Selamat Datang Pemimpin Idaman

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Hari-Hari ini semua orang berbicara tentang pemimpin nasional mendatang. Hampir semua berita di televisi dan koran juga dipenuhi pemberitaan mengenai hal itu. Bahkan, di tempat umum, mulai pusat perbelanjaan modern hingga pasar dan bahkan warung-warung, orang berdiskusi tentang pemimpin masa depan tersebut.

Selesainya Pileg 2014 yang segera diikuti Pilpres 2014 menjadi latar belakang menguatnya pembicaraan dan berita mengenai calon pemimpin mendatang tersebut. Rekap hasil Pileg 2014 yang baru diumumkan beberapa hari lalu memang semakin memperkuat gejala itu. Namun, hasil penghitungan cepat sebelumnya telah memberikan pemahaman tersendiri mengenai peta politik yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi siapa saja yang akan dicalonkan partai-partai peraih suara signifikan pada pileg untuk maju sebagai calon presiden.

Terlepas dari apa pun yang sedang dibicarakan untuk memilih calon pemimpin ke depan, ada baiknya mempertimbangkan beberapa kriteria pemimpin idaman berikut. Pertama, pemimpin Indonesia ke depan harus adil. Prinsip keadilan itu penting untuk menyetir roda pemerintahan dan menyelenggarakan layanan publik bagi seluruh warga bangsa dan negara ini.

Keadilan tidak boleh hanya tajam ke bawah namun tumpul ke atas. Pemimpin ke depan harus bisa menunjukkan bahwa keadilan adalah milik bangsa secara merata dan setara. Karena itu, penegakan hukum tidak boleh hanya garang untuk warga biasa. Namun, harus pula tegas terhadap semua komponen bangsa ini.

Kedua, pemimpin Indonesia ke depan harus mempunyai wawasan kebangsaan yang mapan. Kepemimpinan mendatang bangsa ini harus menyadari bahwa Indonesia berbeda dengan negara-negara lain, termasuk Barat sekalipun. Pengalaman kebangsaan kita sangat khas. Bangsa dan negara ini didirikan oleh berbagai komponen dari beragam suku, etnis, agama, ekonomi, dan kultur.

Multikulturalisme bukan barang baru di negeri ini. Bukan hasil impor dari Barat. Melainkan murni menjadi kekayaan kebangsaan negeri ini. Karena itu, Bhinneka Tunggal Ika menjadi bagian tak terpisah dari perjalanan bangsa dan negara ini mulai awal sejarahnya hingga kapan pun. Di tengah masyarakat Indonesia yang beragam ini, kepemimpinan mendatang bangsa ini harus bisa melayani seluruh warga bangsa dari berbagai latar belakang tersebut.

Ketiga, pemimpin Indonesia ke depan harus berani mengambil keputusan tegas dalam kerangka penegakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kedaulatan bangsa dan negara harus menjadi perhatian utama. Terlepas dari apa pun tantangan budaya, ekonomi, politik, dan agama sekalipun.

Globalisasi memang telah memberikan tantangan tersendiri bagi bangsa ini. Proses menyatunya dunia melalui fenomena globalisasi tersebut, antara lain, telah membuat pertukaran gagasan di berbagai bidang tidak bisa dihindari. Di bidang ekonomi, kekuatan modal finansial telah membuat roda pengelolaan negeri ini terikat kuat.

Bahkan, di bidang keagamaan pun, mulai muncul gerakan-gerakan yang berpotensi mengancam NKRI. Munculnya gerakan transnasionalisasi agama oleh sejumlah kelompok tampak sangat identik dengan gagasan-gagasan agama yang menolak NKRI.

Karena itu, dari sejarah awalnya, Nahdlatul Ulama (NU) telah menjadi bagian dari pengawal NKRI. Melalui pengembangan Islam moderat yang ”ramah lingkungan”. Antara lain, melalui praktik Islam rahmatan lil ‘alamin, NU ingin menerjemahkan Islam yang membumi dan menjadi satu dengan kekayaan sosiologis-kultural bangsa ini.

Keempat, pemimpin Indonesia mendatang harus memiliki kemampuan dan keterampilan yang baik dalam mengelola semua kekayaan bangsa dan negara ini. Baik kekayaan sumber daya alam maupun manusia. Kepribadian yang baik saja tidak cukup untuk mengelola kewenangan publik. Harus diikuti kecakapan dan keterampilan mengelola pemerintahan yang baik pula.

Kekayaan alam yang berlimpah, mulai daratan hingga lautan, tidak akan bisa dikelola dengan kemampuan serta keterampilan mengelola pemerintahan yang biasa-biasa saja. Kekayaan sumber daya manusia yang kini mencapai hampir seperempat miliar semakin menambah persoalan pengelolaan sumber daya alam yang memiliki tantangan yang tidak ringan.

Ketiadaan kemampuan dan keterampilan dalam mengelola dua sumber kekayaan bangsa dan negara itu akan mengakibatkan terpuruknya bangsa dan negara ini. Padahal, persaingan dunia ke depan tidak saja ditentukan melimpahnya kepemilikan atas sumber daya alam. Melainkan juga oleh kepemilikan sumber daya manusia yang kreatif dan inovatif.

Karena itu, kepemimpinan Indonesia ke depan harus diperkaya dengan kemampuan dan keterampilan pengelolaan yang baik serta efektif terhadap sumber daya alam dan manusia. Antara lain, mengawal agar otonomi daerah bermanfaat bagi bangsa.

Kelima, pemimpin Indonesia ke depan harus mengutamakan kepentingan rakyat secara luas daripada kepentingan sendiri atau kelompok. Dalam bahasa agama, pemimpin Indonesia ke depan harus dituntun prinsip-prinsip altruistik, santun, dan melayani.

Altruistik mengantarkan seorang pemimpin jauh dari pemujaan terhadap kepentingan sendiri. Santun membuat seorang pemimpin mampu mendengar aspirasi rakyatnya. Santun menjauhkan pemimpin dari kepongahan pribadi. Apalagi kekuasaan sering membuat orang pongah. Prinsip melayani juga akan mengantar seorang pemimpin untuk mengelola jabatannya sebagai bagian dari pengabdian kepada bangsa.

Memimpin Indonesia lima tahun ke depan sangat berperan mengantarkan bangsa dan negara ini untuk berbicara lebih banyak dan lebih luas di kancah internasional. Capaian bidang ekonomi yang mengantarkan Indonesia menjadi anggota G-20, stabilitas politik yang mengiringi transisi demokrasi, serta perkembangan sosiologis penuh damai harus ditopang kepemimpinan yang baik serta efektif.

Kriteria-kriteria pemimpin idaman tersebut merupakan sumbangsih untuk menemukan pemimpin yang baik dan efektif. Kita ucapkan ”Selamat Datang” kepada siapa pun yang bisa memenuhi kriteria sebagai pemimpin idaman tersebut.

Oleh: KH Hasan Mutawakkil Alallah, Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan, Genggong, Probolinggo, sekaligus Ketua PWNU Jawa Timur, dimuat dalam surat kabar Jawapos.

Tulisan berjudul Selamat Datang Pemimpin Idaman terakhir diperbaharui pada Thursday 15 May 2014 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment