Kisah Seorang Anak Kecil Dengan Buntut Singkongnya

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Kisah ini berawal ketika suatu hari di tahun 1980-an, ada seorang penjual gorengan yang sedang mangkal tiba-tiba dihampiri seorang anak kecil. Anak tersebut langsung mengambil posisi berdiri di sisi kanan gerobak dengan kaki kiri sedikit diangkat dan ditempelkan pada kaki kanan serta menggigit jari telunjuk kanannya. Tanpa berkata-kata dengan posisi tersebut, anak itu terus menatap ke arah gerobak. Melihat kejadian itu, maka si penjual gorengan itu tetap tidak bereaksi dan tidak berkata apapun, meski kejadian itu terus berulang sampai hari ketiga dengan posisi berdiri dan gaya yang sama.

Pada hari keempat, si penjual gorengan itu mulai berfikir dan ada perasaan kasihan pada anak itu. “Sepertinya dia akan datang lagi hari ini.” Maka buntut singkong yang biasanya dibuang, kali ini digoreng dan disiapkan untuk diberikan pada anak itu nanti. Benar saja anak itu datang lagi, lalu di berikannya buntut singkong yang sudah digoreng tadi.

Subhanallah, betapa senangnya anak itu sambil tersenyum lebar dan mata yang berbinar-binar dia pun berlari kencang dengan senangnya. Si penjual gorengan itu hanya bisa menggelengkan kepala melihat reaksi anak kecil itu yang sedemikian senangnya meskipun dia hanya memberikan Buntut Singkong. Kejadian ini terus berulang sampai empat hari berturut-turut hingga akhirnya anak itu tidak datang lagi.

Dua puluh lima tahun kemudian, masih dengan gerobak yang sama dan tempat mangkal yang sama, seorang pemuda berumur sekitar 30 tahun itu mendatangi gerobak tersebut.

“Ada buntut singkong pak?”, tanya pemuda itu.

Si penjual gorengan terpana sejenak dengan pertanyaan itu. “Enggak ada, buntut singkong mah enggak enak, pahit, makanya enggak dijual, enggak akan laku. Cari yang lain saja!”, jawabnya.

Pemuda itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala menolak tawaran tersebut. ”Bapak masih kenal saya?”, tanya si pemuda.

Maka penjual gorengan itu memandangi pemuda itu cukup lama, berusaha mengenalinya dan dia balik bertanya, “Sepertinya saya kenal tapi siapa ya?”

Sambil terus tersenyum, pemuda itu berkata. “Sebentar pak, saya akan peragakan sesuatu, pasti bapak kenal saya.”

Lalu pemuda itu memperagakan posisi berdiri setengah kaki dengan menggigit jari telunjuk kanannya, persis seperti yang dia lakukan dua puluh empat tahun yang lalu.

“Oh rupanya kamu anak kecil yang dulu saya kasih buntut singkong itu ya?”, ujarnya.

“Betul sekali pak”, jawab pemuda itu.

“Maaf ya Nak, bapak dulu hanya kasih kamu buntut singkong”, kata tukang gorengan sedikit menahan malu.

“Enggak pak, justru dulu Bapak sudah memberikan kebahagiaan yang sangat besar untuk saya”, sanggah pemuda itu.

Dengan sedikit berkaca-kaca, pemuda itu lalu bercerita.

”Dulu waktu saya datang ke gerobak Bapak ini, baru beberapa hari Almarhum Ayah saya meninggal. Saya tidak lagi punya uang jajan seperti waktu beliau masih ada, sedangkan teman-teman main saya tidak mau lagi berteman dengan saya hanya karena saya tidak punya uang jajan. Lalu saya mendatangi beberapa warung, tapi malah mereka pada mengusir saya, tapi ketika saya mendatangi gerobak Bapak, saya tidak diusir, tidak ditegur, juga tidak diberi apa-apa, maka dari itu Saya pantang menyerah sampai akhirnya bapak ngasih buntut singkong itu.”

Pemuda itu melanjutkan ceritanya bahwa dia senang sekali karena bisa bergabung kembali dengan teman-temannya waktu itu dan menunjukkan jajanannya. Padahal dia hanya berpura-pura dengan cara kedua tangannya seolah-olah menggenggam satu singkong utuh dan hanya ujungnya atau buntut singkong yang menyembul ke atas.

“Jadi begitu ceritanya pak…”, kata pemuda itu seraya menjelaskan bahwa beberapa hari kemudian dia tidak lagi mendatangi gerobaknya karena diajak ibunya pindah rumah ke luar kota.

Tiba-tiba dengan air mata yang berlinang, pemuda itu berkata. “Pak… saya mau berterima kasih sama Bapak, saya mau membayar empat buntut singkong itu. Bulan depan kebetulan saya dan keluarga mau UMROH ke tanah suci Makkah, maka Saya berharap Bapak juga mau ikut umroh bersama kita ke tanah suci.”

“Umrah?” Si penjual gorengan menatap dengan penuh keheranan dan tidak percaya. Bagaimana mungkin perbuatan kecil yang dia lakukan beberapa tahun yang lalu dan sudah dilupakan kejadiannya, tiba-tiba kini berbuah tawaran untuk berumroh.?

Allah Maha Besar, tidak ada yang tidak mungkin, janji Allah itu pasti. Allah tidak akan membiarkan berlalu begitu saja kebaikan yang kita lakukan sekecil apapun. Sebagaimana firmannya,

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.”(Qur’an Surat Az Zalzalah:7).

Bahkan tak jarang Allah melipatgandakan balasan kebaikan yang kita lakukan, perhatikan petikan ayat berikut ini:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Qur’an Surat Al Baqarah:261).

Semoga kisah ini dapat menginspirasi saya dan kita semua untuk selalu menebarkan kebaikan dan kebahagiaan bagi orang lain, sedikit sedekah atau kebaikan yang kita berikan bisa jadi sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan.

Oleh: Naziem Elmandurie, yang diambil dari buku “Miracle of Giving, Keajaiban Sedekah” buah karya KH Yusuf Mansur.

Tulisan berjudul Kisah Seorang Anak Kecil Dengan Buntut Singkongnya terakhir diperbaharui pada Friday 27 February 2015 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment