Makna dan Refleksi Perjalanan Hijrah Rasulullah SAW

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Ada dua makna hijrah. Hijrah dalam arti secara dzahir yakni perjalanan antara Makkah ke Madinah dan telah terputus, Nabi bersabda:

لاَ هِجْرَةَ وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ ، وَإِذَا اسْتُنْفِرْتُمْ فَانْفِرُوا (رواه البخارى)

“Tidak ada [kewajiban] hijrah setelah penaklukan kota Makkah, tetapi jihad dan niat. Jika kalian diperintah berangkat perang [oleh imam] maka berangkatlah” (Hadits Riwayat Imam al-Bukhari).

Dan hijrah secara perbuatan yakni meninggalkan dari yang buruk kepada yang baik, tetap berlangsung. Nabi bersabda:

وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ (رواه البخارى)

“[Hakikat] orang yang hijrah adalah orang yang meninggalkan larangan Allah” (Hadits Riwayat Imam al-Bukhari).

Setidaknya ada tiga makna refleksi hijrah yang menggambarkan betapa beratnya perjalanan hijrah Rasulullah SAW. Pertama, karena Rasulullah mencintai Makkah dan tidak ingin meninggalkannya andai tidak diusir dari Makkah:

وَاللَّهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ وَلَوْلاَ أَنِّى أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ (رواه الترمذى)

“Demi Allah, engkau (Makkah) adalah sebaik-baik bumi Allah dan tanah yang paling dicintai Allah. Anda aku tidak dikeluarkan darimu maka aku tak kan meninggalkan Makkah” (Hadits Riwayat Imam at-Turmudzi, hasan sahih)

Kedua, selama perjalanan ke Madinah, Rasulullah dikejar-kejar oleh kaum Quraisy untuk ditangkap atau dibunuh, selama berhari-hari (Tarikh Nurul Yaqin).

Ketiga, sampai di Yatsrib (Madinah), ternyata sebagian sahabat ada yang berkeluh karena Madinah banyak wabah penyakitnya:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ وَهْىَ وَبِيئَةٌ فَاشْتَكَى أَبُو بَكْرٍ وَاشْتَكَى بِلاَلٌ فَلَمَّا رَأَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- شَكْوَى أَصْحَابِهِ قَالَ « اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَمَا حَبَّبْتَ مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ وَصَحِّحْهَا وَبَارِكْ لَنَا فِى صَاعِهَا وَمُدِّهَا وَحَوِّلْ حُمَّاهَا إِلَى الْجُحْفَةِ ». (رواه مسلم)

“Dari Aisyah, ia berkata: Kami tiba di Madinah, disana banyak wabah. Abu Bakar berkeluh, juga Bilal. Ketika Rasulullah melihat keluhan para sahabatnya, Nabi berdoa: “Ya Allah, jadikan kami mencintai Madinah seperti Engkau membuat kami cinta kepada Makkah, atau melebihi Makkah. Jadikan Madinah kota yang sehat. Berkati kami dalam alat timbang Madinah. Pindahkan wabah panasnya ke kota Juhfah” (Hadits Riwayat Imam al-Muslim).

Dengan demikian, rintangan perjuangan boleh jadi bertumpuk-tumpuk di depan begitu dahsyat, Namun Rasulullah SAW sukses melewatinya karena bersandar kepada Allah. Kini kita tinggal menikmati Islam….

Oleh: Ustadz Muhammad Ma’ruf Khozin, PCNU Surabaya.

Tulisan berjudul Makna dan Refleksi Perjalanan Hijrah Rasulullah SAW terakhir diperbaharui pada Saturday 25 October 2014 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment