Islam Indonesia Adalah NU, dan NU Adalah Islam Indonesia

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Kebenaran adalah satu. Saya sangat meyakini hal itu. Sederhana saja, jika pluralitas adalah keniscayaan maka yang benar hanya satu. Jika warna itu beragam, maka yang hijau hanya satu. Anda tak bisa memaksakan hijau untuk merah, memaksakan hijau untuk hitam, atau hijau untuk yang lainnya. hijau adalah hijau.

Begitupun dengan kebenaran, keniscayaan pluralitas mengaharuskan ketunggalan dalam kebenaran. Masalah kebenaran itu hadir dalam berbagai macam, itu tak mengapa. Bukankah hijau pun beragam? Ada hijau tua, ada pula hijau muda dll. Yang benar hanya Islam, tapi ada Islam keras dan Islam ramah, itu tak bisa di hindari. “walau sya’a ja’alakum ummatan waahidatan” jika dia (Tuhan) menghendaki niscaya dia jadikan kalian satu ummat. Kata kata “jika tuhan menghendaki” menunjukan bahwa tuhan tidak menghendaki hal itu. Dari ayat itu, bolehlah kita berkata bahwa perbedaan adalah keniscayaan.

Kebenaran dan Cara Menyampaikannya

Ada sebuah ungkapan bahwa cara lebih penting daripada isinya. Kiranya ungkapan itu benar adanya. Sebuah cara sangat berpengaruh dalam menentukan sesuatu yang disampaikannya apakah akan berhasil atau tidak. Bukankah kebenaran yang tak terorganisir dan di sampaikan dengan cara yang buruk akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir serta disampaikan dengan cara yang indah? Itulah mengapa Tuhan menegaskan bahwa hendaknya kita menyampaikan kebenaran dengan hikmah dan tutur kata yang indah. Ini menunjukan bahwa cara menyampaikan kebenaran tidak kalah pentingnya dengan kebenaran itu sendiri.

Kita bisa lihat bagaimana selama 950 tahun Nabi Nuh as menyeru kaumnya kepada jalan kebenaran tapi hanya disambut oleh segelintir orang saja. Lihatlah (baca: bandingkan) dengan Nabi Muhammad SAW yang hanya dalam waktu 23 tahun bisa meruntuhkan pilar-pilar Romawi dan Persi serta mengubah keyakinan hampir setengah dari penduduk bumi. Tanpa bermaksud membandingkan keduanya, tapi inilah yang akan terjadi jika sesuatu di sampaikan dengan cara yang indah. Adanya tahapan-tahapan dakwah dalam Islam mulai dari dakwah bi al-sirr (dakwah dengan cara sembunyi-sembunyi), lalu diteruskan dengan dakwah bi al-jahr (dakwah dengan terang-terangan), lalu dakwah bi al-jahr ma’a qitali al-mu’tadin, dan terakhir dakwah bi al-jahr ma’a qitali kulli man wafaqa fi sabili al-dakwah, adalah cermin bahwa selain kebenaran itu sendiri, cara menyampaikannya pun sangat di perhitungkan dalam Islam. Karena itu wajarlah kiranya jika Muhammad di tempatkan di urutan teratas dalam deretan manusia-manusia paling berpengaruh dalam sejarah ummat mnanusia.

Kiranya, hal inilah yang di tiru oleh para Wali Songo ketika menyebarkan Islam di Nusantara. Islam yang sebelumnya sangat minoritas dalam waku yang relatif singkat menjadi keyakinan mayoritas penduduk Nusantara. Sekali lagi, cara menyampaikan kebenaran sangat berperan di sini. Seperti yang kita ketahui, Wali Songo memanfaatkan budaya setempat untuk menyampaikan Islam. Wayang dan gamelan adalah bukti bahwa kebudayaan setempat adalah cara yang sangat ampuh untuk menyampaikan kebenaran. Dan seperti menemukan pasangannya, masyarakat Indonesia sangat antusias akan cara-cara yang di tempuh para Wali. Mereka menyadari bahwa Islam adalah agama manusia, bukan hanya agama bangsa Arab. Islam tidak bertentangan dengan budaya bangsa manapun. Selama itu tak mengarah pada unsur kesyirikan, maka Islam tak pernah bertolak belakang dengan budaya bangsa manapun. Lalu seperti gerbong yang mengikuti lokomotifnya, Nahdlatul Ulama (NU) megambil tempat ini, meneruskan peran ini, dan terus berimprovisasi untuk senantiasa mengembangkan Islam yang ramah, Islam yang toleran, dan Islam yang menghargai kebudayaan. Sekali lagi cara wali songo di gunakan dan nampaknya akan terus tak dilupakan.

Fakta bahwa NU adalah organisasi Islam terbesar di dunia dengan jumlah pengikut Islam terbesar adalah sebuah bukti akan efektifnya sebuah cara. Ya, caralah pembedanya, al-muhafadzah ‘ala al-qadimi al-shalih wal akhdzu bi al-jadidi al-ashlah. Memelihara apapun itu baik kebudayaan atau warisan lama yang masih relevan dan terus berimprovisasi dalam menyuguhkan sesuatu yang baru yang lebih baik. Cara itulah yang sampai saat ini masih menjadi jargon NU dalam membina masyarakat dan tentu saja dalam menyampaikan kebenaran. Bahkan dalam pelaksanaanya, jika kemashlahatan atau sesuatu yang baik itu berpotensi menimbulkan keguncangan dalam masyarakat, maka alangkah baiknya hal itu ditunda terlebih dahulu. Atau dalam bahasa fiqihnya dar’u al-mafasid muqaddamun ‘ala jalbi al-mashalih. Memang, kebenaran sangatlah penting di sampaikan. Tapi anda sangatlah keliru jika tak mengindahkan cara-cara penyampaiannya. Seperti kata orang-orang arif “menyampaikan kebenaran haruslah dengan cara yang benar dan mencegah kelaliman tidak boleh menimbulkan kelaliman yang baru”.

NU dan Islam Berwajah Indonesia

“Wa ma arsalnaka illa rahmatan li al-‘alamin” penggalan ayat al-qur’an tersebut menegaskan bahwa sebagaimana Muhammad, Islam ada untuk kedamian seluruh alam. Karena kedamaian setiap bangsa berbeda dalam ‘wajahnya’, tentu saja cara Islam memberikan rahmat pun berbeda. Kita tak bisa menyamakan cara memberikan kedamaian pada orang Arab yang hidup di gurun pasir sana, dengan cara memberikan kedamaian pada masyarak Indonesia. Karena itulah, setiap dimensi ruang dan waktu memiliki caranya sendiri-sendiri dalam menuju dan mengamalkan apa itu Islam. Cara ber-Islam Imam Malik yang hidup di Madinah berbeda dengan pengikut Hanafi yang berada di Kufah. Pun berbeda dengan cara ber-Islamnya Imam Syafi’i yang hidup di Mesir. Bahkan untuk kasus yang terkahir, beliau memiliki cara mengamalkan Islam yang berbeda ketika beliau di Baghdad dan setelah pindah ke Mesir. Cara memahami dan menjalankan Islam yang berbeda dari setiap komunitas masyarakat adalah sesuatu yang wajar bahkan sebuah keniscayaan. Nampaknya hal ini di baca dengan baik oleh para Wali Songo lalu diteruskan oleh NU.

Islam Indonesia tak harus sama dalam aksidennya dengan Islam arab. Yang terpenting esensi dari Islam itu sendiri. Tapi bagaimana wajahnya, itu tak harus sama. Tengoklah bagaimana para sahabat berbeda cara dan berbeda ‘wajah’ dalam haji mereka. Dan semua cara itu lalu dibenarkan oleh nabi. if’al, la haraj (lakukan saja, taka da salahnya), begitulah jawaban nabi untuk setiap pertanyaan sahabat tentang cara berhaji mereka. Tak kurang dari 24 cara berhaji para sahabat, dan Nabi membenarkan semuanya. Ini adalah sedikit gambaran bagaimana sebuah cara ber-Islam dari setiap individu sangat berbeda. Jika cara ber-Islam setiap individu dalam satu komunitas saja sudah berbeda, bagaimana mungkin kita hendak menyeragamkan semua komunitas dalam ber-Islam? Ini tidak mungkin. Islam Arab Saudi berbeda dengan Islam Mesir dan tentu saja keduanya tak sama dengan Islam Indonesia dalam aksidennya. Sekali lagi, esensi dari semuanya sama, tapi cara dan wajahnya tidaklah sama. Dan jika kita menengok realitas yang ada, tak berlebihan jika dikatakana bahwa NU adalah cerminan dari wajah Islam Indonesia. Bagaimana cara para kiyai membina masyarakat dengan membawa spirit Indonesia sangat selaras dengan kondisi masyarakat kita. Bagimana NU menerima Pancasila sebagai asas tunggal, ataupun meneruskan teradisi nenek moyang yang suka “guyub” (karena itu tak jarang dalam setiap dzikir ataupun do’a, dilakukan bersama-sama), itu semua adalah sedikit bukti (disamping masih banyak bukti yang lainnya) bahwa Islam Indonesia adalah NU, dan NU adalah Islam Indonesia.

Oleh: Abdullah Aniq Nawawi, penulis adalah pengurus PCI NU Maroko.

Tulisan berjudul Islam Indonesia Adalah NU, dan NU Adalah Islam Indonesia terakhir diperbaharui pada Tuesday 18 February 2014 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment