Subhanallah, Kumandang Adzan Dapat Merangsang Saraf Kecerdasan Bayi

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Anak merupakan salah satu anugerah dan karunia yang besar yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada sebuah keluarga. Dalam kehidupan keluarga, orang tua mempunyai kewajiban untuk mendidik, menjaga dan merawat anak-anaknya dengan sebaik-baiknya, karena ia termasuk amanah yang dititipkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada mereka. Amanah ini kelak akan dimintakan pertanggungjawabannya dihadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Seyogyanya kewajiban mendidik anak sudah harus dimulai sejak masa dalam kandungan sebelum anak itu lahir ke dunia, bukan hanyya dilakukan setelah ia dewasa. Mendidik anak setelah dilahirkan dan berusia dewasa dikatakan oleh banyak ulama sudah masuk dalam kategori “terlambat”. Mereka, para ulama dan orang-orang sholih sudah jauh-jauh hari mulai memikirkan bagaimana mendidik anaknya kelak sejak sebelum pernikahan. Salah satunya dengan menentukan calon pasangan yang sholeh/ sholehah. Harapannya, tentu saja agar anaknya nanti dapat menjadi orang yang sholeh/ sholehah pula.

Meski begitu, terlambat atau tidak, masih kecil atau pun sudah dewasa, pendidikan anak tetap diperlukan. Salah satu bentuk pendidikan terhadap anak yang sering dilakukan orang tua, yang pertama kalinya dilakukan sejak anak itu berada di alam dunia adalah membacakan adzan dan iqamah ketika anak tersebut baru saja dilahirkan. Begitu anak itu lahir, sang ayah biasanya mengumandangkan adzan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri. Ini adalah bagian dari sunnah yang dilakukan dan diajarkan oleh Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa alihi wa shohbihi wa sallam kepada umatnya sebagaimana telah disebutkan dalam berbagai hadits.

Imam an-Nawawi (631-676 H) rahimahulloh di dalam kitab al-Adzkar menyatakan:

روينا في سنن أبي داود والترمذي وغيرهما عن أبي رافع رضي الله عنه مولى رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ” رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم أذن في أذن الحسين بن علي حين ولدته فاطمة بالصلاة رضي الله عنهم “. قال الترمذي : حديث حسن صحيح

Kami telah meriwayatkan di dalam Kitab Sunan Abu Dawud dan at-Tirmidzi dan selain keduanya dari Abu Rafi’ radhiyallahu ‘anhu maulanya Rasulullah SAW, beliau berkata: “Saya telah melihat Rasululloh SAW meng-adzani di telinganya Hasan bin Ali tatkala Fathimah baru saja melahirkannya dengan adzan shalat semoga Allaoh meridhai mereka semua”. Imam at-Tirmidzi berkata: Ini adalah hadits yang hasan lagi shahih. (Al-Adzkar, hal : 298).

Disebutkan pula dalam Kitab al-Adzkar an-Nawawiyah tersebut:

قال جماعة من أصحابنا : يستحب أن يؤذن في أذنه اليمنى ويقيم الصلاة في أذنه اليسرى. وقد روينا في كتاب ابن السني عن الحسين بن علي رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” من ولد له مولود فأذن في أذنه اليمنى ، وأقام في أذنه اليسرى لم تضره أم الصبيان

Sekumpulan dari sahabat-sahabat kami berkata: DISUNNAHKAN bila seseorang meng-Adzani bayi di telinganya yang kanan, dan meng-Iqomatinya di telinganya yang kiri. Dan sungguh kami telah meriwayatkan di dalam kitab Ibnu as-Sunniy dari Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang dilahirkan baginya seorang anak, kemudian dia meng-adzaninya di telinganya yang kanan dan meng-iqomatinya di telinganya yang kiri, maka Jin Ummu Shibyan tidak akan dapat membahayakannya”. (Al-Adzkar, hal : 299).

Tapi tahukah anda bahwa mengumandangkan adzan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri pada anak yang baru dilahirkan bukan hanya mengikuti sunnah Rasulullah saja. Lebih dari itu, adzan dan iqamah tersebut ternyata mempunyai keistimewaan dan dampak yang baik bagi perkembangan seorang anak. Para peneliti dan cendekiawan muslim telah melakukan berbagai riset ilmiah terkait hal ini dan menyatakan bahwa mengumandangkan adzan pada bayi yang baru dilahirkan ternyata sangat ampuh dalam mencerdaskan otak sang anak.

Dikutip dari National Geographic Indonesia mengungkapkan bahwa kumandang adzan mampu merangsang saraf kecerdasan bayi. Ulama cendekiawan muslim dari Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, DR. Karyono Ibnu Ahmad berkata:

“Ketika azan itu dibisikan di telinga kanan sang bayi, maka yang terjadi adalah suara itu mampu merangsang saraf kecerdasan bayi untuk berfikir. Sedangkan bila dibisikan di telinga kiri, maka suara itu akan menimbulkan sentuhan rangsangan kecerdasan emosi atau rasa si bayi. Namun, bisikan adzan itu wajib disertai dengan doa terhadap Allah,” ungkap Ibnu Ahmad (2/3/2015) dalam halaman National Geographic Indonesia.

As’ad Syamsul Arifin dalam penelitian kepustakaannya yang berjudul “Nilai-Nilai Edukatif dalam Hadits Nabi: Studi Analisis Terhadap Hadits Nabi tentang Adzan di Telinga Bayi” berhasil mengungkapkan hubungan nilai edukasi dan pengaruh adzan di telinga bayi baru lahir. Mahasiswa Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang itu memberikan alasan terkait risetnya tersebut:

“Diantara keutamaan syariat Islam terutama bagi umat Islamnya sendiri, ialah bahwa syariat Islam telah menjelaskan tentang seluk beluk hukum dan dasar-dasar pendidikan yang berkaitan dengan anak. Dengan demikian seorang pendidik akan dapat melaksanakan kewajiban terhadap anak secara jelas. Sungguh merupakan keniscayaan bagi setuap orang yang bertanggung jawab terhadap masalah pendidikan untuk melaksanakan kewajibannya secara sempurna sesuai dengan prinsip-prinsip yang telah diletakan oleh Islam dan yang digambarkan oleh pendik pertama, Nabi Muhammad SAW,” kata Arifin dalam laporan penelitiannya.

Dari hasil penelitian As’ad Syamsul Arifin terungkap bahwa hadits tentang adzan di telinga bayi yang baru lahir mengandung hikmah dan nilai-nilai pendidikan agama pada anak, terutama sekali pendidikan tauhid dan pendidikan ibadah. Pelaksanaan adzan di telinga bayi yang baru lahir juga mempunyai pengaruh positif terhadap kecerdasan spiritual anak karena usia awal anak merupakan masa keemasan yang mampu menerima informasi dengan mudah, dan informasi keagamaan yang disampaikan melalui adzan yang disenandungkan pada saat anak lahir akan terserap dengan baik dan kemudian informasi yang tersimpan di dalam otak anak itu akan mencuat kembali ketika ia mengalami atau mempelajari agama Islam di saat ia sudah mulai bisa berinteraksi dengan lingkungan sekitar, sehingga pada saat itu anak akan mudah menangkap informasi lanjutan tentang agama tersebut.

Dalam kata penutupnya, As’ad Syamsul Arifin berharap hasil penelitiannya ini dapat memberikan manfaat bagi para pemerhati pendidikan anak khususnya bagi orang tua. Ia berkata:

Buku Ajaibnya Adzan untuk Mencerdaskan Otak Anak Sejak Lahir“Anak sejak dilahirkan sesungguhnya adalah merupakan mahluk yang jenius dan sudah semestinya bagi orang tua untuk memberikan segala informasi yang bermanfaat bagi anak agar kejeniusan tersebut tidak terpupus,” harap Arifin.

Subhanalloh, keajaiban adzan yang diperdengarkan di telinga bayi yang baru dilahirkan memang sungguh luar biasa. Sunnah Rasulullah  shollallohu ‘alaihi wa alihi wa shohbihi wa sallam tersebut mengandung banyak hikmah dan rahasia. Hal inilah yang mendorong seorang penulis yang bernama Imam Musbikin untuk membuat sebuah buku yang diberi judul “Ajaibnya Adzan untuk Mencerdaskan Otak Anak sejak Lahir”. Dalam buku terbitan Diva Press itu, Imam Musbikin menjelaskan secara lengkap mengenai keajaiban adzan dan iqamah dalam mencerdaskan anak, baik dari tinjauan agama, komunikasi, bahasa, psikologi, maupun neuroteologi. Diantaranya buku itu membahas hal-hal berikut ini:

  • Adzan untuk “Merebut” Detik Pertama Masa Keemasan Otak Anak setelah Lahir
  • Suara Adzan dan Iqamah yang Menakjubkan akan Tersimpan dalam Otak Bahasa Anak
  • Adzan dan Iqamah sebagai Software Penginstal “God Spot”
  • Suara Adzan Menenteramkan Anak
  • Adzan dan Iqamah Menjadi Bahasa Kasih Sayang yang Mencerdaskan
  • Adzan dan Iqamah sebagai Stimulasi Awal Bahasa Anak
  • Suara Adzan dan Proses Terjadinya Bahasa
  • Adzan Sebagai Bentuk Komunikasi Verbal setelah Anak Lahir
  • Mengadzani Anak Dipandang dari Sudut Fungsi Komunikasi
  • Dan lain-lain.

Ulama dari kalangan pengikut Wahabi Salafi, Ibnul Qayyim al-Jauziyyah di dalam kitabnya Tuhfatul Wadud bi-Ahkamil Maulud, menyatakan mengenai kesunnahan mengadzankan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri pada bayi yang baru lahir. Ibnul Qayyim al-Jauziyah mengungkapkan berbagai rahasia dibalik kumandang adzan pada telinga bayi sebagaimana tertulis dalam kitabnya tersebut:

وسر التأذين والله أعلم أن يكون أول ما يقرع سمع الإنسان كلماته المتضمنة لكبرياء الرب وعظمته والشهادة التي أول ما يدخل بها في الإسلام فكان ذلك كالتلقين له شعار الإسلام عند دخوله إلى الدنيا كما يلقن كلمة التوحيد عند خروجه منها وغير مستنكر وصول أثر التأذين إلى قلبه وتأثيره به وان لم يشعر مع ما في ذلك من فائدة أخرى وهي هروب الشيطان من كلمات الأذان وهو كان يرصده حتى يولد فيقارنه للمحنة التي قدرها الله و شاءها فيسمع شيطانه ما يضعفه ويغيظه أول أوقات تعلقه به
وفيه معنى آخر وهو أن تكون دعوته إلى الله وإلى دينه الإسلام وإلى عبادته سابقة على دعوة الشيطان كما كانت فطرة الله التي فطر عليها سابقة على تغيير الشيطان لها ونقله عنها ولغير ذلك من الحكم

“Dan SIRR (RAHASIA) mengadzani bayi, Wallahu A’lam: yaitu supaya yang didengarkan manusia pertama kali adalah ucapan yang mengandung kebesaran Rabb dan keagunganNya serta syahadat yang pertama kali memasukkanya ke dalam Islam, jadi ibarat mentalqinkannya tentang syiar Islam ketika memasuki dunia, sebagaimana dia ditalqin ketika keluar dari dunia, dikarenakan juga sampainya pengaruh adzan ke dalam hatinya dan kesan adzan pada dirinya tidak dipungkiri, meskipun dirasakan ada faedah lain dalam hal itu, yaitu larinya setan dari kalimat adzan, dimana setan senantiasa menunggunya kelahirannya, lalu menyertainya karena takdir Allah dan kehendakNya, maka dengan itu setan yang menyertainya mendengar sesuatu yang melemahkannya dan membuatnya marah sejak pertama mengikutinya”.

Tulisan berjudul Subhanallah, Kumandang Adzan Dapat Merangsang Saraf Kecerdasan Bayi terakhir diperbaharui pada Friday 6 March 2015 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment