Melestarikan Kembali Puji-Pujian Setelah Adzan

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Masih ingatkah anda? Dulu banyak sekali masjid di sekitar kita yang menjalankan tradisi dengan membaca pujian setelah adzan. Namun seiring berjalannya waktu, disebagian daerah tradisi itu kini mulai ditinggalkan. Tampilnya “tokoh” yang anti toleransi dengan membawakan dalil yang menentang, membuat kerancuan di tengah masyarakat.

Betapa besar manfaat dari tradisi pujian setekah adzan dalam pendidikan dan pembelajaran bagi masyarakat. Berapa banyak anak yang menghafal 20 sifat wajib Allah karena mereka mendengar dari suara pujian yang dilantunkan setelah dikumandangkan adzan. Dan juga nasehat lainnya yang berbentuk syair dari para ulama, yang merupakan tuntunan dalam menjalani kehidupan.

Pujian setelah adzan walaupun dilafalkan dengan bahasa Jawa yang berisi beragam nasehat agama, namun selalu diiringi sholawat. Demikian pula sebaliknya dalam majelis sholawat, disisipkan beberapa bait nasehat agama. Hal ini karena, inti dari pujian setelah adzan adalah sholawat. Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِي الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ

“Apabila kamu mendengar muadzin mengumandangkan adzan, ucapkanlah seperti apa yang diucapkan. Kemudian bersholawatlah kepadaku, karena sesungguhnya barangsiapa yang bersholawat kepadaku satu kali niscaya Allah akan bersholawat kepadanya sebanyak sepuluh kali. Setelah itu mintalah (kepada Allah) al‐wasilah untukku, karena al‐wasilah itu suatu manzilah (kedudukan yang mulia) di surga, yang tidak sepatutnya diberikan kecuali untuk seorang hamba Allah. Dan aku berharap semoga akulah hamba itu. Maka barangsiapa yang memohon al‐wasilah untukku, ia akan mendapatkan syafaatku” (HR.Muslim, no. 849)

Persoalan pujian yang dikeraskan, jawaban Hasan bin Tsabit adalah dalil paling jelas dalam hal ini:

عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ قَالَ مَرَّ عُمَرُ بِحَسَّانَ بْنِ ثَابِتٍ وَهُوَ يُنْشِدُ فِى الْمَسْجِدِ فَلَحَظَ إِلَيْهِ فَقَالَ قَدْ أَنْشَدْتُ وَفِيهِ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْكَ ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَى أَبِى هُرَيْرَةَ فَقَالَ أَسَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : أَجِبْ عَنِّى اللَّهُمَّ أَيِّدْهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ. قَالَ اللَّهُمَّ نَعَمْ. رواه أبو دادو والنسائي

Dari Sa’id bin Musayyab ia berkata bahwa Umar bin Khaththab pernah berjalan melewati Hassan yang sedang melantunkan sya’ir di Masjid. Lalu Umar menegurnya dengan pandangan mata. Tetapi Hassan berkata; “Dulu saya pernah melantunkan syair di Masjid ini, yang ketika itu ada seseorang yang lebih mulia daripadamu yaitu (Rasulullah).” Kemudian Hassan menoleh kepada Abu Hurairah seraya berkata; “Saya bersumpah kepadamu dengan nama Allah hai Abu Hurairah, pernahkah kamu mendengar Rasulullah berkata kepada saya, Hai Hassan, balaslah sya’ir orang-orang kafir untuk membelaku! Ya Allah ya Tuhanku, dukunglah Hassan dengan Ruhul Kudus” Abu Hurairah menjawab; “Ya, Saya pernah mendengarnya.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i)

Seringkali pula, diantara bait puji-pujian itu diselingi syair doa. Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam bersabda:

الدُّعَاءُ بَيْنَ اْلأَذَانِ وَاْلإِقَامَةِ مُسْتَجَابٌ, فَادْعُوْا. رواه أبو يعلى

“Do’a yang dibaca antara adzan dan iqamat itu mustajab (dikabulkan oleh Allah). Maka berdo’alah kamu sekalian”. (HR. Abu Ya’la)

Syaikh Amin al-Kurdi di dalam Tanwirul Qulub menegaskan,

وَأَمَّا الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقِبَ اْلأَذَانِ فَقَدْ صَرَّحَ اْلأَشْيَاخُ بِسُنِّيَّتِهِمَا, وَلاَ يَشُكُّ مُسْلِمٌ فِيْ أَنَّهُمَا مِنْ أَكْبَرِ الْعِبَادَاتِ, وَالْجَهْرُ بِهِمَا وَكَوْنُهُمَا عَلَى مَنَارَةٍ لاَ يُخْرِجُهُمَا عَنِ السُّنِّيَّةِ.

“Adapun membaca shalawat dan salam atas Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam setelah adzan (puji-pujian) para masyayikh menjelaskan bahwa hal itu hukumnya sunat. Dan seorang muslim tidak ragu bahwa membaca shalawat dan salam itu termasuk salah satu cabang ibadah yang sangat besar. Adapun membacanya dengan suara keras dan di atas menara itu pun tidak menyebabkan keluar dari hukum sunat”

Pujian setelah adzan adalah suatu amaliah yang sangat jelas dalilnya. Maka, aneh jika terjadi kasus penghentian ‘paksa’ di beberapa masjid. Masyarakat awam yang mengamalkannya ditekan dengan berbagai slogan dan dalil yang sebenarnya tidak nyambung namun dipaksakan sebagai argumen. Masyarakat awam yang tidak mampu berdalil, akhirnya menyerah dan kalah.

Tindakan memaksakan kehendak inilah yang menyebabkan tidak terwujudnya ukhuwah islamiyah hingga kini. Mari kita lestarikan kembali pujian setelah adzan sebagai salah satu bentuk pembelajaran yang tepat sasaran untuk masyarakat.

Sebagai pelengkap, kami juga sertakan contoh puji-pujian setelah adzan yang biasanya disyiarkan di langgar-langgar, musholla, ataupun masjid-masjid yang ada di Indonesia. Silahkan simak dan dengarkan atau download mp3 dan lirik syair syiar wali puji-pujian dalam bahasa Jawa yang berjudul Istighfar Muwuhi Rohmat berikut ini:

PUJI-PUJIAN ISTIGHFAR MUGI MUWUHI ROHMAT (SHUBUH)

MP3 dan Lirik Oleh: Muhammad Tasir Nur Hidayat

Download MP3 – 4.0 MB

اَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيمْ
اَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيمْ
اَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيمْ
إِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَحِيمْ

Gusti Alloh kulo nyuwun ngapuro
Gusti Alloh kulo nyuwun ngapuro
Sekatahahe dosa kulo
Dosa agung kelawan ingkang alit

Mboten wonten ingkang saged ngapuro
Mboten wonten ingkang saged ngapuro
Sanesipun Tuhan kang Moho Agung
Kang ngratoni sekathahe poro ratu

Nggih meniko Alloh asmane
Nggih meniko Alloh asmane
Kang kagungan sifat Rohman
Kang kagungan sifat Rohim

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلٰى
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلٰى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلٰى آلِهِ مُحَمَّدْ

Gusti Alloh mugi muwuhi Rohmat
Gusti Alloh mugi muwuhi Rohmat
Dumateng kanjeng Nabi Muhammad
Soho dateng kawulo warganipun

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ
إِلَّا بِاللّٰهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمْ

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهْ
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهْ
مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللّٰهْ
صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ

 Oleh: Habib Muhammad bin Husein bin Anis Al Habsyi Surakarta.

Tulisan berjudul Melestarikan Kembali Puji-Pujian Setelah Adzan terakhir diperbaharui pada Wednesday 1 April 2015 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


5 thoughts on “Melestarikan Kembali Puji-Pujian Setelah Adzan

  1. Firman Allah surat 33:56 memerintahkan orang beriman untuk bershalawat pada Nabi.
    إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا ٥٦
    33:56. Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.
    Shalawat dari Allah berarti memberi rahmat, memuji dan memuliakannya. Salawat dari Malaikat berarti memohonkan ampunan. Shalawat dari orang beriman berarti berdoa memohon kepada Allah agar memerikan shalawat dan salam (kedudukan yang mulia, penghurmatan, dan kesejahteraan) kepada Nabi Muhammad SAW, sebagaimana dalam ucapan Allahumma shalli ‘alaa Muhammad, atau dengan shalawat yang panjang sebagaimana pada bacaan tasyahud.
    Jadi, shalawat adalah do’a. Karena shalawat itu do’a, harus mengikuti aturan berdoa yang sudah jelas Allah perintahkan dalam Qur’an 7:55, yakni dengan berendah diri dan suara yang lembut, jangan melampaui batas.

    Reply
  2. Maaf saya tidak sependapat dengan yg mau menghidupkan kembali puni pujian dengan me veraskan suara, karena benar benar membuat suasana gaduh dan membuat anak anak aswaja yg sudah bisa baca berpindah ke aliran yang tidak jelas. Maka seharusnya ulama kita dapat melihat xengan pandangan yg
    benar.

    Reply
  3. Kami setuju saya survai yg katanya buat gaduh jika ada puji pujian bilangnya pada ga berasa gaduh ,ada sih yg bilang gaduh,,,tp sedikit banget,,aqu sih ngga merasa gaduh apa iya shalawat dan nama allah serta petuah baik bikin gaduh jngnkan pakai speaker biasa,,pakai bomms bastis speaker tetap itu ucapan baik dan ga akan mengurangi maknanya jadi gaduh ,,,kalau berani stop panggung dangdut yg sedang live,,organ tunggal di hajatan,,dll paling paling benjut di hajar,,,aku ngga habis pikir terganggu ada pujian ,shalawat dari mana nya,,,hanya syetan yg terganggu ada shalawat ,nama allah dan nasehat baik,,tiada yg lain,,jika soal doa dahulu pun rosul berdoa di depan orang bnyk di khutbah jumat minta hujan dengan suara kuat,,masa umatnya tdk boleh,,,jika rosul melakukannya berarti ada tafsir lain dari ayat al quran yg disuruh berdoa dng lembut dan tdk melampaui batas,,,makanya jngn baca tp ngaji ,,

    Reply
  4. kita harus teliti dengan perintah Alloh dan Rasululoh
    ”semua perintah ada ketentuannya” waktu, tempat , hari dan kondisi.
    bukan karena itu perintah, maka kita laksanakan se’enaknya.
    dalilinya shohih, tapi sepertinya dipaksakan,
    misalnya pujian / doa antara adzan dan qomat , silakan anda datang di mesjid kami, jujur saja anda tenang apa nggak? jika lagi mengutamakan taiming berdoa, dengan di barengi pujian yang keras?
    kesimpulan : saya tetap memilih ajaran yang salafi, bukan ajaram islam modern.
    wallohu a’lam bishowab.

    Reply

Post Comment