Mengenang Setahun Syahidnya Syeikh Said Ramadhan Al Buthi: Mimpi dan Masa Depan Suriah

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Hari ini, Jumat 21 Maret 2014 adalah haul pertama wafatnya Syeikh Said Ramadhan Al Buthi Asy Syafi’i. Ulama Suriah itu wafat (syahid) dalam serangan bom bunuh diri yang dilakukan oleh teroris-ekstrim di Masjid Jami’ Al-Iman, Mazraa, Damaskus setahun yang lalu. Hebatnya, beliau wafat saat memberikan pengajian mingguan di tempat yang paling mulia dan di waktu yang paling istimewa, yakni malam Jum’at (21/03/2013) ba’da maghrib.

Saat itu, saya termasuk orang yang sangat kehilangan atas wafatnya al-Buthi. Bagaimana tidak, di tengah penulisan tesis saya yang mengangkat tema pemikiran hukum al-Buthi, tiba-tiba mendengar kabar kepergian beliau. Untungnya, surat penulis kepada beliau via email telah dibalas 11 hari sebelum beliau wafat. Kini, alhamdulillah, tesis saya pun yang berjudul “Nalar Ijtihad Fiqh al-Buthi” telah diterbitkan oleh Antasari Press.

Sebenarnya, perihal kepergian al-Buthi ketika itu tidak mengejutkan bagi murid beliau. Karena kurang lebih sekitar dua minggu sebelum peristiwa tersebut, Habib Ali Al-Jufri ketika menelepon al-Buthi seakan sudah mendapat isyarat akan kewafatannya. Di akhir pembicaraan itu, al-Buthi berkata kepada muridnya, Habib Ali: “Tidak akan tersisa umurku kecuali hanya beberapa hari lagi. Sungguh aku telah mencium bau surga di belakangnya. Maka jangan lupa untuk mendoakanku”.

Figur Ulama Sederhana yang Produktif

Al-Buthi adalah figur ulama yang mengabdikan seluruh hidupnya sebagai seorang ulama rabbani dan pendakwah. Beliau ulama yang mampu memengaruhi spirituliatas masyarakat Muslim di Suriah. Setiap pengajian beliau, dihadiri puluhan ribu jamaah dari berbagai daerah. Mereka sengaja jauh-jauh datang untuk mendengarkan siraman rohani yang mencerahkandan menyejukkan kalbu.

Kesehariannya, sosok al-Buthi berpenampilan sederhana. Sikap zuhud yang diajarkan oleh ayahnya benar-benar diteladani. Ciri khasnya, berprinsip tegas jika memang benar itu adalah benar, tanpa peduli tindakannya nanti akan dicerca orang ataupun sebaliknya.

Pemikir Islam kontemporer yang moderat berdarah Kurdi itu termasuk salah satu ulama yang produktif. Lebih dari 70 judul buku telah ditulis. Karya-karyanya juga banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Misalnya, al-Hubfil Qur’an (Al-Qur’an Kitab Cinta), La ya’thil Bathil (Takkan Datang Kebathilan terhadap Al-Qur’an), Fiqhal-Sirah al-Nabawiyah (SirahNabawiyah: Analisis Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasul Saw) dan masih banyak yang lainnya.

Semangat menulis al-Buthi ini, tidak terlepas dari pesan ayah beliau, Syekh Mulla Ramadhan al-Buthi. Dalam buku Hadza Walidi, al-Buthi mengaku, bahwa ayahnya selalu berpesan agar beliau membela agamanya. Itu sebabnya, buku-buku karangan al-Buthi merupakan pembelaan dan jawaban atas isu-isu “miring” tentang Islam itu sendiri. Selain itu, menulis bagi al-Buthi adalah sebagai media dakwah bil qalam.”

Mimpi al-Buthi

Sebelum di Suriah bergejolak, al-Buthi sudah tahu bahwa krisis politik itu bakal terjadi berdasarkan mimpinya. Menurut pengakuan beliau –dalam salah satu pengajian sekitar empat tahun silam, bahwa Suriah akan dilanda fitnah. Fitnah itu, berupa konflik antar kelompok dan antar mazhab yang menyebabkan terjadinya perang saudara yang mengerikan.

Meskipun demikian, al-Buthi disela-sela pengajiannya selalu menanamkan sikap optimisme kepada rakyat Suriah. Menurutnya, bahwa fitnah itu akan berakhir baik, happy ending sesuai dengan yang ada di dalam mimpinya.

Dalam wawancara –beberapa jam sebelum beliau wafat di salah satu TV Suriah, ketika beliau ditanya tentang krisis Suriah ini sampai kapan, beliau tidak dapat memastikannya. Tapi, beliau sangat yakin bahwa happy ending itu bakal terwujud, sebagaimana fitnah (konflik) yang telah benar-benar terwujud, sesuai dengan ilham di dalam mimpi beliau.

Konflik Suriah yang kini telah memasuki tahun keempat ini akan terus berlanjut bila tidak ada kesadaran dari semua pihak. Kesadaran ini, dalam bahasa al-Buthi adalah gerakan pertaubatan secara kolektif oleh penduduk Suriah. Itu sebabnya, selama konflik mencuat, khotbah Jumat al-Buthi di masjid Umawiyyah selalu mengajak rakyat Suriah untuk kembali ke jalan Allah, banyak-banyak bertawajjuh dan beristighfar.

Masa Depan Suriah

Konflik Suriah hingga kini telah menelan korban ratusan ribu jiwa. Tapi, nampaknya konflik itu tidak mudah didamaikan dalamwaktu dekat. Mengapa demikian, karena krisis Suriah telah menjadi ajang pertarungan tidak hanya melibatkan antar kelompok bersenjata atas nama agama, melainkan juga pertaruhan kepentiangan negara-negara lain –baik secara geopolitik maupun geostrategis. Oleh sebab itu, pihak-pihak yang berkepentingan tersebut akan terus menghendaki konflik itu terjadi, demi mempertahankan kepentingannya.

Jika diamati, krisis politik yang terjadi di Suriah tidak terlepas dari kepentingan negara-negara berpengaruh. Misalnya, Rusia yang berpihak kepada pemerintah Suriah minimal memiliki dua kepentingan. Pertama, kepentingan strategis untuk mengamankan pelabuhan laut di Turtus miliknya. Kedua, kepentingan ekonomis, yakni untuk mengamankan omset penjualan senjatanya kepada Suriah.

Negara Barat juga disebut-sebut memiliki kepentingan atas konflik Suriah. Barat yang diwakili AS dan Eropa memiliki ambisi “menjajah” demi kepentingan nasional mereka. Atas nama penegakan HAM, mereka mendukung kelompok oposisi untuk melawan Presiden Basyar al-Asaad yang diklaim bertindak otoriter dan melanggar nilai-nilai kemanusiaan.

Iran sebagai negara yang se-ideologi (Syi’ah) dengan Presiden Bashar al-Asaad pun punya kepentingan di Suriah. Sebagian kalangan menyebutkan bahwa Suriah menjadi “pintu masuk” bagi Iran untuk menyalurkan senjata ke Hizbullah di Lebanon Selatan untuk melawan Israel. Sementara Arab Saudi dan Qatar lebih berpihak pada kelompok oposisi tidak lain untuk kepentingan faham Wahabi-nya di Suriah.

Saat ini, tiga tahun telah berlalu krisis politik melanda di Suriah. Data dari Organisasi Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah (SOHR), melaporkan bahwa korban 140.041 orang tewas dalam tiga tahun perang sejak Maret 2011 lalu. Di antara para korban ada 49.951 warga sipil, termasuk 7.626 anak dan 5.064 perempuan.

Pihak manapun yang memiliki kepentingan atas konflik Suriah pasti berbahagia dengan kisruh ini. Sebaliknya, pihak yang paling dirugikan dengan adanya krisis Suriah ini ujung-ujungnya tetap rakyat sipil. Itu sebabnya, semakin nasib mereka terabaikan oleh pihak-pihak yang menari di atas penderitaan dan tanpa adanya gerakan pertaubatan nasional, niscaya masa depan Suriah pun belum akan jelas dalam waktu dekat ini. Wallahua’lam.

Oleh: Mohammad Mufid, Lc. M.HI. dalam tulisannya “Mimpi Al-Buthi dan Masa Depan Suriah”, penulis adalah Dosen IAIN Antasari Banjarsari Alumni Hadhramaut Yaman.

Tulisan berjudul Mengenang Setahun Syahidnya Syeikh Said Ramadhan Al Buthi: Mimpi dan Masa Depan Suriah terakhir diperbaharui pada Friday 21 March 2014 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment