Aqidah Aswaja: Allah Tidak Bertempat di Langit

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Allah adalah Dzat yang keberadaan-Nya tidak `harus` terikat berada di tempat mana, termasuk tidak berada di langit maupun di surga. Karena Allah itu bukan makhluk yang membutuhkan tempat. Allah adalah Dzat yang berdiri sendiri, dan tempat itu adalah makhluk. Sedangkan langit juga adalah makhluk, dan tempat yang berada di bawah serta di atas langit juga makhluk. Semua makhluq, termasuk langit, dan tempat yang berada di atas maupun di bawah langit itu adalah ciptaan Allah, sedangkan sebelum Allah menciptakan makhluk, Allah tidak membutuhkan apapun terhadap makhluk. Termasuk tidak butuh makhluk yang bernama tempat.

Artinya Allah tidak membutuhkan tempat untuk keberadaan-Nya, karena Allah itu bukan suatu materi yang membutuhkan tempat. Allah adalah Dzat yang Maha Suci dari membutuhkan tempat. Keberadaan Allah itu, tidak sama dengan keberadaan makhluk. Karena keberadaan makhluq itu selalu membutuhkan tempat, dan Allah itu sangat berbeda dan tidak sama dengan makhluk. Laisa kamitslihi syaiun (Allah itu tidak menyerupai/ tidak sama dengan sesuatu apapun).

Lafadz innallah ma`ana, itu berarti Sungguh Allah menyertai kita, artinya kekuasaan dan ilmunya Allah meliputi seluruh alam, sehingga di manapun kita berada, maka Allah selalu mengetahui perilaku kita.

Innahu fis saama (Sesungguhnya Dia ada di langit), artinya kekuasaan Allah itu meliputi langit. Wa innahu fil ardli (dan sesungguhnya Dia ada di bumi), artinya kekuasaan Allah itu meliputi bumi.

Fainamaa tuwallu fatsamma wajhullah (kemana saja engkau menghadap/ ke langit, ke bumi, ke segala penjuru, maka di sanalah Allah berada, alias kekuasaan dan ilmu-Nya berada di mana-mana), jelas-jelas ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidak menetap di langit seperti pemahaman kaum Wahhabi (Salafi).

Jadi, menurut Ahlus sunnah wal jamaah Allah itu adalah Dzat yang tidak membutuhkan tempat dan kekuasaan serta ilmu-Nya meliputi segala sesuatu dan di mana-mana.

Dimensi Dzat Allah sama sekali sangat berbeda dengan dimensi seluruh makhluk ciptaan-Nya. Jadi Allah itu tidak membutuhkan tempat yang mana dimensi tempat itu sangat berbeda dengan dimensi Dzat Allah itu sendiri.

Ilustrasi paling mudah, ruh manusia itu memiliki dimensi yang berbeda dengan dimensi sebuah botol gelas. Maka ruh manusia tidak mungkin ditempatkan ke dalam botol gelas, karena dimensi keduanya sangat berbeda. Kalau ada orang yang menyakini/ mengatakan ada ruh manusia dapat ditempatkan di dalam botol gelas (sekalipun dimensinya berbeda), pasti orang itu adalah penganut kepercayaan adat tradisional China atau terbiasa menonton film vampir ala China, yang pemeran tokohnya digambarkan dapat menyedot ruh vampir untuk ditempatkan di dalam botol.

Artinya siapa saja yang meyakini bahwa Dzat Allah itu bertempat di suatu tempat (di atas langit), sedangkan dimensi Dzat Allah itu berbeda dengan dimensi tempat itu sendiri, maka sama saja keyakinan orang itu dengan keyakinan masyarakat China tradisional sebagaimana cerita vampir di atas.

Maha Suci Allah dari penyamaan Dzat-Nya dengan makhluk manapun, termasuk penyamaan kepada kebutuhan makhluk terhadap tempat. Karena Allah adalah Dzat yang sama sekali tidak membutuhkan tempat.

Tatkala Rasulullah isra` dan mi`raj, maka dengan kelimat `kun fayakuun` Allah menjadikan Rasulullah SAW bersama jasadnya berada pada dimensi yang berbeda dibanding dimensi manusia pada umumnya, karena itu beliau mampu menembus 7 langit dalam waktu yang sangat singkat. Hingga beliau SAW dipanggil menghadap Allah juga di saat beliau berada pada dimensi yang jauh berbeda dengan dimensi kemanusiaan beliau SAW sebagai makhluk.

Umat Islam diperintahkan untuk mengucapkan: Aamanna billah wama ja-a anillah ala muradillah, wa- amanna birasulillah wama ja-a an rasulillah ala muradi rasulillah bilaa takyifin (kami beriman kepada Allah, dan apa yang datang dari Allah sesuai dengan yang dikehendaki Allah, dan kami beriman kepada Rasulullah dan apa yang datang dari Rasulullah sesuai yang dikehandaki Rasululah, tanpa harus bertanya bagaimana-bagaimana). Karena otak manusia yang sangat lemah ini pasti tidak mampu menyerap hakikatnya masalah tersebut di atas.

Oleh: KH Luthfi Bashori, Pengasuh Pesantren Ribath Al Murtadla Al Islami Singosari Malang.

Tulisan berjudul Aqidah Aswaja: Allah Tidak Bertempat di Langit terakhir diperbaharui pada Saturday 13 December 2014 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


7 thoughts on “Aqidah Aswaja: Allah Tidak Bertempat di Langit

  1. bahaya banget ni pemikirin kaum muslim kaya saudara… tlong dong berfikir secara global ,,, jangan menurut fahan anda sendiri.. bisa hancur generasi muda pola fikirnya jika berfikiran seperti saudara..

    Reply
  2. Tanda ketidakfahaman penulis di atas adalah mengatakan bahwa salafy berpendapat se.ua ahli bid’ah pasti (pasti!) Masuk neraka. Laa hawla walaa quwwata illa Billah… Hadza buhtanun azhim… Sungguh fitnah yang harus dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Bertaubatlah akhiy….

    Reply

Post Comment