Fitnah dan Kebohongan Wahabi Terhadap Imam Syafi’i Atas Pembagian Tauhid “Trinitas”

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Aksi keji kelompok Wahabi Salafi kembali terjadi. Di dalam sebuah buku (yang belum diketahui siapa pengarang dan judulnya), kelompok Wahabi Salafi dengan begitu beraninya melakukan fitnah dan kebohongan besar terhadap salah satu ulama ahlussunnah wal jama’ah, Imam Syafi’i. Seorang ulama kenamaan pendiri Madzhab Syafi’i diftnah mengikuti aqidah mujassimah.

Disebutkan dalam buku fitnah tersebut dengan judul yang begitu jelas tertulis “Imam Syafi’i menetapkan pembagian tauhid menjadi tiga”. Yang dimaksudkan adalah tauhid rububiyyah, tauhid uluhiyyah, dan tauhid asma wa shifat. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

Selama ini, tidak ada satu pun ulama yang membagi tauhid menjadi tiga baik ulama salaf maupun khalaf. Apalagi Imam Syafi’i, sejak kapan beliau membagi tauhid menjadi tiga? Darimana sumber yang menyatakan bahwa Imam Syafi’i membagi-bagi tauhid menjadi tiga? Yang melakukan hal itu hanyalah dari kelompok Wahabi Salafi saja. Astaghfirulloh, kami berlindung kepada Allah dari fitnah Wahabi Salafi.

Berikut kami nukilkan potongan tulisan yang berisi fitnah yang mengatasnamakan Imam Syafi’i dalam buku itu:

Imam Syafi’i menetapkan pembagian tauhid menjadi tiga

Berdasarkan penelitian yang saksama terhadap dalil-dalil al-Qur’an dan hadits Nabi SAW, para ulama menyimpulkan bahwa tauhid dibagi menjadi:

  1. Tauhid Rububiyyah,
  2. Tauhid Uluhiyyah,
  3. Tauhid Asma wa Shifat.

Pembagian tauhid ini bukanlah perkara baru (baca: bid’ah) apalagi menyerupai agama trinitas, tetapi pembagian ini berdasarkan penelitian terhadap dalil. Hal ini persis dengan pembagian para ulama ahli bahasa yang membagi kalimat menjadi tiga: isim, fi’il, dan huruf.

Berikut adalah gambar scan buku fitnah tersebut:

KEBOHONGAN DAN FITNAH KEJI WAHABI / SALAFI TERHADAP IMAM SYAFI’I

KEBOHONGAN DAN FITNAH KEJI WAHABI / SALAFI TERHADAP IMAM SYAFI’I 2

Astaghfirulloh. Itulah satu dari sekian banyak bukti bagaimana Wahabi Salafi menghalalkan segala cara untuk menyebarkan pahamnya sampai-sampai melakukan fitnah dan kebohongan kepada para ulama salaf ahlussunnah wal jama’ah. Padahal Imam Syafi’i dan ulama-ulama salaf lainnya tidak pernah membagi tauhid menjadi tiga seperti di atas. Karena, ketiga “Aqidah Trinitas” tersebut adalah aqidah kaum Mujassimah yang dianut oleh Wahabi Salafi dan ujung-ujugnya membid’ahkan dan memusyrikkan amaliyah ulama Ahlussunnah wal Jama’ah yang tidak sepaham dengan aqidah mereka.

Hal itu bisa dilihat dan dibuktikan di dalam kitab tauhid “AL-KAWKABUL AZHAR SYARAH AL-FIQHUL AKBAR “ karya Imam Syafi’i sebagai berikut:

Kitab "Al-Kawkab Al-Azhar Syarah Al-Fiqhu Al-Akbar", karya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i

قال الشافيع رحمه الله تعالى ( فان قيل : أليس قد قال الله تعالى ( الرحمن على العرش استوى ) يقال ان هذه الأية من المتشابهات و الذي نختار من الجواب عنها و عن أمثالها لمن لا يريد التبحر فى العلم أن يمر بها كما جاءت و لا يبحث عنها و لا يتكلم فيها لأنه لا يأمن من الوقوع فى ورطة التشبيه اذا لم يكن راسخا فى العلم . و يجب أن يعتقد فى صفات الباري تعالى من ذكرناه و أنه لا يحويه مكان و لا يجري عليه زمان منزه عن الحدود و النهايات مستغن عن المكان و الجهات و يتخلص من الهالك و الشبهات . و لهذا المعنى زجر مالك رحمه الله رجلا حين سأله عن هذه الأية فقال : الاستواء مذكور و الكيفية مجهولة و الايمان به واجب و السؤال عنه بدعة ثم قال : و ان عدت الى مثله أمرت بضرب رقبته . أعاذنا الله و اياكم من التشبيه

Berkata Imam Syafi’i, semoga Allah ta’ala merahmatinya: (Maka seandainya dikatakan: Tidakkah Allah ta’ala berfirman:

الرجمن على العرش استوى

Dikatakan bahwa ayat ini bagian dari ayat mustasyabbihat (ayat yang samar untuk mengetahui maksud dan tujuannya dan perlu penjelasan dari pakar tafsir Al-Qur’an). Adapun jawaban yang kami pilih dari ayat mutasyabbihat dan keasamaan-kesamaannya ini berlaku bagi orang yang tidak mau mendalami ilmunya agar melewatinya seperti apa adanya ayat dan tidak perlu membahas dan membicarakan ayat ini. Karena, hal ini tidak akan aman untuk terjatuh ke dalam lumpur “Tasybih”, yakni menyamakan Allah dengan makhluk apabila bukan dari golongan orang-orang yang dalam ilmunya.

Dengan demikian, wajib bagi setiap muslim yang mukallaf untuk mengi’tiqadkan atau meyakinkan perkara di dalam sifat-sifat Dzat Maha Pencipta (Allah) ta’ala seperti apa yang telah kami terangkan, di mana Allah ta’ala tidak diliputi oleh tempat dan tidak berlaku zaman bagi-Nya. Juga, Dia maha dibersihkan dari segala batasan, dan ujung dan tidak butuh kepada tempat dan arah. Dia selamat dari segala bentuk kerusakan dan keserupaan.

Oleh karena dengan adanya makna ayat ini, maka Imam Malik rahimahullah melarang kepada seseorang untuk menanyakan tentang ayat ini. Beliau berkata: Al-Istiwa’ sesuatu yang sudah disebut. Kaifiat (pertingkah) sesuatu yang samar. Iman dengan ayat ini wajib. Dan, bertanya tentang ayat ini bid’ah.

Kemudian, beliau berkata: Seandainya engkau kembali menanyakan kepada semitsal ayat ini, maka aku memerintahkan supaya engkau menepuk lehermu. Semoga Allah melindungi kita dan kalian untuk tidak menyamakan Allah dengan makhluk !

{Keterangan dari kitab “Al-Kawkab Al-Azhar Syarah Al-Fiqhu Al-Akbar”, karya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, halaman 68, cetakan “Darul Fikr”, Beirut – Libanon. Ditulis ulang oleh KH. Muhammad Thobary Syadzily, Pengasuh Pondok Pesantren Al Husna Tangerang).

Ketahuilah pembagian tauhid menjadi tiga (Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma wa Shifat) telah terbukti secara ilmiah kebatilannya dan bukan bersumber dari ajaran Islam. Allah dan RasulNya tidak pernah mengajarkan tauhid dengan model trinitas seperti itu. Begitu juga para Sahabat Nabi tidak ada satu pun yang mengajarkan “tauhid tiga” tersebut.

Umat Islam harus paham bahwa masalah tauhid/aqidah merupakan masalah ushul, yang wajib berdasar dalil Qoth’i (pasti). Perlu dipertanyakan darimana dan apa dalil Qoth’i yang menjadi dasar pembagian tauhid tiga tersebut. Selain itu, efek samping dari ajaran “tauhid tiga” yang batil ini hanya akan menimbulkan fitnah di tengah Umat Islam. Seperti kita ketahui bersama, tauhid tiga ajaran Wahabi Salafi ujung-ujungnya hanya bermaksud untuk menuduh bahkan memvonis kaum beriman sebagai musyrik. Sebagai contoh dalam masalah tauhid asma wasifat dimana kelompok Wahabi Salafi ingin mengeluarkan faham Asy’ariah dari kelompok kaum muslimin yang benar, khususnya berkenaan dengan ayat-ayat sifat atau ayat-ayat mutasabihat yang berkaitan dengan masalah boleh tidaknya ta’wil.

Dan ternyata memang pembagian tauhid menjadi tiga (Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma wa Shifat) sama sekali tidak memiliki dasar, baik dari al-Qur’an, dan hadits, serta tidak ada seorang pun dari para ulama Salaf atau seorang ulama saja yang kompeten dalam keilmuannya yang membagi tauhid kepada tiga bagian tersebut. Pembagian tauhid kepada tiga bagian ini adalah pendapat ekstrim dari kaum Musyabbihah masa sekarang, mereka mengaku datang sebagai penegak Tauhid untuk memberantas bid’ah namun sebenarnya mereka adalah orang-orang yang membawa bid’ah. Mereka adalah kelompok yang terjerumus dalam aqidah tasybih dan tajsim yang menyamakan Allah SWT dengan makhlukNya. Wallohu a’lam.

Silahkan baca juga:

Tulisan berjudul Fitnah dan Kebohongan Wahabi Terhadap Imam Syafi’i Atas Pembagian Tauhid “Trinitas” terakhir diperbaharui pada Thursday 27 February 2014 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment