Melihat Fenomena Gerakan Ormas Islam di Indonesia

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Setelah era reformasi digulirkan banyak bermunculan berbagai organisasi kemasayarakatan (ormas) yang berlabel Islam hadir mewarnai Indonesia. Buya Yahya, Pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah Al Bahjah Cirebon angkat bicara tentang maraknya ormas-ormas Islam di Indonesia ini.

Berikut ini adalah pemaparan beliau saat wawancara dengan redaktur Majalah Hidayatullah dalam menanggapi fenomena gerakan ormas Islam di Indonesia dan juga kaitannya antara isu kelompok Wahabi dan Syiah dengan kelompok Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) seperti Nahdlatul Ulama (NU);

1. Apa tanggapan Buya melihat fenomena perbedaan harakah/ormas dan mazhab di Indonesia pasca orde baru dan reformasi?

Jawab:

Perbedaan ormas, harokah dan madzhab seharusnya dimaknai sebagai perbedaan wadah untuk menghimpun para pejuang-pejuang Islam seperti adanya bermacam-macam lembaga pendidikan agama dan pesantren. Jika yang diperjuangkan benar-benar Islam tanpa dicampuri kepentingan pribadi atau ormas dan pesantren maka perjalanpergerakan dan perjuangan tidak akan merugikan kaum muslimin. Biarpun pesantren jika yang dikedepankan kepentingan sang kiai dan keluarganya maka perjuangannya pun akan berubah menjadi perjuangan bukan untuk Islam. Di sinilah awal permasalahan hingga muncul kedengkian, persaingan yang tidak sehat dan saling menjatuhkan. Begitu juga kisahnya tentang ormas dan harokah .

2. Menurut Buya perkembangannya makin bagus atau menurun? Bisa dijelaskan?

Jawab:

Di era reformasi ini bersama diumbarnya demokrasi maka semakin rancuh perjuangan ormas dan harokah. Sementara yang harus kita ke depankan adalah syuro. Contoh pemilihan bupati atau wakil rakyat, bagaimana peran ormas? Siapa calon-calon yang di dukung oleh ormas? Apakah dengan kriteria orang-orang yang bakal mampu memimpin atau hanya sekedar yang punya uang yang bakal bisa memberi rupiah ke ormas tersebut? Kami tidak bicara partai tapi ormas. Memang secara langsung sebagian ormas tidak melakukan dukungan kepada calon pemimpin yang bersangkutan, akan tetapi munculnya tokoh-tokoh dari ormas sesaat dengan partai ini sesaat dengan yang lainnya hanya karena mengejar jabatan ini menandakan fungsi ormas tidak berguna lagi bahkan bisa menjadi tunggangan para calon tersebut.

3. Bukankah konflik antara pemikiran dan mazhab (sebut saja seperti NU dan Muhammadiyah) tidak sekeras di awal-awal tahun 80-an? Berarti itu pertanda perkembangannya cukup bagus?

Jawab:

Konflik NU-MUHAMMADIYAH seharusnya tidak boleh ada karena keduanya adalah wadah untuk fastabiqul khoirot seperti yang kami sampaikan. Akan tetapi kenyataannya ada jarak antara keduanya, dan kalau kita amati bukan masalah perjuangannya akan tetapi lebih ke arah beberapa pemikiran yang berbeda antara kedua ormas lalu tidak disikapi sebagai sesuatu perbedaan tidak boleh saling menghujat. Nah redanya konflik NU-MD sebagai ormas saat ini memang terasa reda. Akan tetapi kita harus cermat, redanya konflik ini bukan karena kedua ormas sudah saling memahami perbedaan yang harus dimaklumi. Akan tetapi karena menajamnya konflik yang dulu ada antara NU-MD diangkat oleh sekelompok orang yang tidak menggunakan baju ormas lagi.Dan pertentangan mereka sangat parah dan lebih parah, saling membid’ahkan dan mengkafirkan. Sampai ada di antara mereka tidak mau saling berjabat tangan.

4. Bagaimana agar perbedaan sepertiini menjadi rahmat? Bagaimana caranya?

Jawab:

Kita harus kembali mencontoh perbedaan yang terjadi pada para Ulama terdahulu.

5. Bagaimana perbedaan seperti ini di kalangan ulama salaf? Bisakah memberi contohnya?

Jawab:

Perbedaandi kalangan para Ulama salaf tidak akan menjadikan mereka bemusuhan, karena mereka menyikapi perbedaan tersebut dengan hati yang rindu kebenaran. Setelah mereka menata hati mereka, baru mereka memasuki langkah yang selanjutnya yaitu mendiskusikan permasalahan mereka tersebut di kalangan mereka sendiri, tanpa melibatkan orang awam atau memprovokasi orang awam untuk menjadi pendukungnya. Dan permasalahan kita saat ini adalah sebagian Ustadz sempit pandang lalu berperan seperti para Mujtahidin sehingga menemukan sebuah kebenaran dalam masalah khilafiyah lalu mengklaim dirinya yang paling benar kemudian menuduh oran lain dengan tuduhan sesat, bid’ah bahkan syirik. Kemudianlebih dari itu mereka melibatkan orang-orang awam di dalam perbedaan pendapat.Dan akhirnya semakin rancuhlah pemasalahan.

6. Apakah fenomena perbedaan mazhab di jaman salafus shalih seperti sekeras sekarang ini?

Jawab:

Tadi sudah kami jelaskan, perbedaan di kalangan ulama salaf saat ini tidak ada kekerasan dalam berbeda pendapat. ImamMalik berbeda dengan muridnya, Imam Syafi’i. Dan Imam Syafi’i berbeda dengan muridnya, Imam Ahmad. Dan mereka baik-baik saja bahkan mereka saling mendo’akan di saat mereka berpisah. Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal berbeda dengan gurunya dalam banyak masalah akan tetapi hubungan mereka tetap baik bahkan Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “ Semenjak aku kenal dengan guruku Imam Syafi’i maka aku tidak melaksanakan sholat 2 rokaat kecuali aku mendo’akan beliau.” Lihat, itulah keindahan mereka biarpun berbeda pendapat. Bukan menghujat, menggunjing dan seterusnya.

7. Bagaimana agar fenomen lahirnya banyak gerakan/ ormas/ mazhab bisa justru memperkuat umat?

Jawab:

Kembali kepada apa yang kami sampaikan tadi, bahwa di saat perbedaan itu berangkat dari hawa nafsu bukan dari kerinduan untuk mencari kebenaran, kemudian setelah itu dalam menyelesaikan perbedaan pendapat tersebut bukan dengan mendiskusikan kepada ahlinya, akan tetapi justru dengan memprovokasi orang awam, mengklaim dirinya yang paling benar kemudian setelah itu buru-buru menyesatkan orang yang berbeda di mimbar masjid maka perbedaan akan semakin rancu. Agar perbedaan menjadi bermakna adalah dengan mencontoh pendahulu-pendahulu, Ulama kita. Perbedaan adalah saling mengokohkan dan saling melengkapi. Kadang kita menemukan kemudahan di dalam Madzhab Imam Malik yang tidak ada di dalam Madzhab Imam Syafi’i atau sebaliknya, sehingga dengan perbedaan itu akan mempermudah banyak hal di dalam kita menyelesaikan permasalahan-permasalahan. Dan Alhamdulillah semua para Ulama itu kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rosulillah SAW.

8. Fenomen pasca orde baru semakin banyak kelompok terang-terangan menyebut diri sebagai ahlus sunnah wal jamaah. Bagaimana klaim-klaim itu sebenarnya menurut Buya?

Jawab:

Mengklaim dirinya Ahlusunnahwal jama’ah bukan saja setelah/ pasca orde baru. Dari dulu sudah sangat jelas dan sudah biasa kita mendengar istilah Ahlusunnah wal jama’ah. Kemudian muncul di akhir-akhir ini sekelompok orang yang mengatakan diri mereka adalah Ahlusunnah wal jama’ah kemudian dengan serta merta mengatakan kaum muslimin bahkan mayoritas kaum muslimin di Indonesia yang dahulu memang sudah mengatakan Ahlusunnah wal jama’ah dikatakan bukan Ahlusunnah wal jama’ah. Ini adalah problem orang zaman sekarang ini. Dan ini adalah benih-benih permusuhan, perpecahan dan itu akan menjadi semakin runcing sehingga perbedaan itu tidak menjadi rahmat lagi.

9. Saya pernah baca ringkasan buku Syaikh Ahmad Sallam dalam Ma Ana ‘Alaihi wa Ashhhabi. Definisi ahlus sunnah waljamaah itu luas dan mencakup banyak kelompok, kecuali Syiah. Apa pendapat Anda?

Jawab:

Syekh Ahmad Salam berusaha untuk mendefinisikan Ahlusunnah wal jama’ah kemudian setelah itu memilah-milah mana yang bukan Ahlusunnah wal jama’ah. Semoga AllohSWT memberikan pahala kepada beliau karena niat baiknya. Akan tetapi beliau telah melakukan satu kesalahan besar di saat mengeluarkan beberapa kelompok dan pendekar-pendekar Ahlusunnah waljama’ah dari kelompok Ahlusunnah wal jama’ah. Ini adalah sangat membahayakan persatuan ummat Islam, yaitu di saat Syeikh Ahmad Salam mengatakan bahwa: Termasuk aliran-aliran yangmenyimpang, yang keluar dari Ahlusunnah wal jama’ah adalah Asya’iroh. Bahkan ini digolongkan kelompok Aqlaniyyin, kelompok yang hanya mengedepankan akal, dan ini dianggap sebagai sesat. Ini adalah ungkapan yang sangat berbahaya dari Syekh Ahmad Salam. Jika ditinjau dari sisi ini maka kitab ini sangat membahayakan. Kalau Asya’iroh itu dianggap sesat, dan Asya’iroh menjerumuskan, maka Ulama-ulama Asya’iroh adalah sesat. Lalu siapa yang akan kita jadikan panutan? Contoh ImamSuyuthi, Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar Al-Asqolani, mereka adalah Ulama-Ulama Asya’iroh. Jika mereka kita anggap sesat bagaimana dengan Kitab Fathul Bari, Riyadus Sholihin, Syarah Sohih Muslim dan yang lain-lainnya? SemogaAlloh mengampuni saya dan mengampuni Syekh Ahmad Salam dan memberikan pahala kepada beliau karena jerih payahnya.

10. Jadi bagaimana menempatkan definisi itu secara tepat?

Jawab :

Nah untukmenempatkan definisi yang tepat adalah sebenarnya sangat sederhana. Dengan nama judul buku itu saja sebenarnya sudah sangat jelas “Ma Ana ‘Alaihi waAshhhabi” . Artinya semua umat Islam yang masih mengagungkan sahabat Nabi SAW adalah Ahli sunnah wal jama’ah. Bukan termasuk lebih khusus lagi adalah Asya’iroh. Dan sebetulnya ini adalah perlus ebuah diskusi khusus. Baik, kemudian adapun masalah Syiah yang dibahas tadimemang betul kalau disaat Syekh Ahmad Salam megeluarkan Syiah dari Ahlusunnahwal jama’ah memang itu sudah jelas. Bahkan memang bukan saja perlu dikeluarkan, memang mereka tidak mau dianggap sebagai Ahlusunnah wal jama’ah. Mereka sesat dan menyesatkan. Bahkan pemikiran-pemikiran mereka membahayakan, bahkan banyak pemikiran-pemikiran mereka yang menjadikan seseorang jika meyakini pemikiran tersebut akan keluar dari Islam.

11. Ada pendapat yang mengatakan Syiah semakin kuat karena sesama ahlus sunnah wal jamah saling melemahkan. Bagaimana menurut Anda terhadap pernyataan ini?

Jawab:

Betul. Syiah semakin kuat karena Ahlusunnah saling melemahkan. Dan saling melemahkannya itu adalah karena fatwa-fatwa yang muncul seperti yang dikatakan Syeikh Ahmad Salam. Dan termasuk fatwa dan cetusan yang mengeluarkan Asya’iroh dari Ahlusunnah waljamaah. Sebab mayoritas Ahlusunnah wal jama’ah di Indonesia adalah Asya’iroh. Jadi betul pernyataan itu.

12. Belakangan ini juga gencar isu Wahabi. Apa pendapat Buya?

Jawab:

Masalah isu Wahabi. Wahabi adalah dinisbatkan kepada Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab, adalah baru sekali di abad ke 11 Hijriyah. Artinya beliau adalah orang akhir zaman. Sebelum beliau sudah ada Ahlusunnah wal jamaah. Artinya kalau ingin kembali kepada manhaj Ahlusunnah wal jama’ah dengan kembali kepada para A’immah Madzhab Arba’ah (Imam Madzhat yang Empat). Yang dilanjutkan setelahnya oleh Imam-Imam besar seperti Imam Ghozali, Imam Nawawi, Ibnu Hajar Al-Asqolani, Imam Suyuthi dan lain-lain. Kita bisa lihat apa aqidah mereka .Jadi hendaknya kita melanjutkan pemikiran-pemikiran mereka.

13. Hingga sekarang penggunaan istilah Wahabi itu rawan, karena faktanya makna itu menjadi biasa?

Jawab:

Wahabi itu rawan. Betul. Rawan karena apa? Memang dari orang yang mereka itu mengikuti Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab berusaha untuk memurnikan aqidah, memilah mana Ahlusunnah dan mana yang bukan Ahlusunnah. Karena terlalu berlebihan sehingga Ahlusunnah yang seharusnya menjadi kawan pun akhirnya dijadikan musuh dianggap bid’ah, sesat, bahkan keluar dari Islam. Jadi ini yang harus dicermati dan kami yakin bahwa Suara Hidayatullah hadir untuk menyelesaikan masalah ini. Karena Suara Hidayatullah akan menampung semuanya. Dan itu adalah sebetulnya wacana dan kabar baik untuk ummat ini dengan munculnya sebuah media yang mencoba mengklarifikasi permasalahan.

14. Bagaimana agar penggunaan istilah itu tidak menjadi saling tuduh dan ujungnya timbul konflik?

Jawab:

Sederhana sebetulnya. Agar orang tidak dituduh harus menjelaskan dengan sejelas-jelasnya. Bukan fitnah. Kita bisa duduk bersama. Apa sih permasalahannya? Kenapa kita harus mengkafirkan orang tanpa bertanya terlebih dahulu? Kan bisa duduk bersama. Sekarang yang terjadi: Di musholla ini ada orang membid’ahkan si A, di masjid ini ada orang membid’ahkan si B, semuanya saling membid’ahkan, saling menyesatkan. Kenapa tidak duduk bersama dahulu kemudian setelah itu dijelaskan permasalahannya? Setelah itu akan selesai tidak ada masalah. Jadi permasalahan kita adalah saling tuduh-menuduh dan itu adalah melemahkan ummat islam.

15. Beberapa kalangan Islam ada yangmempertanyakan soal: 1. Tawasul, 2. Kirim Doa, 3. Tahlil dan Yasin, dengan anggapan bid’ah. Bagaimana pandangan Buya?

Jawab:

Nah ini diantaranya permasalahan-permasalahan yang sebetulnya sangat sederhana dan mudah untuk dicerna dan difahamkan bagi orang yang mau faham. Akan tetapi seolah-olah menjadi permasalahan yang sangat pelik, sangat susah, sehingga setelah merasa susah disusul dengan tuduhan bid’ah sesat syirik lalu mengklaimdirinya yang paling benar.

Tawasul

Kalau Tawassul itu sangat sederhana. Tawassul ada 2. Tawasul dengan doa dan doa dengan tawasul.

Tawasul dengan doa: Saya datang kepada orang ‘alim untukmendo’akan saya. Nabi SAW juga pernah minta do’a kepada Sayyidina ‘Umar saat mau haji. Do’a dengan tawasul, yang maknanya adalah: Meminta kepada Allah dengan membawa sesuatu yang dimuliakan oleh Allah, yang diagungkan oleh Allah, dan ini diajarkan oleh Rosulullah sendiri, seperti hadits riwayat Imam Bukhari: Orang memohon kepada Allah dengan membawa amal sholeh. Tidak cukup hanya dengan amal sholeh, orang sholeh pun bisa dibawa. Sehingga kita meminta kepada Allah dengan membawa orang-orang yang dimuliakan oleh Allah SWT. Seperti orang berdo’a membawa Rasulullah SAW dalam hadits Sayyidina UtsmanIbn Hunaif. Inilah tawassul yang selama ini dilakukan oleh pelaku-pelakunya. Dan akan menjadi salah itu jika dimaknai beda. Tawassul dikatakan minta kepada mayyit, menyembah mayyit, beribadah kepada mayyit, itu semua adalah fitnah. Hendaknya dalam segala permasalahan kita bertanya kepada yang bersangkutan.

Kirim do’a

Kirim do’a sangat jelas, kita dianjurkan mengirim do’a. Apa yang dipermasalahkan dalam kirim do’a?

Tahlil

Tahlil itu masuk ke dalam pembahasan yang dibahas oleh Ulama terdahulu dengan istilah Ihdauts Tsawab, menghadiahkan pahala. Ulama sepakat tentang kebolehan Ihdauts Tsawab. Hanya perbedaan diantara mereka nyampai atau tidak nyampai. Bukan boleh atau tidak boleh. Sebagian mengatakan nyampai, ada juga yang mengatakan tidak nyampai. Dan selesai masalah ini dibahas oleh ulama terdahulu dan mereka tidak saling membid’ahkan. Untuk menjelaskan permasalahan-permasalahan ini kami siap demi kepentingan umat agar tidak saling tuduh, agar tidak saling caci, agar tidak saling membid’ahkan.

Wallohu a’lambis showab

Muslimedianews

Tulisan berjudul Melihat Fenomena Gerakan Ormas Islam di Indonesia terakhir diperbaharui pada Friday 29 August 2014 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment