Inilah Kata Pengantar Ketua LBM NU Surabaya Dalam Buku “Rekam Jejak Radikalisme Wahabi”

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

“Sampaikan Keburukan Mereka” (al-Hadist)

Mendekati akhir masa dekade 90-an di saat saya menikmati indahnya menuntut ilmu di PP Al-Falah Ploso, Kediri, tiba-tiba saya mendapat informasi dari seorang kawan bahwa di Turki terdapat sebuah penerbit kitab yang mendonasikan kitab-kitab klasik. Saya pun akhirnya rajin mengirim surat permohonan kitab ke penerbit tersebut, yaitu Hakikat Kitabevi, Istanbul Turki. Saya terkejut ketika kitab-kitab yang dikirim tidak seperti yang saya harapkan, khususnya kitab-kitab Syafi’iyah (karena saat itu di pesantren ada kelas lanjutan ‘Musyawirin’, takhassus ilmu fikih). Kita-kitab yang dikirim adalah dalil-dalil seputar amaliyah mayoritas Muslimin di dunia, seperti kitab-kitab Tawassul, dalil-dalil Maulid, hingga bantahan-bantahan terhadap Ibnu Taimiyah bahkan terhadap kelompok baru pengikut Ibnu Abdil Wahhab an-Najdi, baik karya-karya Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, Syaikh Ahmad Zaruq dan sebagainya.

Setelah 10 tahunan berlalu baru saya merasakan pentingnya kitab-kitab tersebut yang dahulu saya simpan di lemari kitab. Ini artinya bahwa masa tahun 90-an atau sebelumnya, di wilayah Turki sudah terjadi sengitnya serangan dan bantahan bagi Muslim Ahlisunnah wal Jamaah di Turki dari Wahabi. Sementara di Indonesia saat itu masih relative ‘kondusif’ karena kader-kader Wahabi di Indonesia masih menuntut ilmu di Arab Saudi. Saat ini di Indonesia sudah mengalami peristiwa yang sama dengan Turki. Satu-dua orang kadang dijumpai di komunitas Muslim Sunni yang menghukumi bid’ah amaliyah, menghukumi musyrik orang yang bertawassul dan ziarah kubur, dan sebagainya. Kendatipun kedatangan mereka tidak membawa nama organisasi ‘wahabi’ dan lebih bersifat ‘persamaan jargon’ anti bid’ah dan membentuk beberapa yayasan, namun mereka sudah bisa disebut mengganggu kehidupan beragama kaum Muslimin di Indonesia. Makin lama dakwah ‘takfir’ mereka semakin kencang, memantik sebuah reaksi dari santri-santri kalangan pesantren, sebutlah beberapa sosok seperti Kyai Muhyiddin Abdusshomad, Ust Idrus Ramli dan sebagainya, yang sudah berlalu lalang memberi pemantaban Aswaja, pelatihan hingga bermujadalah dengan kalangan mereka.

Perbedaan peristiwa di Turki dan di Indonesia saat ini adalah dari sisi masa ‘informasi dan telekomunikasi’. Kader-kader muda di bawah generasi Kyai Muhyiddin dan Ust Idrus Ramli dipertemukan dalam ‘dunia maya’, di media social Facebook. Disinilah terjadi sharing ilmu dan informasi dari kader-kader muda pesantren pembela Aswaja, termasuk antara saya dan penulis buku ini, Ust. Muhammad Imran, santri muda dari PP Sunniyah-Salafiyah Pasuruan, yang diasuh oleh Habib Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf, seorang ulama kharismatik dari Dzuriyah Rasulullah Saw yang konsis dengan Aswaja.

Ust Imran yang telah aktif menulis buku dan menerjemah beberapa kitab, kali ini menulis sebuah buku yang bersifat ‘hujumi’ atau offensive (menyerang) sebagaimana yang dialami ulama di Turki di atas. Data valid yang beliau paparkan sejak kemunculan Ibnu Abdil Wahhab, masa penyebarannya hingga hadis-hadis yang telah memberi indikasi kemunculan, semua diurai secara sistematis, ilmiyah dan akurat. Mengapa hal ini perlu dikupas? Dalam sebuah hadis Rasulullah Saw bersabda:

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ حَيْدَةَ قَالَ خَطَبَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ حَتَّى مَتَى تَرْعَوْنَ عَنْ ذِكْرِ الْفَاجِرِ هَتِّكُوْهُ حَتَّى يَحْذَرَهُ النَّاسُ . رواه الطبراني في الثلاثة وإسناد الأوسط والصغير حسن رجاله موثقون واختلف في بعضهم اختلافا لا يضر (مجمع الزوائد ج 1 / ص 375)

“Diriwayatkan dari Muawiyah bin Haidah, bahwa Rasulullah saw berkhutbah: Hingga kapan kalian berdiam untuk menyebut orang yang berdosa. Sebutkan keburukannya, agar manusia terhindar darinya” (HR Thabrani. al-Haitsami berkata: Sanad dalam Mu’jam al-Ausath dan ash-Shaghir adalah hadis hasan, para perawinya dinilai terpercaya. Sebagian perawinya sedikit diperselisihkan namun tidak sampai berpengaruh dlaif)

Sekilas dari penampakan wujud pengikut Ibnu Abdil Wahhab adalah orang yang paling Islam, paling ahli mengkafirkan sesama Muslim, paling fasih dengan hadis bid’ah dan seterusnya. Namun di balik itu ada banyak doktrin dan ajaran berbahaya yang harus dijauhi oleh umat Islam. Maka, karya tulis Ust. Imran ini adalah menguak jati diri mereka, agar umat Islam tidak terpedaya dengan wujud lahiriyah mereka. Amin

Surabaya, 7 Rajab 1434 H / 19 Mei 2013.

M. Ma’ruf Khozin
Ketua LBM NU Surabaya

Baca juga: Telah Hadir Buku Islam “Rekam Jejak Radikalisme Wahabi: Sejarah, Doktrin dan Akidah”.

Tulisan berjudul Inilah Kata Pengantar Ketua LBM NU Surabaya Dalam Buku “Rekam Jejak Radikalisme Wahabi” terakhir diperbaharui pada Tuesday 22 April 2014 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment