Mengambil Pelajaran dari Kisah Kejadian Antara Kayu dan Paku

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Kayu ini mengeluh kepada paku, wahai paku teganya kamu ini menyakiti dan melubangi aku. Tapi kata paku, wahai kayu sesungguhnya jika engkau tau apa yang terjadi pada diriku, kepalaku dipukul pakai pukul besi yang besar, kamu pasti tidak akan mengatakan itu terhadap diriku. Jadi si kayu ngeluh, kamu kok melubangi aku sih? Tapi kata si paku, jika kamu tahu apa yang terjadi pada diri saya, kamu niscaya tidak akan marah terhadap diri saya, kamu akan berterima kasih sebab saya lebih rekoso (menderita) dibanding diri kamu.

Ini kunci buat hidup, manusia itu wang sinawang (memandang orang lain lebih baik). Kadang kita mungkin melihat orang lain kelihatannya enak, tapi belum tentu yang kamu lihat enak itu kadang juga “dipukuli” seperti paku itu tadi. Oleh karena itu mari kita manusia jangan saling suudzon, jangan saling sangka jelek. Terima apa yang kita dapatkan, tidak usah mikir punya orang lain. Apapun yang kita senangi, apapun yang kita dapatkan dari Allah itu kita terima dan kita syukuri. Tidak usah mikir yang lainnya. Kalau mikir yang lainnya, urusannya malah jadi mumet.

Kalau tadi paku mengatakan, biarkan saja, mau ku sakiti atau tidak ku sakiti, terserah sih, akhirnya malah jadi berantem. Tapi setelah paku menyampaikan kepada kayu tadi, kamu itu tidak mengerti yu kayu, saya ini lebih rekoso (menderita) dibanding dirimu, kamu kan hanya lubang saja, tapi aku pakai dipukul juga, sakit tubuhku.

Jadi mari kita jadikan penderitaan sesama kita adalah penderitaan kita. Kegembiraan sesama kita adalah kegembiraan kita. Mari kita hidup saling berdampingan. Jangan saling suudzon. Mari kita saling membantu dan kita yakin bahwa orang lain lebih baik daripada diri kita. Keadaan orang lain lebih baik daripada keadaan diri kita. Kalau kita meyakini seperti itu, InsyaAllah hidup kita akan damai, tenang dan bahagia.

Tidak dikatakan sesuatu yang menakutkan kalau ada kapal berada diatas air. Itu tidak megkhawatirkan. Tetapi yang mengkhawatirkan kalau ada air di dalam kapal. Dikatakan juga di sini, wujudnya orang-orang mukmin di dunia ini bukan suatu permasalahan, wujudnya mukmin di dunia ini nikmat, wujudnya mukmin di dunia ini rahmat, wujudnya mukmin di dunia ini adalah kebaikan. Tetapi yang mengkhawatirkan adalah kalau dunia ada di dalam hati seorang mukmin. Jadi kalau mukmin berada di dunia itu tidak mengkhawatirkan, aman pasti nikmat dunia. Tetapi kalau dunia ada di dalam hati seorang mukmin, disitu hancurlah dunia. Jadi dia tidak pernah bersyukur hanya ngomel-ngomel (mengeluh) terus gara-gara (sebab) urusan dunia. Jadi, kalau kita menjalankan sesuatu itu pada tempatnya, InsyaAllah itu tidak akan mengkhawatirkan. Tetapi jika kita menjalankan sesuatu tidak pada tempatnya, akan timbul kekhawatiran dan kekhawatiran.

Cerita berikut, ada seorang sholeh itu dia selalu mendahului ke masjid sebelum mendengar suara adzan. Waktu ditanya, mengapa engkau pergi ke masjid sebelum adzan? Adzan itu adalah untuk mengingatkan orang-orang yang lupa dan saya tidak ingin tergolong menjadi manusia yang lupa. Jadi saya ini datang ke masjid bukan karena panggilan adzan tetapi karena ingin ke masjid.

Kalau orang yang lupa-lupa itu, Hayya ‘alash sholah.., Hayya ‘alal falah.., baru diingatkan dan baru berangkat ke masjid. Kalau saya tanpa diundang sudah berangkat ke masjid duluan, karena saya tidak ingin menjadi orang-orang yang lupa. Lha kita? tidak di masjid tidak di mana-mana malah tidak sholat. naudzubillahi min dzalik..

Di sini menunjukkan cerita ini bahwa panggilan yang paling berat adalah panggilan yang nanti saat Allah mencabut nyawa kita. Sebelum kita dipanggil oleh Allah, siapkan diri kita untuk menghadap kepada Allah SWT. Jadi manusia itu sebelum dipanggil oleh Allah harus siap, jangan nanti minta diundur sedikit saja saya pengen sholat, shodaqoh.. wes telat (sudah terlambat).

Makanya siapkan diri sebelum datang kematian. Sebelum datang adzan anda sudah masuk ke dalam masjid. Sebelum datang kematian, anda sudah siap menghadapi kematian tersebut.

Adapun hikmah yang bisa dipetik dari pesan cerita diatas, adalah:

  1. Jangan suudzon sama orang (cerita paku dan kayu). Oleh karena itu tidak perlu menyalahkan sana-sini. Salahkan diri sendiri.
  2. Kita ini jangan menjadi mukmin yang di dalam hatinya penuh dengan kecintaan dunia. Taruhlah dunia itu di tangan saja, tidak usah ditaruh di dalam kantong. Sayyidina Ali bin Abi Tholib berkata: Dunia bagiku aku taruh di tangan, datang dan keluar itu enteng (mudah). Tapi kalau di kantong kadang harus merogoh-rogoh agak kesulitan. Kalau kita letakkan di bank juga boleh, dimana juga boleh yang penting jangan lupa zakat dan shodaqoh.
  3. Siapkan diri kita sebelum mendapat panggilan dari Allah SWT untuk menghadapNya. InsyaAllah kalau kita siap begitu, kita akan aman di dalam kehidupan ini. Kalau tidak, kita akan kacau di dalam kehidupan sehari-hari kita.

Dikatakan pula, resep terakhir. Ini resep tolong dipakai karena jaman sekarang jaman fitnah, jaman sihir, dan macam-macam. Jangan sampai kita lepas daripada air wudhu.

Semua jamaah kita saya harap, kalau batal wudhu, wudhu lagi, batal wudhu lagi, seperti itu terus jangan sampai kita lepas dari wudhu. Karena kalau kita selalu dalam keadaan wudhu, berarti kita selalu terjaga dari mata pandangan manusia yang iri, terjaga dari sihir, dsb. Orang yang dalam keadaan wudhum maka dia berada di dalam bentengnya Allah, dijaga oleh Allah.

Mari semuanya, perbanyak atau didawamkan (dibiasakan/ dijaga) dalam posisi wudhu. Diantara dalam posisi wudhu, kulo (Habib Syekh) nyuwun (saya mohon) putra putri jangan bersenggolan, salaman itu batal wudhu bagi yang bukan mahramnya. Jadi supaya kita bisa menahan agar menjaga air wudhu. InsyaAllah kalau kita menjaga air wudhu, kita akan dijaga oleh Allah SWT dari penyakit apapun, dari sihir, InsyaAllah akan aman kalau kita selalu mendawamkan (membiasakan/ menjaga) wudhu.

Dikatakan, Bilal termasuk manusia yang masuk ke dalam surga dan terompahnya Bilal ini sudah masuk ke dalam surga mendahului Bilal. Waktu Isra Mi’raj Rasulullah, ditanya oleh Rasulullah didepan para sahabat, wahai Bilal apa yang membuat terompahmu mendahuluimu masuk ke dalam surga? Berarti itu menunjukkan bahwa Bilal pasti masuk surga. Kata Bilal: Ya Rasulullah aku selalu mendawamkan (membiasakan/ menjaga) wudhu dan sholat sunnah wudhu.

Kita kalau sholat sunnahnya kesulitan, ya wudhunya. InsyaAllah bisa ketemu Bilal di surga karena menjaga wudhu. Aamiin

Dan ini perisai bagi kita, tameng bagi kita. Kalau ada orang yang iri, dengki, hasud, mau nyihir, tertolak karena amal ibadah wudhu itu tadi.

Bismillah InsyaAllah ini sebagai amalan yang kita amalkan untuk sehari-hari, untuk keselamatan kita, keselamatan keluarga kita, dan keselamatan daripada fitnah, musibah, dan bencana. InsyaAllah kalau kita dalam keadaan wudhu, kita selalu terjaga karena kita tahu kita dalam keadaan dilindungi Allah SWT.

Dan kalau bisa sholat ‘Isya berjamaah, sholat Shubuh berjamaah. Barangsiapa yang berjamaah sholat ‘Isya, akan terjaga sampai pagi hari dan barangsiapa sholat Shubuh berjamaah akan terjaga sampai malam hari. Jadi waktu itu ada seorang algojo, waktu mau membunuh atau memenggal atau lainnya kepada orang yang kena hukuman, ditanya dulu kamu tadi malam sholat ‘Isya berjamaah tidak? Kalau sholat ‘Isya jamaah sama dia tidak diganggu, karena tahu bahwa orang ini di dalam lindungan Allah.

Sampai seperti itu orang dulu itu. Karena orang-orang dulu itu percaya dengan hadist-hadist Rasulullah, percaya dengan apa yang disampaikan Rasulullah. Beda dengan orang sekarang, kalau kita mendengar hadist, dikatakan hadist itu dhoif sebab tidak cocok dengan akalnya. Tapi kalau cocok dengan akalnya nanti dikatakan hadist ini shahih.

Jadi mari kita sama-sama sholat berjamaah, paling minim dengan suami/ istri. Sholat berjamaah ‘Isya dan Shubuh supaya kita juga terjaga. Malam terjaga dan pagi pun juga terjaga. Aamiin Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin….

Semoga kita bisa mengamalkan dawuh beliau.. aamiin

Oleh: Latifah Hanum, Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) UGM Yogyakarta. Disampaikan oleh Habib Syekh bin Abdul Qadir Assegaf saat acara Doa dan Sholawat dalam rangka Haul ke-10 H. M. Sholeh dan 100 Hari Ibu Sholeh pada Selasa 2 Desember 2014 di Lapangan Parkir Monumen Diponegoro, Tegalrejo, Yogyakarta.

 

Tulisan berjudul Mengambil Pelajaran dari Kisah Kejadian Antara Kayu dan Paku terakhir diperbaharui pada Sunday 7 December 2014 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


One thought on “Mengambil Pelajaran dari Kisah Kejadian Antara Kayu dan Paku

Post Comment