NU, Raja Yordania, dan Perdamaian Internasional

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Kunjungan Raja Yordania II Abdullah bin al-Hussein menjadi penanda hubungan diplomatik dengan Indonesia. Kunjungan itu tidak sekadar menjadi penguat hubungan bilateral antarnegara, tetapi juga memiliki misi penting dalam hubungan Indonesia- Jordania di Timur Tengah.

Pasca-Arab Spring (Musim Semi Arab), Yordania berperan sentral menjadi penengah dan pemersatu antarnegara, khususnya yang sedang dilanda konflik. Kali ini kunjungan kedua Raja Abdullah di Indonesia dimaksudkan untuk memperteguh hubungan diplomatik, ekonomi, dan keamanan.

Raja Abdullah II dan Ratu Rania pernah berkunjung ke Indonesia pada 12-13 Oktober 2005. Pada misi diplomatiknya di Indonesia kali ini, Raja Abdullah II juga akan mengunjungi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Kunjungan tersebut berwujud agenda multaqa sufi yang akan dihadiri ribuan ulama.

Ada tiga poin penting dalam kunjungan Raja Yordania ke Indonesia, khususnya yang terkait dengan posisi Nahdlatul Ulama (NU) di tengah medan politik internasional. Pertama, diplomasi perdamaian internasional. Kedua, peran Yordania dan Indonesia dalam peta politik Islam di Timur Tengah, khususnya krisis di negeri Syria. Ketiga, refleksi Islam Indonesia pasca-Arab Spring.

Selama ini, NU dan warga Nahdliyin menjadi pilar dalam perdamaian internasional. Kontribusi NU untuk mengatasi perang di wilayah negeri muslim merupakan bagian dari upaya untuk menegakkan ukhuwwah islamiyyah. Hal itu menjadi prinsip NU yang terkait dengan ukhuwwah basyariyyah dan ukhuwwah wathaniyyah.

Diplomasi Internasional

Peran penting Yordania dalam diplomasi internasional menjadi strategis di tengah krisis negeri-negeri Timur Tengah. Bayangkan, Yordania adalah satu-satunya negara yang aman dan tidak bergejolak. Padahal, ia berbatasan dengan Palestina, Arab Saudi, Iraq, dan Syria yang dilanda perang. Tentu hal itu memiliki latar belakang yang kuat terkait dengan karakter serta sikap hidup pemimpin Yordania dan warganya.

Kepemimpinan Raja Abdullah bin al-Hussein yang moderat memengaruhi corak ke-Islam-an dan beragama dalam masyarakat di kawasan itu. Tentu saja, hal tersebut senada dengan karakter Nahdlatul Ulama yang menjunjung nilai-nilai persaudaraan dan moderat.

Jembatan diplomatik antara Jordania dan Nahdlatul Ulama akan memiliki kontribusi untuk turut mengembangkan nilai-nilai moderat di Timur Tengah. Model Islam yang menjunjung nilai tasamuh (toleran), tawazun (keseimbangan), dan tawassuth (moderat) merupakan solusi untuk menyelesaikan krisis di pelbagai negeri.

Krisis Syria

Dalam peta politik Timur Tengah saat ini, krisis di negeri Syria menjadi sorotan penting. Perang saudara di negeri tersebut menjadi perhatian dunia internasional yang merupakan salah satu penanda krisis negara-negara Arab. Perang saudara antara kelompok yang setia dengan Presiden Bashar al-Assad dan kelompok oposisi yang berusaha menggulingkannya telah berlangsung lama. Perang itu telah menewaskan lebih dari 126 ribu orang dan berlangsung lebih dari 35 bulan.

Dalam laporan Badan Kemanusiaan PBB (Officer of the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA), sekitar 9,3 juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan karena krisis Syria. Krisis Syria menjadikan eskalasi pengungsi yang menderita karena perang meningkat drastis.

Sekitar 4,1 juta warga Syria hidup sebagai pengungsi di Jordania, Lebanon, Turki, Iraq, dan Mesir. OCHA menyatakan, terkait dengan krisis Syria itu, pihaknya dan beberapa organisasi kemanusiaan membutuhkan dana sekitar USD 2,27 miliar.

Sementara itu, bantuan kemanusiaan untuk menangani pengungsi membutuhkan dua kali lipatnya. Yordania berkontribusi penting untuk mengatasi krisis Syria dan mengupayakan perbaikan nasib ribuan pengungsi. Karena itu, NU berusaha mendorong agar Yordania berperan penting untuk menyelesaikan krisis Syria dan perdamaian di negeri-negeri Timur Tengah.

Islam ala NU

Pasca-Arab Spring, dunia internasional membutuhkan referensi beragama dan berdemokrasi. Islam ala Indonesia menjadi rujukan utama dengan role model karakter warga nahdliyin yang mengusung ahlussunnah wal-jama’ah (aswaja). Islam yang dipraktikkan kiai-kiai NU dan nilai-nilai aswaja mampu menyandingkan pemahaman beragama dan bernegara secara harmonis. Islam ala NU itulah yang bisa menjadi referensi untuk terus menjaga sikap beragama dan bernegara secara seimbang. Nilai-nilai Islam dan ke-Indonesia-an yang menjadi karakter warga nahdliyin dapat menjadi cermin untuk mengatasi krisis di negeri-negeri muslim yang sedang dilanda konflik.

Menempatkan nilai-nilai ke-Islam-an dan kenegaraan secara harmonis menjadi pondasi politik kebangsaan NU. Itulah yang menjadi poin penting hubungan Yordania dan NU untuk mengajarkan Islam dengan nilai-nilai cinta yang menyingkirkan perang dan ambisi.

Antusiasme ulama dan kiai dalam naungan NU dalam agenda multaqa sufi untuk menyambut Raja Abdullah bin Hussein merupakan bagian dari penanda persahabatan dua komunitas muslim. Tujuannya, bersama-sama mengupayakan suasana keberagaman yang toleran dan saling menghormati.

Oleh: Emha Nabil Harun, Staf Ahli Ketua Umum Tanfidziyah PBNU/ Sekretaris Umum PP PSNU Pagar Nusa.

Tulisan berjudul NU, Raja Yordania, dan Perdamaian Internasional terakhir diperbaharui pada Friday 28 February 2014 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment