Syaikh Ali Jum’ah: Hukum Membaca Al Qur’an Untuk Si Mayit

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Berkata Syeikh Dr Ali Jum’ah bahawasanya Syeikh Al Dardir Rahimahullahu Ta’ala berkata,

“Para ulama mutaakhkhirun menyatakan bahawa tidaklah mengapa membaca al Quran dan zikir, dan pahalanya dihadiahkan kepada si mayyit. Sebab pahala tersebut akan sampai untuknya (si mayyit), insya Allah..”.

Perbedaan pendapat dalam masalah ini adalah lemah sekali. Pendapat yang membolehkan dan yang menganjurkan untuk membaca al-Quran adalah lebih kuat, sehingga para ‘alim ‘ulama memandang masalah ini adalah masalah kesepakatan bersama. Mereka menyatakan dengan tegas mengenai masalah itu.

Di antara para ‘alim Ulama yang telah menyebutkan kesepakatan ini ialah Al Imam Ibnu Qudamah Al Hanbali, beliau berkata:

“…. amal mendekatkan diri yang dia lakukan dan ia jadikan pahalanya untuk si mati, bermanfaat baginya, insya Allah.”

Beliau berkata, “Sebahagian mereka berkata, apabila al-Quran dibacakan pada si mati atau dihadiahkan pahalanya kepada si mati, maka pahalanya adalah untuk si pembacanya. Sedangkan si mati, seakan-akan orang yang menghadirinya sehingga diharapkan rahmat baginya (si mati) .Dalil kami adalah apa yang telah kami kemukakan bahwa itu adalah merupakan kesepakatan bersama kaum Muslimin. Sebab, mereka dari waktu ke waktu berkumpul membaca al-Quran dan menghadiahkan pahalanya (membaca al-Quran) kepada orang-orang yang telah mati di antara mereka tanpa kecaman dan pengingkaran.

Demikian juga, Syaikh Uthmani mengambil kesepakatan bersama ini. Pernyataannya yang berkaitan dengan hal tersebut adalah: Mereka menyatakan secara kesepakatan bahwa memohon ampun (istighfar), berdoa, bersedekah ,haji, dan memerdekakan budak, itu adalah bermanfaat bagi si mati dan sampai pahala kepadanya (si mati). Maka membaca al-Qur’an di sisi kubur itu adalah disunnahkan.

Para alim ulama menyatakan dengan secara tegas (nas) atas sampainya pahala bacaan itu kepada si mati. Mereka mengambil kesimpulan itu daripada bolehnya menghajikannya (haji badal) dan sampai pahala itu kepadanya ,sebab haji adalah merupakan kegiatan sholat. Sholat sendiri itu adalah di dalamnya terdapat bacaan al-Fatihah dan ayat-ayat yang lainnya. Apa yang sampai seluruhnya, sampailah juga sebagiannya. Maka pahala membaca al-Qur’an itu adalah sampai kepada si mati dengan izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Lebih khusus lagi adalah apabila orang yang membaca itu berdoa semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menghibahkan yakni menghadiahkan pahala bacaannya kepada si mati.

Mayoritas kebanyakan ulama menyatakan boleh membaca al-Quran kepada si mati, bahkan sebagiannya menyatakan dengan kesepakatan bersama atas sampainya pahala pembacaan al-Quran dan lainnya kepada si mati.

Adapun masalah menghadiahkan pahala bacaan kepada si mati dan adakah sampai pahala bacaan itu kepada si mati, maka jumhur para ulama menyatakan sampai. Para Ulama dari Mazhab Syafi’i berpendapat bahwa ia sampai sebagaimana doa misalnya seperti: “Ya Allah, jadikanlah seumpama pahala apa yang aku baca ini untuk si fulan,” bukan menghadiahkan dalam bentuk amal. Perbedaan pendapat adalah lemah dan tak semestinya terjadi perbedaan dalam masalah ini.

(Mantan Mufti Mesir, Asy-Syaikh Ali Jum’ah, dalam Kitab Al-Bayan: Al-Qawim fi Tashbih Ba’di Al-Mafahim, Ditulis oleh Haniff Abu Thalib)

Tulisan berjudul Syaikh Ali Jum’ah: Hukum Membaca Al Qur’an Untuk Si Mayit terakhir diperbaharui pada Friday 14 February 2014 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


16 thoughts on “Syaikh Ali Jum’ah: Hukum Membaca Al Qur’an Untuk Si Mayit

  1. Maklum Teuku Wisnu dan Zaskia Meca baru belajar fiqih. Alangkah baiknya mereka belajar Fatchul Qorib sbg dasar pengalaman fiqihnya. Lanjut Fatchul Muin. Cari guru ya kang/mbak !

    Reply
  2. Maaf mas mbak artis darimana dasar anda mengatakan bacaan alquran tidak sampai ke org?
    Ulama kita saja bilang sampai kenapa anda tidak?
    Maaf sebelumnya, kalo hanya dapat dalil dari buku terjemahan jg difatwakan, kasihan org awam..
    Dan kalau anda berkata demikian cuma karna bid’ah, berarti anda nonton tv itu juga bid’ah! Apakah tv pada zaman rasulullah itu ada?
    Maaf mbak mas, bid’ah itu ada yg hasanah dan sayyi’ah..

    Reply
  3. tidak ada hadist yang menjelaskan tentang kirim2 pahala, apalagi ada hadis menjelaskan tentang terputusnya amal ibadahh seseorang selain 3 hal., 1. ilmu yang bermanfaat, sedekah jariyah, dan anak yang sholehah

    Reply
  4. mohon maaf sebelumnya..
    membaca alfatihah tidaklah salah sebagai adab berdoa kepada Allah.spt kandungan alfatihah…tunjukilah kami pada jalan yg lurus. bacaan Alquran sbg petunjuk utk kita yg masih hidup, alangkah baiknya stlh membaca alquran sbg petunjuk kita,utk mayit adalah doa bukan mengirim alfatihah
    bukankah semua tau? amalan manusia wafat trputus,kecuali 3…ilmu bermanfaat,amal jariyah,DOA anak soleh
    skl lg mohon maaf, kpd Allah sy mohon ampun.
    hanya ingin meluruskan,mudah2an Allah menyatukan kita dalam iman,ikhsan, dan senantiasa tawadhu.
    yg berpendapat berbeda silahkan,kita saling menghormati…mohon jgn saling membenci.kebenaran milik Allah SWT

    Reply
  5. mohon maaf sebelumnya..
    membaca alfatihah tidaklah salah sebagai adab berdoa kepada Allah.spt kandungan alfatihah…tunjukilah kami pada jalan yg lurus. bacaan Alquran sbg petunjuk utk kita yg masih hidup, alangkah baiknya stlh membaca alquran sbg petunjuk kita yg msh hidup. utk mayit adalah doa bukan mengirim alfatihah
    bukankah semua tau? amalan manusia wafat trputus,kecuali 3…ilmu bermanfaat,amal jariyah,DOA anak soleh
    skl lg mohon maaf, kpd Allah sy mohon maaf,Islam membekali kita utk selalu belajar,dan memahami stiap isi alquran. mudah2an Allah menyatukan kita dalam iman,ikhsan, dan senantiasa tawadhu.
    yg berpendapat berbeda silahkan,kita saling menghormati…mohon jgn saling membenci apalagi memaki….Kebenaran hanya milik Allah SWT semata

    Reply
  6. Harusnya orang Muslim panduannya hanya Al Quran dan Sunnah (hadist shahih).
    Pahala g bisa dikirim2kan. Kewajiban yg hidup ke yg sudah meninggal itu,memohonkan ampun pada Allah atas kesalahan si mayit. Mau Allah kabulkan atau tidak doa tsb,,itu terserah Allah.
    Manusia berbuat kebaikan maka pahalanya utk dirinya sendiri,begitu jg kalo berbuat kejahatan.
    Coba deh logikanya dipake,,enak bgt donk kalo selama di dunia g pernah berbuat kebaikan,,trs dikirim pahala rame2,dan dia bs masuk surga?

    Yuk tadaburi Al Quran dan Sunnah (hadist shahih). Rasul hanya mewariskan 2 hal itu kok,,g usah cari tambahan lain dari imam atau kyai lain yg blm tentu benar.

    Wallahualam bishawab.

    Reply
  7. Saya menahan diri dari berkomentar.
    Namun tak sanggur.
    mohon ijin untuk melayangkan pertanyaan…

    Apa itu Ahlussunnah Waljama’ah?

    dan jika memang ulama madzhab Imam Syafi’i dan Imam Maliki adalah bagian dari Ahlussunnah Waljama’ah, maka Fatwa yg dilontarkan Teuku Wisnu bukanlah Fatwa dari orang yg bukan dari bagian Ahlussunnah Waljama’ah bukan?

    dan terkait hal ini, hanya ada 1 dari 4 madzhab yang membolehkan menghadiahkan ini dan itu (al-fatihah). lalu mengapa ‘fatwa nyeleneh’ justru ditujukan pada mereka yang berpegang pada 2-3 madzhab yang lebih rajih?

    mohon penjabarannya lebih detail.

    syukran.
    jazakumullahu khairan katsiran.

    Reply

Post Comment