Teladan Kami Rasulullah, Bukan Ibnu Taimiyah

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Syafaatku untuk pelaku dosa besar dari umatku. Begitu sabda Nabi SAW. Sebesar apapun dosa umat ini tidak boleh kita menuduh sebagai ahli neraka.

Nabi penebar rahmat mengajak, membimbing, dan berbelas kasih pada pelaku dosa. Terkadang jika diperlukan Nabi juga membakar masjid orang-orang munafiqin yang memang dibangun dengan niat merusak persatuan umat Islam. Tapi dasarnya adalah rahmat bukan kebencian dan sentimen pribadi.

Ajaran beliau sangat melarang kita mencaci, melaknat dan menghujat. Suatu ketika beliau SAW mendengar orang yang melaknat peminum khamer, Nabi bersabda,”Jangan kau laknat dia, demi Allah aku tidak mengenalnya kecuali dia mencintai Allah dan rasul-Nya. “

Dalam riwayat lain Nabi bersabda, “Janganlah kalian menjadi pembela setan atas saudaramu”. Artinya pelaku dosa itu masuk dalam perangkap setan, kalau kita melaknatnya maka kita bekerja sama dengan setan utk mencelakai orang itu.

Penyakit yang kronis pada umat ini adalah penyakit suka menvonis kafir, syirik dan bid’ah. Sebagian orang merasa lebih alim, lebih tegas, lebih sunni, lebih menyelami salaf dari yang lain jika mudah menuduh kafir orang lain.

Sayyidina Ali ditanya tentang orang yang mempermasalahkan keabsahan khilafahnya dan memeranginya. Beliau menjawab,”Mereka saudara-saudara kami yang menentang kami maka kami perangi mereka, dan merekapun kembali (ke jalan yang benar) dan kamipun menerima mereka.” Begitu akhlak salaf kita.

Sebagian mereka mengatakan:

رأينا صواب يحتمل الخطأ ورأى غيرنا خطأ يحتمل الصواب

“Pendapat kami benar tapi bisa jadi salah, dan pendapat orang lain salah tapi mungkin juga benar.”

Dalam masalah ijtihad tidak boleh seorang muslim memaksakan pendapat apalagi sampai mengkafirkan orang dengan landasan hasil kajiannya sendiri. Seperti pendapat Ibnu Taimiyah (ulama Wahabi) mengkafirkan orang yang bertawassul karena ijtihadnya mencari perantara pada Allah dianggap syirik, pendapat yang sangat tidak populer ini justru disejajarkan dengan firman Allah yang tidak boleh di bantah oleh pengikutnya.

Salah dalam membiarkan hidup 1000 orang kafir , jauh lebih ringan dari pada menumpahkan darah seorang muslim. Begitu kata Hujjatulislam al-Ghazzali dalam kitab al-Iqtishad fi al-I’tiqod.

Kalau kita baca sirah Nabi sang pembawa rahmat tak seorang pun umat Islam yang beliau kafirkan apapun yang mereka perbuat, baik yang berzina, peminum khamer, yang tidak ikut ajakan perang, bahkan yang berkhianat membocorkan rahasia kepada orang kafir. Rasulullah memaafkan, mengampuni dan bersabda:

لا تكونوا عونا للشيطان علي اخيكم. رواه البخاري

Akhirnya kita harus sadar bahwa Semua pendapat diambil dan ditolak kecuali pendapat Rasulullah SAW.

Tulisan berjudul Teladan Kami Rasulullah, Bukan Ibnu Taimiyah terakhir diperbaharui pada Saturday 6 June 2015 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


2 thoughts on “Teladan Kami Rasulullah, Bukan Ibnu Taimiyah

  1. Ada lagi yang harus diperhatikan dengan serius apakah benar lukisan/gambar yang terdapat di halaman 170 dari buku PAI dan Budi Pekerti kelas XI Kurikulum 2013 itu adalah tokoh yang bernama Syah Waliyyulloh???.

    Reply

Post Comment