Arahan Habib Ahmad bin Novel bin Jindan Menyambut Kedatangan Habib Umar bin Hafidz

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Arahan Al Habib Ahmad bin Novel bin Jindan untuk segenap sahabatnya:

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين و الصلاة و السلام على رسول الله و آله و صحبه و من والاه أما بعد

Sahabat-sahabatku yang aku cinta dan yang dirahmati Allah..!

Hari senin InsyaAllah kita akan berkumpul di Monas untuk bermunajat kepada Allah dan mengharap keridhaan Allah, untuk memancing karunia dan pertolongan Allah SWT. Ketika kita berkumpul bersama para kekasih, orang-orang yang dimuliakan Allah SWT yaitu dengan kehadiran Guru kita Ad-Dai ilAllah Al-Alamah Al-Arif Billah Syeikhuna Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz.

Semoga Allah berikan kemudahan untuk kedatangan Beliau dan mudah-mudahan kita semua mendapatkan keberkahan yang besar dari Allah dengan kehadiran Beliau. Demikian juga untuk acara yang akan kita hadiri di kediaman orang tua kita Ad-DailAllah AlHabib Muchsin bin Idrus Al Hamid dalam acara Haul Al-Arif Billah Al-Qutub Fakhrul Wujud Sayyiduna Syaikhuna Abi Bakar bin Salim. Sebagaimana acara agung di Al Fachriyah Sayyidil Walid Al Habib Novel bin Salim bin Jindan yang akan diadakan sore hari Ahad selepas haul Asy-Syeikh Abu Bakar bin Salim.

Ketika kita menghadiri acara-acara yang dihadiri para aulia Allah, kita pasang niat yang bagus, karena disaat-saat semacam itu doa-doa diijabah oleh Allah SWT, semua harapan dikabulkan oleh Allah SWT. Sebab diperkumpulan semacam itu, doa-doa kita disampaikan oleh para Malaikat kepada Allah SWT. Malaikat memberikan laporan kepada Allah, “Ya Rabb, fulan hadir, Ya Rabb fulan berdoa memohon kepadaMU dimasukkan ke dalam surga, dijauhkan dari neraka, dan ia mempunyai hajat ini – itu “.

Minta kepada Allah, “Ya Rabb, saya mau menyenangkan hati Nabi Muhammad SAW”.

Minta sama Allah, “Ya Rabb, saya mau menjadi orang yang bertaqwa“.

Minta sama Allah, “Ya Rabb, saya mau mengikuti sunnah-sunnah Nabi Muhammad SAW“.

Saya lemah, saya manusia yang banyak salah, minta kepada Allah.

“Ya Rabb, saya ingin jauh dari maksiat“.

“Ya Rabb, saya ingin istiqomah“.

“Ya Rabb, saya ingin menjadi orang yang KAU sayangi“.

“Ya Rabb, saya ingin mengenal penghambaan kepada MU“.

Minta kepada Allah, “Ya Rabb, jadikan anak-anak saya orang-orang yang taqwa yang bisa dibanggakan di dunia dan akhirat“.

Dahulukan permintaan urusan akhirat dibandingkan urusan dunia karena urusan akhirat jauh lebih penting, kebutuhan dunia yang diminta atau yang tidak minta pasti diberikan oleh Allah SWT. Tapi kalau urusan akhirat harus minta kepada Allah “Ya Rabb, saya ingin Khusnul Khotimah“.

Ini saatnya minta kepada Allah, kita minta kepada Allah SWT agar masuk surga bersama Nabi Muhammad SAW. Kalau lihat diri kita, sungguh tidak pantas kita masuk surga, kita tahu diri bahwa diri kita banyak kurang, banyak maksiat, namun kita hanya bisa berharap dan inilah saatnya.

Al Habib Ali bin Hasan Al Athos berkata Mudah-mudahan bersama kelompok yang besar ini hajat-hajat kita dikabulkan Allah SWT.

Kita meminta kepada Allah, kemudian yang lebih penting dari itu semua, kita minta untuk urusan kaum muslimin. Saat ini kalau kita melihat, keadaan kaum muslimin sangat berat. Musibah dimana-mana, bala menimpa kaum muslimin di berbagai tempat, darah kaum muslimin sudah tidak ada harganya lagi.

Penyebabnya kadang dari kaum muslimin yang berpaling dari ajaran Allah, yang satu sama lain saling mendengki mengatas namakan agama, saling membunuh mengatas namakan agama, yang ini saling membenci, yang ini saling bertempur, yang ini saling menumpahkan darah yang lain atas nama Laa ilaa haillAllah…

Yang bertepuk tangan bahagia adalah mereka musuh-musuh Allah, sementara kita dihancurkan dari dalam.

Yang bisa menyatukan kita hanya Allah, yang bisa mendamaikan kita hanya Allah, kita minta kepada Allah, kita pasang niat. kalau kita mendoakan keadaan kaum muslimin, maka urusan kitapun akan didahulukan oleh Allah SWT, jangan takut.

Kita meminta kepada Allah, khususnya dalam pertemuan perkumpulan sebesar ini berkat Syech Abu Bakar Bin Salim, berkatnya para Aulia Allah SWT.

Minta (keringangan), keadaan kita sudah sangat berat

Minta (keringanan), keadaan umat Islam sudah sangat berat.

Kita masih terjaga hingga saat ini, tidak lain karena berkat Nabi Muhammad SAW.

Ya Rabb, mudah-mudahan.. Jika Allah mau mengubah, sangat mudah bagi Allah. kalau Allah ingin memperbaiki dengan cara yang tidak kita tahu, niscaya akan berubah menjadi lebih baik.

Siapa yang tahu ?.

Muda-mudahan berkat kedatangan mereka para ulama, para sholihin di negeri kita. Keadaan negeri kita menjadi lebih baik oleh Allah SWT. Pasang niat kita yang bagus, harapan kita kepada Allah SWT. Kemudian juga apa yang kita dengar dari nasehat, himbauan dan arahan mereka, kita catat dan kita jadikan pedoman kehidupan kita sampai kita meninggal dunia.

Atas sebab kedatangan mereka, insyaAllah membawa rahmat dan kemenangan besar bagi umat Islam. Tapi arahan mereka adalah penyebab turunnya rahmat dari Allah. Nasehat mereka yang kita jalankan adalah penyebab utama turunnya rahmat dan diampuni segala dosa-dosa kita oleh Allah SWT.

Jalankan nasehat mereka sebaik-baiknya, jadikan nasehat mereka sebagai pedoman dalam kehidupan kita. Mudah-mudahan Allah bimbing kita ke jalan yang diridhoi-NYA, dan Allah berikan kemudahan bagi kita sekalian, Allah berikan kemudahan, Allah berikan rahmat, Allah kabulkan semua hajat kita.

Mudah-mudahan mereka (para ulama, wali, dan sholihin) gembira melihat keadaan kita yang mengikuti ajaran Nabi Besar Muhammad SAW..

Amin Ya Robbal ‘Alamin..

Ttd.
Sahabatmu yang selalu mencintaimu

Ahmad bin Novel bin Salim bin Jindan
Ibn Asy Syeikh Abi Bakar bin Salim

22 Muharram 1436 H

Tulisan berjudul Arahan Habib Ahmad bin Novel bin Jindan Menyambut Kedatangan Habib Umar bin Hafidz terakhir diperbaharui pada Saturday 15 November 2014 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


One thought on “Arahan Habib Ahmad bin Novel bin Jindan Menyambut Kedatangan Habib Umar bin Hafidz

  1. Assalamu’alaikum wr.wb…
    Buya saya mau tanya, saya sdh menikah, usia pernikahan kami sudah memasuki 10 bulan, Alhamdulillah pernikahan kami tidak melalui pacaran, saya mau diajak menikah karena suami saya itu agamanya cukup baik, karena semasa SMA menurut teman2nya dia aktif dalam kegiatan keagamaan, mengngajinya pun bagus, akan tetapi dimasa itu saya dan suami seringkali bertengkar buya, karena masalah EKONOMI, karena diawal pernikahan suami saya tidak bercerita klo dia menikahi saya, uangnya dapet berhutang, saya tahunya pas qt sdh SAH menjadi suami istri, setiap suami saya memberikan nafkah saya merasakan kesedihan buya, karena uang gajinya slalu u/ membayar hutangnya, palig saya menerima sisanya prnh 50rb, 100rb, 200rb/blnnya, itu pun setiap harinya suami saya kadang meminta u/ sangku dia kerja, kebetulan saya juga bekerja jadi bisa memenuhi kebutuhan saya sndiri, tapi klo pengeluaran lagi besar tidak mencukupi, bahkan saya harus behutang lagi,disitulah kadang saya sering marah, padahal saya sdh berusaha sabar buya u/ qonaah tapi saya wanita biasa buya, buya tolong pencerahannya, apakah hutang suami saya itu kewajiban saya u/membayarnya? bolehkah suami saya membayar hutangnya dari nafkah yang seharusnya itu diberikan ke istri? dan bagaimana sikap saya yang terkadang suka marah, dan menyakiti perasaanya, karena batas kesabaran saya juga sdh habis buya? dan apakah suami saya itu sudah memenuhi kewajibannya sebagai suami bagaimana hukumnya? mohon penjelasannya buya, terima kasih Wassalamu’alaikum Wr.Wb

    Reply

Post Comment