Syariat Mengadzani Telinga Bayi Baru Lahir

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Akhir-akhir ini ada segelintir orang/ kalangan yang menyatakan bahwa mengadzankan bayi yang baru lahir itu merupakan perbuatan bid’ah dan hadits yang menjelaskannya adalah hadits dhoif, benarkah demikian? Berikut ini kami sampaikan tanya jawab berasama Habibana Munzir Almusawa yang tersaji dalam website Majelis Rasulullah.

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Kelembutan & Kasih sayang-NYA semoga menaungi Segala Aktifitas Habibana dan Sekeluarga dengan penuh kedamaian. Sehubungan dengan email yang telah saya dapati perihal tentang sebuah hadits yang amalannya sangat populer dikalangan masyarakat kita yaitu:

“Aku melihat Rasulullah mengumandangkan adzan di telinga Al-Hasan bin Ali dengan adzan shalat ketika Fathimah Radhiyallahu ‘anha melahirkannya .”

Yang pada akhirnya salah satu Majalah/ golongan tersebut melahirkan pemahamannya dan kesimpulannya bahwa:

Hadist tentang Syarat Adzan pada telinga bayi yang baru lahir merupakan Hadist yang Mengutarakan Riwayat Derajat Kedho’ifan. Perkara / Syari’at / amalan tersebut adalah termasuk dalam Katagori Ibadah Bid’ah. Oleh karena itu, mohon bantuan Habibana untuk bisa memaparkan dan menanggapi perihal pernyataan daripada pemahaman tersebut.

Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Alfaqir

Jawaban Habib Munzir bin Fuad Al Musawa:

Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Kesejukan kasih sayang Nya semoga selalu menerangi hari hari anda dg kebahagiaan,

Saudaraku yg kumuliakan,
mengenai asal muasal permasalahan, adalah adzan dan iqamah, dan kedua hal ini boleh saja dilakukan kapanpun dan bukan hanya diwaktu shalat, bahkan Rasul saw menjadikan adzan sebagai sarana untuk memanggil sahabat agar datang berkumpul jika ada pengumuman.

Mengenai riwayat tsb dijelaskan oleh Imam Hakim dalam Mustadrak ala shahihain bahwa Rasul saw mengazankan ditelinga Husein ketika dilahirkan oleh Fathimah ra. berkata Imam Hakim bahwa hadits ini shahih dan memenuhi persyaratan Bukhari dan Muslim namun mereka tak menampilkannya.

Imam Tirmidziy menjelaskan bahwa hadits ini hasan shahih. Demikian pula diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud dan menshahihkannya. Demikian pula dijelaskan oleh Al Imam Assyaukani dalam kitabnya Naylul Awtar, bahwa hadits itu shahih. Dan dijelaskan pada arsip perpaduan ahlul hadits, bahwa hadits tersebut ada yang mendhoifkan dan ada yang menshahihkan maka hukumnya hasan, boleh dijadikan hujjah.

Apalagi jika diperkuat oleh Hujjatul Islam Al Imam Nawawi, Hujjatul Islam Al Imam Assyaukaniy, Al Imam Tirmidziy, Al Imam Ahmad, dll.

Mengenai Albani (yakni ulama Wahabi Nashiruddin al-Albani), dia bukan seorang pakar hadits, hanya menukil-nukil dari sisa hadits yang ada, ia tak mencapai derajat Al Hafidh (hafal 100.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya), ia tak pula mencapai derajat Hujjatul Islam (hafal 300.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya, namun ia hanya menukil-nukil dan menyambung-nyambungkan sana sini lalu berfatwa, maka fatwanya batil, dan hukum yang ia keluarkan mardud (tertolak), dan mengikutinya adalah dhalal (sesat).

Karena hadits-hadits yang ada masa kini sudah sangat sedikit, sebagaimana Imam Ahmad bin Hanbal hafal 1 juta hadits berikut sanad dan hukum matannya (rujuk Tadzkiratul Huffadh dll). Namun Imam Ahmad hanya sempat menulis sekitar 20 ribu hadits dalam musnadnya, maka 980.000 hadits itu sirna tak sempat tertuliskan, demikian pula imam imam lainnya.

Setelah 90% hadits yang ada dimasa itu sirna, tinggallah semua hadits yg ada masa kini tak mencapai 80 ribu hadits, maka seorang penukil mengorek ngorek sisa sisa dari 10% hadits itu dan berkata: hadits ini mungkar, hadits ini dusta, hadits ini palsu..!

Apakah anda akan dengar fatwanya?, bagaimana jika hadits itu justru shahih riwayat Imam Bukhari atau Imam Muslim atau imam lainnya namun tak sempat mereka tuliskan dimasanya. Lalu si manusia satu ini mengatakan bahwa hadits itu dusta..?

Padahal Rasul saw bersabda: “Barangsiapa yang berdusta atas ucapanku maka ia mengambil tempatnya di neraka” (shahih Bukhari)

Dan Rasul saw bersabda: “Sejahat jahat dosa muslim pada muslim lainnya pada ummat ini adalah orang yg mempermasalahkan hal yang halal, lalu menjadi haram sebab ia mempermasalahkannya.” (Shahih Muslim)

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,

Wallahu a’lam.

Tulisan berjudul Syariat Mengadzani Telinga Bayi Baru Lahir terakhir diperbaharui pada Thursday 11 September 2014 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment