Grand Shaikh Al Azhar Ingatkan Umat Islam Mewaspadai Propaganda Pemikiran Kaum Takfiri

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Dalam sambutannya pada pembukaan konferensi internasional ke-23 yang diselenggarakan oleh Majelis Tinggi Urusan Agama Islam Mesir, Grand Shaikh Dr. Ahmad Tayib menegaskan bahwa bangsa Arab sedang mengalami penderitaan besar lantaran maraknya fatwa tanpa ilmu dan sikap ektremisme dari mereka yang kita anggap sudah meninggalkan pemikiran mereka yang menyimpang pada tahun 90-an. Beliau juga mengatakan bahwa bencana takfir (pengafiran) ada di Afrika dan Asia, dimana terjadi banyak pembunuhan dan kejahatan yang dilakukan atas nama Islam dengan dalih jihad dan kafir. Hal itu dieksploitasi oleh media Barat untuk menebarkan isu bahwa Islam adalah agama penuh pertumpahan darah.

Dalam sambutannya tersebut, Grand Shaikh juga menjelaskan bahwa penyiksaan yang kejam pada tahun 60-an terhadap aktivis Islam, menyebabkan munculnya pemikiran takfir. Hal itu dapat dilihat dari sejumlah buku yang jika ditulis dalam suasana merdeka maka akan menjadi buku-buku yang lebih menarik. Hal itu menegaskan akan warisan ekstremisme yang pernah ada dalam sejarah kaum Khawarij.

Grand Shaikh mengatakan bahwa bencana ektremisme dan pertumpahan darah bukan merupakan hal yang baru dalam umat Islam. Akan tetapi sudah ada sejak munculnya Khawarij, sebagai golongan ekstrem pertama yang hanya mempersoalkan hal-hal luar dan meninggalkan hal-hal yang prinsipil. Masyarakat kita tidak mengenal kelompok takfiri yang mengafirkan masyarakat pada tahun 70-an. Kelompok takfiri tersebut lahir di dalam penjara lantara siksaan berat yang mereka terima. Sebagian mereka mendukung penguasa dan sebagian yang lain mengafirkan mereka lantaran dukungan terhadap pemerintah yang kafir. Mereka menuntut agar keluar dari kekufuran sebab mendukung pemimpin mereka. Pada tahun 70-an mereka muncul sebagai antitesis dari siksaan yang mereka alami. Pemikiran mereka lahir di masa-masa krisis. Pemikiran takfiri mulai muncul pada tahun 68 yang diprakarsai oleh Jamaah Takfri wa Hijrah.

Dr. Ahmad Tayib mengatakan bahwa al-Azhar merupakan duta dunia sepanjang masa, tidak membedakan antara ajaran satu dengan yang lain untuk menghadapi kerusakan moral dan pemikiran takfiri. Dan kita tidak memiliki pilihan melainkan terus berusaha dengan sebenar-benarnya untuk menyatukan umat Islam guna melawan berbagai bahaya yang dihadapi oleh umat Islam sesuai kemaslahatan negara-negara Arab saat ini.

Grand Shaikh menjelaskan bahwa persatuan umat, tujuan syariat, dan memerangi pemikiran takfiri adalah satu-satunya cara bagi al-Azhar untuk menyatukan umat dan bersinergi dengan ulamanya untuk melawan berbagai tantangan yang dihadapi.

Grand Shaikh menyerukan untuk menganut ajaran Islam yang moderat sesuai seruan Al-Qur’an dan Sunnah. Beliau menyitir salah satu ayat dalam Al-Quran yang artinya: “Dan demikianlah kami menjadikan kalian sebagai umat yang moderat (pertengahan).”

Grand Shaikh menambahkan bahwa pemikiran takfir dan dampak negatifnya seperti pertumpahan darah bukan hal yang baru dalam masyarakat Islam. Kita semua telah mempelajari tentang pemikiran Khawarij dan berbagai penyimpangan mereka dalam persepsi dan pemahaman salah mereka perihal hubungan antara pengertian iman sebagai dasar dan perbuatan sebagai cabangnya. Mereka hanya berpikir secara tektual dan meninggalkan hal-hal lainnya.

Saat ini, pemikiran takfiri muncul kembali di tangan para pemuda yang sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang Islam melainkan hanya sebatas namanya saja. Takfir adalah intrumen paling cepat untuk mengungkapkan krisis yang mereka alami. Segala vonis yang mereka keluarkan tidak muncul dari pemikiran yang benar, namun lahir dari sebuah tekanan dan paksaan.

Grand Shaikh juga menegaskan, bahwa perbedaan antara akidah kaum takfiri dengan kelompok umat lainnya, adalah hubungan amal perbuatan dengan inti dan hakikat dari iman. Dalam perspektif Ahlussunnah wal Jamaah dikatakan bahwa iman adalah membenarkan Allah, para rasul, kitab-kitab, dan para malaikat-Nya. Tidak boleh mengafirkan seorang muslim selagi di hatinya ia meyakini hal itu. Ini sangat berbeda dengan mereka yang mengaitkan amal dengan iman, sehingga para kaum takfiri itu mengafirkan seseorang yang melakukan dosa besar, dan menganggapnya bukan seorang muslim lagi.

Grand Shaikh meminta untuk mewaspadai propaganda pemikiran kaum takfiri dan menyebarkan pemikiran mereka melalui channel televisi. Beliau juga mengkritik orang yang mengatakan bahwa madzhab Asy’ari adalah mazhab yang sesat dan menyimpang, karena menjadikan iman sebagai tashdiq (pembenaran).

Grand Shaikh mengajak untuk kembali mengikuti mazhab Ahlussunnah wal Jamaah (Asyairah, Maturidiah, dan Ahli Hadis). Dan mengajak untuk mempersempit wilayah pengafiran, dan menjadikan pengingkaran atas dasar-dasar agama yang telah maklum (ma’lum minaddin bid dharurah) sebagai parameter seseorang dikatakan telah keluar dari Islam.

“Menurut pendapat mayoritas ulama, orang yang melakukan dosa besar itu masih dikategorikan muslim, bukan kafir. Dan tidak boleh mengklaimnya keluar dari agama, kecuali apabila ia melakukan dosa besar seperti menyekutukan Allah, maka ia dihukumi kafir,” tegas Grand Shaikh sebagaimana dilansir oleh harian alahram. (ys/zf/ruwaqazhar.com)

Tulisan berjudul Grand Shaikh Al Azhar Ingatkan Umat Islam Mewaspadai Propaganda Pemikiran Kaum Takfiri terakhir diperbaharui pada Thursday 27 March 2014 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


3 thoughts on “Grand Shaikh Al Azhar Ingatkan Umat Islam Mewaspadai Propaganda Pemikiran Kaum Takfiri

    1. sok ajaran Rosul, kapan ketemu Rosul mas? pastinya ya ajarannya guru dan ulama.
      dakwah pakai tv dan internet diajarin Rosul ya? wahabi wahabi tukang nyembah ka’bah, makanya kalau solat nyembah Allah menghadap ka’bah jangan nyembah tembok mas

      Reply
  1. Assalam. Saya mau tanya kalau dari hadist nabi ada tidak ustadz?
    Bukankah kebiasaan yang dilakukan oleh umat Islam tidak bisa dijadikan sebagai dalil.
    Salam

    Reply

Post Comment