KH Hasyim Asy’ari, Simbol Ahlussunnah wal Jama’ah Nusantara

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Prolog

Hadratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari, figur pendiri Nahdlatul Ulama (NU) ini sudah teramat populer. Berbagai karya mengenai kebesaran tokoh ini sudah tak terhitung. Bahkan menjadi materi utama beberapa sarjana Indonesia yang belajar di dalam maupun luar negeri untuk meraih gelar akademis. James Fox menyebutnya sebagai kiai paling besar dan terkenal seluruh Indonesia selama paruh pertama abad 20.

Namun dalam tulisan ini, penulis sengaja membidik sisi ilmu kalam secara khusus. Hadlrastus Syeikh terbilang ulama Ahlussunnah yang mendekati komplit. Kiai yang satu ini tak hanya mendalami ilmu-ilmu fikih, ushul fikih, gramatika bahasa, kalam, tasawuf dan tafsir layaknya mainstream ulama nusantara, tapi KH. Hasyim Asy’ari juga diakui kepakarannya dalam ilmu hadis. Konon, pendiri NU ini termasuk penghafal kitab Shahih Bukhâri secara transmisi sanad dan matan (materi) hadis dan berhasil meraih ijazah dari beberapa maha guru ulama Nusantara yang bermukim di Mekkah seperti Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syeikh Nawawi Banten, Syeikh Mahfudz at-Tirmisi.

Lebih Dekat dengan KH. Hasyim Asy’ari

Lahir di desa Nggendang—dua kilo meter sebelah utara Jombang— pada 24 Dzul Qa’dah 1287 H (14 Februari 1817 M). Garis keturunannya berasal dari kalangan ulama. Kakeknya, KH Usman, dikenal sebagai ulama besar di masanya yang memiliki pesantren di Nggendang. Orang tuanya, Kiai Asy’ari, yang menyunting Halimah—puteri KH Usman—menjadi penerus kemasyhuran pesantren Nggendang. Ia pun tercatat sebagai keturunan kesepuluh dari Prabu Brawijaya VI.

Setelah mengenyam dasar-dasar pendidikan agama di pesantren ayahnya, Hasyim minta izin untuk memperdalam ilmu. Dengan sarana transportasi sangat minim, ia memulai pengembaraannya, menyusuri berbagai pesantren di Jawa Timur. Dari beberapa pesantren, Hasyim muda terpikat untuk lebih lama memperdalam ilmu, di pesantren Siwalan Panji Sidoarjo.

Di sana, berkat kecerdasannya Hasyim segera menjadi santri yang menonjol. Perilaku dan tekadnya mencuri hati pimpinan pesantren. Bahkan belakangan, Hasyim dijadikan menantu pemimpin pesantren. Ia dinikahkan dengan Khadijah puteri kiai Ya’kub saat berusia 21 tahun. Setelah menikah Hasyim bersama isteri dan mertuanya menunaikan ibadah haji. Seusai merampungkan ibadah, mereka tak segera pulang tetapi mukim di tanah suci.

Setelah sempat pulang selama hampir 3 bulan ke tanah air paska wafatnya sang isteri saat melahirkan bayi pertama. Hasyim kembali ke Mekah untuk memperdalam ilmu agama pada beberapa syaikh, diantaranya Syaikh Khatib Minangkabau, Syaikh Nawawi Bantani, Syaikh Mahfud at-Tirmisi selama 7 tahun. Syaikh Mahfudz merupakan generasi terakhir dari 23 generasi ulama penghafal Bukhari.[1] Kiai Hasyim kemudian kembali ke tanah air untuk berkhidmah pada bangsa dan negara. Hingga wafat pada tahun 1947 M karena penyakit tekanan darah tinggi. Rahimahullah rahmatal abrâr.

Buku Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah; Kajian Kritis Teks

Seperti yang telah saya sebutkan di atas, kajian kali ini akan mencoba fokus pada ilmu kalam kiai Hasyim. Di sini, penulis akan mencoba mendekati teks secara sosio-historis juga. Mengingat kajian teks sudah tak mencukupi. Dengan data dan referensi terbatas saya akan mencoba membaca baris-baris teks buku Risalah dengan menghadirkan segala daya kesadaran saya sebagai warga Indonesia sekaligus warga Nahdliyyin, tanpa semena-mena terhadap sosok paling berpengaruh di Nusantara ini.

Dalam buku ini, kiai Hasyim sudah tidak lagi dipersibuk dengan menghadirkan konsep-konsep mazhab Asy’ari secara repetitif. Jadi, jangan dikira konsep kalam, pelaku dosa besar, perbuatan manusia, dan imamologi yang paling banyak mengundang polemik dalam perdebatan ilmu kalam tersaji di sana. Selain itu, buku sederhana ini memang dimaksudkan untuk kalangan warga nahdliyyin yang masih awam. Meski begitu, malah saya menemukan sosok kiai Hasyim sebagai sosok ulama yang sangat berwawasan dan memiliki keperdulian terhadap aliran-aliran yang sedang berkembang di dunia Islam: mulai dari Syiah, Wahhabisme dan kalangan modernis.

Dalam prolog buku itu, kiai Hasyim terlebih dahulu mendefinisikan terma bid’ah dan sunnah secara cukup komprehensif dengan merujuk beberapa karya ulama klasik, semisal Syeikh Ahmad Zarrûq (899 H) yang mengatakan bahwa untuk memberi label bid’ah pada suatu perbuatan atau ibadah harus melalui beberapa tahapan. Pertama, melihat perbuatan yang dianggap bid’ah, bila sebagian besar memiliki dasar dalam syariat maka tak bisa diberi label bid’ah. Kedua, mempertimbangkan kaedah dan ushul fikih yang dibangun para ulama, bila masih sesuai maka tak boleh sembarangan menuduh bid’ah. Ketiga, mempertimbangkan variasi hukum (wajib, sunnah, haram, makruh, mubah) untuk dijadikan neraca: selama masih cocok dengan salah satu hukum yang lima tak boleh disebut bid’ah kecuali yang haram.[2]

Kiai Hasyim kemudian mempertegas bahwa beberapa tradisi NU (seperti berzikir dengan memakai tasbih, melafalkan niat, tahlilan, ziarah kubur) yang sering disebut bid’ah tak menemukan pembenarannya.[3] Ia menambahkan bahwa penduduk Jawa (baca: Nusantara) sebelumnya tak pernah mempermasalahkan hal-hal tersebut; kaum muslimin di sana bermazhab Syafii dalam fikih, bermazhab Asy’ari dalam akidah dan dalam tasawuf mengikuti suluk imam Al-Ghazali dan As-Syadzili.

Hingga sekitar tahun 1330 H muncul berbagai aliran: ada Salafisme[4] yang mengikuti tuntunan ulama salaf dengan mengkaji buku-buku yang dianggap sudah terakreditasi, yang mencintai ahlu al-bait, para wali dan kaum shaleh, mau bertabarruk, ziarah kubur, meyakini syafaat dan lain-lain. Ada juga kaum modernis pengikut Muhamad Abdouh dan Rasyid Ridla, yang sedikit banyak terpengaruh oleh konsep bid’ah yang dikembangkan Muhammad bin Abdul Wahhab, Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnu al-Qayyim. Ada juga kelompok Syiah yang fanatik pada Ali bin Abu Thalib. Ada lagi kelompok Ibahiyyun (hedonis) yang membolehkan pengikutnya lepas dari ikatan syariat tatkala sampai pada makrifat. Begitu juga kelompok yang meyakini reinkarnasi ruh dan oknum-oknum kaum sufi yang mengaku menyatu dengan Tuhan atau yang populer dalam bahasa Jawa dengan manunggaling kawulo gusti.[5]

Dalam perspektif Kiai Hasyim, semua kelompok di atas dianggap sesat kecuali kelompok yang disebut pertama kali. Di sini, tampak bahwa deskripsi Nakamura tentang NU sebagai kelompok tradisionalis-radikal menemukan penegasannya.[6] Sikap awal NU agak menolak tantangan-tantangan dunia modern serta mentoleransi praktik Islam “sinkretik” dan memegang teguh mazhab fikih. Meski demikian, kecenderungan ini berubah pada akhir-akhir ini disebabkan perubahan yang terjadi di tubuh NU sendiri.[7] Hal ini wajar dan sangat alamiah bagi sebuah organisasi yang baru saja diresmikan untuk mengukuhkan eksistensinya selama tak bereaksi secara radikal. Toh terbukti setelah eksistensi NU semakin kokoh tak lantas membuat Ormas yang resmi berdiri pada 1926 M menjadi garang. NU berhasil melakukan semacam kompromi dengan tradisi lokal karena memang NU tumbuh dari akar masyarakat bawah.

Risalah Ahlussunnah yang ditulis kiai Hasyim sekitar 1330 H, atau 180 tahun paska berdirinya Wahhabisme di Saudi, tentu dipengaruhi sosio-politik masa itu. Wahhabisme yang berhasil melakukan kontrak politik dengan Raja Saud berpengaruh cukup luas hingga ke tanah air. Menurut pengamatan Michael F. Laffan, seorang Indonesianis asal Amerika, puncak Wahhabisme berpenetrasi ke Indonesia sekitar tahun 50-60 an. Itu berarti tak lama setelah wafatnya Kiai Hasyim Asy’ari pada 1947 H.

Gerakan purifikasi agama yang dilakukan Wahhabisme cukup mengusik keberagamaan warga Indonesia. Seperti diungkap sebelumnya, bahwa masyarakat Jawa (baca: Indonesia) sudah mapan dengan tradisi keagamaannya. Namun ketika tradisi itu dipertanyakan oleh terutama kelompok modernis, seperti KH. E. Abdurrahman dari kelompok Persatuan Islam (PERSIS), yang mempertanyakan kenapa kelompok yang keluar dari mazhab empat tak bisa disebut kelompok Ahlussunnah?[8] Maka Kiai Hasyim merasa terpanggil untuk menjawabnya: karena mazhab yang lain belum terkodifikasi secara menyeluruh dan tak ada tranmisi sanad yang menjamin validitasnya.[9]

Lebih jauh, Kiai Hasyim menukil pernyataan Ibnu Shalah yang mengatakan bahwa setelah abad keenam Hijriyah mustahil akan muncul seorang ulama yang bisa sampai derajat mujtahid mustaqil (independen) layaknya pendiri mazhab empat.[10] Pernyataan Ibnu Shalah yang kemudian diamini oleh Kiai Hasyim memang terlihat sangat arogan dan terkesan tertutup. Namun itu dimaksudkan sebagai bentuk preventif bagi sebagian oknum yang mengklaim diri sebagai mujtahid sementara kapabilitasnya tak memenuhi kualifikasi jumhur. Sebab di sisi lain, Kiai Hasyim tidak menutup kemungkinan berpindah mazhab bagi seorang mukallid dalam keadaan tertentu, seperti shalat dzuhur dengan mazhab imam Syafi’i dan ashar dengan mazhab Hanafi.[11] Namun, dalam kasus ini tetap tak diperbolehkan keluar dari mazhab empat.

Fakta di atas tentu harus dikaji ulang dengan mempertimbangkan pengaruh sosio-politik dan kultur masyarakat yang mengitari buku risalah Ahlussunnah. Menurut al-Qardlawi, di masa kontemporer dengan segala kompleksitasnya mazhab empat sudah tidak cukup untuk menjawab problematika ‘kekinian’. The future sock (gagap masa depan) yang kita jumpai pada masyarakat global di segala lini: ekonomi, sosial, politik, budaya dsb. harus dijadikan neraca utama dalam pengambilan sebuah hukum.[12] Dia kemudian mengkampanyekan trend berijtihad terbaru: ijtihad jama’i (ijtihad secara kolektif) sebagai gantinya.[13] Ijtihad kolektif menjadi trend di hampir semua belahan dunia Islam, termasuk di Indonesia. Trend ini kemudian dilembagakan dalam lembaga-lembaga bahtsu masa’il di tubuh NU dan lajnah tarjih di Muhammadiyah, atau seperti Darul Ifta’ di Mesir.

Sekte yang Selamat dalam Perspektif Kiai Hasyim

Dalam salah satu bab selanjutnya, kiai Hasyim mencoba mengelaborasi lebih lanjut mengenai sekte yang akan selamat. Setelah menulis hadits yang secara spesifik berbicara mengenai hal itu, kiai menuliskan beberapa komentar ulama: diantaranya as-Syihâb al-Khafâji yang menyebut sekte yang selamat termanifestasi dalam ahlussunnah, atau catatan pinggir as-Syinwani terhadap buku Mukhtasar Ibnu Abi Jamrah yang lebih mengkerucutkan lagi pada mazhab Asy’ari secara khusus. Untuk kemudian melengkapinya dengan penjelasan lebih lanjut dari Abu Manshur bin Thahir at-Tamimi yang menulis bahwa dalam kasus ini tidak memasukkan perbedaan pendapat dalam hukum-hukum fikih tapi lebih pada pokok-pokok ilmu tauhid.[14]

Dalam konsepsi sekte yang selamat, kiai Hasyim tidak keluar dari pendapat mainstream mazhab Asy’ari yang tertulis dalam buku-buku klasik semisal Al-Farqu Baina al-Firaq yang ditulis al-Baghdadi (w. 429 H) maupun Al-Milal wa an-Nihal karya as-Syahrastani (479-548 H). Bahkan metode menghitung kuantitatif 73 golongan seperti tertera dalam hadis juga memakai metode mereka. Setelah gaung takrib al-mazahib (harmonisasi antar mazhab) mulai menggema di dunia Islam, metode dan tata nilai yang sebelumnya dikukuhi kembali diperdebatkan. Tak hanya itu, bahkan transmisi sanad haditsnya pun ikut diperbincangkan oleh sarjana-sarjana modern Islam.[15] Dr. Abdul Halim Mahmud misalnya, mengatakan bahwa penafsiran dan pemetaan yang dilakukan sarjana klasik Islam itu terkesan memaksa. as-Syahrastani, tulis Dr. Abdul Halim, memustahilkan munculnya aliran-aliran baru dalam dunia Islam. Seakan-akan as-Syahrastani benar-benar memahami semua yang terjadi dalam dunia Islam. Kalkulasi lugu yang dilakukannya acapkali mengundang senyum.

Dr. Abdul Halim Mahmud kemudian merasa nyaman dan puas dengan kritik sanad yang dilancarkan oleh imam As-Sya’rani dalam Al-Mizan al-Kubrâ, bahwa di sana sebenarnya ada riwayat lain yang sahih secara transmisi sanad meski asing secara lafal; menjelaskan bahwa semua 73 sekte itu akan masuk surga kecuali kaum zindik.[16]

Sejatinya, wacana ahlussunnah sebagai satu-satunya aliran dalam Islam yang selamat sudah mendominasi pemahaman hampir semua nahdliyyin bahkan jauh sebelum organisasai tradisional ini berdiri. Aswaja adalah salah satu bentuk ortodoksi yang hampir tak pernah mengalami gugatan. Padahal banyak kalangan kemudian mengklaim bahwa Aswaja adalah hasil ‘perselingkuhan’ ulama dengan penguasa.[17] Jadi, pengukuhan kiai Hasyim melalui bukunya Risalah Ahlussunnah adalah bentuk penekanan dari kesadaran umat Islam Nusantara yang sudah mapan.

Klaim ‘peselingkuhan’ penguasa dan ulama seperti diungkap di atas tak berangkat dari asumsi kosong. DR. Ridwan as-Sayyid, seorang sarjana kontemporer asal Libanon, mencoba mengurai benang merah dari bentuk ortodoksi Aswaja. Mulanya, bila dibaca secara politis kemunculan terma Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai “as-sawâd al-a’dzam” (kelompok mayoritas) yang diklaim tidak pernah salah karena jaminan hadis “Umatku tidak akan tersesat selama berjama’ah-berkelompok. Karena pertolongan Allah bersama jama’ah.” juga dipenuhi intriks politik, terutama di masa dinasti Umawiyah. Penguasa Umawiyah gencar menyebar para da’i untuk mengkampanyekan hadits ini. Sehingga tidak memungkinkan adanya kelompok oposisi yang membelot akibat hadis di atas atau yang serupa dengannya. Meski, kata Ridwan As-Sayid, kampanye semacam ini pertama kali dimaksudkan untuk mempertahankan persatuan dan jihad melawan musuh yang selalu terjaga.[18]

Terlepas dari lingkaran pembacaan secara politis di atas. Kiai Hasyim hanya ingin mengukuhkan eksistensi sebuah kelompok yang sebenarnya sudah sangat mengakar di Indonesia namun belum terlembagakan dalam sebuah organisasi yang mapan. Sehingga terbentuknya NU diharapkan akan menjadi semacam wadah aspirasi kalangan tradisionalis. Fungsi NU semakin mantap ketika kiai Ahmad Siddiq, seorang pemimpin NU juga, mengetengahkan tiga konsep NU yang hingga detik ini masih dikukuhi secara sadar oleh intelektual kalangan tradisionalis: at-Tawassut (tidak ekstrem dan tidak memihak), al-I’tidal (berlaku benar dan adil), dan al-Tawazun (seimbang). Seperti umumnya kalangan tradisionalis, ketiga konsep fundamental ini juga ditawarkan dengan argumentasi ayat-ayat Qur’an.[19]

Dalam paradigma intelektual NU, teks-teks Qur’an amat terbuka untuk setiap penafsiran bahkan yang bersifat temporal dan lokal sekalipun. Karena teks suci tak bisa dimonopoli oleh kalangan tertentu. Lihat misalnya tatkala NU menerima Pancasila sebagai dasar negara Indonesia pada Muktamar NU ke 27 di Situbondo 1984;[20] ulama NU melakukan penalaran ijtihadi terhadap teks-teks yang ada untuk dikompromikan dengan akal dan realitas. Kenyataan ini tak lepas dari dasar jam’iyyah yang memang berbasis pada Ahlussunnah wal Jama’ah (mazhab Asy’ari-Maturidi).[21]

Kiai Hasyim Asy’ari Figur Kharismatik Ulama Nusantara

Hampir semua pengkaji dan peneliti Timur-Barat sepakat bahwa tak ada ulama Indonesia yang melebihi popularitas Kiai Hasyim Asy’ari. Paradigma kiai yang moderat baik dalam ide maupun sikapnya sanggup menjadikannya figur yang disegani oleh setiap kelompok Islam yang ada. Hal ini tak lepas dari pencapaian intelektualitasnya yang terbilang komplit bagi seorang ulama kaliber Indonesia.

Kiai Hasyim adalah sosok ulama yang sangat perduli terhadap persatuan bangsa. Kegelisahannya sebagai pemimpin ormas sekaligus pemikir termanifestasikan dalam beberapa karyanya. Semisal dalam Risalah Keempat: “Wahai orang-orang, kaum kafir [Belanda] ada di depan mata kalian. Dalam keadaan genting seperti ini kalian harus bersatu padu dan berijtihad. Jangan fanatik dan memaksakan satu pendapat terhadap pendapat lainnya, karena itu tak diridlai Allah SWT. Tak ada yang membuat kalian bersikap demikian kecuali sifat fanatik, saling hasud dan persaingan yang tidak sehat. Kalian ribut dengan perkara-perkara yang khilafiyah (diperdebatkan). Padahal banyak kaum muslimin yang tidak shalat.”[22]

Konsep dakwah yang ditawarkan oleh beliau adalah bersikap lemah lembut layaknya dakwah para nabi. Perhatikan sikap beliau mengenai seseorang yang mengamalkan sebuah pendapat mazhab yang marjûh (tidak diunggulkan) tapi terakreditasi. “Nasehati dengan lembut. Bila tak mau mendengarkan maka jangan dimusuhi karena itu sama dengan seseorang yang membangun istana tapi menghancurkan kota.”

Sebagai pahlawan kemerdekaan, sikapnya amat tegas dengan mengeluarkan fatwa bahwa setiap muslim wajib berjuang melawan kolonial Belanda maupun Jepang dan mempertahankan kedaulatan negara.[23] Partnernya, kiai Wahab Hasbullah juga sempat membentuk barisan jihad yang sangat terkenal, Jundullah. Uniknya setelah Indonesia merdeka, ulama NU tak lantas haus kekuasaan. Para kiai tidak ada yang beranggapan bahwa NU harus mampu menjadi penyeimbang dari kekuasaan negara,[24] apalagi untuk menjadi kelompok oposisi. Mereka hanya sepakat bahwa NU harus tetap ikut andil membangun negara tanpa pamrih.

Epilog

Akhirnya penulis sadari bahwa untuk mengkaji pemikiran kiai Hasyim Asy’ari tidak cukup hanya dalam beberapa lembar kertas. Mengingat jasa dan sepak terjangnya yang sangat panjang dan tentu melelahkan itu. Kiranya, kajian teks yang berfokus pada buku Risalah Ahlussunnah wal Jamaah ini bisa sedikit menguak keperdulian kiai pada perdebatan ilmu kalam yang berkembang di masanya. Kiai Hasyim tak lagi menulis secara repetitif konsep mazhab Asy’ari yang tertulis di buku-buku klasik. Tapi berusaha menjawab kegelisahan masyarakat tradisionalis saat itu. Terutama penetrasi kalangan modernis yang datang menggugat tradisi masyarakat muslim Indonesia yang sudah mapan dengan menghadirkan argumen-argumen keagamaan. Wallahu a’lam!

Referensi

[1] Rohinah M. Noor. MA, KH Hasyim Asy’ari Memodernisasi NU & Pendidikan Islam, Grafindo Khazanah Indonesia, 2010, cet I, h. 11-15
[2] KH. Hasyim Asy’ari, Risalah Ahlussunah wal Jama’ah, Maktabah At-Turâst Al-Islami Jombang, editor: Ishom Hadziq, h. 6-8
[3] Ibid, h. 8
[4] Terma Salafisme di masa KH. Hasyim masih berkonotasi positif sebelum kemudian di tahun 50-60 an dipakai simbol oleh kaum puritan.
[5] Ibid, h. 9-12
[6] Abdul Mun’im Kholil, Majalah Afkar edisi 57 “Moderatisme NU; Ide dan Tradisi yang Hidup” dalam rubrik Hawamisy berjudul “Menjadi NU”
[7] Lathifatul Khuluq, Fajar Kebangunan Ulama; Biografi KH. Hasyim Asy’ari, LKis Yogyakarta, 2008, cet III, h. 8
[8] Latifatul Khuluq, Kyai Haji Hasyim Asy’ari’s Religious Thought and Political Activities 1871-1947, McGill University, 1997, h. 39
[9] Lihat Farid Zein Efendi, Rasa’il Hadlrat As-Syeikh, Risalah Tentang Penegasan untuk Berpegang Teguh pada Mazhab Empat, editor: Ishom Hadziq, Indonesia, 2011
[10] Risalah Ahlussunah wal Jama’ah, Opcit, h. 9
[11] Risalah Ahlussunnah, Opcit, h. 17
[12] Yusuf al-Qardlawi, Syari’at Al-Islam Shalihah Li At-Tatbîq fi Kulli Zamân wa Makân, Dar As-Shohwah Kairo, 1993, cet II, h. 79-83
[13] Yusuf al-Qardlawi, Al-Fiqh Al-Islami Baina Al-Ashâlah wa At-Tajdîd, Maktabah Wahbah, 1999, cet II, h.41
[14] Ibid, 23
[15] Literatur tertua yang menggugat keabsahan hadis tersebut bisa diakses dalam Milal wa Nihalnya Ibnu Hzam atau imam Syaukani dalam Iftiraqu Ummati Ila Naifin wa Sab’ina Firqatan. Di buku yang ditulis As-Syaukani, pembaca bisa menemukan jawabannya secara komprehensif.
[16] Abdul Halim Mahmud, At-Tafkîr Al-Falsafi fi Al-Islam, Dar Al-Ma’arif Kairo, cet II, h. 72-75
[17] Titik Triwulan Tutik & Jonaedi Efendi, Membaca Politik NU; Sketsa Politik Kiai & Perlawanan Kaum Muda NU, Lintas Pustaka Jakarta, 2008, h. 92-93
[18] Ridwan As-Sayyid, Al-Jama’ah wa Al-Mujtama’ wa Ad-Dawlah, Dar Al-Kitab Al-Arabi Libanon, 2007, cet II, h. 217-230
[19] Latifatul Khuluq, Kiai Haji Hasyim Asy’ari, h. 41-42
[20] Abdul Mun’im Kholil, Majalah Afkar edisi 57 “Moderatisme NU; Ide dan Tradisi yang Hidup” dalam rubrik Hawamisy berjudul “Menjadi NU”
[21] Lihat dialektika teks-akal-realitas dalam: Al-Madkhal Ila ‘Ilmi al-Kalam, Dr. Hasan As-Syafii, Maktabah Wahbah Kairo, 1991, cet II, h. 153-160
[22] Lihat Farid Zein Efendi, Rasa’il Hadlrat As-Syeikh, Mawa’idz Risalah IV, editor: Ishom hadziq, Indonesia, 2011
[23] Fajar Kebangunan Ulama, Opcit, h. 7-8
[24] Titik Triwulan Tutik & Jonaedi Efendi, Opcit, h. 93

Oleh: Fathur Rohman/ Jurnalis Warga SHNews

Tulisan berjudul KH Hasyim Asy’ari, Simbol Ahlussunnah wal Jama’ah Nusantara terakhir diperbaharui pada Saturday 15 February 2014 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment