Audio Video Kajian “Liberalisme Pemikiran dan Gaya Hidup” Bersama Ustadz Faris Khoirul Anam

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين وصلى الله على سيدنا محمد النبي الأمي وآله الطاهرين وصحابته أجمعين

Jalur ilmu pengetahuan dalam Islam itu tiba melalui pelbagai saluran, yaitu: (1) intuisi atau ilham, (2) pancaindera atau al-hawas al-khams, (3) akal pikiran sehat atau al-‘aql al-salim, (4) berita yang benar atau al-khabar al-shadiq. Maka, ilmu dalam Islam, tidak hanya terbatas pada sumber panca indera (empiris), dan akal (rasional).

Auguste Comte (1798 – 1857) menyatakan bahwa tingkat pengetahuan manusia itu ada tiga, yaitu: (1) religius, yakni ilmu dijabarkan dari ajaran religi, (2) metafisik, bahwa keberadaan sesuatu yang secara spekulatif ditelaah, dan terbebas dari dogma religi, (3) positif (keberaaan sesuatu diuji secara positif dalam proses verifikasi yang obyektif. Inilah yang kemudian dikenal dengan “Teori Positivisme Comte”, yang dalam perspektif Islam, jelas bermasalah, karena: Pertama, dia menempatkan agama (religi) sebagai jenis pengetahuan paling primitif. Kedua, religiusitas akan punah saat manusia memasuki era positivisme atau empirisme, di mana yang diakui sebagai ilmu hanya yang didapat dari panca indera manusia.

Harus diyakini, true report atau khabar shadiq merupakan salah satu sumber ilmu dalam Islam, bahkan yang pertama dan utama. Ciri orang beriman yang pertama disebutkan dalam mushaf 30 juz adalah percaya kepada hal ghaib (lihat Surat al-Baqarah [2]: 3).

Tentang pengertian ghaib, pakar tafsir abad ke-7 H, Muhammad al-Qurthubi, menjelaskan bahwa ghaib itu sesuatu yang tidak terlihat dan tidak ada di hadapanmu (kullu ma ghaba ‘anka). Sementara ghaib yang dimaksud dalam ayat tersebut memiliki beberapa makna. Intinya, sebut al-Qurthubi, semua informasi dari Rasulullah yang sementara tak terlihat, seperti azab kubur, hari kebangkitan, jembatan (shirath), timbangan perbuatan (mizan), surga, dan neraka, itu semua perkara ghaib.

Manusia meninggalkan kewajiban agama, atau melakukan sesuatu yang dilarang agama, dipicu oleh lemahnya kepercayaan terhadap sesuatu yang ghaib ini. Maka dalam kajian ini dijelaskan pula, ternyata liberalisme dan materialisme ini tidak hanya terjadi pada pemikiran, namun juga menjangkiti gaya hidup manusia, disertai beberapa contohnya.

Cara meyakinkan sesuatu yang ghaib, terutama pada orang yang hidup di zaman materialisme atau kebendaan, dengan cara: (1) Secara umum, sesuatu yang ghaib ada padanannya dengan sesuatu yang tidak ghaib. (2) Rukyah ilmiyyah aqwa minar rukyah bashariyah (Ilmu yang didapat dari pendekatan ilmiah, lebih kuat dan mendalam dari pada ilmu yang didapat dari pengamatan).

Untuk selengkapnya, silahkan simak video dan audio mp3 kajian Islam tentang Liberalisme Pemikiran dan Gaya Hidup bersama Ustadz Faris Khoirul Anam, Lc., M.H.I. dari Tim Tutor Aswaja NU Center PWNU Jatim, Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya. Kajian ini disiarkan di TV9 NUsantara dalam acara Hujjah Aswaja, pada Senin, 1 Desember 2014.

AUDIO MP3 DAN VIDEO KAJIAN ISLAM TENTANG LIBERALISME PEMIKIRAN DAN GAYA HIDUP BERSAMA USTADZ FARIS KHOIRUL ANAM, LC, MHI

[blue_button href=”https://dl.dropboxusercontent.com/s/16lwnzecwz8rjbc/Liberalisme%20Pemikiran%20&%20Gaya%20Hidup%20-%20Dialog%20bersama%20Ustadz%20Faris%20Khoirul%20Anam.%20LC,%20M.H.I.mp3″]Download MP3[/blue_button]
(Cara download: klik kanan link tombol “Download MP3” lalu pilih Save Link As… atau Save Target As…).

Tulisan berjudul Audio Video Kajian “Liberalisme Pemikiran dan Gaya Hidup” Bersama Ustadz Faris Khoirul Anam terakhir diperbaharui pada Wednesday 3 December 2014 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment