Mengenal Hizbut Tahrir Indonesia dan Jargon Khilafah

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Baiklah, aku mulai hestek #HTI & #khilafah dengan quote-nya Mas Yahya Cholil @Staquf: “Keberagaman itulah yang menumbuhkan peradaban.”

Dalam pribadi sebagai muslim, aku memastikan keberagamaan TIDAK harus dikasih embel² kata ISLAM; #khilafah islamiyah, contohnya.

Sudah maklum di telinga orang bahwa #HTI adalah penyeru Syariat Islam. Sebagai muslim, ini seruan yang suci sekali.

Sialnya, dalam menyerukan hal ini #HTI memilih jalan yang salah: memprovokasi masyarakat agar ‘benci’ dengan penguasa.

Bahwa Hizbut Tahrir pernah melakukan kudeta #coup, ini sudah dicatat dalam sejarah!!!

Setidaknya: tahun 1969 Hizbut Tahrir mencoba kudeta di Yordania, 1973 di Mesir, 1972 di Iraq.

Pernah juga di Tunisia, Aljazair, dan Sudan. Sangat resmi mereka umumkan kudeta ini di media massa. #HTI #khilafah

Kehendak Gusti Allah, semua #coup yang diusung Hizbut Tahrir ini gagal semua.

Metode yang sering dipakai Hizbut Tahrir untuk #coup: 1. Membuat opini buruk tentang pemerintah yang berkuasa, 2. Menyebarkannya #HTI dengan mengkritik pemerintah itu bukan semata² kritik (baca: menasehati), namun biar masyarakat tahu keburukannya saja.

Dan kalau #HTI berdemonstrasi, itu bukan (lagi) semata-mata untuk berunjuk rasa (baca: menasehati) pemerintah, namun biar orang ikut saja.

Dalam satu level saja, sangat dilarang untuk saling mengetahui identitas anggota²-nya. Jika tertangkap, tidak akan membongkarnya.

Ada 3 macam level dalam #HTI: 1. Lajnah Mahaliyah, 2. Lajnah Al-Wilayah, dan 3. Lajnah Al-Qiyadah.

Kesimpulan: #HTI dan Hizbut Tahrir itu bukan tanpa persiapan, melainkan dengan persiapan yang lama dan harus matang!

Dulu, saat menyusun kudeta di Yordania, #HizbutTahrir sampai mengklaim setiap rumah orang Yordan pasti ada satu anggota #HizbutTahrir!

Sekarang kita tarik hadist Kanjeng Nabi!

Jika ada penguasa yang tidak berpegang pada petunjuk Nabi, “Hendaknya kamu tetap mentaatinya, walau punggungmu dicambuk!” [HR. Muslim]

Jka ada penguasa yang buruk dan kalian benci, Rasul bersabda: “Bencilah perbuatannya, jangan meninggalkan taat padanya!” [HR. Muslim]

Hidup secara Islam yang Kaffah, itu tujuan yang sangat mulia. Namun tidak harus segala hal ‘harus islami’ adanya.

Semisal: jika ada pemerintahan yang bobrok, jangan lantas alasannya adalah kurang islami. Kalau ekonomi buruk, bukan karena ia tidak islami.

Atau: Kalau ada pemerintahan yang marak dengan korupsi, jangan lantas bilang karena negaranya tidak islami. (Potong tangan)

Coba lihat khalifah agung yang empat itu: dari Abu Bakar sampai Imam Ali, hanya satu saja yang meninggal dengan wajar.

Coba lihat Khalifah Umar, Khalifah Utsman, dan Imam Ali, ketiganya wafat terbunuh. Kurang apa kewibawaan beliau² ini?

Aku kira, cukuplah beliau-beliau saja yang menjadi korban realita politik. Meskipun mereka adalah sahabat Nabi paling baik.

Bagaimana #khilafah dari kacamata para ulama madzhab?

Dari Imam Syafi’i, Imam Ahmad ibn Hanbal, Imam Sufyan Al-Tsauri, menyebutkan hanya ada 5 figur khalifah; 4 Khalifah dan Umar ibn Abd Al-Aziz

4 Khalifah tadi adalah: Abu Bakar, Umar, Usman, dan Imam Ali.

Jika ada yang meniadakan Umar ibn Abd Al-Aziz, dan menggantinya dg Imam Hasan ibn Imam Ali, ia adalah Al-Qari & Imam Al-Munawi.

Benar, Muawiyah tidak pernah menyebut dirinya sebagai khalifah, #khilafah, namun RAJA. Kenapa aktivis pro #khilafah memaksa?

Muawiyah saja tidak pernah mengatakan dirinya sebagai khalifah, tapi RAJA. Seperti panggilan Sa’ad ibn Abi Waqqash kepada Muawiyah.

Hal ini tidak lain karena Taqiyudin Al-Nabhani, pendiri #HizbutTahrir, berkata: mengangkat khilafah ada kewajiban mutlak!

Kesimpulannya: tidak ada imam dan kutub yang mu’tabarah yang menyatakan mendirikan khilafah adalah kewajiban. SAMA SEKALI TIDAK ADA!

Saat buka² laman #HTI, aku kaget; ternyata saudara kita ini menyebut KH. Wahab Hasbullah (NU) sebagai inspirator Konferensi Khilafah.

Gak percaya? Ane sokin aja lah link-ya: http://t.co/8y981Aqi8G / http://hizbut-tahrir.or.id/2010/08/20/kh-abdul-wahab-hasbullah-inisiator-konferensi-khilafah/

Embrio NU adalah Komite Hijaz. Dan NU jelas ada kaitannya dengan Sarekat Islam. Kemudian, Central Comite Islam (CCI) juga.

Tahun 1921 (NU belum lahir) di Cirebon diadakan Kongres Al-Isman untuk kali pertama. Dipimpin HOS Tjokroaminoto.

FYI: pada masa-masa itu, terjadi ketegangan antara kelompok modernis dan tradisional (NU). Dalan kongres itu, keduanya berdebat!.

Aku tegaskan: KONGRES INI MEMBAHAS KHILAFIYAH, BUKAN KHILAFAH!!!

Simbah KH. Wahab Hasbullah hadir dalam Kongres itu. Beliau menunjuk² Muhammadiyah hendak membuat madzhab sendiri.

Muhammadiyah & Al-Irsyad (kelompok modernis), tak kalah menunjuk² NU sebagai ‘biang kerok’ khurafat di #INDONESIA.

Kongres tidak mencapai mufakat. Akhirnya membentuk CCI. Dan setahun kemudian, tahun 1922, di Garut, digelar Kongres yang kedua.

Kongres CCI memiliki kisah yang sama dengan Kongres yang pertama; tidak mencapai mufakat. Kemudian tahun 1924 CCI menjadi CCC.

CCC adalah kepanjangan dari Central Comitte Chilafah. Tujuannya berbeda jauh dengan CCI. Wakil CCC adalah W. Wondosoedirdjo, dari SI.

Desember 1924, CCC mengadakan Kongres Islam di Surabaja. Keputusan Kongres akan dibawa ke Kairo, Muktamar Dunia Islam.

Utusan yang dikirim ke Mesir adalah KH. Fahrudin (Muhammadiyah), Soerjopranoto dan HOS Tjokroaminoto (SI), dan KH. Wahab Hasbullah

NU belum lahir, dan KH. Wahab Hasbullah jadi delegasi atas nama Ketua Perkumpulan Agama Surabaja.

FYI: Muktamar Dunia Islam yang digelar di Mesir ini atas permintaan ulama Al-Azhar atas ribut²-nya Jazirah Arab.

Keributan ini terjadi di Saudi (Arab Saudi), Raja Hijaz (Syarif Husein dan Syarif Ali, dan gentingnya kekhalifan Turki (Muhammad VI).

Mufakat lagi-lagi belum tercapai di Mesir. Alih-alih jadi hadir, delegasi #INDONESIA pun tidak datang kesana.

Sialnya di Jazirah Arab ribut lagi; ada kabar bahwa di sana marak larangan² bermadzhab. Ziarah dan manakiban pun dilarang².

Setahuku kejadian ini terjadi karena Ibnu Saud memenangkan perebutan kekuasaan dari tangan Syarif Ali (Raja Hijaz).

Di #INDONESIA, CCC mengadakan Kongres lagi. Kali ini di Djogjakarta, pada tahun 1925. Dipimpim W. Wondoamiseno.

KH. Wahab Hasbullah mengusulkan, dalam kongres itu, agar delegasi Muktamar Alam Islami di Mekah nanti membahas ‘madzhab’.

Benar. KH. Wahab Hasbullah memang agak memaksa agar delegasi CCC ke Mekah nantinya mendesak Raja Ibnu Saud untuk membebaskan bermadzhab.

Tahun 1926, undangan Muktamar yang dinanti-nanti pun datang dari Mekah, Raja Ibnu Saud. Diadakan bulan Juni 1926.

Dari analisaku, saat KH. Wahab Hasbullah tidak hadir sebelumnya pada kongres CCC di Bandung, anggota CCC kebanyakan didominasi modernis.

Karena modernis inilah, keputusan CCC yang nantinya dibawa ke Mekah sangat memuluskan kebijakan Raja Ibnu Saud untuk melarang bermadzhab.

Kongres di Bandung KH Wahab tidak hadir. Tahun 1926 Komiter Hijaz mengundang para ulama untuk berkumpul dan nanti dikirim ke Mekah.

Dalam pertemuan ini, sekali lagi, KH. Wahab mengutarakan misinya, sekaligus keluar secara resmi dari CCC. Dan lahirlah Nahdlatul Ulama (NU).

NU pun sebagai organisasi dan mengutus para ulamanya (termasuk KH. Raden Asnawi Kudus) untuk ke Mekah.

Sekali lagi aku tegaskan, meski CCC sepakat dg Ibnu Saud, dan misinya tentang #khilafah, NU punya misi dan tujuan lain.

Tujuan itu, tidak lain dan tidak bukan, adalah agar Raja Ibnu Saud tetap memperbolehkan umat muslim untuk bermadzhab!!!

Kemenangan Raja Saud atas kekuasaan Syarif Ali ini bisa dibilang pemicu lahirnya NU. Meskipun maksud KH Wahab sudah jauh lebih dulu.

Kalau #HTI berkata (baca: klaim) bahwa KH. Wahab Hasbullah ada inspirator Konferensi #khilafah, aku berani bertaruh: SALAH BESAR!!!

Tahun 1926 KH. Wahab keluar dari CCC, dan bersama Hadlratus Syaikh Hasyim Asy’ari Basyaiban mendirikan NU.

Bersama CCC datang ke Mekah, dengan didampingi KH. Raden Asnawi Kudus, KH. Wahab memiliki misi sendiri: MISI KE-NU-AN. Bukan misi CCC.

Kalau KH. Wahab Hasbullah hadir dalam Konferensi di Mekah, itu bersama misi #khilafah yang dibawa CCI dan CCC.

Meski misi “bermadzhab” yang dibawa Komite Hijaz (NU) ini dicibir CCC (modernis), akhirnya perjuangan Kyai²-ku ini berhasil juga.

Akhirnya KH. Wahab dan KHR. Asnawi terbayar dengan jawaban Raja Ibnu Saud. Pulang pun membawa keberhasilan.

Kata Choirul Anam (pemuda NU): “Jika toh KH. Wahab ikut ke Mekah, dan sepakat dengan #khilafah, itu maksudnya melanjutkan khilafah Turki!”

Aku membenarkan Mas Choirul Anam, bahwa #khilafah Turki selama ini mempertahankan tradisi bermadzhab. Sesuai misi KH. Wahab, bukan?

Jadi, apakah KH. Wahab adalah inspirator Konferensi Khilafah seperti klaim #HTI? Aku berani menjawab: BUKAN!!!

Jadi begitu. #end

PS: Jadi aku gak heran kalau #HTI menumpang nama KH. Wahab Hasbullah. Apalagi mencari legitimasi & dukungan dari kaum NU.

Tulisan berjudul Mengenal Hizbut Tahrir Indonesia dan Jargon Khilafah terakhir diperbaharui pada Sunday 9 November 2014 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


2 thoughts on “Mengenal Hizbut Tahrir Indonesia dan Jargon Khilafah

Post Comment