Deklarasi Ikatan Ulama dan Da’i “se-ASIA TENGGARA” Tanpa Perwakilan NU dan Muhammadiyah?

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah adalah dua ormas Islam terbesar di Indonesia, di Asia Tenggara, bahkan di dunia. Tidak ada yang meragukan betapa besarnya kedua ormas tersebut yang memiliki puluhan juta jama’ah.

Banyak ulama, da’i, tokoh-tokoh baik NU maupun Muhammadiyah yang memiliki peran penting dan telah memberikan kontribusi positif dalam perkembangan Islam baik di kancah Nasional maupun Internasional. Mereka ikut andil besar dalam peradaban dunia Islam.

Berdasarkan laporan Lembaga Independen Internasional Royal Aal al-Bayt Institute for Islamic Thought yang berkedudukan di Yordania, tokoh NU dan Muhammadiyah selalu menjadi langganan masuk dalam Top 50 Tokoh Muslim paling berpengaruh di penjuru dunia. Sebut saja tokoh Nahdlatul Ulama Prof. DR. KH Said Aqil Siradj pada tahun 2014/15 ini masuk urutan ke-17 dalam jajaran tokoh muslim paling berpengaruh sejagat bumi ini. Disusul tokoh Muhammadiyah Prof. DR. KH Din Syamsuddin yang berada di urutan nomor 27, dan KH Habib Luthif bin Yahya yang merupakan tokoh NU yang memimpin thariqah di posisi 48. NU dan Muhammadiyah memang selalu terdepan dibanding yang lain.

Belum lama ini, ormas Islam yang menamakan dirinya dengan sebutan Ikatan Ulama dan Dai se-Asia Tenggara telah dideklarasikan. Acara pembentukan organisasi yang dihadiri sekitar 100 peserta itu diadakan di Hotel Santika, Kota Depok, Jawa Barat pada Sabut (29/11/2014).

Pihak panitia Muhammad Zaitun Rasmin menyatakan bahwa terbentuknya ormas tersebut bertujuan sebagai wadah silaturahmi, konsolidasi, dan sinergitas para ulama dan dai se-Asia Tenggara agar dapat melaksanakan peran mereka dengan sebaik-baiknya.

Sesuai dengan namanya “Ikatan Ulama dan Dai se-Asia Tenggara” sudah semestinya di dalamnya ada perwakilan dari berbagai elemen umat Islam dari negara-negara Asia Tenggara. Anehnya, acara deklarasi yang katanya berisikan ulama dan dai se-Asia Tenggara ini tidak ada satu pun ada perwakilan dari NU dan Muhammadiyah, padahal keduanya adalah ormas Islam terbesar se-Asia Tenggara.

Sebagaimana dilansir dari laporan Liputan Islam (Catatan Anomali dari Muktamar Ulama Asia Tenggara) yang hadir langsung dalam arena Muktamar I Ikatan Ulama dan Dai Asia Tenggara, menyatakan tidak diketemukan atau tidak ada kehadiran wakil NU dan Muhammadiyah. Yang ada adalah perwakilan dari ormas Islam seperti Wahdah Islamiyah, Persatuan Islam (Persis), Majelis Intelektual dan Ulama Indonesia (MIUMI), Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan beberapa politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) diantaranya Nur Mahmudi Ismail selaku Walikota Depok dan Hidayat Nur Wahid (Wakil Ketua MPR RI). Sedangkan Ahmad Heryawan, politis PKS yang menjabat Gubernur Jawa Barat dijadwalkan akan membuka acara tetapi tidak jadi hadir.

Patut dipertanyakan mengaku ormas ulama dan dai se-Asia Tenggara tapi tanpa melibatkan ormas Islam terbesar, NU dan Muhammadiyah. Sehingga wajar embel-embel “Ulama se-Asia Tenggara” yang tersemat pada nama ormas itu diragukan dan penuh tanda tanya? Apakah masih layak?

Kejanggalan lain pun tampak semenjak acara dimulai. Acara yang diawali dengan pembacaan al-Qur’an itu tanpa di awali pembacaan Basmalah dan penutup Shodaqollohul ‘Adzim. Kemudian acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan yang diakhiri dengan pembacaan deklarai yang berisi 3 poin utama: Al Bayan, An-Nida, dan Rekomendasi.

Terpilih sebagai Ketua Umum Ikatan Ulama dan Da’i Asia Tenggara yang pertama Muhammad Zaitun Rasmin. Ia adalah Ketua DPP Wahdah Islamiyah yang juga Wakil Ketua MIUMI Pusat. Adapun Jabatan Sekretariat Jenderal (Sekjen) dijabat oleh Jeje Zainuddin dari Persis yang menjabat sebagai Wakil Ketua MIUMI Bidang Hukum. (Muslimedianews)

FOTO: Ketua Umum Ikatan Ulama dan Dai Asia Tenggara Muhammad Zaitun Rasmin (Wahdah Islamiyah) bersama Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (PKS).

Tulisan berjudul Deklarasi Ikatan Ulama dan Da’i “se-ASIA TENGGARA” Tanpa Perwakilan NU dan Muhammadiyah? terakhir diperbaharui pada Wednesday 3 December 2014 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment