Ustadz Fariz Khoirul Anam: Tidak Ada yang Baru Dalam Konsep Bid’ah

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Ratusan tahun lalu, ulama sudah membahas pengertian atau konsep bid’ah. Menelusuri kitab-kitab mereka, sebenarnya tidak ada hal baru dalam hal ini. Lalu, mengapa bid’ah – tidak bid’ah masih ramai diperdebatkan sampai sekarang? Karena dalam peletakan atau konsep bid’ah itu sendiri, terdapat perbedaan pendapat di antara para cerdik pandai. Padahal itulah “payung hukum” atas hal-hal baru yang dilakukan umat Islam sepanjang zaman.

Setidaknya ada dua kelompok ulama. Pertama, mayoritas ulama yang membagi bid’ah menjadi dua, yaitu hasanah (baik) dan sayyi-ah (jelek), bahkan membagi menjadi lima, yaitu bid’ah wajib, sunnah, makruh, haram, dan mubah. Kedua, minoritas ulama yang tidak membagi bid’ah, yakni bahwa semua bid’ah itu madzmumah (tercela atau jelek).

Oleh karena ada dua standar dalam mengidentifikasi suatu kasus baru, maka biasanya ada dua kesimpulan hukum pula terhadap kasus itu. Satu pihak mengatakan itu dhalalah, pihak lain menyatakan itu bid’ah hasanah. Maka sebenarnya, yang diperdebatkan sampai saat ini adalah contoh-contoh parsial, apakah suatu kasus itu masuk kategori bid’ah atau bukan. Adapun dalam konsep dan pengertian bid’ah -sekali lagi- tidak ada hal baru, alias “sudah selesai”.

Secara eksplisit, mayoritas ulama menegaskan bid’ah itu sebagai “perilaku”, bukan “hukum”. Nabi tidak pernah mengatakan, “Perbuatan ini hukumnya bid’ah.” Hukum bagi mukallaf (hukm taklifi) itu hanya ada lima: wajib, sunnah, makruh, haram, mubah. Memang ada yang membedakan antara wajib dengan fardhu, sunnah dengan nadb atau nafl, makruh dengan khilaful aula, dan seterusnya. Tapi intinya semua kembali pada lima hukum taklifi itu. Dan tidak ada hukum keenam: bid’ah.

Dan, selagi bid’ah itu merupakan perilaku, maka dapat dihukumi dengan salah satu dari lima hukum taklifi itu. Hukum itu khithabullah al-muta’alliq bi af’al al-mukallafin (titah Allah yang berkaitan dengan perilaku-perilaku mukallaf). Jadi, yang dihukumi itu memang perilaku, termasuk perilaku bid’ah. Bukan menjadikan bid’ah sebagai hukum.

Maka beberapa ulama, seperti Imam Ibnu Abidin yang bermadzhab Hanafi (w. 1252 H), Imam al-Qarafi yang bermadzhab Maliki (w. 684 H), dan Shulthanul Ulama Izzuddin Abdussalam yang bermadzhab Syafi’i (w. 660 H), membagi bid’ah menjadi lima, sesuai kategori hukum taklifi itu.

Sementara jumhur ulama Madzhab Syafi’i, Hanbali, kebanyakan mutaakhkhirin Madzhab Maliki membaginya menjadi dua, karena wajib dan sunnah itu hasanah, sedangkan haram dan makruh itu identik dengan sayyi-ah atau madzmumah.

Klasifikasi bid’ah jadi dua bahkan lima itu warisan pusaka jumhur ulama.

Wallahu a’lam.

Oleh: Ustadz Fariz Khoirul Anam, Lc., M.H.I dari Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, dan dipresentasikan saat Pelatihan Ahlussunnah Wal-Jama’ah dan ke-NU-an guru-guru PC LP Ma’arif Kabupaten Pasuruan di Kantor PCNU Pasuruan, Selasa (16/9/2014).

[Bagan diambil dari Kitab al-Bid’ah al-Mahmudah wa al-Bid’ah al-Idhafiyah, karya Syaikh Abdul Fattah Shalih Qudaisy al-Yafi’i]

Tulisan berjudul Ustadz Fariz Khoirul Anam: Tidak Ada yang Baru Dalam Konsep Bid’ah terakhir diperbaharui pada Thursday 18 September 2014 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


2 thoughts on “Ustadz Fariz Khoirul Anam: Tidak Ada yang Baru Dalam Konsep Bid’ah

  1. klo dalam cara hidup mah boleh2 ajah, kayak pake motor ke mesjid, pake sandal cap cibaduyut ke kondangan, pake sarung kayak bencong kaki lima monggo, yang tidak boleh bidah yang nambah2 ritual peribadatan baru kaya, kumpul2 sing penting mangan,,, hehehe

    Reply

Post Comment