Sebutir Hikmah dari Kunjungan Sang Murabbi Ruhi Habibana Umar bin Hafidz

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Habibana Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh HafizhahuLLAAHu Ta’ala ‘anhu wa matta’anaLLAAHu thula hayatih wa nafa’naLLAAHu bi ‘ilmih wa du’aih, sudah dalam perjalanan kembali ke bumi 1000 wali, negeri Tarim Hadhramaut di Yaman Selatan.

Beliau pulang dengan membawa sejuta hikmah, sejuta doa, sejuta zikir, sejuta airmata dan sejuta ilmu serta kisah bagi murid-muridnya dan para pengikutnya..

Sosok beliau yang sederhana, lisannya yang selalu basah dengan dzikruLLAAH, matanya yang lebih banyak memandang ke bumi dan senyumnya yang selalu tersungging di bibir walau kepenatan dan acara yang padat luar biasa, mengingatkan kita semua pada sosok nenek moyang beliau yaitu Al Habib Al Mahbub Al Musthafa RasuluLLAAH SAW.

Dalam kepergian sang Murabbi Ruhi tersebut meninggalkan berbagai atsar (dampak dan pengaruh) pada kita semua dan pada para pengikut dan  pencintanya di negeri ini, yang saya coba tuliskan dibawah ini mudah-mudahan bermanfaat bagi saya dan kita semua.

Kelompok pertama adalah orang-orang yang tiap hari mengupload foto-foto beliau, Habib Umar sedang di sini dan di sana, ada pula yang tiap hari mem-broadcast kunjungan-kunjungan beliau dan ada pula yang tiap hari berganti Profil Picture status dengan status Habibana Umar..

Kita berdoa mudah-mudahan semua itu benar-benar didasari kecintaan kepada beliau dan kerelaan mengikuti wejangan dan nasihat beliau serta mengamalkannya dalam keseharian, jika benar kita termasuk yang seperti ini maka Insya ALLAAH kita termasuk orang-orang yang beruntung..

Ada pula yang melakukan itu semua dengan semangat hanya sekedar ingin dianggap dekat dengan sang Murabbi Ruhi. Mereka merasa puas dengan berfoto bersama Sayyidul Habib atau mencium tangan beliau walau kerap kali sampai harus saling mendorong saudaranya yang lain bahkan sampai menyakiti tubuh sang Murabbi Ruhi. Sayangnya setelah hajatnya terpenuhi, mereka ini kembali seperti asalnya, yang menggunjing tetap menggunjing, yang terlambat shalat tetap terlambat sholat. Jika kita termasuk yang demikian maka ketahuilah kita termasuk orang-orang yang merugi.. NastaghfiruLLAAHal ‘azhim.

Ada golongan lain yang lebih parah dari itu, mereka berlomba mendekati, mencium tangan atau bahkan mengundang sang Guru Mulia hanya demi untuk membesarkan diri pribadinya, agar dianggap mulia oleh manusia yang lain, sehingga ia lebih membesarkan nama mereka sendiri ketimbang Sang Guru. Sang Guru Mulia dijadikan alat untuk menganggap diri sangat mulia hanya demi kepentingan hubbuz zhuhur (senang dipuji), riya’ (senang dilihat orang), sum’ah (senang didengar orang), yang semua demi kepentingan dunianya semata. Orang-orang ini adalah orang-orang yang celaka.. NaudzubiLLAAHi min dzalika.

Ada pula kelompok keempat, adalah mereka yang amat tulus mencintai sang Murabbi Ruhi, khusyu’ mengaminkan doa beliau, menangis mendengar arahan-arahan beliau dan bersemangat mengubah dirinya, walau mungkin mereka tidak sempat mencium tangan atau berfoto dengan sang Murabbi Ruhi, bukan karena tidak mau, tapi karena khawatir menyakiti beliau yang selalu diserbu orang banyak. Mungkin mereka ini hanya sempat duduk dipojok-pojok yg jauh, tapi hati mereka terpaut dengan sang Murabbi Ruhi, nafas mereka seirama dengan lantunan doa sang Murabbi, hati mereka tunduk pada pencipta-NYA seperti tunduknya sang Murabbi, dan batin mereka naik ke langit mengikuti naiknya jiwa sang Murabbi untuk hanya bersimpuh menghamba pada sang Maha Rahman pencipta mereka semua.

Mereka inilah sebagaimana yang digambarkan bahwa Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani, “Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”.

Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?!”.

“Lalu bagaimana Anda bisa melihat-Nya?!”, tanyanya kembali.

Sayyidina Ali ra menjawab, “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati seorang yang tunduk sujud sepenuhnya kepada-Nya”.

Sebuah riwayat lain dari Sayyidina Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?”.

Beliau menjawab, “Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah”.

“Bagaimana anda melihat-Nya?”, tanya lagi.

Dia menjawab, “Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh dengan cahaya Iman.”

Imam Qusyairi mengatakan, “Asy-Syahid untuk menunjukkan sesuatu yang hadir dalam hati, yaitu sesuatu yang membuatnya selalu sadar dan ingat, sehingga seakan-akan pemilik hati tersebut senantiasa melihat dan menyaksikan-Nya, sekalipun Dia tidak tampak. Setiap apa yang membuat ingatannya menguasai hati seseorang maka dia adalah seorang syahid (penyaksi)”.

Munajat Syaikh Ibnu Athoillah, “Ya Tuhan, yang berada di balik tirai kemuliaanNya, sehingga tidak dapat dicapai oleh pandangan mata. Ya Tuhan, yang telah menjelma dalam kesempurnaan, keindahan dan keagunganNya, sehingga nyatalah bukti kebesaranNya dalam hati dan perasaan. Ya Tuhan, bagaimana Engkau tersembunyi padahal Engkaulah Dzat Yang Zhahir, dan bagaimana Engkau akan Gaib, padahal Engkaulah Pengawas yang tetap hadir. Dialah Allah yang memberikan petunjuk dan kepadaNya kami mohon pertolongan”.

Syaikh Abdul Qadir Al-Jilany menyampaikan, “Mereka yang sadar diri senantiasa memandang Allah Azza wa Jalla dengan qalbunya, ketika terpadu jadilah keteguhan yang satu yang mengugurkan hijab-hijab antara diri mereka dengan DiriNya. Semua bangunan runtuh tinggal maknanya. Seluruh sendi-sendi putus dan segala milik menjadi lepas, tak ada yang tersisa selain Allah Azza wa Jalla. Tak ada ucapan dan gerak bagi mereka, tak ada kesenangan bagi mereka hingga semua itu jadi benar. Jika sudah benar sempurnalah semua perkara baginya. Pertama yang mereka keluarkan adalah segala perbudakan duniawi kemudian mereka keluarkan segala hal selain Allah Azza wa Jalla secara total dan senantiasa terus demikian dalam menjalani ujian di RumahNya”.

Semoga kita semua termasuk golongan ini, dan semoga kita dijauhkan dari kelompok yg menipu akhirat demi kepentingan dunia, Aamiin ya RABB.

Oleh: Habib Nabiel Al-Musawa, Majelis Rasulullah SAW Jakarta.

Tulisan berjudul Sebutir Hikmah dari Kunjungan Sang Murabbi Ruhi Habibana Umar bin Hafidz terakhir diperbaharui pada Wednesday 26 November 2014 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


One thought on “Sebutir Hikmah dari Kunjungan Sang Murabbi Ruhi Habibana Umar bin Hafidz

Post Comment