Mengenang Wafatnya Asy-Syahid Syaikh Muhammad Said Ramadhan Al Buthi dan Fitnah Negeri Syam

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Mungkin saya termasuk salah satu dari jutaan kaum muslimin yang dahulu merasa sangat sedih atas wafatnya Syekh al-Buthi, betapa tidak! Beliau telah membuka cakrawala pemikiran Islam yang cerdas, obyektif dan damai. Isu isu seperti libralisme, skulerisme hingga masalah bermadzhab dan sufisme telah dijawab oleh beliau sejak tahun tujuh puluhan. Sehingga kehadiran beliau di abad ini terasa seperti air segar ditengah panasnya padang pasir yang gersang. Karya karya besar beliau telah menjadi rujukan bagi para cendekiawan muslim di seluruh dunia, ceramah dan kuliah beliau senantiasa menyejukan para pendengarnya, dan lebih dari itu beliau telah berhasil menjadi seorang murabbi yang rabbani di masa ini. Betapa banyak para pemburu kebenaran di Eropa yang menerima agama ini setelah membaca buku-buku beliau. Betapa banyak manusia yang tadinya liar dan kasar menjadi luluh setelah bertemu dengan beliau.

Air mata ini belum kering, kesedihan belum terobati sebab kabar wafatnya beliau, akan tetapi kesedihan yang lebih menyakitkan datang tatkala sebagian saudara saya dalam iman menghina dan mencaci beliau, bahkan berbahagia atas peristiwa yang menimpa beliau, lantaran karena berbeda di dalam hasil ijtihad politik dengan beliau. Saya sangat prihatin tatkala membaca celotehan di media online dan beberapa jejaring sosial yang mengutuk dan menghina Syaikh al-Buthi karena ijtihadnya yang terkesan mendukung rezim.

Padahal seharusnya sebagai sesama muslim kita harus saling menghormati apalagi kepada para ulama yang jasanya sangat besar pada agama ini. Syeikh Yusuf al-Qardhowi yang berseberangan keras dengan beliau dalam masalah kasus Suriah juga ikut prihatian atas syahidnya beliau, kenapa sebagian kaum muslimin Indonesia malah bersikap seperti para musuh Allah yang senang atas kejadian ini? Kira kira siapakah yang dipastikan bahagia dengan wafatnya beliau? Jelas Zionis Israil dan Salibis Amerika yang selama ini telah di bongkar kedoknya oleh Syekh al-Buti.

Dalam buku beliau yang berjudul Qadoya Sakhinah/ isu isu panas, beliau menyoroti masalah globalisasi yang diusung oleh Barat, bahkan beliau memberi judul globalisasi humanis dan globalisasi penjajahan universal. Dalam buku itu beliau memberi bukti dengan cerdas yang berdasarkan fakta dan data bahwa gagasan globalisasi adalah kedok Barat di dalam menguatkan rencananya untuk menguasai dunia.

Masih dalam buku tersebut, bahwa istilah terorisme yang dalam bahasa Arabnya adalah irhab, adalah produk Amerika, beliau menjelaskan di hal 167-185, beliau mengutip sebuah makalah yang ditulis dalam majalah yang diterbitkan oleh Departemen Luar Negeri Amerika “Foreign Affairs” edisi II tahun 1992 M, yang menjelaskan bahaya Islam dan strategi didalam menghancurkannya. Di dalam buku itu beliau juga mengutip starategi Barat dalam memecah belah kaum muslimin dan bangsa Arab di dalam, yang oleh penulisnya di beri judul “The Middle East And The West”.

Jadi tidak heran jika Zionis dan sekutunya sangat membenci beliau. Pandangan-pandangan para filusuf dan pemikir barat dipatahkan oleh al-Buti dengan argumen yang sangat mencengangkan, dan setiap mendiskusikan permasalahan atau sebuah wacana dan pemikiran beliau selalu membandingkan konsep yang ditawarkan oleh Islam dengan penjelasan yang rasional dan mudah difahami.

Dilain pihak para orentalis yang obyektif menerima dengan baik apa yang digagas oleh al-Buthi, sehingga tidak sedikit para pemuda dan kaum terpelajar di Eropa dan di Amerika yang memeluk Agama Islam, atau paling tidak merUbah pandangannya tentang Islam. Ini juga menimbulkan kehawatiran sendiri dikalangan para tokoh dan penguasa Barat.

Membaca Ijtihad Politik Al-Buthi

Jika demikian pandangan al-Buthi pada Barat, tentu beliau sangat waspada dan berhati-hati pada setiap gerakan politik yang disitu ada pihak luar (baca;barat) yang ikut campur. Tak terkecuali Revolusi Timur Tengah. Siapa yang mengingkari keterlibatan Barat dalam menggulingkan para pemimpin di Negara-Negara Timur Tengah? Apa lagi di Suriah, siapa yang bersikeras dari pemegang veto PBB untuk menginfansi Suriah dengan cara meliter? Seandainya tidak ada Rusia.

Siapa yang menekan untuk membantu persenjataan oposisi Suriah? Siapa yang melatih para pasukan pemberontak Suriah di Yordan? Sepertinya semuanya pada tahu jawabannya, itulah alasan yang menjadikan Syekh al-Buti terkesan memihak pada rezim yang note banenya adalah Nusyoiriyah. Dalam istilah kaidah Fiqih di kenal akhoffu dararain atau yang paling ringan dari dua bahaya, memihak pada rezim yang dholim atau memihak oposisi yang didukung oleh zionis? Memihak oposisi berarti meluluskan kepentingan Yahudi. Setidaknya begitulah alasan beliau. Lebih dari itu sebetulnya beliau hanya mengharapkan lenyapnya fitnah dari negeri Syam.

Berikut ini adalah fatwa-fatwa beliau terkait masalah krisis Suriah, ada seorang penanya yang bertanya: “Yang mulia Dr. Muhammad Said Ramadhon al-Buti, Assalamualaikum wr wb. Khutbah Jumat yang anda sampaikan pada tanggal 8-3-2013 telah menjadi polemik besar ditengah-tengah kaum muslimin. Pada dua tahun ini manhaj anda senantiasa mengajak pada perdamaian, kembali pada Allah dan menjaga untuk tidak menumpahkan darah kaum muslimin dengan sia-sia, hal ini semakin membuat rasa hormat dan cinta kami pada anda, akan tetapi khutbah anda yang terakhir ini telah membuat masalah besar di barisan kaum muslimin, dan sampai detik ini anda tidak pernah memprotes atau tidak setuju terhadap apa yang telah dilakukan oleh rezim yang telah banyak membuat kerusakan dan menumpah darah rakyat sipil yang tidak berdosa, dan kami yakin pengumuman perang untuk membela pemerintah yang anda sampaikan didalam khutbah tersebut akan semakin memperkeruh suasana dan menambah korban jiwa. Saya harap anda menjelaskan pada kami dengan jelas dan lugas agar menjadi pegangan kaum muslimin”.

Beliau menjawab: ”Sejak awal saya dituduh memihak pada pemerintah, hal ini hanya karena saya tidak setuju dengan ajakan ujuk rasa di jalan raya. Hal ini karena saya tahu bahwa semua itu merupakan strategi jahannam untuk sampai pada seperti yang kita lihat saat ini. Jadi ketidak setujuanku dan peringatanku pada mereka untuk tidak memasuki muqaddimah yang membawa meraka pada mala petaka ini dianggap oleh mereka bahwa saya pendukung pemerintah, dan kenyataannya jelas, bukankah demikian?

Sekarang apa yang telah saya peringatkan telah menjadi kenyataan, jelas saat ini adalah perang dunia hakiki yang terjadi di Suriah yang telah di atur oleh Zionis Internasional dan Salibis sadis yang ada di Amerika, dimana telah diwakili (di dalam memporak-porandakan dan menciptakan negara-negara kecil yang tercerai berai) oleh para preman dan mantan narapidana yang di beri nama Al-Qaidah, yang mana itu merupakan produk Amerika, dengan mempersenjatai mereka untuk menghancurkan negeri yang barokah ini, disamping membuat orang yang tadinya bertetangga menjadi musuh yang meniupkan api peperangan.

Para tentara dan masyarakat sipil telah melihat dengan jelas ribuan pengacau telah memasuki Suriah, mereka telah melaksakan strategi yang telah terencana ini, mereka telah mengusir, menghancurkan dan memporak-porandakan dan membuat terbunuhnya banyak orang. Dengan demikian engkau akan melihat tanah Suriah akan hilang dari peta dunia, dan Suriah akan menjadi Negara Negara kecil yang dikusai oleh Israil sedikit demi sedikit.

Bagaimana menurut akalmu? Apa yang dikatakan oleh agamamu? Seandainya engkau seorang panglima perang, apakah yang akan engkau perintahkan pada bala tentaramu disaat seperti ini?

Kalau memang engkau punya pandangan lain apa yang harus dilakukan oleh bala tentara disaat seperti ini, silahkan jelaskan pada kami dengan detail dan logis serta agamis! Pertanyaan ini juga ditujukan kepada para ulama yang merubah pandangannya secara tiba-tiba, dan mengirim fatwa dari Saudi Arabia akan kewajiban menghancurkan Suriah.”.

Fatwa serupa juga beberapa kali telah dijelaskan oleh beliau baik secara tertulis atau di dalam khutbah-khutbah beliau, termasuk khutbah jumat terakhir seminggu sebelum wafatnya beliau yaitu pada tanggal 15-3-2013. Beliau seakan tidak punya pilihan lain selain mempertahankan tanah air dari agresi Zionis. Beliau sadar betul bahwa saat ini Israil semakin tertekan dalam memperluas wilayahnya di Palestina kerena, tidak ada pilihan lain selain mencaplok tetangganya yang lain, dan yang paling memungkinkan adalah Suriah dibandingkan dengan Mesir dan Yordania.

Fitnah di Negeri Syam

Apa yang saya sebutkan tadi adalah pandangan Ijtihad Syekh al-Buti, dan beliau tidak memaksa orang lain untuk seperti beliau. Beliau hanya mewajibkan tentara untuk memerangi orang-orang asing bukan kelompok oposisi penduduk Suriah seperti yang beliau jelaskan dalam fatwanya yang lain. Bahkan dengan lembut beliau berkata mengenai orang-orang yang berbeda dengan beliau, yang menunjukan akan keluasan hati beliau “Aku memaafkan tiap orang yang berbeda denganku dalam pendapat, baik karena ketidak tahuan atau karena hasil ijtihadnya bahkan aku berdoa kepada Allah agar Allah juga memberi pahala juga atas niatnya jika karena berdasarkan ketidak tahuan”.

Bagi saya menghormati beliau adalah satu keharusan, meski tidak harus sependapat dengan beliau, salah seorang ulama yang sangat dekat dengan beliau yaitu al-Habib Ali al-Jufri juga berbeda dengan beliau, Habib Ali dalam ucapan bela sungkawanya pasca wafat beliau menceritakan bahwa dirinya sempat berdebad dengan beliau dalam masalah ini, namun begitu Syekh al-Buthi tidak menunjukan perubahan sedikitpun dalam sikapnya setelah itu, beliau masih akrab dan santun.

Misteri Syahidnya al-Buti merupakan bukti bahwa apa yang terjadi di Syam adalah fitnah, dan termasuk tanda tanda kiamat, tidak ada yang bertanggung jawab dalam peristiwa ini, bahkan semuanya saling menuduh dan lepas tangan, benar apa yang dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW, bahwa “fitnah itu seperti malam yang gelap gulita”. Sulit membedakan antara kawan dan lawan, namun yang paling berdosa adalah mereka yang senang menyulut fitnah ditengah ketenagan umat. Dalam hadits Nabi Muhammad SAW bersabda “fitnah itu tertidur, Allah akan melaknat bagi mereka yang membangkitkannya”.

Yang menegaskan bahwa apa yang terjadi di Syam (baca; Suriah) itu fitnah adalah apa yang diceritakan oleh seorang Ulama Ahlu Sunnah berasal dari Yaman “tatkala. Beliau adalah salah satu ulama yang mengajar di Masjid Umawiy, beliau berkata pada kami, di awal krisis Suriah ini saya membaca sebuah hadits yang di riwayatkan oleh Imam Abdurrazzaq dalam kitab Musnadnya bahwa Nabi Muhammad Rasulullah SAW bersabda “akan terjadi sebuah fitnah di Syam, yang dimulai oleh permainan anak-anak, kemudian tidaklah reda disatu tempat melainkan timbul lagi fitnah ditempat lain, fitnah ini tidak akan berhenti hingga terdengar panggilan dari langit ketahuilah bahwa pemimpin kalian adalah fulan”. Hadits ini persis seperti yang terjadi saat ini di negeri kami, mula-mula krisis ini disebabkan anak-anak kecil yang menulis yel-yel didinding sehingga di tangkap oleh aparat, dan hal ini membuat marah masyarakat umum, terjadilah gelombang ujuk rasa dan hingga seperti yang saat ini.

Dalam hadits ini jelas Rasulullah menyebutnya sebagai fitnah, bukan jihad seperti yang dianggap oleh sebagian orang.

Syekh al-Buti telah memberi pelajaran pada kita dengan ijtihadnya, setidaknya fitnah ini tidak menyebar ke negeri kita (Indonesia) dengan menebar kebencian dan permusuhan, baik antar kelompok atau antar madzhab.

Beliau telah kembali pada Allah sebagai Syahid, Syekh Ali Jum’ah Mufti Mesir berkata dalam takziahnya “Engkau hidup dengan mulia nan indah dan wafat sebagai Syahid”. Semoga Allah membalas semua amal baikmu, mengangkat derajatmu dan mengumpulkan dirimu dengan para kekasihNya di Sorga Fidaus Amin. Selamat Jalan guru………

Lihat juga: Mengenang Setahun Syahidnya Syeikh Said Ramadhan Al Buthi: Mimpi dan Masa Depan Suriah.

Oleh : Habib Hamid Ja’far al-Qadri/ Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah – KTB (PISS-KTB).

Tulisan berjudul Mengenang Wafatnya Asy-Syahid Syaikh Muhammad Said Ramadhan Al Buthi dan Fitnah Negeri Syam terakhir diperbaharui pada Friday 28 March 2014 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment