Dalil Syar’i Menerima Demokrasi dan Pancasila

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Bagi Nahdlatul Ulama (NU), meski demokrasi bukan hukum Islam formal, namun subtansi ajaran Islam dimasukkan ke dalamnya. Pancasila memang tak ada embel-embel Islam, namun bukan berarti Kafir sebab Pancasila bukan agama, melainkan sebuah falsafah negara untuk menjaga persatuan bangsa dalam kedamaian bingkai NKRI, sebagaimana Rasulullah menerima perjanjian damai Hudaibiyah dan Sayidina Ali menerima Tahkim (arbiterase).

Bagi pengusung Khilafah, Demokrasi adalah sistem kufur karena bukan hukum Allah dan jika tidak ada embel-embel Islam maka divonis kafir. Pola pikir semacam ini adalah cara berfikir Khawarij yang telah dibantah tuntas oleh seorang sahabat sepupu Rasulullah, Abdullah bin Abbas:

مَا تَنْقِمُوْنَ مِنِ ابْنِ عَمِّ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصِهْرِهِ – … فَقَالُوْا: نَنْقِمُ عَلَيْهِ ثَلَاثَ خِلَالٍ: إِحْدَاهُنَّ أَنَّهُ حَكَمَ الرِّجَالَ فِي دِيْنِ اللهِ وَمَا لِلرِّجَالِ وَلِحُكْمِ اللهِ وَالثَّانِيَةُ أَنَّهُ عَلِمَ فَلَمْ يَسْبُ وَلَمْ يَغْنَمْ، فَإِنْ كَانَ قَدْ حَلَّ قِتَالُهُمْ فَقَدْ حَلَّ سَبْيُهُمْ، وَإِلَّا فَلَا، وَالثَّالِثَةُ، مَحَا نَفْسَهُ مِنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ أَمِيْرَ الْمُؤْمِنِيْنَ، فَهُوَ أَمِيْرُ الْمُشْرِكِيْنَ.
قُلْتُ: هَلْ غَيْرُ هَذَا – قَالُوْا: حَسْبُنَا هَذَا. قُلْتُ: أَرَأَيْتُمْ إِنْ خَرَجْتُ لَكُمْ مِنْ كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِهِ أَرَاجِعُوْنَ أَنْتُمْ – قَالُوْا: وَمَا يَمْنَعُنَا
قُلْتُ: أَمَّا قَوْلُكُمْ إِنَّهُ حَكَمَ الرِّجَالَ فِي أَمْرِ اللهِ، فَإِنِّي سَمِعْتُ اللهَ يَقُوْلُ فِي كِتَابِهِ: ” يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ “… وَقَالَ: ” وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوْا حَكَماً مِنْ أَهْلِهِ ” الْآيَةَ. أَخَرَجْتُ مِنْ هَذِهِ – قَالُوْا: نَعَمْ.
قُلْتُ: وَأَمَّا قَوْلُكُمْ: قَاتَلَ فَلَمْ يَسْبُ، فَإِنَّهُ قَاتَلَ أُمَّكُمْ، لِأَنَ اللهَ يَقُوْلُ: ” وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ ” فَإِنْ زَعَمْتُمْ أَنَّهَا لَيْسَتْ بِأُمِّكُمْ فَقَدْ كَفَرْتُمْ، وَإِنْ زَعَمْتُمْ أَنَّهَا أُمَّكُمْ فَمَا حَلَّ سِبَاؤُهَا، فَأَنْتُمْ بَيْنَ ضَلَالَتَيْنِ، أَخَرَجْتُ مِنْ هَذِهِ – قَالُوْا: نَعَمْ.
قُلْتُ: وَأَمَّا قَوْلُكُمْ إِنِّهُ مَحَا اسْمَهُ مِنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ، فَإِنِّي أُنَبِّئُكُمْ عَنْ ذَلِكَ: أَمَا تَعْلَمُوْنَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْحُدَيْبِيَّةِ جَرَى الْكِتَابُ يَبْنَهُ وَبَيْنَ سُهَيْلِ بْنِ عَمْرٍو، فَقَالَ يَا عَلِيُّ اكْتُبْ: هَذَا مَا قَاضَى عَلَيْهِ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ فَقَالُوْا: لَوْ عَلِمْنَا أَنَّكَ رَسُوْلُ اللهِ مَا قَاتَلْنَاكَ، وَلَكِنِ اكْتُبْ إسْمَكَ وَاسْمَ أَبِيْكَ، فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنِّي رَسُوْلُكَ، ثُمَّ أَخَذَ الصَّحِيْفَةَ فَمَحَاهَا بِيَدِهِ، ثُمَّ قَالَ: يَا عَلِيُّ اكْتُبْ: هَذَا مَا صَالَحَ عَلَيْهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ، فَوَاللهِ مَا أَخْرَجَهُ ذَلِكَ مِنَ النُّبُوَّةِ، أَخَرَجْتُ مِنْ هَذِهِ – قَالُوْا: نَعَمْ. قَالَ: فَرَجَعَ ثُلُثُهُمْ، وَانْصَرَفَ ثُلُثُهْم، وَقَتَلَ سَائِرَهُمْ عَلَى ضَلَالَةٍ. (تاريخ الإسلام للذهبي – ج 1 / ص 476 وتاريخ دمشق لابن عساكر – ج 42 / ص 464 والرياض النضرة في مناقب العشرة للمحب الطبري – ج 1 / ص 292 وسمط النجوم العوالي في أنباء الأوائل والتوالي – ج 1 / ص 498)

Abdullah bin Abbas berkata: “Apa yang kalian tolak dari sepupu Rasulullah dan menantunya (Sayidina Ali) ? Mereka (Khawarij) menjawab: “Kami menolak Ali karena 3 hal. Pertama, Ali mengangkat juru hukum dalam agama Allah, padahal tidak ada jalan bagi manusia dalam hukum Allah. Kedua, Ali tahu dalam berperang (dengan Aisyah saat perang Jamal), tapi ia tidak memperbudak dan tidak menjarah. Ketiga, Ali menghapus namanya sebagai Amir al-Mukminin (pemimpin umat Islam). Jika ia bukan pemimpin umat Islam, berarti ia pemimpin kaum kafir”.

Ibnu Abbas bertanya: “Masih ada lagi?” Mereka menjawab: “Cukup 3 itu”. Ibnu Abbas bertanya: “Jika aku mengeluarkan dalil dari al-Quran dan Sunah Rasulullah apakah kalian akan kembali kepada Ali?” Mereka menjawab: “Apa yang akan menghalangi kami untuk kembali?”

Ibnu Abbas berkata: “Perkataan kalian bahwa manusia tidak boleh membuat hukum dalam agama Allah, maka aku mendengar Allah berfirman di dalam kitab-Nya: “…Menurut putusan (hukum) dua orang yang adil di antara kamu…” (al-Maidah: 95) dan firman Allah: “Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan…” (al-Nisa’: 35). Apakah aku sudah mengeluarkan dalil?” Mereka menjawab: “Ya”.

“Perkataan kalian: “Ali berperang tetapi tidak memperbudak, sebab ia memerangi ibu kalian. Allah berfirman: “ Istri-istri Nabi adalah ibu-ibu mereka” (al-Ahzab: 6). Jika kalian mengira Aisyah bukan ibu kalian, maka kalian telah kafir. Jika kalian menyangka Aisyah adalah ibu kalian, maka tidak boleh menahannya. Kalian berada dalam 2 kesesatan. Apakah aku sudah mengeluarkan dalil?” Mereka menjawab: “Ya”.

“Perkataan kalian bahwa Ali menghapus namanya dari gelar ‘Pemimpin Umat Islam’, maka aku sampaikan kepada kalian tentang hal itu. Tidak tahukah kalian bahwa saat perjanjian Hudaibiyah Rasulullah Saw menulis perjanjian antara Nabi dan Suhail bin Amr (dari Kafir Quraisy). Nabi bersabda: “Wahai Ali, tulislah ‘Ini adalah keputusan Muhammad Rasulullah’. Kafir Quraisy berkata: “Andai kami tahu engkau adalah utusan Allah, maka kami takkan memerangimu. Tapi tulislah namamu dan nama ayahmu”. Nabi berkata: “Ya Allah, Engkau maha tahu bahwa aku adalah Rasul-Mu”. Lalu Nabi mengambil lembaran itu dan menghapus kalimat Rasulullah dengan tangan beliau. Nabi bersabda: “Wahai Ali, tulislah ‘Ini adalah perjanjian damai oleh Muhammad bin Abdullah’. Demi Allah hal ini tidak mengeluarkannya dari kenabian. Apakah aku sudah mengeluarkan dalil?” Mereka menjawab: “Ya”.

Maka sepertiga dari mereka (2000 orang) kembali, sepertiga lagi membubarkan diri dan Ali memerangi sisa lainnya karena kesesatan”

(al-Hafidz al-Dzahabi, Tarikh al-Islam 1/476, al-Hafidz Ibnu ‘Asakir, Tarikh Dimasyqi, 42/464, Muhib al-Thabari, Riyadl al-Nadlrah 1/292 dan al-Ishami, Simthu al-Nujum 1/498).

Oleh: Ustadz Muhammad Ma’ruf Khozin (PCNU Surabaya)

Tulisan berjudul Dalil Syar’i Menerima Demokrasi dan Pancasila terakhir diperbaharui pada Thursday 11 September 2014 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


2 thoughts on “Dalil Syar’i Menerima Demokrasi dan Pancasila

  1. Bismillaahirrahmaanirrahiim

    bagaimana dengan kakek syeikh al albani?

    disebutkan:
    أبو عبد الرحمن بن الحاج نوح بن نجاتي بن آدم الأشقودري الألباني الأرنؤوطي المعروف باسم محمد ناصر الدين الألباني

    Reply
  2. Assalamu’alaikum Warahmatullahi wabarkatuh

    Allah Subhanahu wata’ala berfirman :
    “Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian,” pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar”. (Al-Baqarah :8-9)

    Kita patut perihatin ketika ada salah seorang yang mengaku sebagai bagian dari kaum muslimin berkata bahwa “hukum agama harus tunduk pada hukum konstitusi”.

    Padahal sama-sama kita ketahui, yang akan menyelamatkan kita dari siksa api neraka bukanlah tunduk pada hukum ataupun undang-undang konstitusi, melainkan tunduk dan patuh terhadap hukum ataupun undang-undang Allah Ta’ala.
    Karena yang menciptakan kita bukanlah mereka yang membuat hukum konstitusi, tapi yang menciptakan kita adalah pencipta alam semesta dan isinya, termasuk kita di dalamnya, yakni Allah Ta’ala.
    Dia-lah yang maha besar, maha segalanya, ketundukan padanya menjadi hal yang utama dibanding dengan ketundukan terhadap apapun di dunia ini.

    Maka, orang yang berkata bahwa hukum konstitusi itu lebih tinggi kedudukannya dibanding dengan hukum Allah Ta’ala, bisa jadi dia adalah orang yang buta mata hatinya.

    Orang seperti ini, adalah orang yang hendak menipu kaum muslimin, seakan-akan dia adalah bagian dari kaum muslimin, tapi hatinya, berada bersama-sama dengan golongan kaum kafir.

    “Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian,” pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar”. (Al-Baqarah :8-9)

    Mobedzan, seorang ahli hukum berkebangsaan persia pernah berkata “ Kerajaan tidak sempurna kemuliaannya kecuali dengan syariat dan memenuhi hak Allah dengan mematuhi-Nya dan bertindak sesuai dengan perintah dan larangan-Nya. “

    Harusnya kita bangga menjadi bagian dari kaum muslimin, dan senantiasa mendakwahkan ajaran islam hingga terwujudnya kehidupan yang islami dalam sistem yang islami pula.
    Bukan malah menampakkan wajah yang bermuka dua. Disatu sisi mengaku sebagai seorang muslim, namun di sisi yang lain, menampakkan ketidaksukaannya kepada ajaran-ajaran islam. inilah orang-orang yang disebut sebagai orang munafik dalam hal akidah Dan neraka adalah tempat kembalinya. Naudzubillah

    Syariat islam adalah syariat yang mulia, dia akan senantiasa membawa keberkahan kepada siapa saja dan dimana saja dia diterapkan, inilah janji Allah Ta’ala yang termaktub dalam firmannya surat Al-Araaf ayat 96 :

    Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi,

    Dalam Kitabul Iman karya Abdullah al Wazaf, beliau menuliskan kalimat yang begitu “telak” bagi mereka yang mengaku muslim namun menolak terhadap syariat Allah. Bahwasannya “Hanya orang-orang muslim yang bodohlah yang ingin menyia-nyiakan syariat Tuhan dan menggantikannya dengan undang-undang manusia”.

    Dengan demikian, maka seseorang cukup dikatakan sebagai orang yang jahil tatkala dia mengaku sebagai seorang muslim namun menolak syariat islam diterapkan di negerinya. Dan cukup dikatakan orang itu jahil, apabila membela mati-matian undang-undang buatan manusia. karena sesungguhnya undang-undang Allah adalah yang mulia lagi membawa rahmat keseluruh alam.

    “Apakah hukum jahiliyah yang mereka cari? Dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada [hukum] Allah bagi orang-orang yang yakin.” (QS. Al-Ma’idah: 50)

    Reply

Post Comment