Apa Itu Islam NUsantara?

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Apa itu Islam NUsantara?

Islam NUsantara bukanlah Islam tandingan, bukan agama baru, bukan pula agama pinggiran atau “Islam lokal” yang dianut kalangan Muslim NUsantara .

Islam NUsantara bukan pula Islam historis, seperti yang diajarkan kini di kampus-kampus studi Islam (di UIN, IAIN, STAIN, dll). Ini adalah bikinan orientalis, disebar oleh Fazlur Rahman, kemudian diajarkan Nurcholish dan kawan-kawan, lalu ditanamkan kemudian anak-anak santri kita yang kuliah di kampus-kampus Islam, untuk dicuci otak mereka dari segenap pahama keislaman orang-orang Nusantara. Ketika Islam NUsantara dikatakan Islam historis, maka itu kemudian dipertentangkan dengan “Islam normatif” yang asli dari al-Quran dan Hadits yang kemudian hanya dimiliki kelompok Islam puritan Wahabi! Dikotomi itu hanya membenarkan kelompok puritan yang punya slogan “kembali kepada al-Quran dan Hadits”, selian itu hanya historis yang berubah-ubah di setiap saat!

Berbicara tentang Islam NUsantara adalah berbicara tentang bagaimana Islam sebagai ajaran normatif diamalkan dan diistifadah dalam “bahasa-bahasa ibu” penduduk NUsantara. Jadi sebutan NUsantara bukan menunjukkan sebuah teritori, tapi sebagai paradigma pengetahuan, kerja-kerja kebudayaan dan juga kreatifitas intelektual.

Manhaji Islam NUsantara

Islam NUsantara adalah ma’rifatul ulama-i-l-Indonesiyyin bil-ahkami-sy-syar’iyyah al-amaliyyah al-muktasab min adillatiha-t-tafshiliyyah; atau, majmu’atu ma’arifil -l- ulama-i-l-Indonesiyyin bil-ahkami-sy-syar’iyyah al-amaliyyah al-muktasab min adillatiha-t-tafshiliyyah (al-Quran, Hadits, Ijma’ dan Qiyas).

Islam NUsantara sebagai hasil ijma dan ijtihad para ulama NUsantara “dalam melakukan istinbath terhadap al-ahkami-sy-syar’iyyah al-amaliyyah al-muktasab min adillatiha-t-tafshiliyyah”. Islam NUsantara adalah idrakul hukmi min dalilihi ala sabili-r-rujhan. Islam NUsantara sebagai “mazhab berpikir” para ulama kita tentang bagaimana idrakul hukmi min dalilihi ala sabili-r-rujhan. (Jadi bicara Islam NUsantara justru tidak nyambung dengan bangunan fiqhul kitab wassunah atau fiqih sunnah yang dikampanyekan kalangan puritan wahabi).

Obyek Islam NUsantara sebagai ilmu tentang hal-hal ‘aridhah li dzatil Islam, yakni, al-ahwal al-mansubah ila l-Islam. Apa yang dimaksud yang aridhah? Yakni al-mahmul alasysyai al-kharij ‘an dzatih, atau, al-‘aradh dzati lisyiddati ta’lluqihi bi-dz-dzati, bi an yalhaqal sy syai ldzatihi, seperti penginderaan atau pencerapan inderawi oleh manusia, atau melalui sesuatu yang setara dengan dzat itu, seperti ketawanya manusia karena perantaraan takjub, atau melalui sesuatu yang lebih umum dari itu tapi tetap menjadi bagian integral darinya, yakni melalui posisinya sebagai makhluk.

Posisi Islam NUsantara seperti halnya posisi bermazhab, tidak bisa dilepaskan dari ajaran normatif Islam itu sendiri. Memang ia adalah aradh, terpisah, tapi tidak bisa dilepaskan dari yang normatif itu, karena lisyiddati ta’lluqihi bi dzati-l-Islam. Bahkan untuk memahami dan mengamalkan Islam itu sendiri.

Oleh karena itu ada salah satu kaidah yang relevan tentang Islam NUsantara ini: “Ma la yattimu-l-wajibu illa bihi fahuwa wajibun” (Islam NUsantara adalah bagian dari yang “bihi, fahuwa wajibun”).

Redaksi aplikatifnya adalah “al-Islam Nusantara huwa: ma la yatimmu-l-Islam illa bihi fahuwa wajibun”. Juga argemen lil wasail hukmul maqashid. Juga ada argumen al-Imam al-Ghazali dalam Kitab al-Mustashfa min Ilmi-l-Ushul (al-kulliyatul-khams).

Contoh-Contoh Ijtihad Islam NUsantara:

  • Imsak,
  • Halal bihalal,
  • Ta’liq thalaq,
  • Konsep barakah (ziyadah fil-khair – ke barakah Nusantara dalam Hikayat Banjar)
  • Kaidah al-muhafazhah ala-l-qadimis-sh-shalih

Silsilah dan Sanad Islam NUsantara

Untuk menunjukkan bahwa Islam NUsantara itu bukan Islam pinggiran, bukan Islam yang tidak murni, bukan Islam lokal atau Islam tidak sempurna, salah satu instrumen untuk membuktikan itu adalah sanad dan silsilah kitab dan guru-guru. Contoh Silsilah Syeikh Yasin al-Fadani, ada ratusan ulama Indonesia yang mengambil ilmu dari Syeikh Yasin Isa al-Fadani di Mekah. Berikut sanad beliau hingga ke al-Imam asy-Syafi’i:

  • Allah subhanahu wata’ala
  • Malaikat Jibril
  • Nabi Muhammad shallallahualaihiwasallam
  • Abdullah bin Mas’ud
  • Alqamah
  • Imam Ibrahim an-Nakha’i (wafat 95 H)
  • Hammad bin Abi Sulaiman (wafat 120 H)
  • Imam Abu Hanifah (wafat 150 H)
  • Imam Malik (wafat 179 H)
  • Al-Imam asy-Syafii (wafat 204 H)
  • Ar-Rabi’ bin Sulaiman al-Muradi (wafat 270 H)
  • Abu al-Abbas Muhammad bin Ya’qub al-Asham
  • Abu Nuaim al-Asfahani
  • Abu Ali bin Ahmad al-Haddad
  • Al-Qadhi Abu al-Makarim Ahmad bin Muhammad al-Labban
  • Al-Fakhr Abu al-Hasan Ali bin Ahmad ibn al-Bukhari
  • Ash-Shalah Muhammad bin Abi Umar
  • Imam al-Hafizh Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalani
  • Al-Qadhi Zakariya bin Muhammad al-Anshari
  • Syeikh Najmuddin Muhammad bin Ahmad al-Ghaithi
  • Syeikh Salim bin Muhammad as-Sanhuri
  • Syeikh Syamsuddin Muhammad bin Ala al-Babili
  • Syeikh Syamsuddin Muhammad bin Salim al-Hifni
  • Syeikh Abdullah bin Hijazi Syarqawi
  • Syekih Usman bin Hasan ad-Dimyathi
  • Syeikh Ahmad Zaini Dahlan
  • Syeikh Bakri Syatha
  • Syeikh Muhammad Ali al-Maliki (w 1367 H) + Syekh Umar Hamdan al-Mahrisi + Syekh Umar bin Husain ad-Daghistani (w 1365 H) + Syekh Hasan bin Sa’id Yamani (wafat 1391 H)
  • Syekh Yasin Isa al-Fadani
  • Ulama-ulama Islam NUsantara

Islam NUsantara adalah “Ngluri Leluhur” (Melestarikan Tradisi Leluhur)

Islam NUsantara memberi karakter bermazhab dalam teks-teks para ulama NUsantara untuk menyambungkan kita dengan tradisi leluhur kita, untuk kita hormati, dan untuk meneladani contoh-contoh terbaik yang mereka hasilkan. Itu kalau Anda ingin menghargai jasa para leluhur bangsa ini, yang berjuang dan berbakti demi bangsa ini, tapi kalau tidak bermazhab, tidak punya silsilah atau kedekatan dengan sanad, berarti Anda tidak punya kepekaan dan tidak juga basis kerakyatan. Jadi ngluri leluhur adalah penghargaan terhadap leluhur, para ulama, para pejuang yang berjuang untuk bangsa ini serta para pendahulu yang berjasa.

Islam NUsantara membantu anak-anak bangsa memelihara segenap memori kolektif bangsa ini dari masa lalu tentang kejayaannya, tentang segenap pengalamannya berhadapan dengan bangsa-bangsa asing, hingga membantu mereka mengingat kembali perjuangan orang-orang yang berkorban untuk bangsa dan tanah air ini. Mekanisme untuk itu dilakukan dengan memelihara sejumlah tradisi, ritual, upacara, rasionalitas (ma’quliyah), pengalaman, dan segenap praktik-praktik keagamaan, kesenian dan berkebudayaan yang menghubungkan satu generasi ke generasi berikutnya, dari satu komunitas ke komunitas lainnya, sehingga solidaritas berbangsa, persatuan dan kebersamaan di antara komponen bangsa ini jadi terjaga.

Mengapa Perlu Ada Islam NUsantara, Tidak Cukupkah Islam Saja?

Karena mengarah pada kesinambungan memori bangsa dan pemeliharaan sumber-sumber kekuatan bangsa ini, maka Islam NUsantara menjadi alat dan mekanisme efektif dan satu-satunya untuk mengembangkan segenap kekuatan dan potensi sumber daya bangsa ini di masa depan, yang nanti akan dituangkan dalam berbagai displin pengetahuan dan lembaga-lembaga ekonomi, sosial, kebudayaan dan politik.

Islam NUsantara adalah sarana untuk membentuk kemampuan bekerja penduduk negeri ini, dan juga sebagai sarana yang utama untuk memahami pengalaman bangsa-bangsa di dunia ini, untuk menguji berbagai kecenderungan (paham, aliran, ideologi, politik) di dunia ini, serta untuk memahami dan membentuk karakter khusus bangsa kita dengan sebuah pandangan untuk membangkitkan segenap kekuatan mereka ke depan dengan sebuah pandangan yang optimis dan kritis

Substansi Islam NUsantara:

  1.  Babad Tanah Jawi: Konstruksi Kiai Abdullah bin Abdulkahar al-Bantani abad 17 tentang silsilah dan sanad dalam historiografi Nusantara,
  2. Serat Surya Raja: Konstruksi Putra Mahkota Kraton Yogyakarta [kemudian menjadi Hamengkubuwono II] abad 18 tentang ideologi “Kimudin Arap Jawi” (menegakkan Islam NUsantara ). “Teks Serat Surya Raja [karya Hamengkubuwono II] meramalkan satu solusi akhir dari pemisahan kekuasaan [antara Yogyakarta dan Surakarta] dan masalah kolonialisme Belanda [di NUsantara], yaitu persatuan dan kemenangan penduduk Jawi [NUsantara], yang dimungkinkan oleh keunggulan peradaban Islam Aswaja”

Substansi Historiografi NUsantara: Persatuan dan Titik Temu NUsantara

  1. Serat Jaka Rusul dari abad 19: “Dhewe-dhewe tekatira nanding nora sulaya, kumpul bae maksudira” (meski mereka berbeda-beda, tapi tidak berselisih dan tetap bertemu juga maksudnya).
  2. Jaringan teks-teks Islam NUsantara dari abad 17 dan 18 dalam bahasa Melayu merupakan “petunjuk tentang proses pembentukan ideologi baru di bidang agama dan politik.” (dirumuskan kemudian menjadi “al-Jumhuriyah al-Indonesiyah”)
  3. Serat Wicarakeras karya Kiai Yosodipuro II: “padha Jawa datan arsa” (sadar tidak berperang dan berlawanan dengan sesama anak-anak NUsantara); “[tan] sêsetanan anjaili padha bôngsa” (jangan seperti orang yang setannya mengkhianati sesama anak bangsa sendiri).

Strategi- Strategi Islam NUsantara: “Para Wali Pasemone” (Para Walisongo Berbahasa Takwil)

Artinya:

  1. “Sampun putus patitis” (ahli takwil, jago tafsir dan ahli membuat bahasa kiasan),
  2. “Tan kuciwa ing semu”, tidak pernah luput menangkap makna yang halus dan tersembunyi,
  3. “Limpat ing reh pasang semu”, ahli dan mumpuni dalam seni menghasilkan tanda-tanda dalam berkomunikasi tentang makna dan kebenaran yang tersembunyi.

Oleh: KH Ahmad Baso, Disampaikan dalam Daurah Nasional Kader Ahlussunnah wal Jama’ah dengan presentasi berjudul “Islam NUsantara: Qawli, Manhaji, Ideologi”, bertempat di Asrama Haji Sukolilo Surabaya, Jawa Timur, 2 Rabi’ul Awwal 1436 H/ 24 Desember 2015.

Tulisan berjudul Apa Itu Islam NUsantara? terakhir diperbaharui pada Sunday 5 April 2015 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


One thought on “Apa Itu Islam NUsantara?

  1. “YANG PENTING DAMAI INDONESIAKU”
    WALAUPUN HUKUM-HUKUM ALLAH/SYARIAT ISLAM TIDAK BERLAKU DI NEGERIKU.

    Walaupun Nabi Muhammad Rasulullah Saw tidak pernah mengajak bangsa Arab, baik yang kafir maupun yang beriman, dengan seruan Beliau yang seperti ini, misalnya: “Wahai saudara-saudara sebangsa dan setanah air. Demi persatuan dan kesatuan bangsa Arab, marilah sama-sama kita rekayasa suatu ideologi yang baru, selain Dinul Islam, kemudian kita lengkapi ideologi tersebut dengan hukum-hukum dan undang-undang serta peraturan-peraturan yang kita butuhkan. Kemudian, kita jadikan dan kita pergunakan ideologi kita tersebut berserta hukum-hukumnya sebagai satu-satunya azas pedoman hidup dan kehidupan kita berbangsa dan bernegara, baik bagi yang beriman maupun yang kafir, agar kita semua dapat selamat dan sejahtera di dunia dan akhirat”.

    Pernahkah Rasulullah Saw mencontohkan ber-Dinul Islam seperti misal ajakan Beliau yang tersebut di atas?

    Bukankah misal ajakan Rasulullah Saw itu seperti kita beragama, berbangsa dan bernegara di Indonesia?

    Kalaulah kita, seluruh bangsa Indonesia yang telah bersyahadat menyatakan diri kita islam dan beriman, dan kita beriman sesuai dengan Ketetapan Allah Swt dan sesuai pula dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw, tentu kita tidak akan pernah berideologi yang lain, selain Dinnul Islam, di dalam kita menata dan mengatur semua aspek hidup dan kehidupan kita, baik di kala kita beragama, berbangsa maupun bernegara.

    Seluruh aktifitas hidup dan kehidupan kita, bahkan mati kita pun hingga cara penguburan mayat kita haruslah berazas-tunggalkan Al Qur’an dan Sunnah Rasul. Itulah Ketetapan Allah Swt bagi seluruh manusia yang mau digolongkan sebagai orang-orang yang beriman, yang imbalannya, adalah Jannah.

    Beriman dulu yang benar sesuai dengan Ketetapan-Nya, barulah kemudian beramal saleh, yang harus juga sesuai dengan contoh dan tauladan yang telah diberikan oleh rasul-Nya. Maka barulah hidup dan kehidupan kita bernilai ibadah di sisi-Nya. Sebagaimana KetetapanNya atas penciptaan diri manusia.

    Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Ku. (TQS Az-Zaariyaat 56)

    Dan yang harus menjadi pedoman hidup dan kehidupan di dalam pengabdian kepada-Nya adalah:

    “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai (telah Ku-setujui dan Ku-restui) Dinul Islam itu jadi agama (pedoman hidup dan kehidupan) bagimu.” (TQS.Al-Ma’idah 3)

    Apakah Hukum-Hukum Allah atau Syariat Islam memang tidak berlaku atas umat Islam Indonesia?

    Ataukah kita, Umat Islam Indonesia yang jumlahnya mayoritas di Indonesia ini, telah mendapatkan dispensasi atau keringanan dari Allah Swt untuk tidak berhukum dan berhakim kepada Hukum-Hukum Allah atau Syariat Islam tetapi kita masih dianggap beriman oleh Allah Swt di hadapan-Nya?

    Ataukah kita, umat islam Indonesia, yang tidak mau ber-Syariat Islam karena kita merasa berat mematuhinya, walaupun itu untuk kebaikan kita sendiri? Dan kalaupun kita mau ber-Syariat Islam, bagaimana mungkin kita dapat melaksanakannya karena kita masih tetap ber-Pancasila? Bukankah Pancasila juga mempunyai hukum-hukumnya sendiri yang harus dipatuhi oleh kita-kita yang ber-Pancasila? Sementara Allah Swt, yang kita imani dengan Dinnul Islam-Nya, juga mewajibkan kita, Umat Islam Indonesia, berhukum dan berhakim kepada Hukum-Hukum-Nya atau Syariat Islam. Bahkan, Dia mengkafirkan siapa saja manusianya yang tidak mau, dan juga yang menolak atau tidak setuju atas pelaksanaan Syariat Islam.

    Siapa yang harus kita patuhi? Tuhan kita, Allah Swt, dengan Syariat Islam-Nya, ataukah Pancasila kita Nan Sakti dengan hukum-hukum thaghutnya?

    Bukankah ini artinya kita berdualisme dalam berpedoman, alias beragama “suka-suka”? Kita beragama sesuai dengan selera kita. Mana yang cocok dengan selera kita, kita patuhi. Dan mana yang tidak sesuai dengan keinginan hawa nafsu kita, kita ingkari. Kita beriman akan sebagian isi Al Qur’an dan kufur akan sebagian yang lainnya. Seperti inikah Rasulullah Saw mengajarkan dan mencontohkan kepada kita ber-Dinnul Islam? Koq kita bisa, tanpa basa-basi, mengklaim diri kita sebagai umat Beliau?

    KITA BERDO’A MEMOHON KEPADA ALLAH SWT.
    MENGAPA SEWAKTU KITA BERHUKUM DAN BERHAKIM KITA LUPA KEPADA ALLAH/ HUKUM-HUKUM ALLAH/SYARIAT ISLAM?

    SEPERTI INIKAH ALLAH DAN RASUL-NYA MENGAJARKAN KITA BERAGAMA?

    MAKA OLEH SEBAB ITU, “DAN TETAPLAH MEMBERI PERINGATAN, KARENA SESUNGGUHNYA PERINGATAN ITU BERMANFAAT BAGI ORANG-ORANG YANG BERIMAN.” (TQS ADH-DHARIYAT 55)

    Yuk, mari kita bertaubat nasuha dengan berdinul islam secara kaffah agar kita selamat di dunia dan akhirat dan , Insya Allah, akan dipersilahkan oleh Allah Swt memasuki jannah-Nya. Aamiin.

    Semoga Allah Swt tidak menimpakan azab-Nya kepada kita seperti Ketetapan-Nya berikut ini. Aamiin.

    “Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).” (TQS Al-‘Isra’ 57)

    Reply

Post Comment