Download Audio Video Diklat Keaswajaan Bersama KH Idrus Ramli di MUDI Mesra Aceh

SHARE & LIKE:
  • 369
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  
    369
    Shares

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين وصلى الله على سيدنا محمد النبي الأمي وآله الطاهرين وصحابته أجمعين

Pejuang dan Pakar Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) KH Muhammad Idrus Ramli baru saja melakukan kunjungan safari dakwah perdanaya ke berbagai tempat di Aceh. Salah satu yang menjadi tujuan beliau adalah bersilaturahmi ke LPI Ma’hadal Ulum Diniyah Islamiyah Mesjid Raya (MUDI Mesra) Samalanga, Bireuen, Aceh pada 1 April 2015.

Di Pondok Pesantren Dayah MUDI Mesra Samalanga ini, KH Muhammad Idrus Ramli datang secara khusus untuk menjadi narasumber utama dalam acara Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Keaswajaan bersama Dewan Guru MUDI Mesra. Dalam diklat tersebut, kiai muda asal Jember Jawa Timur itu menyampaikan beberapa poin penting yang perlu diperhatikan oleh Asatidz khususnya para guru Dayah MUDI Mesra.

Pertama, beliau menyampaikan bahwa pondok pesantren salaf seperti MUDI Mesra ini merupakan benteng terakhir pertahanan umat Islam di Indonesia. Karena dari ponpes salaf yang mengajarkan kitab kuning seperti inilah yang nantinya akan melahirkan sosok ulama yang mengajarkan Islam ahlussunnah wal jama’ah, bukan dari tempat lain seperti perguruan tinggi agama Islam.

Yang kedua, beliau mengingatkan para Asatidz bahwasanya tantangan yang akan dihadapi para murid atau anak-anak didiknya ketika berada di luar pondok pesantren, pulang ke rumah atau merantau ke luar daerah, itu jauh lebih komplek dan lebih rumit. Diantara tantangan yang dapat menghadang mereka adalah munculnya berbagai aliran pemikiran di luar ahlussunnah wal jama’ah yang berbeda dalam hal aqidah maupun furu’iyah. Menurutnya, aliran pemikiran yang berbeda dengan ahlussunnah wal jama’ah baik di Indonesia maupun tingkatan global dapat dibagi menjadi beberapa kelompok aliran, yaitu:

  • Aliran Liberal, yang disebarkan melalui universitas-universitas atau perguruan tinggi Islam,
  • Aliran Syiah, yang mempunyai konsep aqidah ketuhanan mengadopsi pemikiran Mu’tazilah,
  • Aliran Hizbut Tahrir, yang juga beraqidah mengadopsi pemikiran Mu’tazilah, yang tidak mempercayai adanya Qadha dan Qadar, sedangkan fiqihnya mengadopsi faham Wahabi, dan
  • Aliran Wahabi, yang mempunyai aqidah mujassimah.

Kemunculan berbagai aliran di atas menuntut Asatidz untuk lebih meningkatkan kemampuan dirinya karena kualitas murid di manapun itu tergantung kepada Asatidz atau para guru. Ada pepatah Arab yang mengatakan:

اَلْمِنْهَجُ اَهَمُّ مِنَ الْمَادَّةِ – اَلطَّرِيْقَةُ اَهَمُّ مِنَ الْمَادَّةِ

Metode mengajar itu lebih penting dari materi.

Ketika kita menyampaikan pelajaran kepada murid, bagaimana metode kita cara menyampaikan, apakah mudah dipahami atau tidak, itu sangat penting. Walaupun kitabnya bagus, yang mengarang kitabnya bagus, tetapi metode penyampaiannya kurang bagus maka daya tangkap murid pun akan lemah. Dan lebih dari itu, kualitas guru itu juga lebih penting daripada metode itu sendiri. Walaupun metodenya bagus tetapi kualitas gurunya kurang bagus, maka muridnya tetap kurang faham.

Dalam ilmu Tasawuf disebutkan:

حَاجَةُ الْمُعَلِّمِ اِلٰى زِيَادَةِ الْعِلْمِ اَشَدُّ مِنْ حَاجَةِ الْمُتَعَلِّمِ اِلٰى عِلْمِهِ

Kebutuhan seorang guru untuk meningkatkan ilmunya itu sebenarnya lebih besar daripada kebutuhan seorang murid terhadap ilmu seorang guru.

Biasanya seorang guru di pondok pesantren itu senantiasa dituntut untuk mengikuti banyak kegiatan sampai-sampai ia tidak sempat untuk belajar. Hal ini, yakni ketidaksempatan waktu untuk belajar, tidak boleh ada dalam kamus seorang guru karena bagi seorang guru setiap waktu itu adalah ilmu. Seorang guru harus lebih banyak mengembangkan kemampuan diri mengingat tantangan yang akan dihadapi anak didiknya di masa mendatang akan jauh lebih besar.

Yang ketiga atau yang terakhir, KH Muhammad Idrus Ramli menyatakan bahwa sebenarnya semua tantangan yang sedang dan akan dihadapi baik oleh Asatidz maupun anak-anak didiknya itu sudah ada jawabannya dari para ulama terdahulu yang telah membangun aqidah dan fiqih umat Islam. Apa yang telah dirumuskan para ulama ahlussunnah wal jama’ah terdahulu mempunyai pengaruh yang sangat penting dalam merespon faham-faham sesat saat ini seperti aliran liberal, syiah, hizbut tahrir, dan wahabi. Persoalannya adalah apakah kita bisa menyampaikan permasalahan ini kepada anak didik kita. Kalau tidak bisa, yang akan terjadi setelah anak-anak didik kita keluar dari pondok pesantren akan menjadi bingung lagi.

Untuk itulah, betapa pentingya Asatidz selain harus meningkatkan cara mengajar juga perlu mengembangkan kualitas dirinya dengan memperbanyak membaca kitab-kitab dan kajian Islam. Karena memang tantangan yang akan dihadapi para ulama, ustadz, dan anak didiknya kelak lebih berat di masa mendatang. Terlebih dengan hadirnya sarana teknologi informasi yang canggih saat ini. Masyarakat lebih senang mencari hukum-hukum agama Islam seperti melalui teknologi internet. Mereka merasa cukup bertanya kepada Ustadz Google, ustadz yang paling ‘alim, karena ditanya apa saja selalu ada jawabannya. Sayangnnya jawaban Ustadz Google tersebut banyak yang salah meskipun itu ada dalilnya tetapi dalilnya tidak nyambung.

KH Muhammad Idrus Ramli mengakui pengaruh teknologi informasi sekarang ini terhadap pembelajaran agama di kalangan masyarakat itu luar biasa. Seiring berkembangnya zaman dan semakin majunya teknologi telah merubah cara berpikir masyarakat. Sedikit-sedikit mereka menanyakan dalilnya apa, Qur’an dan Haditsnya ada atau tidak, Haditsnya shohih atau tidak, dan lain sebagainya. Semua ini menuntut kemampuan para ustadz untuk lebih mengembangkan dirinya lebih baik lagi agar dapat menghadapi tantangan zaman yang semakin komplek dan rumit.

Untuk lebih detailnya, silahkan dengarkan atau download pemaparan lengkap dari KH Muhammad Idrus Ramli melalui rekaman audio mp3 dan video kajian Islam Diklat Keaswajaan bersama Dewan Guru MUDI Mesra yang telah didokumentasikan oleh Tim IT Lajnah Pengembangan Dakwah Mudi Mesra Samalanga pada link yang tertera di bawah. Bagi yang ingin melihat foto dokumentasinya, silahkan kunjungi website resmi LPI Ma’hadal Ulum Diniyah Islamiyah Mesjid Raya (MUDI Mesra) Samalanga, Bireuen, Aceh.

MP3 DIKLAT KEASWAJAAN BERSAMA KH IDRUS RAMLI DI MUDI MESRA SAMALANGA

[blue_button href=”https://archive.org/download/DiklatKeaswajaanBersamaIdrusRamli/Diklat%20keaswajaan%20bersama%20Idrus%20Ramli.mp3″]Download MP3 Diklat Keaswajaan Bersama KH Idrus Ramli – 79.6 MB[/blue_button]

(Cara Download: klik pada link “Download MP3” atau klik kanan pada link “Download MP3” lalu pilih “Save Target As…” atau “Save Link As…”)

VIDEO DIKLAT KEASWAJAAN BERSAMA KH IDRUS RAMLI DI MUDI MESRA SAMALANGA

Bagian 1

Bagian 2

Bagian 3

Tulisan berjudul Download Audio Video Diklat Keaswajaan Bersama KH Idrus Ramli di MUDI Mesra Aceh terakhir diperbaharui pada Thursday 2 April 2015 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment