Mengenal Hakikat Pemahaman Dakwah dan Beragama yang Lurus Habib Umar bin Hafidz

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Moderat bukan sekadar bersikap lunak atau sekadar bersikap proporsional dalam berinteraksi dengan kelompok-kelompok lain. Pengertian moderat lebih luas dari itu.

Dari berbagai penuturannya dalam berdakwah, orang mengenal Habib Umar bin Hafizh sebagai ulama yang moderat. Dalam kitabnya, Qubsatunnur, Habib Abubakar Al-Adni bin Ali Al-Masyhur menggambarkan sosoknya dengan mengatakan,

“Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh, yang, dengannya dan dengan semangatnya, Allah menjaga ruh dakwah dan sirr thariqah yang berkah ini, terutama pada episode gelap dalam sejarah Hadhramaut. Para pengikut manhaj salaf bersatu di sekelilingnya. Melalui dakwahnya, hakikat pemahaman yang sempurna akan kemuliaan dakwah dan dalam mengikuti metode salafush shalih tertanam dengan kuat pada generasi masa kini. Ia telah mengembalikan cahaya kemilau madrasah Hadhramaut di berbagai bidang.”

Seperti biasa, di bulan Muharram, ulama kecintaan jutaan umat ini datang ke Indonesia, diantaranya untuk menghadiri peringatan Haul Syaikh Abu Bakar bin Salim di daerah Cidodol, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, yang tahun ini akan jatuh pada tanggal 16 November 2014. Dan juga menghadiri Majelis Akbar Majelis Rasulullah SAW Tanggal 17 November 2014. Beliau juga dijadwalkan akan menghadiri Multaqa Ulama Nasional dan Tabligh Akbar di Solo.

Menyambut kehadirannya yang tak berapa lama lagi, kali ini kami suguhkan dihadapan pembaca pandangannya tentang kemoderatan dalam Islam, sebagaimana yang ia ungkap dalam kitabnya, Al-Wasathiyah fil Islam:

“Moderat bukan sekadar bersikap lunak atau sekadar bersikap proporsional dalam berinteraksi dengan kelompok-kelompok lain. Pengertian moderat lebih luas dari itu. Moderatisme harus ditempatkan sebagai sebuah pemahaman yang benar terhadap hakikat syari’at dalam setiap kedudukannya. Ia merupakan hakikat dari petunjuk-petunjuk Ilahiyah yang telah diterima Rasulullah SAW dari Tuhannya, yang kemudian diamanatkannya untuk disampaikan kepada segenap manusia.

Tidaklah kemaslahatan itu terlepas dari risalah syari’at yang dibawa Rasulullah SAW, baik kemaslahatan di Barat maupun di Timur, bagi orang Arab maupun non-Arab, Eropa, Australia, Amerika, ataupun Afrika. Syari’at Rasulullah SAW memuat semua apa yang dibutuhkan oleh semua orang dari mereka, tanpa kecuali, dengan segala pola pikir mereka yang berbeda-beda.

Dengan demikian, keteguhan seseorang terhadap agamanya, kedalamannya dalam memahami agamanya, serta upayanya untuk mengamalkan ajaran-ajaran agamanya, merupakan gambaran dari hakikat kemoderatan dan perilaku beragama yang lurus. Pemahaman yang buruk dan ekstrem berada di luar jalan yang lurus dan moderat, demikian pula sikap lalai dan ceroboh, tidak peduli dengan hukum-hukum Tuhan, Yang Mahabenar. Sehingga, sikap moderat harus terlepas dari dua kutub yang sama-sama tercela, yaitu sikap ekstrem dan keterlaluan atau sikap lalai dan ceroboh. Bila kemoderatan hilang, hilang pulalah pemahaman yang benar terhadap hakikat-hakikat agama.”

Masih banyak lagi kalimat yang menarik yang ia ungkapkan untuk memperkuat penjelasannya akan makna moderat.

Dan Habib Umar bin Hafizh adalah ulama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kelembutan dan keluhuran Nabi Besar Muhammad SAW sebagai contoh tauladan di dalam menerapkan sistem dakwah moderatisme pemimpin umat saat ini. (RajaSanubari)

Tulisan berjudul Mengenal Hakikat Pemahaman Dakwah dan Beragama yang Lurus Habib Umar bin Hafidz terakhir diperbaharui pada Friday 31 October 2014 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment