Islam NUsantara Kontra Radikalisme

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Perjuangan bangsa ini tidak terlepas dari peran ulama dan bahkan sangat erat hubungannya dengan sejarah dan peradaban Islam di nusantara. Dalam sejarahnya alur Islamisasi di Nusantara berasal dari ulama yang berasal dari Hadhramut Yaman. Mereka dikenal lemah lembut mengedepankan kedamaian. Hal ini sesuai hadits dari Abu Hurairoh, beliau berkata: ‘’Rosullulah shalallahu alaihi wasallam bersabda; Penduduk negeri Yaman telah datang pada kalian, mereka adalah orang-orang yang paling lembut hatinya. Iman itu ada pada Yaman dan hikmah ada pada Yaman. ’’(Hadits Riwayat Imam Bukhari-Muslim).

Nahdlatul Ulama (NU) mencontoh metode dakwah nabi yang selalu menekankan sisi kemanusiaan, penghormatan HAM, keadilan, dan kemaslahatan umum, sehingga menghindari cara-cara ekstrem, radikal, dan fundamental yang antagonistik dengan misi profetis Islam dalam menegakkan moralitas luhur (makarimul akhlaq), dan kebahagiaan hakiki (saíadah haqiqiyah).

Bahkan, pribumisasi Islam yang digagas Gus Dur adalah salah satu manifestasi dari paradigma NU dalam memandang doktrin dan tradisi pluralis di Indonesia. Revitalisasi gerakan pribumisasi Islam ala Gus Dur mendesak dilakukan ditengah masifnya gerakan Islam radikal yang mengancam NKRI.

Jadi ketika hari ini, kolompok lain berkutat dalam pembicaraan radikalisme dan bahkan ISIS, kaum Nahdliyin telah mempelopori dan mulai lebih awal untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya gejala tersebut.

Pada tahun 1953 dalam Munas Alim Ulama di Cipanas, NU menetapkan Soekarno sebagai waliyyul amri al-dhoururi bis syaukah, itu juga dalam kerangka menjaga keutuhan NKRI (Masdar F Masíudi, 2004). Karena pada saat itu NKRI sedang diguncang oleh kekuatan DI/ TII di bawah pimpinan Kartosuwiryo yang menuntut dua hal kepada pemerintah. Pertama supaya NKRI dijadikan sebagai Negara Islam Indonesia. Kedua, menuntut agar kepemimpinan Soekarno dianggap tidak sah. Saat itu ulama NU ternyata lebih mementingkan nasionalisme daripada formalisme agama. Mereka lebih memilih tetap dalam NKRI demi keutuhan bangsa meskipun harus hidup bersama-sama dengan orang-orang yang beragama lain. Dakwah Walisongo tidak membawa bendera tertentu kecuali Islam dan Ahl al-Sunnah Wa al- Jama’ah.

Metode dakwah yang dikembangkan menerapkan para Sufi Sunni dalam menanamkan ajaran Islam melalui keteladanan yang baik. Aliran teologinya menggunakan teori Asya’ariyyah, sedangkan aliran sufistiknya mengarah pada Al-Ghazali. Peninggalan Walingsongo tertuang dalam manuskrip yang menguraikan tasawuf itu terdapat beberapa paragraf cuplikan Kitab Al-Bidayah wa Al-Nahayah karya Al- Ghazali.

Metode dakwah yang dilakukan para wali berbeda-beda, Sunan Kudus tampak unik dengan mengumpulkan masyarakat untuk melihat lembu yang dihias sedemikian rupa sehingga tampil bagai pengantin itu kemudian diikat di halaman masjid, Sunan Kudus lalu menyampaikan dakwahnya. Cara ini praktis dan strategis untuk menarik minat masyarakat yang masih banyak menganut agama Hindu. Seperti diketahui lembu merupakan binatang keramat Hindu. Allah taala berfirman: ’’Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah (lemah lembut) dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.’’ (Qur’an Surat An-Nahl: 125). Kemudian dipertegas dalam firman Allah:

’’Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu.’’(Qur’an Surat Ali Imran: 159)

Tantangan kita sekarang adalah eskalasi gerakan fundamentalis radikal mengusung simbol-simbol agama dalam wilayah politik, seperti ambisi mendirikan khilafah Islamiyah menggantikan Pancasila. Penerapan syariat Islam yang kontroversial bagi negara pluralistik dan heterogen seperti Indonesia. Dalam konteks global hari ini, sedang gencarnya kita menghadapi gelombang perekrutan dan propaganda ISIS, dan telah melibatkan 500-an WNI.

NU dalam konteks ini dituntut untuk meneguhkan kembali paham dan prinsip-prinsip ahlusunnah waljamaah yang tawasuth (moderat), infitah (insklusif), i’tidal (lurus-Konsisten), al syura (musyawarah), tawazun, keseimbangan, musawah (kesetaraan), tasamuh (toleran) dan adalah (keadilan). Melalui pinsip-prinsip inilah NU mampu berdiri pada semua kelompok bangsa secara fleksibel, akomodatif, dan responsif. Wajarlah kalau tokoh Islam Nurcholis Madjid (almarhum) mengatakan bahwa NU adalah mainstream Islam di Indonesia. Visi kultural NU mampu menyematkan tradisi moderasi dan toleransi umat Islam. (H41-42).

Oleh: Yami Blumut, Wakil Ketua GP Ansor Jateng/ Suara Merdeka, 27 Maret 2015.

Tulisan berjudul Islam NUsantara Kontra Radikalisme terakhir diperbaharui pada Friday 10 April 2015 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment