Kisah Mantan Anggota MTA yang Tobat Menjadi Perintis Radio Dakwah NU Soloraya

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Ustadz Parsono Agus Waluyo saat ini dikenal sebagai salah satu aktivis Nahdlatul Ulama (NU) di kecamatan Karangpandan Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah. Melalui berbagai media khususnya radio, beliau merintis dakwah Islam ahlussunnah wal jama’ah (Aswaja) yang kemudian dinamakan dengan sebutan Pitutur Luhur. Kini, ia pun mengembangkan dakwahnya dengan menerbitkan majalah dan kaset yang berisi kajian Pitutur Luhur.

Menurutnya, apa yang dilakukannya itu untuk kepentingan dakwah yang fleksibel dengan mengikuti perkembangan zaman dan keinginan masyarakat. Ustadz Parsono Agus Waluyo pun mengatakan di dalam media tersebut dirinya hanya sebagai narasumber, sedangkan untuk siaran radio, pembuatan majalah, serta kaset semuanya dilakukan atas kreatifitas dari anak-anak didiknya. Ini bertujuan agar para pemuda NU yang juga anak didiknya itu mempunyai jiwa terampil dan selalu berpikir kreatif inovatif demi kemajuan.

Tidak hanya berdakwah, Ustadz Parsono Agus Waluyo yang beralamat di daerah Kembang Rt 01/ Rw 04, Desa Doplang, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Solo ini pun mengembangkan bisnis Pitutur Luhur Management bersama rekan-rekannya. Bisnis yang ia kelola bergerak di bidang jasa perbaikan/ pembuatan pemancar Radio FM, tower, pelatihan penyiaran, dan bisnis percetakan serta studio record, graphic dan sound editing, dan lain-lain. Radio Al Hidayah FM Solo dan Radio Assunnah FM Kacangan Boyolali yang juga menyiarkan dakwah Aswaja adalah salah satu kliennya.

Berkat dakwah kreatif nan inovatif yang dikembangkannya, para jama’ah semakin tertarik mengikuti pengajian ia pimpin yang saat ini sudah tersebar di berbagai daerah di Kabupaten Karanganyar. Namun, siapa sangka ustadz yang menjadi perintis berdirinya radio-radio NU di Soloraya ini dulunya adalah anggota Majelis Tafsir Alqur’an (MTA) pimpinan Ustadz Drs. A. Sukino.

“Dahulu saya sekolah STM saja, kemudian saya didatangi oleh para santri yang tergabung dalam ISKAR (Ikatan Santri Karanganyar) dan diajak untuk nyantri di pesantren. Awalnya ajakan tesebut saya abaikan dan saya memilih untuk ikut MTA,” ujar Ustadz Parsono  pada Selasa (29/4/2014).

“Tetapi saya salut dengan kegigihan ISKAR pada saat itu, meski sudah mengetahui bahwa saya telah ikut MTA, mereka tak segan mendatangi saya lagi dan mengajak untuk nyantri dengan ajakan yang baik dan menarik”, lanjutnya.

“Hingga akhirnya saya terbujuk untuk nyantri di pesantren Ringin Agung Pare Kediri Jawa Timur. Di pesantren saya mengembangkan ketrampilan elektro yang saya peroleh dengan membuat radio. Alhamdulillah, usai boyong dari pesantren, radiolah yang menjadi salah satu sarana dakwah NU yang saya lakukan” ujarnya.

Ustadz Parsono Agus Waluyo yang sudah keluar dari ajaran menyimpang MTA ini mengakui brosur dan rekaman kajian MTA yang dulu diikutinya saat ini masih ia simpan tetapi dirinya tidak ingin memperdebatkannya dan ingin fokus mengembangkan dakwah ahlussunnah wal jama’ah NU.

“Dan brosur serta rekaman selama saya MTA pun saat ini masih ada, namun saya tak ingin memperdebatkannya karena yang terpenting saat ini adalah terus memasang strategi untuk mengembangkan dakwah Aswaja ala NU”, pungkasnya.

Setelah berlumuran noda hitam ajaran MTA sejak muda, hidayah pun datang menghampirinya. Allah SWT memberikan petunjuk ke jalan yang lurus melalui NU saat dirinya berada di Ringin Agung Kediri. Pada waktu ia melihat teman-teman penggali kubur yang tidak sengaja menggali sebuah kuburan yang ternyata masih ada mayatnya. Anehnya, mayat itu masih utuh meski sudah dikubur puluhan tahun. Ia berpikir jikalau mayat penghuni kubur yang suka tahlilan ini adalah ahli bid’ah pelaku dosa besar tentu mayatnya sudah hancur disiksa karena bid’ah yang dilakukan mayit selama masa hidupnya. Dari sinilah hidayah itu semakin kuat datang ke dalam lubuk hatinya hingga akhirnya sekarang menjadi pejuang ahlussunnah wal jam’ah di Karanganyar Solo.

“Namaku Parsono Agus Waluyo, nama asli Karangpandan Solo. Awal saya remaja, saya ngaji di MTA yang anti tahlil, bahkan sekarang mati-matian menyerang tahlilan setelah konflik dengan orang tua masalah tahlilan, dan lain-lain karena orang tua waktu itu belum sholat. Saya ngaji di ponpes Ringin Agung Pare Kediri. Setelah pulang bibit-bibit wahabiku muncul lagi walau dengan halus aku meragukan tahlilan karena aku pernah ngaji dengan orang LDII, Salafi, Muhammadiyah, dll ormas yang wahabi tapi aku belajar juga dengan kyai-kyai aswaja dan para habaib. Soal debat tahlil dari beberapa versi aku ikuti. Yang membuatku yakin sederhana saja, guru-guruku di Ringin Agung kan aswaja, jelas menggalakan tahlil. Lha pas teman-teman pekerja penggali kubur tidak sengaja menggali kubur ada mayit, yang masih utuh walau telah dikubur puluhan tahun. Kalau memang pelaku tahlil ini dosa besar karena bid’ah tentunya (mayatnya) sudah hancur bagi yang percaya adzab kubur. Mungkin ada yang berfikir Firaun juga jasadnya utuh, tapi di mumi”, komentarnya.

Lihat juga: website Pitutur Luhur Ustadz Parsono Agus Waluyo.

Tulisan berjudul Kisah Mantan Anggota MTA yang Tobat Menjadi Perintis Radio Dakwah NU Soloraya terakhir diperbaharui pada Wednesday 30 April 2014 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment