Mengawal Nahdlatul Ulama dan Tradisi Islam Ahlussunnah NUsantara

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Meskipun tidak semuanya tertulis dalam buku sejarah, akan tetapi kita tahu bahwa NU (Nahdlatul Ulama) adalah salah satu ormas keagamaan yang ikut mendesain berdirinya NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) ini. Darah, air mata, harta dan nyawa para kiai dan warga nahdiyyin telah rela dipertaruhkan demi sebuah rumah besar bernama ”Indonesia”. Karenanya, sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, NU yang lahir pada 31 Januari 1926 di Suarabaya, selalu komitmen dalam mengawal 4 pilar kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Kebhinekaan). Demikian pula, dengan segala dinamika di dalamnya, NU telah berhasil menjadi salah satu gerbong utama dalam melakukan pengawalan terhadap tradisi Islam Nusantara yang diwariskan oleh generasi salafu-s-shâlih dan Walisongo.

Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari dan para mûassis (pendiri) NU telah berhasil membuat pijakan kuat dan meneruskan tradisi Islam Nusantara, yakni tradisi Islam yang telah diwariskan oleh para ulama Nusantara dengan karakternya yang lentur, fleksibel dan dapat mendialogkan dan mengakomodir kebudayaan lokal (setempat), tanpa harus terjebak pada pengkafiran atau pemusyrikan. Menurut Rais ‘Aam PBNU, Dr (Hc). KH MA. Sahal mahfudz, NU berhasil dalam menampilkan sikap yang toleran terhadap nilai-nilai lokal. Terbukti dalam sejarah, NU tidak memberangus seluruh nilai-nilai lokal masyarakat, melainkan merangkul dan mengisi kebudayaan masyarakat.

Karakter Islam Nusantara inilah yang menjadi tradisi masyarakat Islam Indonesia sejak penyebaran Islam era Walisongo hingga sekarang.
Sejak lahirnya, NU memiliki keteguhan sikap dalam menjaga tradisi Islam Nusantara atas pengaruh gerakan Wahabi di Indonesia. Titik tolak ini telah membangkitkan para ulama NU untuk tetap menjaga tradisi Islam Nusantara agar tidak kehilangan orientasi Islam keindonesiaan yang telah menjadi corak tradisi masyarakat. Kenyataan ini menegaskan kenyataan yang ada, betapa tradisi NU telah dipraktikkan oleh masyarakat Islam di berbagai penjuru Indonesia.

Berbagai tradisi dan ritual-ritual kegamaan, seperti tahlilan, yasinan, ziarah kubur, slametan, istighasahan, tawasulan dan lain sebagainya telah menjadi bagian yang mengakar kuat di masyarakat. Praktik-praktik keagamaan ini merupakan tradisi Islam Nusantara yang telah diwariskan oleh para ulama pendahulu. Akan tetapi, saat ini, Islam Nusantara yang telah menjadi karakter dari tradisi masyarakat Indonesia, sedang mendapatkan berbagai tantangan baru dari gerakan-gerakan Islam trans-nasional (gerakan-gerakan Wahabi yang menjelma dalam berbagai organisasi, seperti Hizbu-t-Tahrîr, Ikhwânu-l Muslimîn, Majelis Tafsir Al-Qur’an dan sebagainya), yang berasal dari Timur Tengah.

Kalangan Ahlussunnah wal jamaâ’ah dibuat gerah oleh tindakan mereka yang menghujat kebiasaan amaliah-ritualistik warga NU. Tak berhenti sampai di situ, mereka di beberapa tempat, telah mengambil alih masjid-masjid yang didirikan warga NU dulu. Karenanya, kita (warga NU) harus dapat menjaga masjid kita masing-masing, agar tidak dijadikan pangkalan untuk menyerang NU dan republik.

Oleh karenanya, kini perjuangan NU dalam upaya meneguhkan tradisi Islam Nusantara, setidaknya sedang menghadapi tiga tantangan, yakni: pertama, gerakan Islam trans-nasional yang dengan berbagai cara berupaya untuk mengubah Islam Nusantara menjadi Islam Arab. Kekuatan tradisi yang mampu bertahan ratusan tahun sejak sebelum lahirnya NU, kini menghadapi gugatan dari gerakan Islam trans-nasional, yang dibungkus dalam gerakan anti-tahlil, anti-bid’ah, dan kembali ke purifikasi Islam. Meski secara umum, masyarakat muslim Indonesia masih menggunakan tradisi Islam Nusantara, tetapi mereka tidak memiliki ikatan yang kuat dengan NU. Mereka hanya menjadi bagian dari tradisi NU, bukan orang NU. Kecenderungan yang ada sekarang adalah banyak yang mempraktikkan tradisi NU tetapi mereka tidak mau mengaku menjadi orang NU.

Kedua, merekrut kader-kader dan jamaah NU. Gerakan ini telah berhasil memikat kader dan jamaah NU di beberapa daerah. Lompatnya kader dan jamaah NU ke gerakan Islam trans-nasional tidak dapat dilepaskan dari tidak terawatnya mereka dalam struktur dan sistem sosial NU. Merasa tidak dirawat dan cenderung dibiarkan, sehingga mereka berkiprah di tempat lain. Inilah problem serius organisasi yang terabaikan oleh NU. Karena banyaknya jumlah jamaah, sehingga cenderung kurang (untuk tidak mengatakan tidak) mempedulikan mereka agar tetap terjaga dan militan. Ini merupakan tugas NU dan semua banom-nya di semua tingkatan.

Ketiga, banyaknya program-program NU yang mendapat pesaing baru; dulu masyarakat lebih memilih menyerahkan pendidikan agama anaknya ke pesantren dan sekolah Ma’arif, sekarang mereka beralih ke Sekolah Islam Terpadu (yang dikelola oleh orang-orang non-NU). Halaqah dan pengajian selapanan NU di kampung-kampung yang dulu selalu ramai, kini mulai sepi, karena masyarakat lebih memilih ngaji dengan ustaz di TV (yang sebagian besar kualitas ilmu agamanya dipertanyakan, karena mereka hanya berbekal satu-dua ayat atau hadits, kemudian berani memberikan fatwa), dan sebagainya.

Untuk menghalau gerakan mereka, menurut Dr. KH. Hasyim Muzadi (2007), sekurangnya ada dua hal yang harus segera dilakukan. Pertama, pemantapan ideologi negara Pancasila, dengan menjadikan semua gerakan politik dan sosial di negeri ini harus berasaskan dan berdasarkan Pancasila, bukan yang lain. Kedua, perlunya melakukan kaderisasi dan mengukuhkan sendi-sendi Islam moderat hingga ke level bawah masyarakat. Yaitu, sejenis Islam yang berpandangan toleran (tasamuh) terhadap pluralitas yang ada di Indonesia.

Dasar-dasar Islam Nusantara yang telah diletakkan oleh para ulama NU dan diterjemahkan dalam fikrâh an-nahdliyyah (garis pemikiran NU), yakni garis pemikiran dan paradigma yang moderat (tawâshût), toleran (tasâmuh), seimbang (tawâzûn), reformatif (islâhî), dan metodik (manhâjiyyah) merupakan hasil ‘ijtihad’ dalam upaya memperteguh tradisi Islam Nusantara sebagai kerangka dasar Islam Indonesia.

Tradisi Islam Nusantara ini akan tetap terjaga ketika gerakan sosial dalam diri NU selalu berorientasi pada jam’iyyah (organisasi) dan jamaah (umat/warga). Karena jika jam’iyyah tidak dikelola dan jamaah tidak dirawat dengan baik, maka sistem keorganisasi akan semakin rapuh dan potensi melompatnya jama’ah NU tidak terhindari lagi.

Perlu menjadi catatan bersama, bahwa tradisi Islam keindonesiaan akan tetap berdiri kokoh selama tradisi Islam Nusantara masih kuat; sebaliknya, akan menjadi rapuh, bahkan punah digantikan oleh tradisi Islam Arab yang dibawa oleh kelompok-kelompok Islam trans-nasional, bila kita tidak serius dalam mengawal dan menjaganya.

Wa-llâhu-l muwafiq ilâ aqwâmi-th-tharîq.

Oleh: Dr. KH. Arifin Shiddiq, M. Pd.I dalam Kata Pengantar buku Mengawal Tradisi: Hujjah Amaliah an-Nahdliyyin (eLKLIM Wonosobo, 2013)/ Gemamedia Wonosobo.

Tulisan berjudul Mengawal Nahdlatul Ulama dan Tradisi Islam Ahlussunnah NUsantara terakhir diperbaharui pada Wednesday 10 December 2014 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


3 thoughts on “Mengawal Nahdlatul Ulama dan Tradisi Islam Ahlussunnah NUsantara

Post Comment