Mengenal Sejarah Awal Demonstrasi Dalam Islam

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Pada Jumat kemarin (28/11/2014), Front Salafi Mesir melakukan demonstrasi besar-besaran. Dalam aksi demo yang didukung oleh Ikhwanul Muslimin itu, orang-orang Salafi berdemo sambil membawa dan mengangkat mushaf al-Quran. Seperti yang dikatakan Front Salafi, demo sambil mengangkat mushaf al-Quran adalah menjadi ciri khas kelompoknya. Hal itu dilakukan agar para aparat keamanan tidak bertindak anarkis kepada mereka. Meski begitu, kekisruhan pun tetap terjadi bahkan sampai membawa korban jiwa baik dari kelompok pendemo maupun aparat keamanan. Dikabarkan 1 Jenderal tewas dan 5 demonstran tewas.

Berbicara masalah demo, tahukah anda bagaimanakah sejarah demo itu dan siapakah orang yang pertama kali berdemo di dalam Islam?

Dalam sejarah Islam, aksi demo pertama kali dilakukan oleh kelompok pemberontak yang ingin menggulingkan khilafah yang sah, khalifah Sayyidina Utsman bin Affan radhiyallohu anhu. Adapun dalang utama dibalik aksi demo pertama tersebut adalah seorang Yahudi yang licik yang sudah lama menebarkan virus kebencian di kalangan umat Islam saat itu.

Para pendemo menuntut Amirul Mukmimin Khalifah Sayyidina Utsman bin Affan untuk mundur dari jabatannya atau jika tidak mau maka akan mati dibunuh. Para pendemo melancarkan aksinya dengan mengepung rumah Sayyidina Utsman bin Affan dan memberikan ultimatum, mengundurkan diri atau dibunuh.

Menanggapi fitnah para pendemo, Sayyidina Utsman bin Affan tetap pada pendiriannya yang tidak mau menanggalkan kekhalifahannya. Beliau teringat pesan Rasulullah SAW yang memang sudah diketahuinya bahwasanya nanti akan datang fitnah yang menimpanya. Ketika fitnah itu datang, Rasulullah berwasiat agar beliau tetap berada pada posisinya dan bersabar. Adalah hal yang mudah baginya untuk menumpas habis para pendemo yang memberontak itu. Sahabat-sahabat Nabi SAW pun sudah bersiap diri menawarkan bantuan untuk memberantas para pendemo tetapi ditolaknya. Sayyidina Utsman bin Affan tidak ingin menjadi orang pertama yang menumpahkan darah di kalangan umat Islam sepeninggal Rasulullah SAW. Ia kembali teringat wasiat Rasulullah SAW untuk tetap bersabar menghadapi fitnah tersebut. Ia pun sudah mengetahui dirinya nanti akan dibunuh seperti yang diberitahukan oleh Rasulullah SAW semasa hidup.

Seakan tidak mau kalah, para pendemo terus menerus melancarkan aksinya melakukan pengepungan sampai berlanjut hingga 40 hari. Sementara Sayyidina Utsman tetap bersabar berpegah teguh pada pendiriannya yang tidak mau melawan dan tidak mau menanggalkan jabatannya. Ini dilakukan semata-mata demi sang kekasih yakni Rasulullah SAW bukan karena dirinya takut terhadap para pendemo yang memberontak.

Hingga pada suatu hari, di akhir hari pengepungan, Sayyidina Utsman bin Affan membuka dan membiarkan pintu rumahnya terbuka. Beliau kemudian duduk dan mengambil mushaf al-Quran dan membacanya. Para pendemo pun melihat Sayyidina Utsman yang sedang membaca al-Qur’an melalui bilik pintu rumahnya. Kesempatan emas ini dimanfaatkan para pendemo untuk masuk ke dalam, sampai akhirnya membunuh Sayyidina Utsman.

Sayyidina Utsman bin Affan gugur syahid di tangan para pendemo kaum pemberontak. Saat itu, Sayyidina Utsman sedang berpuasa dan sedang membaca Kalam Mulia al-Quran. Sang istri yang melihat segera bergegas menolong hingga akhirnya jari jemarinya pun terpotong di tangan para pendemo. Ya Allah, sungguh Engakau telah muliakan Dzun Nurrain.

Berkata Ibn Abbas Radhiyallohu ‘Anhu: “Aku duduk bersama Rasul SAW, maka datanglah Utsman bin Affan RA, maka Rasul SAW berkata padanya: Wahai Utsman, engkau akan dibunuh sedang engkau sedang membaca surat Al Baqarah, dan darahmu akan menciprat pada ayat FASAYAKFIIKAHUMULLAH WAHUWASSAMI’UL ‘ALIIM (Yang artinya: Maka Allah akan mencukupkan kalian dengan kecukupan dan Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui). Engkau akan dibangkitkan sebagai pemimpin di hari kiamat, dan akan cemburu padamu penduduk Barat dan Timur, dan engkau akan memberi syafaat sebanyak rakyat Rabi’ah dan Mudharr (Rabi’ah dan Mudharr adalah dua qabilah arab yg banyak jumlahnya).”

Antara Salafi, Demonstrasi, dan Qur'an

Dan kini, aksi demo terus ada sampai sekarang, demo mengatasnamakan Islam. Sedikit-sedikit umat Islam demo. Ada masalah ini dan itu demo. Tidak suka kepada orang lain demo. Ingin menuntut sesuatu demo. Yang lebih mengerikan lagi, berdemo sambil membawa-bawa mushaf al-Quran seperti ciri khasnya kelompok Salafi Mesir. Al-Quran diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia dan orang-orang yang bertaqwa, bukan untuk dijadikan alat demo-demoan. Al-Quran itu untuk dibaca, dipelajari, ditadabburi dan diamalkan, bukan sebagai tameng demonstrasi. Apakah dikira dengan membawa-bawa mushaf al-Quran atau simbol-simbol Islam dalam berdemo menjadikan demo itu Islami? Tidak sama sekali, yang ada justru sebaliknya. Islam itu suci dari hal-hal yang hina. Dahulu Sayyidina Utsman bin Affan dibunuh saat membaca al-Qur’an oleh para pendemo, dan kini golongan Salafi berdemo sambil membawa-bawa al-Qur’an sebagai ciri khasnya.

Ingat, Rasulullah SAW tidak pernah mengajarkan dan mencontohkan umatnya untuk berdemo. Tidak ada Sahabat Nabi SAW pun yang pernah berdemo. Dan lihatlah bagaimana Sayyidina Utsman bin Affan lebih memilih surga bersama Rasulullah SAW ketimbang menanggapi para pendemo. Aksi demo justru pertama kali diajarkan oleh kelompok pemberontak yang dimotori dibelakangnya orang Yahudi. Akankah umat Islam mau mengikuti jejak kaum pemberontak dan Yahudi? Atau mengikuti jejak Nabi SAW dan para sahabatnya? Jawabannya ada pada umat Islam itu sendiri.

Oleh: Muslimedianews dalam artikelnya yang berjudul Antara Salafi, Demonstrasi, dan al-Qur’an.

Tulisan berjudul Mengenal Sejarah Awal Demonstrasi Dalam Islam terakhir diperbaharui pada Saturday 29 November 2014 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


5 thoughts on “Mengenal Sejarah Awal Demonstrasi Dalam Islam

  1. “Umat Islam melakukan amaliyahnya dengan berdasarkan pada sumber-sumber hukum Islam. Sumber hukum Islam adalah Al-Qur’an, Al-Hadits, Ijma’ dan Qiyas. Tidak menjadikan kitab Hindu sebagai sumber hukum amaliyah mereka.”

    Mana dalil dari Qur’an, Hadits, Ijma’ dan Qiyas mengenai kirim pahala & tahlilan?

    Reply
  2. lebih baik mana, mengikuti para sahabat yg telah dikabarkan Allah bahwa mereka adalah penghuni surga/ mengikuti ulama2 yg membolehkan perayaan maulid padahal mereka dikabarkan oleh Allah saja belum apalagi dijamin masuk surga, hanya orang yg berakal dan beribadah sesuai dengan petunjuk Allah & Rasul serta mengikuti jalannya para sahabat itulah yg selamat.

    Reply
  3. Saya Salafi (mudah2an), tapi saya tidak setuju dg Demo.. Karena benar Raslullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mencontohkan berdemo.

    Dan mudah2an Sadara kami, juga meninggalkan semua amalan yang tidak di contohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya, selain demo. dan bersama-sama kita meniti jalannya para Sahabat Nabi. amiin.

    Reply

Post Comment