Mempertanyakan Dakwah Manhaj Salaf Ala Wahabi Salafi

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Salaf berarti “siapa saja yang telah mendahuluimu dari nenek moyang dan karib kerabat, yang mereka itu di atasmu dalam hal usia dan keutamaan”. (Lisanul Arab, Ibnu Mandhur 7/234).

Secara syariat bermakna: “Para imam terdahulu yang hidup pada tiga abad pertama Islam, dari para shahabat Rasulullah SAW, tabi’in (muridnya shahabat) dan tabi’ut tabi’in (muridnya tabi’in)”. ( Manhajul Imam As Syafi’i fii Itsbatil ‘Aqidah, 1/55).

Dalam prakteknya, banyak yang terjebak dan menyalahgunakan istilah dakwah Salaf ini. Mereka menggunakannya sebagai senjata untuk menyalahkan/menbidahkan aktivitas muslim lainnya. Karena termakan beberapa doktrin dangkal, mereka akhirnya terjerumus pada ta’asub (fanatisme golongan) yang mereka kritik sendiri. Ibarat terjebak dalam jurang yang dalam, mereka sulit untuk melihat dunia luar yang penuh warna.

Jebakan #1: “Jalan Dakwah Salaf Satu-satunya Jalan yang Selamat”

Secara singkat kalimat ini sekilas benar, namun ketika analisis lebih jauh, maka hal ini bisa membawa pengikutnya pada mindset bahwa hanya kelompok gerakan Salafi saja yang selamat karena mereka menamakan gerakan dakwahnya dengan nama “Salafi”:

Berapa pertanyaan kritis :

  1. Apakah semua jamaah harus memakai kata “Salafi” agar bisa selamat? NU, Muhammadiyah, Al-Irsyad, Persis, dst bagaimana? Tidak selamatkah?
  2. Mengapa para imam madzhab tidak memakai kata Salafi/ Salafiyyun untuk menamai madzhabnya? Apakah karena itu mereka tidak selamat? Padahal mereka semua adalah para genarasi Salaf.
  3. Apakah berbagai jamaah di dunia ini yang punya banyak nama, namun tetap merujuk pada alquran dan hadits dan ahlussunnah wal jamaah tidak selamat?
  4. Atau semua muslimin di dunia harus masuk jamaah Salafi tersebut (pendiri: Muhammad Ibn Abdul Wahhab) agar selamat?

Jebakan #2: “Dakwah salafi tidak menyeru kepada kelompok, tokoh tertentu dan berta’ashub (fanatik) dengannya, tidak pula hizbi seperti selainnya.”

Pertanyaan Kritis:

  1. Siapa tokoh pencetus gerakan dakwah Salafi?
  2. Pada siapa aktivis Salafi mengkaji kitab-kitabnya? Ustadz A , B atau C. Kalo A, lalu A merujuk/ berguru ke syaikh siapa?
  3. Dalam hal furu’ ia mengikuti fatwa siapa? Mengapa hanya mengikuti fatwa ulama itu saja dan meninggalkan fatwa ulama kelompok lain?

Sampai disini benarkah dia tidak menyeru ke kelompoknya?

Selanjutnya, ketika mengajak teman sekampus atau teman sekantor untuk mengaji, apakah itu tidak berarti ia menyeru ke kelompok (pengajian)nya?  Mengapa pula mesti menyeru ke pengajiannya, bukan kelompok pengajian lain. Bukankah mereka berprinsip tidak menyeru ke kelompok? Mungkinkah ia hanya menyeru orang lain untuk merujuk langsung ulama-ulama generasi Salaf saja, tanpa menyebut Muhammad Ibn Abdul Wahhab atau pendapat Syaikh Al-Albani, Syaikh Bin Baz, Syaikh Utsaimin, Syaikh Fauzan dst? Pernahkah ia mengajak teman untuk mengaji ke ustad selain kelompok jamaahnya (yang dinamai salafi itu)? Ke ustad jamaah Tabligh atau Hizbut Tahrir misalnya? Justru yang terjadi, mereka menganggap kelompok pengajian lain tidak benar. Bukankah itu ta’asub dan hizbi? Bukankah itu juga termasuk standar ganda? Kepada kelompok lain diberlakukan, namun ke kelompok sendiri tidak.

Pertanyaan-pertanyaan kritis ini seharusnya muncul di benak jamaah Salafi.

Salaf itu ada ratusan ribu. Menurut Riwayat, jumlah Shahabat itu 114.000 (as-Suyuthirahimahullah dalam al-Khashais al-Kubro). Belum lagi generasi Tabiin dan Tabiut-tabiiin. Maka ketika kita bilang kita mengambil manhaj Salaf, maka Salaf yang mana yg kita ambil? Karena tidaklah kita mengambil sebagian pendapat Salaf, kecuali kita tinggalkan pendapat sebagian yang lain. Pada masa Salaf itu tidak semuaya pandangan Fiqh isinya Ijma’ semua, banyak perkara yang masuk dalam bab Mukhtalaf Fiiha.

Itulah sumber konflik kelompok ini dengan jamaah atau Ormas yang kesannya dianggap bukan bermanhaj Salaf. Padahal jamaah selain mereka juga mengambil metode para Imam Madzhab yang juga generasi Salaf.

Jebakan #3: “Tidak ada perkara yang lebih besar di dunia ini dibanding perkara Tauhid, dan tauhidlah inti Dakwah Rasululah SAW”

Betul, tauhid itu hal utama, tapi tidak semua masalah selesai dengan bertauhid saja. Setelah tauhid masyarakat Arab benar; mereka memeluk Islam, apakah Rasulullah SAW tidak membangun Negara, berperang, mengadakan perjanjian, berkegiatan ekonomi, politik, membangun peradaban, dst?

Islam itu kaffah: Ibadah, ekonomi, politik, sosial budaya dst. Jika mengusung dakwah tauhid dengan cara meninggalkan bidang yang lain apakah itu yang Rasulullah SAW contohkan? Apakah menghindari politik itu ajaran Rasulullah SAW. Bukankah mengadakan hukum baru itu bidah?

Selanjutnya, Konteks Indonesia (baca: masyarakat muslim), apakah dakwah tauhid itu darurat harus menjadi prioritas? Apakah NU, Muhamadiyah, dan ormas lainnya sedang berbuat syirik? Menyembah berhala? Mereka harus didakwahi tauhid hingga mereka tobat?

Pertanyaan selanjutnya; pembersihan etnis Rohingnya di Myanmar itu masalah dakwah tauhid atau politik dan jihad? Atau apakah ketika muslim Rohingnya tauhidnya sudah murni semurni-murninya (menurut salafi) maka mereka tidak dibantai lagi dan hidup aman sebagai seorang muslim?

Begitu juga pembantaian di Moro, Pattani, dan negara lain dimana muslim tertindas sebagai minoritas. Semua itu tidak bisa diselesaikan (hanya) dengan “dakwah tauhid dengan manhaj Salaf” yang super shahih sekalipun. Tapi diselesaikan dengan politik dan Jihad.

Lalu, mengapalah jamaah Salafi meninggalkan area politik dan medan jihad?

Jebakan #4: “Kembali kepada Al-Quran dan Hadits, bukan malah bermadzhab-madzhab.”

Masyarakat itu kebanyakan orang awam, tidak semuanya bergelar sarjana syariah dan ulama serta bisa berijtihad sendiri. Tanpa bimbingan ulama, maka “Kembali ke Al-Quran dan Sunnah” itu jadi sesuatu yang membahayakan.

Yang benar adalah “Kembali ke Ulama”. Karena sejatinya kembali kepada ulama itu juga kembali kepada Al-Quran dan sunnah yang sesungguhnya.

Sejak 13 abad yang lalu para ulama bersusah payah mengerahkan pemikiran dan tenaga dalam menulis kitab-kitab Tafsir Quran dan juga kitab-kitab syarah (penjelasan) hadits.

Intinya “kembali ke Al-Quran dan Sunnah”, bukan perkara mudah yang semua orang bisa melaksanakan. Semboyan “Cukuplah bagiku Al-Quran dan Hadits” tidak bisa dipakai sembarangan hanya untuk mendekonstruksi pendapat imam Madzhab. Sedang ia sendiri tidak mengetahui lewat jalur mana ia memahami maksud dan makna ayat serta hadist tersebut. Dan tak mungkin pula ia bisa mengambil kesimpulan hukum dari ayat dan hadits tanpa merujuk kepada pendapat ulama. Lebih lanjut di sini.

Pada kenyataannya kebanyakan aktivis Salafi merujuk ke pendapat ulama: Muhammad Ibn Abdul Wahhab, Syaikh Bin Baz, Syaikh Albani, Syaik Utsaimin, Syaikh Fauzan, dst. Bukan merujuk langsung ke pendapat ulama Salaf.

Muhammad ibn Abdul Wahhab sendiri bukanlah ulama Salaf. Ia termasuk ulama khalaf (sekitar abad 19, jeda 13 abad dari era Rasulullah SAW). Menjadikan ulama ini sebagai model gerakan dakwah itu tidak masalah. Namun, menjadikan hanya satu ulama ini saja sebagai patokan/ parameter sebagai orang yang mengikuti Salafus Shaleh, itulah yang tidak tepat.

Selama rentang waktu 13 abad sebelum Muhammad Ibn Abdul Wahhab lahir  itu generasi salaf yang ribuan punya murid yang tersebar di seluruh dunia (Mesir, Maroko, Sudan, Irak, Balkan, bahkan sampai Indonesia)

Sah-sah saja menjadian beliau ini sebagai rujukan (semacam madzhab dakwah), tapi jangan mengklaim hanya cara dakwah beliau ini yang benar sedang selainnya Hizbi? Ini karena tidak ada sanad yang menyambung dari Rasulullah SAW ke Muhmammad Ibn Abdul Wahhab. Pun seandainya ia punya sanad itu, tak mungkin beliau satu-satunya yang punya sanad nyambung ke Rasululah SAW. Ulama semasanya di dunia juga tersebar. Mereka semua tidak serta-merta mati pas Muhammad Ibn Abdul Wahhab lahir, tumbuh, mengaji dan mendakwahkan gerakan tauhidnya.

Sebenarnya, definis Salafi itu tidak hanya merujuk kepada salah satu madzhab atau manhaj (jalan) saja, melainkan mencakup kepada seluruh kelompok yang mengikuti para sahabat dan yang dua selanjutnya, apapun organisasinya.

Karenanya hal itu diprotes keras oleh Prof. Dr. Said Ramadhan Al-Buthi dalam kitab “As-Salafiyyah Marhalah Zamaniyyah Mubarokah La Madzhab Islami”. Beliau menyebutkan bahwa istilah salaf sebenarnya merujuk kepada suatu fase sejarah, dan bukan kepada madzhab tertentu dalam Islam. Kalau mereka merujuk Salaf yang ribuan, tidaklah mereka merujuk satu ulama salaf kecuali mereka meningglkan pendapat ulama yang lain.

Jebakan #5: “Ikut Organisasi, ikut Partai adalah Hizbi dan itu menyimpang.”

Ikut organisasi, jamaah ataupun harokah adalah keniscayaan, karena kita berada di zaman nations state dengan kompleksitas sosial-budaya maupun hukum yang berbeda jauh dari masa 1400 tahun lalu.

Indonesia, negara dengan sistem demokrasi yang memungkinkan adanya ormas dan organisasi lainnya. Ini tentu 180 derajat berbeda dengan Negara Arab Saudi yang mengharamkan organisasi. Kebebasan organisasipun di jamin di sini (lihat pasal 28 UUD 1945). Termasuk kebebasan aktivitas partai politik.

Kebebasan berpendapat, berekspresi, berdemo, berorganisasi, berpartai politik, dst itu legal, sah, hak warga Negara dan sekaligus dizinkan ulil amri. Partai politik adalah sarana menampung suara masyarakat dalam sebuah perwakilan yang akan duduk di “Dewan Syuro” (DPR/MPR). DPR itulah yang dapat menghasilkan UU, termasuk undang-unadng yang menjamin maqashid syariah. Maka konteks partai politik di Indonesia kini tidak bisa disamakan dengan Partai (baca: hizb) semacam khawarij era kekhalifahan masih ada. Atau jika ada kelompok yang demo kebijakan pemeritnahan demokrasi ini maka di sebut kelompok khawarij. Padahal UU RI menjaminnya. Itu zalim dan salah konteks.

Kesalahan fatal jamaah Wahabi-Salafi adalah menganggap bahwa (hanya) mereka lah yang mengikuti salafusshaleh dan seolah kini hidup pada era Rasulullah SAW dan Salafusshaleh, di mana jamaatul muslimin masih berdiri dan seorang muslim haram memisahkan diri dari jamaah. Jika konteknya jamaatul muslimin (khilafah Islamiyah) masih ada, adalah wajar jika dikatakan hizbi seorang/sekelompok muslim yang memisahkan diri dari jamaatul muslimin.

Oleh: Muhammad Zulifan/ Center for Middle East dan Islamic Studies, University of Indonesia.

Tulisan berjudul Mempertanyakan Dakwah Manhaj Salaf Ala Wahabi Salafi terakhir diperbaharui pada Tuesday 18 February 2014 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


5 thoughts on “Mempertanyakan Dakwah Manhaj Salaf Ala Wahabi Salafi

  1. Allah tentu punya maksud menurunkan Islam / Al-Qur’an di tanah Arab. Sudah pasti dimana islam itu diturunkan maka para ulama yang tinggal disekitar itu mempunyai pengetahuan yang lebih baik daripada para ulama yang tinggal jauh seperti di Indonesia. Dan tentu Al-Qur’an yang diturunkan juga menggunakan bahasa dimana Islam itu diturunkan. Intinya dari segi bahas Ulama Arab Saudi lebih jago daripada Ulama di Indonesia karena bahasa Arab adalah bahasa ibu mereka. Tapi kalau ada yang menanggap bahwa terjemahan orang Indonesia lebih baik daripada terjemahan orang yang mempunyai bahasa itu sendiri. Sulit diterima secara akal sehat dan secara ilmiah… by copas dari coment sebelumnya

    Reply
  2. @NGadino:
    “Allah tentu punya maksud menurunkan Islam / Al-Qur’an di tanah Arab. ”

    Ya. Islam diturunkan di masyarakat paling bejat akhlaknya di masa itu. Islam berhasil menundukkan mereka dan mematuhi hukum Allah.

    “Sudah pasti dimana islam itu diturunkan maka para ulama yang tinggal disekitar itu mempunyai pengetahuan yang lebih baik daripada para ulama yang tinggal jauh seperti di Indonesia.”

    PASTI menurut anda, tapi tidak menurut FAKTA. Ulama asal Nusantara berabad-abad lalu MENGAJAR di Hijaz.

    “Dan tentu Al-Qur’an yang diturunkan juga menggunakan bahasa dimana Islam itu diturunkan. Intinya dari segi bahas Ulama Arab Saudi lebih jago daripada Ulama di Indonesia karena bahasa Arab adalah bahasa ibu mereka. Tapi kalau ada yang menanggap bahwa terjemahan orang Indonesia lebih baik daripada terjemahan orang yang mempunyai bahasa itu sendiri. Sulit diterima secara akal sehat dan secara ilmiah… ”

    Kalau urusan menerjemahkan, tentu lebih jago Ulama yang menguasai Kedua Bahasa yaitu Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia. Ulama Arab belum tentu memahami kata yang lebih pas dalam Bahasa Indonesia untuk padanan sebuah kata dari Bahasa Arab. Ulama Indonesia tentu lebih mengerti mana kata yang paling cocok dalam Bahasa Indonesia. Pantas akal anda sulit menerima, karena logika anda TERBALIK!

    Reply

Post Comment