Mengenal Pendiri Ikhwanul Muslimin (IM) Hasan Al-Banna, Manhaj dan Akidahnya

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Tidak sedikit anggota dan kader Ikhwanul Muslimin yang ada di Indonesia atau pun Malaysia yang tidak mengetahui sejarah dan biografi pelopor dan pendiri Ikhwanul Muslimin yaitu Hasan al-Banna rahimahullah, sehingga kadangkala sebahagian mereka ada yang lepas dari manhaj pendirinya dan menyimpang jauh dari manhaj dan akidah yang dipegang oleh Hasan al-Banna.

Berikut ini kami akan paparkan biografi Hasan al-Banna dan manhaj serta akidahnya berdasarkan kitab-kitab yang ditulis oleh beliau sendiri dan kitab-kitab para tokoh besar Ikhwanul Muslimin pada fasa pertama era IM.

Biografi singkat Hasan al-Banna

Hasan al-Banna dilahirkan pada Ahad 25 Sya’ban 1324 (bertepatan dengan 14 Oktober 1906) di kota Mahmudiyah, sebuah kawasan dekat Iskandariyah. Nama lengkapnya adalah Hasan bin Ahmad bin Abdurrahman al-Banna. al-Banna berasal dari sebuah keluarga pedesaan kelas menengah. Keluarganya termasuk penduduk “negeri seribu menara” Mesir.

Hasan al-Banna menyelesaikan pendidikan dasarnya di Mahmudiyah. Di tahun ketujuh dalam usianya, lelaki yang selalu meraih rangking pertama dalam semua jenjang sekolahnya ini, menyelesaikan hafalan separuh al-Qur’an, kemudian menyempurnakan hafalannya di sekolah diniyah al-Rasyad. Dan pada usia 14 tahun Hasan al Banna telah menghafal seluruh Al-Quran. Hasan Al Banna lulus dari sekolahnya dengan predikat terbaik di sekolahnya dan nomor lima terbaik di seluruh Mesir. Setelah itu, melanjutkan ke sekolah Mu’allimin Awwaliyah di Damanhur.

Pada usia 16 tahun, ia telah menjadi mahasiswa di perguruan tinggi Darul Ulum. dan menamatkan pendidikan tingginya di Darul Ulum (1923-1927). Demikianlah sederet prestasi Hasan ketika kecil dan remaja. Selain prestasinya di bidang akademik, Ia juga memiliki bakat kepimpinan yang cemerlang. Semenjak masa mudanya Hasan Al-Banna selalu terpilih untuk menjadi ketua organisasi siswa di sekolahnya. Bahkan pada waktu masih berada di jenjang pendidikan i’dadiyah (semacam SMP), beliau telah mampu menyelesaikan masalah secara dewasa.

Pada usia 21 tahun, beliau menamatkan pembelajaran di Darul ‘Ulum dan dilantik menjadi guru di Isma’iliyah. Hasan Al Banna sangat prihatin dengan kelakuan Inggris yang menjajah bangsanya. Masa itu adalah sebuah masa di mana umat Islam sedang mengalami kegoncangan hebat.
Kekhalifahan Utsmaniyah (di Turki), sebagai pelindung umat Islam di seluruh dunia mengalami keruntuhan. Umat Islam mengalami kebingungan. Sementara kaum penjajah mempermainkan dunia Islam dengan seenaknya. Bahkan di Turki sendiri, Kamal Attaturk mengkhianati ajaran Islam di negaranya. Puluhan ulama Turki dimasukan ke penjara. Demikianlah keadaan dunia Islam ketika al Banna berusia muda. Setelah itu, al-Banna menumpukan pada surat kabar harian al-Ikhwan al-Muslimun.

Terbentuknya Jama’ah Ikhwanul Muslimin 

Pada bulan Dzulqa’dah 1347 H/1928 di kota Ismailiyah, Hasan al – Banna bersama beberapa kawannya membentuk dan mendirikan Jama’ah Ikhwanul Muslimin. Gerakan ini berkembang dengan pesat dan tersebar di pelbagai kumpulan masyarakat. Sebelum mendirikan IM, al – Banna juga ikut mendirikan sebuah jamaah sufi bernama Thariqah Hashafiyah dan Jamaah Syubban al-Muslimin. Metode gerakan yang diserukan oleh IM adalah bertumpu pada tarbiyah (pendidikan) secara berangsur-angsur. Peringkat tersebut adalah dengan membentuk peribadi muslim, keluarga muslim, masyarakat muslim, kerajaan muslim, Negara Islam, Khalifah Islam dan akhirnya menjadi ustadziyatul ‘ Alam (kepeloporan dunia).

Maka mulailah Hasan al Banna dengan dakwahnya. Dakwah mengajak manusia kepada Allah, mengajak manusia untuk memberantas kejahiliyahan (kebodohan). Dakwah beliau bermula dengan mengumpulkan beberapa muridnya. Kemudian beliau berdakwah di kedai-kedai kopi. Hal ini beliau lakukan teratur dua minggu sekali. Beliau dengan perkumpulan yang didirikannya “Al-Ikhwanul Muslimun” bekerja keras siang malam menulis pidato, mengadakan pembinaan, memimpin rapat pertemuan, dll. Dakwahnya mendapat sambutan luas di kalangan umat Islam Mesir. Tercatat kaum muslimin mulai dari golongan buruh/ petani, usahawan, saintis, ulama, doktor mendukung dakwah beliau. Beliau wafat dibunuh pada 12 Februari 1949 di Kaherah oleh penembak misterius yang oleh banyak kalangan diyakini sebagai penembak ‘titipan’ pemerintah.

Abul Hasan Ali an-Nadwi, memberikan kesaksian tentang al-Banna:

“Pribadi itu telah mengejutkan Mesir, dunia Arab dan dunia Islam dengan gegap gempita dakwah, kaderisasi, serta jihad dengan kekuatannya yang ajaib. Dalam pribadi itu, Allah Swt, telah memadukan antara potensi dan bakat yang sepintas tampak saling bertentangan di mata para psikolog, sejarawan, dan pengamat sosial. Di dalamnya terdapat pemikiran yang brilian, daya nalar yang terang menyala, perasaan yang bergelora, hati yang penuh limpahan berkah, jiwa yang dinamis nan cemerlang, dan lidah yang tajam lagi berkesan. Di situ ada kezuhudan dan kesahajaan, kesungguhan dan ketinggian cita dalam menyebarkan pemikiran dan dakwah, jiwa dinamis yang sarat dengan cita-cita, dan semangat yang senantiasa membara. Di situ juga ada pandangan yang jauh ke depan…”

Hasan Al-Banna berpendapat bahwa Islam adalah agama yang komprehensif; mencakup semua aspek kehidupan umat manusia. Beliau juga mengkritik paham sekulerisme yang mendikotomi antara otoritas agama dengan otoritas politik dan pemerintahan. Dengan lantang Beliau mengungkapkan bahwa gerakan Islam manapun yang tidak menyertakan permasalahan politik dan pemerintahan dalam program mereka, maka pergerakan tersebut belum pantas dinamakan gerakan Islam dalam konsep pemahaman Islam yang komprehensif.

Dakwah Ikhwanul Muslimin dalam Pandangan Hasan al-Banna

Hasan al-Banna merapkan kacamata dakwahnya dalam gerakan Jama’ah Ikhwanul Musliminnya dengan beberapa sikap sebagai berikut:

أما الخلافات الدينية و الآراء المذهبية نجمع ولا نفرق اعلم ـ فقهك الله ـ أولا: أن دعوة الإخوان المسلمين دعوة عامة لا تنتسب إلى طائفة خاصة، ولا تنحاز إلى رأي عرف عند الناس بلون خاص ومستلزمات وتوابع خاصة، وهي تتوجه إلى صميم الدين ولبه، وتود أن تتوحد وجهة الأنظار والهمم حتى يكون العمل أجدى والإنتاج أعظم وأكبر، فدعوة الإخوان دعوة بيضاء نقية غير ملونة بلون

“Adapun perbedaan agama dan pendapat-pendapat madzhab, maka kami persatukan dan tidak mencerai beraikan. Ketahuilah –semoga engkau diberi pemahaman oleh Allah – Pertama, sesungguhnya dakwah Ikhwanul Muslimin adalah dakwah yang umum yang tidak dinisbatkan kepada kelompok tertentu, tidak pula terikat dengan satu pendapat yang dikenal oleh manusia dengan warna, corak dan tabiat yang khusus. Dakwah kami hanya terfokus pada jantung agama dan pusatnya, dan bercita-cita menyatukan semua persepsi dan semangat sehingga perbuatan itu menjadi sangat bermanfaat dan hasilnya agung lagi besar. Maka dakwah Ikhwanul Muslimin adalah dakwah yang putih, suci yang tidak tecemari dengan satu warna pun “. [1]

Akidah Hasan al-Banna yang diterapkan pada gerakan Ikhwanul Muslimin:

Beliau mengatakan:

ونحن نعتقد أن رأي السلف من السكوت وتفويض علم هذه المعاني إلى الله تبارك وتعالي اسلم وأولى بالاتباع

“Kami bekeyakinan bahwa pendapat salaf yaitu mendiamkan dan menyerahkan pengetahuan makna-mana ayat (mutasyabihat) ini kepada Allah Ta’ala adalah lebih selamat dan lebih utama untuk diikuti“.[2]

Di akhir pembahasan, beliau menyimpulkan:

وخلاصة هذا المبحث أن السلف والخلف قد اتفقا على أن المراد غير الظاهر المتعارف بين الخلق،وهو تأويل فى الجملة واتفقا كذلك على ان كل تأويل يصطدم بالأصول الشرعية غير جائز،فانحصر الخلاف فى تأويل الالفاظ بما يجوز فى الشرع وهو هين كما ترى

“Kesimpulan pembahasan ini adalah sesungguhnya ulama salaf dan kholaf sepakat bahwa yang dimaksudkan (dalam ayat shifat atau mutaysabihat) adalah bukanlah makna zahir yang dipahami antara manusia, ini disebut dengan takwil jumlah (takwil secara umum). Mereka juga sepakat bahwa setiap takwil yang bercanggah dengan asal-asal syare’at tidaklah boleh, maka perbedaan yang terjadi di dalam lafaz-lafaz itu berputar hanya pada sesuatu yang dibolehkan syare’at saja, dan ini adalah ringan sebagaimana engkau lihat“.[3]

Dari sini terlihat jelas bahwa akidah beliau metodenya sama persis dengan metode akidah Asy’ariyyah dan Maturudiyyah. Hal ini pun telah ditegaskan oleh seorang tokoh besar Ikhwanul Muslimin periode pertama yakni Sa’id Hawa sebagai berikut:

إنّ للمسلمين خلال العصور أئمتهم في الإعتقاد وأئمتهم في الفقه وأئمتهم في التصوف والسلوك إلى الله عزّ وجلّ فأئمتهم في الإعتقاد كأبي الحسن الأشعري وأبي منصور الماتريدي

“Sesungguhnya kaum Muslimin sejak masa-masa yang lalu para imam mereka di dalam akidah dan fiqih adalah para imam mereka di dalam tasawwuf dan suluk kepada Allah Ta’ala. Maka para imam mereka di dalam akidah seperti Abil Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturudi“[4]

Dia juga mengatakan:

وسلمت الأمة في قضايا العقائد لإثنين أبي الحسن الأشعري وأبي منصور الماتريدي

“Umat Islam ini telah menyerahkan urusan akidahnya pada dua tokoh yaitu Abul Hasan al-As’ari dan Abu Manhsur al-Maturudi“[5]

Hasan al-Banna Bertasawwuf 

Ia bercerita awal mula mendapatkan ijazah Thariqat Khashafiyyah:

وفي المسجد الصغير رأيت” الإخوان الحصافية” يذكرون الله تعالى عقب صلاة العشاء من كل ليلة، وكنت مواظبا على حضور درس الشيخ زهران رحمه الله بين المغرب والعشاء، فاجتذبني حلقة الذكر بأصواتها المنسقة ونشيدها الجميل وروحانيتها الفياضة

“Di masjid ash-Shagir aku melihat ikhwan khashafiyyah (kumpulam jama’ah thariqat Khashafiyyah) sedang berdzikir kepada Allah Ta’ala setelah sholat Isya setiap malam. Dan aku selalu rutin menghadiri pelajaran syaikh Zahran rahimahullah di antara Maghrib dan ‘Isya’. Halaqah dzikir itu telah menarik diriku dengan suara-suaranya yang geumuruh dan nasyidnya yang indah serta kerohanian yang tenggelam “[6]

Ia juga mengatakan:

وظللت معلق القلب بالشيخ حتى التحقت بمدرسة المعلمين الأولية بدمنهور وفيها مدفن الشيخ وضريحه

“Aku menjadi bergantung hatiku dengan syaikh hingga aku datang ke madrasah Mu’allimin al-awwaliyyah di Damanhur, dan di sanalah tempat syaikh dimakamkan…”[7]

Kemudian ia melanjutkan:

فكنت مواظبا على الحضرة في مسجد التوبة في كل ليلة وسألت عن مقدِّم الإخوان فعرفت أنه الرجل الصالح التقي الشيخ بسيوني العبد التاجر، فرجوته أن يأذن لي بأخذ العهد عليه ففعل، ووعدني بأنه سيقدمني للسيد عبد الوهاب عند حضوره، ولم أكن إلى هذا الوقت قد بايعت أحدا في الطريق بيعة رسمية وإنما كنت محبا وفق اصطلاحهم.وحضر السيد عبد الوهاب – نفع الله به – إلى دمنهور وأخطرني الإخوان بذلك فكنت شديد الفرح بهذا النبأ ….. حيث تلقيت الحصافية الشاذلية عنه وأدبني بأدوارها ووظائفها

“Aku selalu rajin dan rutin menghadiri majlis tersebut di masjid Taubah setiap malam, dan aku menanyakan kepada muqaddim (pemuka) tersebut, maka aku tahu bahwa beliau adalah seorang laki-laki shalih yang telah berjumpa syaikh.. maka aku mengharap untuuk mengidzinkan aku mendapat perjanjian bersamanya, dan beliau menjanjikanku untuk menemukanku kepada syaikh Abdul Wahhab jika sudah datang, padahal aku sejak dulu hingga masa kini belum pernah berbaiat dalam satu thariqah dengan seorang pun dengan baiat yang resmi, aku dulu hanyalah seorang yang mencintai mereka. Kemudian hadirlah sayyid Abdul Wahhab ke Damanhur, lalu aku diajak berjumpa dengannya. Aku sangat senang sekali dengan kabar baik ini, karena aku mendapatkan langsung baiat thariqah Khashafiyyah asy-Syadziliyyah darinya, lalu beliau mengajarkan dan mendidik aku serta memberikan tugas-tugasnya “[8]

Ini suatu pengakuan dari Hasan al-Banna bahwa beliau adalah seorang shufi yang mengambil baiat thariqah Khashafiyyah asy-Syadziliyyah dari syaikh Abdul Wahhab. Bahkan al-Banna membuat satu jam’iyyah perkumpulan thariqah ini di kota Mahmudiyyah yang merupakan cikal bakal jama’ah Ikhwanul Muslimin ini.

Sa’id Hawa pun mengakui ke-tasawwufan Hasan al-Banna dalam menerapkan dakwah Ikhwanul Musliminnya, ia mengatakan:

وبنفس الوقت أريدُ أن يتعرف المسلم على معنى الحقيقة الصوفية التي هي سمات دعوة الأستاذ البنَّا

“Di waktu itu juga, aku berkeinginan agar seorang muslim itu tahu makna shufiyyah yang sebenarnya yang merupakan sifat dakwah ustadz Hasan al-Banna“[9]

Sa’id Hawa juga mengatakan:

لقد تتلمذت في باب التصوف على من أظنهم أكبر علماء التصوف في عصرنا, وأكثر الناس تحقيقا به وأذن لي بعض شيوخ الصوفية بالتربية, وتسليك المريدين

“Aku sungguh telah berguru (menjadi murid) dalam bab tasawwuf kepada orang yang aku anggap ulama yang paling besar dalam bertasawwwuf di masa ini, dan ulama yang paling banyak mengamalkan tasawwufnya dengan sebenarnya, dan sebagian guru shufi kami telah member idzin untuk melakukan tarbiyyah dan mendidik para murid“[10]

Selalu Mengadakan Acara Maulid Nabi

وأذكر أنه كان من عادتنا أن نخرج في ذكرى مولد الرسول صلى الله عليه وسلم بالموكب بعد الحضرة ، كل ليلة من أول ربيع الأول إلى الثاني عشر منه من منزل أحد الإخوان

“Aku ingatkan bahwa di antara tradisi kami adalah kami melaksanakan peringatan Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam di Maukib setelah hadrah setiap malam mulai tanggal satu hingga tanggal dua belas Rabi’ul Awwal di salah satu rumah anggota kami“[11]

Pandangan syaikh al-Qardhawi tentang manhaj Ikhwanul Muslimin

Dalam Majalah “al-Mujtama“ nomor: 1370 yang keluar pada tanggal 25 Jumadil Akhir 1420 H atau bertepatan dengan tanggal 5 Mei 1999 M, yang bertepatan acara berlalunya masa 70 tahun Ikhwanul Muslimin dalam berdakwah, tarbiyah dan berjihad, disebutkan pada judul “Keutamaan Dakwah Ikhwanul Muslimin“. Syaikh al-Qardhawi mengeluarkan pandangannya terhadap dakwah Ikhwanul Muslimin dengan dua poin penting, salah satu pointnya adalah tentang keterkaitan Ikhwanul Muslimin dengan Asy’ariyyah. Syaikh al-Qardhawi mengatakan:

واتهام الإخوان بأنهم من الأشاعرة ، لا ينتقص من قدرهم ، فالأمة الإسلامية في معظمها أشاعرة أو ماتريدية ، فالمالكية والشافعية أشاعرة ، والحنفية ما تريدية

والجامعات الدينية في العالم الإسلامي أشعرية أو ماتريدية ، الأزهر في مصر ، والزيتونة في تونس ، والقرويين في المغرب ، وديوبند في الهند ، وغيرها من المدارس والجامعات الدينية .فلو قلنا : إن الأشاعرة ليسوا من أهل السنة !! لحكمنا بالضلال على الأمة كلها ، أو جلها ، ووقعنا فيما تقع فيه الفرق التي نتهمها بالانحراف

“Persangkaan Ikhwanul Muslimin yang mengaku sebagai Asy’ariyyah, tidaklah mengurangi kehormatan mereka, kerana umat Islam pada umumnya (majoritinya) adalah berakidah Asy’ariyyah dan Maturudiyyah. Malikiyyah dan Syafi’iyyah adalah Asy’ariyyah, Hanafiyyah adalah Maturudiyyah. Semua fakultas Agama di seluruh Negeri adalah Asy’ariyyah dan Maturudiyyah, al-Azhar di Mesir, Zaitunah di Tunis, Qarwiyyin di Maroko, Daiduban di Hindi dan selainnya dari sekolah-sekolah dan Fakultas Agama. Seandainya kami katakan “As’ariyyah bukanlah Ahlus sunnah, maka sama saja kami menghukumi sesat terhadap seluruh umat ini atau secara umumnya, maka kami akan jatuh pada perpecahan yang kami anggap sebagai penyimpangan“.

Ini juga merupakan pengakuan syaikh al-Qardhawi bahwa mayoritas umat Muslim di seluruh belahan dunia ini adalah berakidahkan Asy’ariyyah dan Maturudiyyah, Alhamdulillah ini sebuah pengakuan yang jujur. Kemudian al-Qardhawi melanjutkan:

ومن ذا الذي حمل لواء الدفاع عن السنة ومقاومة خصومها طوال العصور الماضية غير الشاعرة والماتريدية؟؟؟ وكل علمائنا وأئمتنا الكبار كانوا من هؤلاء :الباقلاني ، الإسفراييني ، إمام الحرمين الجويني ، أبو حامد الغزالي ، الفخر الرازي ، البيضاوي ، الآمدي ، الشهرستاني ، البغدادي ، ابن عبدالسلام ، ابن دقيق العيد ، ابن سيد الناس ، البلقيني ، العراقي ، النووي ، الرافعي ، ابن حجر العسقلاني ، السيوطي ، ( ومن المغرب ) : الطرطوشي ، والمازري ، والباجي ، وابن رشد (( الجد )) ، وابن العربي [ المالكي ] ، والقاضي عياض ، والقرطبي ، والقرافي ، والشاطبي ، وغيرهم (ومن الحنفية ) : الكرخي ، والجصاص ، والدبوسي ، والسرخسي ، والسمرقندي ، والكاساني ، وابن الهمام ، وابن نجيم ، والتفتازاني ، والبزدوي ، وغيرهم .

والإخوة الذين يذمون الأشاعرة بإطلاق مخطؤون متجاوزون ، فالأشاعرة فئة من أهل السنة والجماعة ، ارتضتهم الأمة ، لأنهم ارتضوا الكتاب والسنة مصدرا لهم ، ولا يضيرهم أن يخطئوا في بعض المسائل ، أو يختاروا الرأي المرجوح أو حتى الخطأ ، فهم بشر مجتهدون غير معصومين ، ولا توجد فئة سلمت من الزلل والخطأ فيما اجتهدت فيه ، سواء في مسائل الفروع أم في مسائل الأصول ، وكل يؤخذ من كلامه ويرد عليه إلا الرسول المعصوم صلى الله عليه وسلم

“Siapakah yang membawa panji pembelaan Ahlus sunnah dan tekun memerangi musuh Islam sepanjang masa yang lalu kalau bukan ulama dari Asy’ariyyah dan Maturudiyyah ???

Semua ulama besar dan para imam kita adalah dari kalangan mereka; al-Baqilani, al-Isfaraini, imamul Haramain al-Juwaini, Abu Hamid al-Ghazali, al-Fakhr ar-Razi, al-Baidhawi, al-Aimidi, asy-Syahrastani, al-Baghdadi, Ibnu Abdissalam, Ibnu Daqiqil Id, Ibnu Sayyydinnas, al-Balqini, al-Iraqi, an-Nawawi, ar-Rafi’i, Ibnu Hajar al-Atsqalani dan as-Suyuthi. Dari Maroko ada Imam ath-Thurthusyi, al-Maziri, al-Baji, Ibnu Rusyd (datukku) dan Ibnul ‘Arabi al-Maliki, al-Qadhi Iyadh, al-Qurthubi, asy-Syathibi dan lainnya. Dari kalangan Hanafiiyyah ada Imam al-Khurkhi, al-Jashshas, ad-Dabusi, as-Sarkhasi, as-Samarqandi, al-Kasani, Ibnul Himam, Ibnu Nujaim, at-Tiftizani, al-Bazdawi dan lainnya.

Saudara kita yang mencaci Asy’ariyyah secara serampangan, maka mereka adalah salah dan ekstrem. Asy’riyyah adalah sebuah kelompok dari Ahlus sunnah al Jama’ah, yang telah diridhai umat, karena mereka menjunjung al-Quran dan Sunnah sebagai landasan, maka tidaklah membahayakan mereka sedikit kesalahan dalam beberapa masalah, atau mereka memilih pendapat yang lemah atau salah, maka mereka adalah manusia yang berijtihad lagi tidak ma’shum. Tidak akan ditemukan suatu umat yang selamat dari kesalahan ketika berijtihad. Begitu juga dalam amsalah furu’ atau masalah usul. Semua pendapat bisa diterima dan bisa ditolak kecuali ucapan Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam“.

Demikianlah pandangan seorang cendikiawan muslim Prof. Dr. Yusuf al-Qardhawi mengenai dakwah Ikhwanul Muslimin dan Asy’ariyyah.

Sebagian kaum salafi-wahabi menghukumi Hasan al-Banna dan Ikhwanul Muslimin sebagai paham dan dakwah yang menyimpang dari agama, hingga salah satu dari mereka mengarang sebuah kitab berjudul “Itsbaat Fasadi Manhaj wa Dakwah Hasan al-Banna Wajama’atul Ikhwan, Wa annahaa laitsa ‘ala manhajis salaf“ yang artinya “Menetapkan kerusakan manhaj dan dakwah Hasan al-Banna dan Jama’ah Ikhwanul Muslimin, dan dia bukanlah berlandas manhaj salaf“. Dinilai sesat karena Hasan al-Banna menerapkan thariqah dan tasawwuf, juga karena akidahnya mengikuti akidah sebagian As’ariyyah yang mentafwidh makna shifat. Juga karena dianggap banyak membuat prinsip-prinsip bid’ah dalam berdakwah dan benegara.

Semoga yang singkat ini, menjadi renungan bagi para jama’ah Ikhwanul muslimin di Indonesia dan Malaysia.

Referensi

[1] Rasail al-Imam : 15

[2] Risalah al-‘Aqaid :

[3] Risalah al-‘Aqaid :

[4] Jaulat fil Fiiqhain : al-Kabir wa al-Akbar : 22

[5] Jaulat fil Fiiqhain : al-Kabir wa al-Akbar : 66

[6] Mudzakkaraat ad-Dakwah wa ad-Da’iyah : 19

[7] Mudzakkaraat ad-Dakwah wa ad-Da’iyah : 23

[8] Mudzakkaraat ad-Dakwah wa ad-Da’iyah : 23

[9] Tarbiyatuna ar-Ruuhiyyah : 18

[10] Tarbiyatuna ar-Ruuhiyyah : 16

[11] Mudzakkaraat ad-Dakwah wa ad-Da’iyah : 48

(Ibnu Abdillah al-Katibiy, Kota Santri, 28-12-2013, Ahlussunnah wal Jama’ah Research Group)

Tulisan berjudul Mengenal Pendiri Ikhwanul Muslimin (IM) Hasan Al-Banna, Manhaj dan Akidahnya terakhir diperbaharui pada Sunday 16 February 2014 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment