Meluruskan Fitnah Keji Media “Islam” Terhadap Syaikh Ali Jumu’ah

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Salah satu ulama Ahlussunnah wal Jama’ah (aswaja), Syaikh Ali Jumu’ah, mantan Mufti Republik Arab Mesir sekaligus ulama Al-Azhar Al-Syarif Mesir kembali mendapatkan fitnah keji dari berbagai media pro Ikhwanul Muslimin. Kejadian ini bermula dari sebuah video bohong dan provokatif yang berisi pernyataan Syaikh Ali Jumu’ah yang mengatakan zina tidak haram.

Berita provokatif terkait hal ini muncul pasca acara seminar seputar kitab “al-Ijma’” karya Ali Abd Raziq, di Cairo International Book Fair pada beberapa hari yang lalu. Fitnah diawali dengan tersebarnya potongan video berdurasi singkat tentang acara seminar tersebut yang diunggah di situs Youtube.com, yang kemudian dieksplotasi, dikembangkan, dipoles, dan ditambah-tambahkan dengan “bumbu” fitnah lalu disebarluaskan secara masif oleh media-media pro Ikhwanul Muslimin untuk memojokkan Syaikh Ali Jumu’ah.

Sebagaimana diketahui, pasca rakyat Mesir melengserkan Mohammed Morsi yang merupakan tokoh Ikhwanul Muslimin dari kursi kepresidenan, banyak dari orang-orang Ikhwanul Muslimin yang berusaha menyerang ulama Al-Azhar karena dianggap menyetujui pelengseran tersebut. Di Indonesia, media-media yang pro dan pembela Ikhwanul Muslimin pun ikut-ikutan melancarkan “serangan”-nya kepada ulama Al-Azhar. Umumnya mereka adalah kader dan simpatisan dari salah satu partai politik yang memang dianggap sebagai kepanjangan tangan dari Ikhwanul Muslimin.

Hembusan fitnah dari Ikhwanul Muslimin Mesir ini pun ditangkap dengan baik oleh pendukungnya di Indonesia sehingga ramailah situs-situs “Islam” pro Ikhwanul Muslimin Indonesia menuliskan berita kebohongan yang diada-adakan. Kali ini, Syaikh Ali Jumu’ah difitnah dengan tuduhan telah menyatakan bahwa al-Qur’an tidak mengharamkan zina. Fitnah itu diposting dan disebarluaskan salah satunya oleh situs Fimadani.com (situs pro Ikhwanul Muslimin) dengan judul bombastis, “Eks Mufti Mesir: Al-Quran Tidak Mengharamkan Zina, dan Badan Sensor Film Persilakan Adegan Seks” (Lihat: http://news.fimadani.com/read/2015/02/16/mufti-mesir-menyatakan-al-quran-tidak-mengharamkan-zina-dan-badan-sensor-film-mesir-mempersilahkan-adegan-seks/).

Dilansir dari situs Fimadani itu, admin menuliskan sebagai berikut:

Pada simposium itu, Ali Jumah mengatakan bahwa tidak ada ayat di dalam Al-Quran yang jelas-jelas mengharamkan perbuatan zina, yang ada hanya perkataan Allah yang mengatakan, “Jangan dekati zina”, Allah mengatakan “jangan dekati,” tapi Allah tidak mengatakan “haram”, katanya seperti dilansir portal Dostor, Rabu (5/2).

Sejalan dengan pernyataan mufti (red.= Syaikh Ali Jumu’ah) bahwa Al-Quran tidak mengharamkan zina tersebut diatas, maka Mesir juga dikejutkan dengan pernyataan badan sensor film Mesir yang membolehkan adegan seks apapun dan tidak akan melakukan sensor atau membuangnya.

Fitnah ini dikutip Fimadani dari situs Dostor.org – الدستور yang mana pernyataan Syaikh Ali Jumu’ah dipelintir berdasarkan sebuah potongan video berdurasi 58 detik (Lihat: https://www.youtube.com/watch?v=W4xrxrkA_fI). Video singkat itu jelas-jelas telah memotong perkataan Syaikh Ali Jumu’ah, bukan pernyataan yang utuh. Hal yang sama juga dilakukan oleh media pro Ikhwanul Muslimin lainnya, diantaranya:

  • Situs Alquds.com mengutip dari Dostor, melansir berita berjudul “فيديو..الشيخ علي جمعة: القرآن لا يحرم الزنا (Video Syaikh Ali Jum’ah: Al-Qur’an Tidak Mengharamkan Zina)”. Situs Al-Quds  juga menampilkan video potogan yang berdurasi 39 detik.  (Lihat: http://www.alquds.com/news/article/view/id/545364)
  • Situs http://mz-mz.net/423935/ mengutip dari Dostor dengan judul “الشيخ علي جمعة: القرآن لا يحرم الزنا -فيديو” dan menampilkan video yang sama.
  • Situs http://www.shaamtimes.net/news-details.php?id=23593 mengutip dari Dostor dengan judul “بالفيديو: مفتي مصر السابق علي جمعة : القرآن لا يحرم الزنا !” dengan video yang sama pula.
  • Situs http://www.alamatonline.net/l3.php?id=134246 dengan judul “مفتي الانقلاب: القرآن لم يحرم الزنا (Mufti Kudeta: Al-Qur’an tidak haramkan zina)”.

SUMBER FITNAH: https://www.youtube.com/watch?v=W4xrxrkA_fI.

ISLAMIEDIA.CO: Situs Islamedia.co (sebelumnya Islamedia.web.id) yang merupakan situs senafas dengan Fimadani pro Ikhwanul Muslimin ini juga menyebarkan fitnah yang sama terhadap Syaikh Ali Jumu’ah, dengan mengutip dari Fimadani dan memberi judul: Ulama Pendukung As-Sisi Sebut Al-Quran Tidak Mengharamkan Zina, dan Badan Sensor Film Persilakan Adegan Seks (Lihat: http://www.islamedia.co/2015/02/ulama-pendukung-as-sisi-sebut-al-quran.html).

Yang jadi pertanyaan, benarkah apa yang ditulis oleh media-media pro Ikhwanul Muslimin itu? Apakah media tersebut telah melakukan tabayyun terlebih dahulu? Dan pernahkah terpikirkan oleh mereka bagaimana dampak yang dapat ditimbulkannya?

MELURUSKAN FITNAH MEDIA “ISLAM” TERHADAP SYAIKH ALI JUMU’AH

Tidaklah elok mengorbankan nilai-nilai Islam hanya demi ambisi kekuasaan dunia semata. Tanpa mengedepankan tabayyun, media-media pro Ikhwanul Muslimin seolah berlomba-lomba menjadi yang terdepan dalam penyebaran berita fitnah dan bohong.

Memotong penjelasan Syaikh Ali Jumu’ah seperti dalam video tersebut merupakan bentuk kedzoliman nyata terhadap seorang muslim apalagi beliau adalah seorang ulama, ulama besar dunia ahlussunnah wal jama’ah yang dihormati dan disegani. Terlebih lagi, apa yang ditulis dan disebarkan oleh media pro Ikhwanul Muslimin itu ternyata sangat jauh menyimpang, berbeda dan bertolak belakang dengan apa yang dikemukan dan dijelaskan oleh Syaikh Ali Jumu’ah.

Syaikh Ali Jumu’ah (mantan Mufti Mesir) menjelaskan bahwa:

“Al-Qur’an al-Karim tidak mengharamkan zina dengan redaksi lafadz HARRAMA “حرّم” (mengharamkan), kita tidak menemukan ayat yang menyebutkan “حرّم عليكم الزنا / Harrama ‘alaikumuz Zina”. Namun, Allah Ta’ala telah mengharamkan permulaan zina dan semua hal yang menjurus kepada zina.  Allah berfirman:

ولا تقربوا الزنا

(Dan janganlah kalian mendekati zina).

Apabila Allah mengharamkan sesuatu yang menjurus kepada zina, maka zina dengan sendirinya keharamannya jauh lebih berat“.

Dalam seminar bedah kitab “al-Ijma’” yang kemudian dipelintir oleh media “Islami” itu, Syaikh Ali Jumu’ah sebenarnya sedang menjelaskan tentang shighat (redaksi/ format) pengharaman yang banyak. Syaikh Ali Jumu’ah mengutip perkataan Imam al-Zarkasyi dan Imam Al-Ghazali. Imam al-Zarkasyi dalam kitabnya “al-Bahr al-Muhith” mengatakan:

Shighat/ redaksi larangan (al-Nahy) memiliki banyak makna, pertama, bermakna tahrim (pengharaman) seperti Firman Allah “ولا تقربوا الزنا (Janganlah kalian mendekati zina)”, kedua; bermakna karohah (makruh) seperti Firman Allah “ولا تأكلوا مما لم يذكر اسم الله عليه (Janganlah kalian memakan dari apa yang tidak disebutkan nama Allah atasnya)“.

Sementara Imam Al-Ghazali di dalam kitabnya “Al-Mankhul” mengatakan:

Redaksi larangan (al-Nahy) memiliki 7 makna (diantaranya);

  • lit-tahrim (haramnya suatu perbuatan) seperti Firman Allah “لا تقربوا الزنا”.
  • lil-karahah (makruhnya suatu perbuatan) seperti sabda Nabi Saw. kepada Sayyidah ‘Aisyah  “لا تتوضئي بالماء المشمس/Janganlah engkau berwudlu’ dengan air musyammas (kena panas matahari)”.
  • lil-tahqir (untuk menyatakan kehinaan/ merendahkan) seperti firman Allah “ولا تمدن عينيك / Janganlah tunjukkan matamu…. dan seterusnya”.
  • li-bayanil ‘aqibah (menjelaskan akibat suatu perbuatan), seperti firman Allah “ولا تحسبن الله غافلا / Janganlah kamu mengira bahwa Allah lalai ….”

Penjelasan Syaikh Ali Jumu’ah di atas dapat dilihat dalam situs Elwatan News tertanggal 10 Februari 2015 dengan judul “علي جمعة: الزنا حرام شرعا والقرآن حرم مقدماته (Ali Jum’ah: Zina Haram secara Syara’, bahkan Al-Qur’an Haramkan Permualaan Zina)” (Lihat: http://www.elwatannews.com/news/details/659816). Dapat dilihat pula dalam situs Almesryoon.com (10/2/2015), Youm7, dan sebagainya.

Meluruskan Berita Fitnah Terhadap Syaikh Ali Jum'ah di Media Pro IM (Fimadani dan lainnya)
http://www.elwatannews.com/news/details/659816

Dari apa yang dijelaskan oleh Syaikh Ali Jumu’ah dengan apa yang disebarkan oleh media-media pro Ikhwanul Muslimin jelas sangat bertolak belakang maksud dan maknaya. Sebagaimana dilansir dari harian youm7, Syaikh Ali Jumu’ah menegaskan bahwa sejumlah media telah memontong-motong perkataannya, sehingga seakan-akan ia mengatakan zina hukumnya halal. Padahal ini tidak pernah dikatakan oleh siapa pun baik dulu maupun sekarang. Tidak ada satu pun orang berakal yang menghalalkan zina.

“Sesungguhnya tugas media adalah memberikan pencerahan bukan melakukan provokasi. Kalian harus berhati-hati dengan apa yang kalian katakan dan sebarkan, karena kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas satu kata yang kalian tulis, dan itu akan dicatat dalam buku kalian kelak di hari kiamat,” jelas Syaikh Ali Jumu’ah.

KARENA FITNAH ULAMA, SITUS FIMADANI CS DIBULLY OLEH NETIZER

Akibat pemberitaan yang bernada fitnah itu, media-media penyebar kebohongan seperti Fimadani di “bully” habis-habisan oleh para Netizer. Salah satunya datang dari Ustadz Ahmad Sarwat yang aktif menulis di dunia maya. Pengelola situs Rumah Fiqih Indonesia itu menuliskan dalam kolom komentar situs Fimadani, dengan mengatakan:

“Astaghfirullah, beliau ulama besar dan ahli syariah. Jangan sampai kita menuduh beliau dengan sumber yang tidak bertanggung-jawab. Semoga yang punya media bisa mengerti bahwa melempar tuduhan model seperti ini bukan cara yang diajarkan Rasulullah SAW”, tulis Ustadz Ahmad Sarwat.

Ahmad Fahmi Kamil, mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Jurusan Syariah Islamiyah Universitas Al Azhar Al Syarif Kairo Mesir pun geram atas fitnah yang dilontarkan Fimadani. Ia mengatakan bahwa Syaikh Ali Jumu’ah sebenarnya sedang menjelaskan tentang keharaman zina bukan malah sebaliknya. Ia pun menunjukan bukti tentang hal itu melalui link video durasi yang lebih panjang bukan video potongan singkat. (Link video: https://www.youtube.com/watch?v=zFj8IDYvINc)

“https://www.youtube.com/watch?v=zFj8IDYvINc Ini video yang aseli, yang ngga dipotong-potong. Beliau sedang menjelaskan tentang keharaman zina, beliau ahli ushul, tapi yang muncul kok malah pemberitaan beliau tidak mengharamkan zina? Ada apa dengan media ini (red.=Fimadani)? Memotong video dan akan memotong persatuan umat. Fitnah sudah menjadi tradisi asal golongan menjadi tinggi, tabayyun bukan hal yang perlu lagi”, ungkap Kamil.

Lain lagi dengan Nanang, mahasiswa Jurusan Manajemen di Universitas Negeri Malang, meminta penulis/ penukil artikel di Fimadani meminta maaf karena sudah menyebarkan berita dusta sebelum dituntut di akhirat kelak.

“Alangkah eloknya kalo penulis/penukil artikel diatas segera minta maaf sudah menyebarkan berita dusta, sebelum dituntut di akhirat kelak… Berita diatas terbukti dan diklarifikasi bohong, minimal seharusnya mencari video utuhnya baru membuat berita”, pinta Nanang.

Oleh: Ibnu L’ Rabassa/ Ibnu Munir/ AI, Pecinta Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah.

Tulisan berjudul Meluruskan Fitnah Keji Media “Islam” Terhadap Syaikh Ali Jumu’ah terakhir diperbaharui pada Tuesday 17 February 2015 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


9 thoughts on “Meluruskan Fitnah Keji Media “Islam” Terhadap Syaikh Ali Jumu’ah

  1. apakah sudah ditanyakan ke pihak Arab Saudi…?mhn kalo bikin berita yang seimbang shg para pembaca bisa melihat kebenaran yang disampaikan,bukannya digiring persepsinya
    agar sependapat dengan penulis yang mungkin juga belum tentu benar dihadapan Allah…

    Reply
  2. Pendapat sypun sama konfirmasi dulu ke pihak saudi arabia jangan membuat postingan yg bernada adu domba antara sesama muslim kami orang awan seringkali dibuat bingung oleh pendapat pendapat kalian yg merasa golongannya paling benar sesungguhnya kebenaran ada ditangan allah

    Reply
  3. Saya yakin se-yakin2-nya, yang menulis makalah ini orang yang mengaku NU.
    Saya sarankan anda membeli buku AHKAMUL FUQAHA, buku itu berisi kumpulan KEPUTUSAN RESMI NU, sejak 1926 – 2010. Pada saat NU pertama berdiri, ada TOKOH ULAMA KH.Hasyim Asy’ari, Ulama terbesar dalam sejarah NU, Dalam buku itu diputuskan acara ritual TAHLILAN mayit, adalah BID’AH TERCELA, tetapi keputusan ini diinjak2 orang2 yang mengaku NU. Padahal Keputusan itu sdh tepat, sebab Nabi Muhammad memiliki 6 anak, tidak ada 1 pun yang di tahlili saat anak2nya meninggal. 5 anak Nabi Muhammad (Qosim, Ibrahim, Ruqiyah, Ummu Kultsum dan Zainab) meninggal ketika Nabi Muhammad msh hidup. Tapi beliau tdk men-TAHLIL-kan mereka. Ketika Nabi Muhammad wafat, Sahabat msh lengkap, Abu Bakar (mertua Nabi), Umar Bin Khotob (mertua Nabi), Utsman Bin Afan (menantu Nabi 2x), Ali Bin Abi Thalib (menantu Nabi), Fatimah az-zahra (Putri tercinta Nabi) tdk mengadakan TAHLILAN.

    Ketika bapak saya meninggal, sy tdk mengadakan TAHLILAN, semua (yg menganggap dirinya kyai), mencaci maki saya, mati tdk di TAHLILI seperti matinya hewan. Saya pun datangi mereka satu/satu, saya tunjukkan BUKU AHKAMUL FUQAHA, Apakah Nabi sekeluarga HEWAN..??, mereka hny diam.

    Saudaraku semua.., mari kita ber-AGAMA dengan mengikuti contoh dan perintah dari Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam. Demikian tulisan ini, mohon maaf, semoga bermanfaat

    Reply
    1. Tidak semua fatwa seoang ulama diikuti pada permasalahan khilafiyah seperti tahlilan, yasinan dsbnya. bahkan fatwa Imam Syafii pun tidak semua diambil dan diikuti oleh murid-muridnya. Begitu pula Imam-imam yang lain. Ini ada sedikit tulisan mengenai penetapan hari-hari tertentu untuk melakukan kebaikan : DALIL TRADISI YASINAN DAN TAHLILAN
      Kaum Muslimin di Indonesia meyakini bahwa Islam disebarkan di Nusantara oleh para ulama yang alim dalam hal ilmu agama. Berdasarkan kealiman mereka, yang sudah barang tentu melebihi kealiman orang-orang sekarang, mereka melakukan inovasi dan melestarikan tradisi-tradisi Islam yang berlangsung hingga sekarang, seperti tradisi Yasinan, Tahlilan 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari dan lain-lain. Hanya saja karena umat Islam Nusantara, tidak pernah mempersoalkan dalil-dalil teradisi amaliah Islami tersebut, para ulama kita jarang sekali menjelaskan dalil-dalil tradisi tersebut.
      Belakangan setelah fitnah kaum Wahabi mulai masuk ke Nusantara, mulai terjadi gugatan terhadap beragam tradisi yang telah berkembang sebelumnya. Kaum Wahabi beralasan, bahwa tradisi tersebut tidak memiliki dalil. Padahal sebagaimana kita maklumi, kaum Wahabi-lah yang paling miskin dalil. Akan tetapi setelah para ulama kita menjelaskan dalil-dalil tradisi tersebut, kaum Wahabi masih berkilah, “Itu mendalili amal, bukan mengamalkan dalil.” Tentu saja, karena kaum Wahabi belum mampu menjawab dalil-dalil yang dikemukakan oleh para ulama. Mengamalkan dalil dan mendalilkan amal, selama dalilnya shahih, tidak ada bedanya.
      Berikut ini dalil-dalil bolehnya menetapkan waktu-waktu tertentu untuk melakukan kebaikan dan ibadah.
      1) Dalil pertama, hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma:
      عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ كُلَّ سَبْتٍ مَاشِيًا وَرَاكِبًا وَكَانَ عَبْدُ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَفْعَلُهُ. رواه البخاري
      “Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mendatangi Masjid Quba’ setap hari sabtu, dengan berjalan kaki dan berkendaraan.” Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu juga selalu melakukannya. (HR. al-Bukhari, [1193]).
      Hadits di atas menjadi dalil bolehnya menetapkan waktu-waktu tertentu secara rutin untuk melakukan ibadah dan kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan hari Sabtu sebagai hari kunjungan beliau ke Masjid Quba’. Beliau tidak menjelaskan bahwa penetapan tersebut, karena hari Sabtu memiliki keutamaan tertentu dibandingkan dengan hari-hari yang lain. Berarti menetapkan waktu tertentu untuk kebaikan, hukumnya boleh berdasarkan hadits tersebut. Karena itu al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:
      وفي هذا الحديث على اختلاف طرقه دلالة على جواز تخصيص بعض الأيام ببعض الأعمال الصالحه والمداومه على ذلك وفيه أن النهي عن شد الرحال لغير المساجد الثلاثه ليس على التحريم
      “Hadits ini, dengan jalur-jalurnya yang berbeda, mengandung dalil bolehnya menentukan sebagian hari, dengan sebagian amal saleh dan melakukannya secara rutin. Hadits ini juga mengandung dalil, bahwa larangan berziarah ke selain Masjid yang tiga, bukan larangan yang diharamkan.” (Al-Hafizh Ibnu Hajar, Fath al-Bari, juz 3 hlm 69).
      2) Hadits Sayidina Bilal radhiyallahu ‘anhu
      وَعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِبِلاَلٍ عِنْدَ صَلاَةِ الْفَجْرِ: «يَا بِلاَلُ حَدِّثْنِيْ بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي اْلإِسْلاَمِ فَإِنِّيْ سَمِعْتُ دُفَّ نَعْلَيْكَ فِي الْجَنَّةِ» قَالَ: مَا عَمِلْتُ عَمَلاً أَرْجَى عِنْدِيْ مِنْ أَنِّيْ لَمْ أَتَطَهَّرْ طَهُوْرًا فِيْ سَاعَةٍ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلاَّ صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطَّهُوْرِ مَا كُتِبَ لِيْ. وَفِيْ رِوَايَةٍ : قَالَ لِبِلاَلٍ: «بِمَ سَبَقْتَنِيْ إِلَى الْجَنَّةِ؟ قَالَ: مَا أَذَّنْتُ قَطُّ إِلاَّ صَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ وَمَا أَصَابَنِيْ حَدَثٌ قَطُّ إِلاَّ تَوَضَّأْتُ وَرَأَيْتُ أَنَّ للهِ عَلَيَّ رَكْعَتَيْنِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «بِهِمَا» أَيْ نِلْتَ تِلْكَ الْمَنْزِلَةَ». رواه البخاري (1149) ومسلم (6274) وأحمد (9670) والنسائي في فضائل الصحابة (132) والبغوي (1011) وابن حبان (7085) وأبو يعلى (6104) وابن خزيمة (1208) وغيرهم.
      “Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada Bilal ketika shalat fajar: “Hai Bilal, kebaikan apa yang paling engkau harapkan pahalanya dalam Islam, karena aku telah mendengar suara kedua sandalmu di surga?”. Ia menjawab: “Kebaikan yang paling aku harapkan pahalanya adalah aku belum pernah berwudhu’, baik siang maupun malam, kecuali aku melanjutkannya dengan shalat sunat dua rakaat yang aku tentukan waktunya.” Dalam riwayat lain, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Bilal: “Dengan apa kamu mendahuluiku ke surga?” Ia menjawab: “Aku belum pernah adzan kecuali aku shalat sunnat dua rakaat setelahnya. Dan aku belum pernah hadats, kecuali aku berwudhu setelahnya dan harus aku teruskan dengan shalat sunat dua rakaat karena Allah”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Dengan dua kebaikan itu, kamu meraih derajat itu”.(HR. al-Bukhari (1149), Muslim (6274), al-Nasa’i dalam Fadhail al-Shahabah (132), al-Baghawi (1011), Ibn Hibban (7085), Abu Ya’la (6104), Ibn Khuzaimah (1208), Ahmad (5/354), dan al-Hakim (1/313) yang menilainya shahih.).
      Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam belum pernah menyuruh atau mengerjakan shalat dua rakaat setiap selesai berwudhu atau setiap selesai adzan, akan tetapi Bilal melakukannya atas ijtihadnya sendiri, tanpa dianjurkan dan tanpa bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Ternyata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membenarkannya, bahkan memberinya kabar gembira tentang derajatnya di surga, sehingga shalat dua rakaat setiap selesai wudhu menjadi sunnat bagi seluruh umat. Dengan demikian, berarti menetapkan waktu ibadah berdasarkan ijtihad hukumnya boleh. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata ketika mengomentari hadits tersebut:
      ويستفاد منه جواز الاجتهاد في توقيت العبادة لأن بلالا توصل إلى ما ذكرنا بالاستنباط فصوبه النبي صلى الله عليه و سلم
      “Dari hadits tersebut dapat diambil faedah, bolehnya berijtihad dalam menetapkan waktu ibadah. Karena sahabat Bilal mencapai derajat yang telah disebutkan berdasarkan istinbath (ijtihad), lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membenarkannya.” (Al-Hafizh Ibnu Hajar, Fath al-Bari, juz 3 hlm 34).
      3) Hadits Ziarah Tahunan
      عن محمد بن إبراهيم قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم يأتي قبور الشهداء على رأس كل حول فيقول:”السلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار”، وأبو بكر وعمر وعثمان
      “Muhammad bin Ibrahim berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mendatangi makam para syuhada’ setiap tahun, lalu berkata: “Salam sejahtera semoga buat kalian sebab kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” Hal ini juga dilakukan oleh Abu Bakar, Umar dan Utsman. (HR. al-Thabari dalam Tafsir-nya [20345], dan Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya juz 4 hlm 453).
      Hadits di atas juga disebutkan oleh al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi dalam Syarh al-Shudur hlm 185, dan ditentukan bahwa makam Syuhada yang diziarahi setiap oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Syuhada peperangan Uhud. Hadits ini dapat dijadikan dalil, tentang tradisi haul kematian setiap tahun.
      4) Atsar Sayyidah Fathimah radhiyallahu ‘anha
      عن محمد بن علي قال كانت فاطمة بنت رسول الله صلى الله عليه و سلم تزور قبر حمزة كل جمعة
      “Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin berkata: “Fathimah putrid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berziarah ke makam Hamzah setiap hari Jum’at.” (HR. Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf [6713]).
      عن الحسين بن علي : أن فاطمة بنت النبي صلى الله عليه و سلم كانت تزور قبر عمها حمزة كل جمعة فتصلي و تبكي عنده هذا الحديث رواته عن آخرهم ثقات
      “Al-Husain bin Ali berkata: “Fathimah putri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berziarah ke makam pamannya, Hamzah setiap hari Jum’at, lalu menunaikan shalat dan menangis di sampingnya.” (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak [4319], al-Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubra [7000]).
      5) Atsar Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
      عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ حَدِّثْ النَّاسَ كُلَّ جُمُعَةٍ مَرَّةً فَإِنْ أَبَيْتَ فَمَرَّتَيْنِ فَإِنْ أَكْثَرْتَ فَثَلَاثَ مِرَارٍ وَلا تُمِلَّ النَّاسَ هَذَا الْقُرْآنَ. رواه البخاري.
      Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Sampaikanlah hadits kepada manusia setiap hari Jum’at. Jika kamu tidak mau, maka lakukan dua kali dalam sepekan. Jika masih kurang banyak, maka tiga kali dalam sepekan. Jangan kamu buat orang-orang itu bosan kepada al-Qur’an ini. (HR. al-Bukhari [6337]).
      Keterangan:
      Menetapkan hari-hari tertentu dengan kebaikan, telah berlangsung sejak masa sahabat. Karena itu para ulama di mana-mana, mengadakan tradisi Yasinan setiap malam Jum’at atau lainnya, dan beragam tradisi lainnya. Hal ini telah berlangsung sejak masa salaf.
      6) Atsar Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu
      عَنْ شَقِيقٍ أَبِى وَائِلٍ قَالَ كَانَ عَبْدُ اللهِ يُذَكِّرُنَا كُلَّ يَوْمِ خَمِيسٍ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنَّا نُحِبُّ حَدِيثَكَ وَنَشْتَهِيهِ وَلَوَدِدْنَا أَنَّكَ حَدَّثْتَنَا كُلَّ يَوْمٍ. فَقَالَ مَا يَمْنَعُنِى أَنْ أُحَدِّثَكُمْ إِلاَّ كَرَاهِيَةُ أَنْ أُمِلَّكُمْ. إِنَّ رَسُولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَتَخَوَّلُنَا بِالْمَوْعِظَةِ فِى الأَيَّامِ كَرَاهِيَةَ السَّآمَةِ عَلَيْنَا. رواه البخاري ومسلم
      “Syaqiq Abu Wail berkata: “Abdullah bin Mas’ud memberikan ceramah kepada kami setiap hari Kamis. Lalu seorang laki-laki berkata kepada beliau: “Wahai Abu Abdirrahman, sesungguhnya senang dengan pembicaraanmu dan selalu menginginkannya. Alangkah senangnya kami jika engkau berbicara kepada kami setiap hari?” Ibnu Mas’ud menjawab: “Tidaklah mencegahku untuk berbicara kepada kalian, kecuali karena takut membuat kalian bosa. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan nasehat kepada kami dalam hari-hari tertentu, khawatir membuat kami bosan.” (HR. al-Bukhari [70], dan Muslim [7305]).
      Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memiliki waktu tertentu untuk berceramah kepada para sahabatnya, kecuali dalam khutbah Jum’at dan hari raya secara rutin. Beliau memberikan nasehat kepada mereka kadang-kadang saja, atau ketika ada suatu hal yang perlu diingatkan kepada mereka. Kemudian setelah beliau wafat, para sahabat menetapkan hari-hari tertentu untuk menggelar pengajian. Hal ini membuktikan bahwa menetapkan hari-hari tertentu untuk kebaikan hukumnya boleh.
      7) Fatwa Syaikh Nawawi Banten rahimahullah
      والتصدق عن الميت بوجه شرعي مطلوب، ولا يتقيد بكونه سبعة أيام أو أكثر أو أقل، وتقييده ببعض الأيام من العوائد فقط كما أفتى بذلك السيد أحمد دحلان، وقد جرت عادة الناس بالتصدق عن الميت في ثالث من موته وفي سابع وفي تمام العشرين وفي الأربعين وفي المائة وبعد ذلك يفعل كل سنة حولا في يوم الموت كما أفاد شيخنا يوسف السنبلاويني. (الشيخ نووي البنتني، نهاية الزين ص/281).
      Bersedekah untuk orang meningga dengan cara yang syar’i itu dianjurkan. Hal tersebut tidak terbatas dengan tujuh hari, lebih atau kurang. Membatasi sedekah dengan sebagian hari, termasuk tradisi saja sebagaimana fatwa Sayyid Ahmad Dahlan. Tradisi masyarakat telah berlangsung dengan bersedekah pada hari ketiga kematian, ketujuh, keduapuluh, keempat puluh, keseratus, dan sesudah itu dilakukan setiap tahun hari kematian, sebagaimana dijelaskan oleh guru kami Yusuf al-Sunbulawaini. (Syaikh Nawawi Banten, Nihayah al-Zain, hlm 281).
      Paparan di atas memberikan kesimpulan, bahwa menetapkan hari-hari tertentu untuk melakukan kebaikan secara rutin, adalah tradisi Islami yang mulia, berdasarkan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tradisi para sahabat. Alhamdulillah.

      Reply
    2. antum ni percaya gak kalau doa, dzikrullah dan sedekah itu nyampe ke mayit? kalau gak percaya ya sudah tak masalah. Yang jadi masalah adalah antum mempermasalahkan kami yang meyakini bahwa amalan itu nyampe ke mayit. Adapun tahlilan dan lain sebagainya itu hanyalah masalah teknis saja. Faham tak? kalau gak faham ngajinya ke mbah google ja biar jenggotnya tambah panjang.

      Reply
    3. @bocahlanggaran: antum ni percaya gak kalau doa, dzikrullah dan sedekah itu nyampe ke mayit? kalau gak percaya ya sudah tak masalah. Yang jadi masalah adalah antum mempermasalahkan kami yang meyakini bahwa amalan itu nyampe ke mayit. Adapun tahlilan dan lain sebagainya itu hanyalah masalah teknis saja. Faham tak? kalau gak faham ngajinya ke mbah google ja biar jenggotnya tambah panjang.

      Reply

Post Comment