umar bin Khaththab yang mengatakan “Ni’matil bid’atu hadzihi “. Ini bukti adanya bid’ah hasanah sebagaimana tercantum jelas dalam nukilan Ibnu Taimiyyah tersebut.

Pertanyaan: Apakah anda akan mengatakan bahwa Ibnu Taimiyyah dan Imam asy-Syafi’i tidak memahami kalimat bid’ah dan kalimat hasanah sehingga menyatukan kalimat tersebut?? atau apakah anda akan menyalahkan pemahaman Ibnu Taimiyyah dan Imam asy-Syafi’i??

Imam al-Qurthubi menegaskan :

فمحافظة عمر رضي الله عنه عليها، وجمع الناس لها، وندبهم إليها، بدعة لكنها بدعة محمودة ممدوحة

“Maka perhatian Umar atas sholat tarawih ini, usaha mengmpulkan orang banyak dan menganjurkannya adalah perkara bid’ah akan tetapi bid’ah mahmudah (terpuji). “[5]

Dengan jelas Imam al-Qurthubi seorang ulama ahli tafsir ini menyatakan bid’ah mahmudah (terpuji) lagi mamduhah (terpuja) pada kasus perhatian Umar bin Khaththab dalam mengumpulkan dan menganjurkan sholat tarawih. Apakah Imam Qurthubi tidak memahami kalimat bid’ah dan kalimat mahamudah dan mamduhah, sehingga menyatukan kedua kalimat tersebut??

Imam an-Nawawi yang puluhan bahkan ratusan kitabnya dipergunakan oleh umat muslim diseluruh belahan dunia untuk diambil faedah dan manfa’atnya baik kalangan Salafi Whabi sendiri ataupun kalangan Ahlus sunnah, mengatakan :

خاتمة : اجتماع الناس بعد العصر للدعاء كما يفعله أهل عرفة ، قال الإمام أحمد : لا بأس به ؛ وكرهه الإمام مالك ، وفعله الحسن وسبقه ابن عباس . قال النووي : وهو بدعة حسنة

“Berkumpulnya manusia setelah ‘Ashar untuk berdoa sebagaimana yang dilakukan oleh penduduk ‘Arafah menurut Imam Ahmad tidaklah mengapa. Namun Imam Malik memakruhkan hal itu. Dan Hasan Basri dan Ibn Abbas melakukan hal itu. Sementara Imam Nawawi mengatakan bahwa perbuatan itu adalah bid’ah hasanah “.[6]

Mungkinkah Imam an-Nawawi yang menguasai Ilmu alat (nahwu, shorof, balaghah dan lughah), Ilmu qiraat, Ilmu naskhil utsmani, Ilmu tafsir, Ilmu nasikh wal mansukh, Ilmu ghoribil quran, Ilmu i’jazil quran, Ilmu i’rabil quran, ilmu ushul Fiqih dan qawadinya, ilmu ushul tafsir dan tafsirnya, ilmu ushul hadits dan mustholahnya, ilmu ushul tauhid dan tauhidnya dan sebagianya, ini tidak memahami kalimat bid’ah dan kalimat hasanah, sehingga menyatukan kedua kalimat tersebut ??

Al-Imam Badruddin al-‘Aini mengatakan :

وذلك عندما جمع الناس في التراويح خلف قارىءٍ وكانوا قبل ذلك يصلون أوزاعًا متفرقين والبدعة في الأصل إحداث أمر لم يكن في زمن رسول الله صلى الله عليه وسلم، ثم البدعة على نوعين، إن كانت مما تندرج تحت مستحسن في الشرع فهي بدعة حسنة وإن كانت مما يندرج تحت مستقبح في الشرع فهي بدعة مستقبحة

“Yang demikian itu karena ketika beliau mengumpulkan manusia dalam sholat tarawih di belakang satu imam, maka sebelumnya mereka sholat dengan berpisah-pisah. Dan bid’ah makna asalnya adalah perkara baru yang tidak ada di masa Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian bid’ah itu ada dua macam, jika perkara baru itu berpacu dalam naungan baik dalam syari’at, maka disebut bid’ah hasanah, dan jika berpacu dalam naungan yang buruk dalam syari’at, maka disebut bid’ah yang buruk “.[7]

Imam Ibnul Atsir mengatakan :

ومن هذا النوع قولُ عمر رضي اللّه عنه: نِعْمَت البدعة هذه. لمـَّا كانت من أفعال الخير وداخلة في حيز المدح سماها بدعة ومدَحها؛ لأن النبي صلى اللّه عليه وسلم لم يَسَنَّها لهم، وإنما صلاّها لَياليَ ثم تَركَها ولم يحافظ عليها، ولا جَمع الناسَ لها، ولا كانت في زمن أبي بكر، وإنما عمر رضي اللّه عنه جمع الناس عليها ونَدَبـهم إليها، فبهذا سمّاها بدعة

“Dari macam ini adalah ucapan Umar radhiallahu ‘anhu: Sebaik-baik bid’ah adalah ini “, ketika sholat tarawih ini termasuk perbuatan baik, dan masuk dalam batas terpuji maka beliau menyebutnya bid’ah dan memujinya, karena Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mensyari’atkannya pada mereka, beliau melakukannya hanya beberapa malam kemudian meninggalkannya dan tidak merutinkannya, tidak pula mengumpulkan manusia untuk melakukannya, tidka pula ada di masa Abu Bakar As-Shdiddiq. Hanya Umar radhiallahu ‘anhu lah yang mengumpulkan manusia untuk sholat tarawih dan menganjurkannya, dengan inilah beliau menyebutnya bid’ah “.[8]

Dan masih banyak lagi para ulama yang menyandingkan kalimat bid’ah dengan kalimat hasanah yang tidak saya sebutkan dalam catatan ringkas ini.

Kesimpulan point ini adalah :

  1. Bid’ah tidak berkonotasi jelek dan sesat.
  2. Bid’ah ada yang hasanah dan dholalah.
  3. Bid’ah bisa disandingkan dengan kalimat hasanah, karena faktanya memang ada bid’ah yang baik dalam agama sebagaimana penjelasan ulama salaf dan kholaf.
  4. Penyimpulan Ustadz Zainal Abidin As-Salafi salah dan menyimpang dari pemahaman mayoritas ulama Ahlus sunnah baik salaf maupun kholaf.

MASALAH:

Poin keempat sesi pertama, Ustadz Zainal Abidin As-Salafi mengatakan bahwa “Lafadz Kullu secara bahasa bisa diartikan sebagian, sedangkan secara fakta hadits “Kullu bid’atin“ tidak bisa dan tidak pernah ada. Karena hadits ini dipahami oleh sahabat tidak ada pengecualian bid’ah dalam agama, sekecil apapun, semuanya sesat “

TANGGAPAN:

Pernyataan anda tidaklah benar sama sekali. Siapakah ulama salaf atau pun kholaf yang menyatakan seperti anda itu?

قل هاتوا برهانكم ان كنتم صادقين

Imam an-Nawawi mengatakan:

قَوْلُهُ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ هَذَا عَامٌّ مَخْصُوْصٌ وَالْمُرَادُ غَالِبُ الْبِدَعِ.

“Sabda Nabi SAW, “semua bid’ah adalah sesat”, ini adalah kata-kata umum yang dibatasi jangkauannya. Maksud “semua bid’ah itu sesat”, adalah sebagian besar bid’ah itu sesat (bukan seluruhnya).”[9]

Imam Nawawi memahami bahwa lafadz kullu dalam hadits itu bermakna sebagian besar bid’ah, bukan keseluruhan secara muthlaq. Tapi sayangnya, pemahaman Imam Nawawi ini anda tolak mentah-mentah sebagaimana dalam dialog anda, dan lebih taqlid kepada pemahaman Ibnu Utsaimin (ulama Salafi Wahabi) yang bersikeras menyatakan lafadz Kullu tidak bisa di artikan sebagian. Lebih salaf siapakah antara Imam Nawawi (ulama Ahlussunnah) dan Ibnu Utsaimin (ulama Salafi Wahabi) wahai ustadz??

Imam al-Qurthubi memperjelas kembali :

قلت: وهو معنى قوله صلى الله عليه وسلم في خطبته: (وشر الأمور محدثاتها وكل بدعة ضلالة) يريد ما لم يوافق كتابا أو سنة، أو عمل الصحابة رضي الله عنهم، وقد بين هذا بقوله: (من سن في الاسلام سنة حسنة كان له أجرها وأجر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أجورهم شئ ومن سن في الاسلام سنة سيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أوزارهم شئ) وهذا إشارة إلى ما ابتدع من قبيح وحسن، وهو أصل هذا الباب، وبالله العصمة والتوفيق، لا رب غيره

“Aku (al-Qurthubi) katakan: “Itulah makna ucapan Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dalam khutbahnya: (Dan seburu-buruknya perkara adalah perkara barunya dan setiap bid’ah itu sesat) yang Nabi maksud adalah perkara baru yang tidak sesuai dengan al-Quran dan Sunnah atau perbuatan sahabat radhiallahu ‘anhum. Ini sungguh telah Nabi jelaskan dalam sabdanya: “Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun”, Ini adalah isyarat kepada bid’ah yang buruk dan bid’ah yang baik, inilah esensi dalam bab ini. Dan dengan Allah lah kita mendapat ‘ishmah dan taufiq, tidak ada Rabb selain-Nya “. [10]

Imam al-Qurthubi menjadikan hadits “Man sanna fil Islam“ sebagai mukhashshis (pembatas) bagi hadits “Kullu bid’atin“, artinya tidak semua bid’ah itu sesat.

Imam Ibnul Atsir mengatakan:

وعَلَى هذا التأويل يُحمل الحديث الآخر: كل مُحْدَثة بدعةٌ، إنما يريد ما خالف أصول الشريعة ولم يوافق السُّنَّة

“Atas dasar takwil ini, maka hadits yang lain ini “Setiap yang baru adalah bid’ah“ diarahkan maknanya adalah yang dimaksud adalah perkara baru yang menyalahi asal-asal syari’at dan tidak sesuai sunnah “.[11]

Imam asy-Syafi’i membagi bid’ah menjadi dua justru berhujjah dengan ucapan Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu :

الْمُحْدَثَاتُ مِنَ الأُمُورِ ضَرْبَانِ : أَحَدُهُمَا : مَا أُحْدِثَ يُخَالِفُ كِتَابًا , أَوْ سَنَةً , أَوْ أَثَرًا , أَوْ إِجْمَاعًا , فَهَذِهِ لَبِدْعَةُ الضَّلالَةِ . وَالثَّانِيةُ : مَا أُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لا خِلافَ فِيهِ لِوَاحِدٍ مِنْ هَذَا , فَهَذِهِ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُومَةٍ , وَقَدْ قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي قِيَامِ شَهْرِ رَمَضَانَ : ” نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ

“Hal baru terbagi menjadi dua, pertama apa yang bertentangan dengan Al Quran, Sunah, atsar, dan ijma, maka inilah bid`ah dholalah. Yang kedua adalah hal baru dari kebaikan yang tidak bertentangan dengan salah satu dari yang telah disebut, maka tidak ada khilaf bagi seorangpun mengenainya bahwa hal baru ini tidak tercela, sungguh Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu telah berkata tentang sholat tarawih, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini ”.[12]

Ini membuktikan bahwa Imam asy-Syafi’i memahami bahwa tidak semua bid’ah selalu jelek dan sesat. Demikian juga Umar bin Khaththab memahami tidak semua bid’ah itu sesat. Seandainya Imam Syafi’i tidak memahami lafadz Kullu dalam hadits “Kullu bid’atin“, maka beliau tidak akan membagi bid’ah menjadi dua. Demikian juga sendainya Umar bin Khaththab radhialllahu ‘anhu tidak memahami lafadz Kullu, niscaya beliau akan mengatakan “Ni’matis Sunnatu Hadzihi“ karena tidak ada bid’ah dalam agama dan tidak ada bid’ah yang diterima oleh syarI’at. Tapi Alhamdulillah, faktanya Imam asy-Syafi’i dan Sayyidina Umar bin Khaththab memahami dengan baik lafadz kullu bid’atin yang diikuti pemahamannya oleh mayoritas ulama Ahlus sunnah hingga saat ini.

Kesimpulan point ini adalah :

  1. Lafadz kullu bisa diartikan sebagian dalam hadits “Kullu bid’atin”.
  2. Kalimat bid’ah bisa dikumpulkan atau disatukan dengan kalimat Hasanah, karena faktanya memang ada bid’ah hasanah.
  3. Sejak masa salaf baik dari kalangan sahabat maupun tabi’in telah memahami adanya pembagian bid’ah menjadi bid’ah yang ditolak dan bid’ah yang diterima.
  4. Penyimpulan Ustadz Zainal Abidin As-Salafi yang mengatakan, “Lafadz kullu secara bahasa bisa diartikan sebagian, sedangkan lafadz kullu pada hadits “Kullu bid’atin “tidak bisa diartikan sebagian“, adalah penyimpulan bid’ah sesat yang tidak seorang ulama pun dari kalangan salaf maupun kholaf yang mengatakannya demikian.

Kemudian Ustadz Zainal Abidin As-Salafi menolak adanya bid’ah hasanah dengan berhujjah ucapan Ibnu Umar sebagai berikut:

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً

“Setiap bid’ah adalah sesat, meskipun orang-orang memandangnya sebagai satu kebaikan.“ [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Al-Madkhal no. 19; sanadnya hasan].

TANGGAPAN:

Yang dimaksud oleh beliau adalah bid’ah dalam syari’at yaitu bid’ah yang bertentangan dengan asal syari’at. Jika anda menggeneralisir ucapan beliau ini sebagai pengakuan beliau bahwa semua bid’ah itu sesat, maka jelas bertentangan dengan fakta dan realita pengakuan beliau adanya bid’ah baik yang diterima:

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، قَالَ: ثَنَا حَاجِبُ بْنُ عُمَرَ، عَنِ الْحَكَمِ بْنِ الْأَعْرَجِ، قَالَ: سَأَلْتُ ابْنَ عُمَرَ عَنْ صَلَاةِ الضُّحَى؟ فَقَالَ: ” بِدْعَةٌ “

Telah menceritakan kepada kami Wakii’, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Haajib bin ‘Umar, dari Al-Hakam bin Al-A’raj, ia berkata: Aku pernah bertanya kepafa Ibnu ‘Umar tentang shalat Dluhaa, ia menjawab: “Bid’ah”

Ibnu Umar menilai bid’ah dalam sholat dhuha itu adalah bahwasanya pada masa khilafah Utsman bin ‘Affan, banyak dari orang-orang yang membiasakan diri datang ke masjid-masjid saat waktu karohah (kemakruhan melakukan sholat) itu keluar, lalu mereka melakukan sholat dhuha. Tradisi ini menjadi kental dan dikenal oleh orang banyak saat itu, sehingga tidaklah dikenal sholat dhuha kecuali adalah sholat yang dilakukan di dalam masjid setelah keluarnya waktu isyraq. Padahal Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkannya setelah terangkatnya matahari seukuran tombak dalam pandangan mata.

Perhatikan komentar imam Ibnu Juraij berikut ini :

أول من صلاها أهل البوادي ، يدخلون المسجد إذا فرغوا من أسواقهم

“Orang pertama yang melakukan sholat (dhuha seperti) itu adalah penduduk dusun Arab, mereka masuk masjid jika telah selesai dari pasar mereka “[13]

Imam ath-Thawus juga mengatakan:

إن أول من صلاها الأعراب ، إذا باع أحدهم بضاعة يأتي المسجد فيكبر ويسجد

“Sesungguhnya orang pertama yang melakukan sholat (dhuha seperti) itu adalah kaum baduwi Arab, jika mereka telah selesai menjual satu barang, maka mereka mendatangi masjid bertakbir dan sujud “. [14]

Dalam Fathul Bari dikatakan:

أو الذي نفاه صفة مخصوصة كما سيأتي نحوه في الكلام على حديث عائشة . قال عياض وغيره : إنما أنكر ابن عمر ملازمتها وإظهارها في المساجد وصلاتها جماعة ، لا أنها مخالفة للسنة . ويؤيده ما رواه ابن أبي شيبة ، عن ابن مسعود أنه رأى قوما يصلونها فأنكر عليهم ، وقال : إن كان ولا بد ففي بيوتكم

“Atau yang dinafikan (oleh Ibnu Umar) adalah sifat dengan cara tertentunya sebagaimana akan datang penjelasannya dalam hadits Aisyah. Imam Iyadh dan selainnya mengatakan, “Sesungguhnya yang diingkari oleh Ibnu Umar adalah hanyalah melazimkannya, menampakkannya di masjid-masjid dan melakukan sholat dhuha dengan berjama’ah“, argumentasi ini dikuatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Ibnu Ma’ud bahwasanya beliau melihat satu kaum yang melakukan sholat itu, lalu beliau mengingkarinya dan berkata “Jika tetap mau melakukannya, hendaknya melakukannya di rumah-rumah kalian“.

Maka kesimpulannya adalah ucapan Ibnu Umar semua bid’ah itu sesat, adalah bid’ah yang melanggar asal dalam syari’at, bukan bid’ah yang berlandaskan asal dalam syare’at.

Bersambung pada point-point berikutnya…

Oleh: Ibnu Abdillah Al-Katibiy (Kota Santri, 01-01-2013).

Referensi:

[1] al-I’tishom, m.s. 145-146

[2] Jami’ al-Ulum wa al-Hikam, Ibnu Rajab : 2/128

[3] Fath al-Bari, Ibnu Rajab al-Hanbali : 13/254

[4] Majmu al-Fatawa, Ibnu Taimiyyah : 20/163

[5] Tafisr al-Qurthubi : 2/84

[6] Hasyiah al-Bujairami ‘ala al-Khathib : 2/226

[7] Umdatul Qari fi Syarh sahih al-Bukhari : 11/126

[8] An-Nihayah fi Ghraibil Hadits : 1/106-107

[9] Syarh Shahih Muslim, 6/154

[10] Tafisr al-Qurthubi : 2/84-85

[11] An-Nihayah fi Ghraibil Hadits : 1/106-107

[12] Al-Hawi lil Fatawaa : 1/176

[13] Mushannaf Abdirrazzaq : 3/79

[14] Mushannaf Abdirrazzaq : 3/79-80

Tulisan berjudul Kupas Tuntas Dialog Aswaja VS Sawah di Batam – Bagian 2 terakhir diperbaharui pada Tuesday 7 January 2014 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment